
Perusahaan iklan Sheen, kali ini tidak menugaskan bawahannya. Namun, Bosnya sendiri yang bersama asisten pribadinya. Bertandang ke R.C. untuk presentasi konsep iklan. Yang dibuat secara khusus. Demi mengiklankan produk dari Rich Corporation.
Tampak berjalan dengan menawan dan beriringan.
Setelah tadi, sempat ke apartemennya Rey. Mereka lalu berangkat ke Rich.
"Bos. Ini beneran kantornya R.C?" Tanya Talita.
"Iya, ini kantor perusahaan R.C." Jawabnya.
"Keren banget. Dari dulu aku ingