
Setelah hampir satu jam terperangkap di kamar mandi. Akhirnya, bisa keluar dari apartemen Rey.
"Mereka berdua sangat mengerikan." Desisnya Richard, saat ia berdiri di depan lobby apartemen Loona.
"Bos." Doddit memanggil dari dalam mobil sedan mewah.
Richard segera menaiki mobilnya dan duduk di kursi belakang.
"Bos, kenapa?"
"Aku hampir pingsan lagi."
"Memangnya ada apa? Apa Jihan di dalam sana bercumbu mesra?"
"Hish, jangan menggoda aku. Hari-hariku semakin terasa sial."
"Bukannya, Bos Richard beruntung. Buktinya, burung gagahnya sudah mengepakan sayap." Xixixi.'
Doddit jadi cekikikan sendiri dan kembali melajukan mobil.
"Doddit. Rey punya simpanan. Jihan datang. Dua gadis aduk mulut dan sampai adu fisik, saling menjambak bahkan cakar-cakaran. Aku pusing melihatnya."
"Apa? Rey punya simpanan?"
"Iya. Gadis belia."
"Owh, Talita."
"Kamu tahu? Kamu mengenal Talita?"
"Dia tadi, meeting sama Presdir. Dia asisten pribadinya Rey. Semalam, dia juga di hotel DeNuca. Berduaan sama Rey, sampai resletingnya rusak." Ucap Doddit yang memberikan penjelasan.
"Rey, beneran tidur sama dia?"
"Bisa jadi, memang begitu."
Richard, yang duduk di belakang, masih memeluk tas ransel milik Lovie.
Aura wajah Richard saat ini, sangat telihat jengkel. Dirinya hendak pamer kalau burungnya sudah masuk ke dalam sangkar gadis kecil. Bukannya kejatuhan durian runtuh, malah kejatuhan nangka busuk.
Hiks, kasian.
"Bagaimana dengan Lovie? Apa yang dia lakukan selama di rumah Mommy?"
"Tadi, Nona menangis karena bertemu keluarganya. Setelah sampai di rumah. Nona kembali menangis dan mengunci diri di kamar. Saya tinggalkan Nona bersama pelayan dari rumah utama."
"Kerja bagus."
Richard tidak lagi berkata ini itu, duduk bersandar dan masih memeluk tas ransel warna nude.
Terlihat kekanakan dan kedua matanya mulai terpejam. Rasa nyaman di dalam mobil membuatnya jadi mengantuk.
Hampir satu jam perjalanan, akhirnya Richard sudah sampai di rumah. Sore menjelang malam dan senja menyapa kota Shindong dengan kecantikannya, tampak semburat jingga nan kemerahan.
Langit yang indah di sore ini, dan akan tergantikan dengan malam gelap nan menawan.
"Nyonya besar. Tuan Richard sudah tiba."
"Jangan biarkan dia masuk kemari. Suruh pulang ke rumah seberang."
"Baik Nyonya besar." Balasnya seorang pelayan yang berusia 45 tahun.
Ada 4 pelayan dan dua penjaga rumah, termasuk tukang kebun. Para pelayan itu, yang menempati rumah mewah ini.
Nyonya Nancy duduk bersantai di halaman samping rumahnya. Tampak melukis senja sore.
"Cantik, semoga hari esok akan lebih cantik dari hari ini." Gumam sang Nyonya dan seorang pelayan tampak berdiri di sempingnya.
Membantu mengangkat panggilan telephone yang datang dari mana saja. Termasuk, dari para sahabat Nyonya besarnya.
"Mommy." Putranya memanggil, dan sudah berada di hadapan sang Mommy.
"Sana pulang ke rumah seberang. Lovie lebih membutuhkan kamu. Lagian, aku tidak mau punya anak, yang tidak berguna seperti kamu."
"Mommy, mana bisa begitu. Aku dan Lovie belum menikah. Apa kata para tetangga sebelah. Mereka pasti menanyakan soal gadis itu?"
Sang Mommy menoleh ke arah rumah seberang. Sebelah kanan ada pasangan tua dan cucunya. Lalu, sebelah kiri juga ada seorang Nyonya tua yang tinggal sendirian. Beliau lebih cerewet dari Nyonya Nancy.
"Katakan saja, kalau Lovie adikmu."
"Mommy, para Nenek itu mulutnya bawel. Aku bisa-bisa dituduh menculik gadis remaja."
"Tumben, kamu takut sama tetangga. Biasanya, kamu selalu cuek dan tidak peduli."
"Aku biasanya jarang di rumah. Apalagi di rumah Mommy."
"Yang jelas, kalau kamu tidak mau menikahi Lovie. Mommy akan mengadopsinya. Biar dia jadi anaknya Mommy."
"Mommy, dia masih ada Bapaknya. Gimana kalau Bapaknya melaporkan Mommy ke kantor polisi."
"Polisi juga akan mencari tahu. Lovie juga akan berkata, kalau dia lebih memilih tinggal sama Mommy, dari pada keluarganya. Tadi, Lovie juga bilang begitu sama Mommy."
__ADS_1
"Lovie bilang begitu?"
"Iya, seperti itu. Sudah, sana pergi. Mommy sedang melukis senja sore ini."
Richard berkata "Mommy. Aku tidak mau kalau Lovie jadi Adikku.
Sang Mommy, dari tadi tidak menatap wajah putra semata wayangnya itu. Setelah Richard berjalan pergi, sang Mommy melihat ke arahnya.
"Apa yang dia inginkan?" Sang Mommy jadi penasaran.
"Sus, tolong rapikan peralatan ini."
"Baik Nyonya."
Nyonya Nancy bersiap untuk rencana selanjutnya dan mendekati Doddit.
"Doddit, Bosmu dari mana?"
"Apartemen sahabatnya."
"Apa mereka ribut?"
"Tidak Nyonya besar. Malahan, yang ribut Jihan sama simpanan Rey."
"Owh, Rey punya simpanan. Pantas saja Richard murung. Doddit, tugasmu harus mengawasi. Jangan sampai Richard kembali bersama Jihan. Kamu harus selalu waspada."
"Siap Nyonya besar."
Nyonya Nancy tersenyum dan masuk ke ruangan pribadi yang ada di rumah mewahnya.
"Aku tidak mau, kalau berbesanan dengan perempuan itu. Dia hobby celap-celup. Putrinya pasti menirunya. Jihan sudah menirukan Mamanya. Baru pacaran sama Richard, sudah berani selingkuh, gimana nanti kalau menikah. Amit-amit punya menantu begitu. Meski aku menginginkan cucu, aku tidak mau hal itu terjadi apalagi dengan putra kandungku."
Melihat ke arah meja kaca dan mengambil kotak cicin berlian.
"Lovie, harus segera memakai ini."
Tatapan Nyonya satu ini, meski tampak berwajah galak. Namun, beliau ini sosok Ibu yang baik.
"Mami." Lovie memanggil.
Lovie masih memeluk gulingnya dan tampak tidur menyamping. Dari tadi menangis dan masih belum bisa menerima hal ini.
Tok Tok Tok
Pintunya tidak lagi terkunci, Richard yang membuka pintu melihat sosok belia yang tidur menyamping.
"Lovie." Panggilnya.
"Boleh aku masuk?" Tanya Richard.
Lovie hanya terdiam dan tidak berkata apapun. Richard perlahan memasuki kamar minimalis itu.
Tempat tidur yang sudah berganti sprei dan tampak kamar yang sudah rapi.
Tidak seperti, sewaktu percumbuan pertamanya.
Richard, memberikan tas ranselnya "Ini tas kamu ketinggalan di rumah sakit. Aku sudah menjaga uangmu."
Lovie perlahan duduk di tengah kasur dan mendekap gulingnya.
"Kak Richi. Tolong ijinkan aku tinggal disini. Untuk sementara waktu." Pinta Lovie dan wajah itu terlihat sendu.
Air bening sudah membasahi kedua pipinya dan air matanya juga jatuh ke bantal serta guling yang di peluk erat.
"Selama kamu suka tinggal disini. Aku juga, tidak akan keberatan." Balasan Richard terdengar lebih santai.
"Terima kasih. Aku jadi merepotkan keluarga Kak Richi." Ucapnya manis.
"Tidak masalah. Kamu tidak perlu sungkan."
Richard yang masih terus berdiri, Lovie jadi berdiri di atas kasur dan memeluk Richard.
Kedua tangan Lovie, mengalung di leher Richard.
"Kak Richi terima kasih."
Kedua mata Richard jadi terpejam dan perlahan kedua tangannya mengelus punggung Lovie.
"Kamu kenapa menangis? Apa karena aku menyakitimu?"
"Aku menangis karena Papi. Papi sudah melupakan aku." Jawabnya dan Lovie kembali menangis.
"Sudah, jangan menangis. Papi kamu tidak mungkin melupakan kamu."
"Buktinya, tadi aku memanggil Papi. Papi tidak menoleh ke arahku."
"Ya, mungkin karena kamu pakai masker. Jadinya, Papi kamu sampai tidak mengenali wajahmu."
"Tapi, harusnya Papi mengenali suaraku."
"Di tempat umum, banyak orang yang bersuara mirip. Bisa saja, Papi kamu ada hal penting, sampai-sampai tidak menghiraukan suara di sekitarnya."
__ADS_1
"Hal penting apa yang membuat Papi sibuk mengobrol sama perawat." Lovie kembali menangis.
"Ya bisa jadi. Keluarga kamu. Ada yang sedang sakit."
"Siapa yang sakit? Tapi, harusnya Papi tetap nyariin aku. Buktinya Papi malah sibuk dengan istri barunya."
Lovie menangis tersedu-sedu.
"Lovie."
Richard melepaskan pelukan Lovie. Kedua tangan Richard, menyeka air mata Lovie.
"Lovie. Sudah, jangan menangis. Besok aku antar kamu pulang, terus ke sekolah."
"Katanya, aku boleh tinggal disini. Kenapa aku harus pulang?"
"Biar kamu nggak nangis terus. Lebih baik, kamu bertemu Papi kamu. Pamitan baik-baik, kalau kamu ingin tinggal disini."
"Kalau aku pulang. Nanti, aku malah dilarang pergi lagi."
"Aku akan menenami kamu. Kamu bisa bilang, kalau kamu hamil anakku."
"Hah? Aku hamil anaknya Kak Richi?"
Richard mengangguk dan Lovie semakin bingung.
"Tapi, aku tidak hamil. Nanti kalau Papi minta hasil periksanya gimana?"
"Soal itu, kita bisa cari cara lain."
"Tapi, aku takut kalau Papi semakin marah dan mengurung aku di rumah."
"Aku akan pasang badan buat kamu."
"Kak Richi serius?"
"Iya. Aku serius. Kalau aku sampai ikut dimarahin Papi kamu. Nanti aku akan panggil Doddit, Daddy sama Mommy."
"Benar juga. Aku bisa mengadu sama Ibu Nancy. Kalau, ibu tiriku sampai memukul aku, aku akan laporin sama polisi."
"Memangnya, ibu tirimu sekejam itu?"
"Tidak. Hanya, suka membolak balikan fakta di depan Nenek sama Papi."
"Oke, kalau begitu. Kamu harus kasih tahu aku, soal keluargamu."
Wajah Lovie sudah kembali bersemangat.
Richard jadi kegemesan sendiri. "Kenapa aku bisa jadi baik begini?"
Lovie tersenyum, tiba-tiba mengecup bibirnya Richard dan ia kembali tidur menyamping memeluk guling empuknya.
"Lovie, kamu jangan menggoda aku."
"Aku tidak menggoda. Aku memang suka pria yang tampan."
"Pria tampan? Apa aku setampan harapanmu?"
Lovie malu-malu meong, ia berkata "Aku lebih menyukai fisik luarnya. Aku tidak peduli dengan hal lainnya."
"Seberapa tampan wajahku ini?"
"Tidak bisa diukur." Jawabnya dan menggigit kuku jemari kanannya.
"Ayolah, katakan sama aku. Seberapa tampan wajahku. Dari 1 sampai 10, berapa nilainya?"
"Emh, bagiku, nilainya 10." Jawabnya Lovie polos.
Richard, jadi menutup rapat pintu kamar itu.
Ceklik.
Ternyata, pintunya juga dikunci.
Perlahan melepas jas warna nude yang menawan itu. Meletakan ke tempat gantungan.
Tangannya bergerak cepat menarik dasi dan melepasnya. Satu kancing kemeja sudah terlepas.
Melepas kancing kerah tangan dan menyingsingkan lengan kemeja putihnya.
"Lovie, kenapa kamu menyukai aku?"
Lovie menoleh ke arah wajah Richard.
"Soalnya, Kak Richi tampan."
Richard tidur menyamping dengan tangan yang menyangga kepalanya sendiri. Bibir itu sudah tersenyum manis.
"Kak Richi, aku mau dihamili. Tapi, tadi pagi aku nggak ngerasain apa-apa. Aku cuma ngerasa perih. Memangnya, kalau pasangan bercinta begitu?"
"Awalnya, memang begitu." Kilahnya.
__ADS_1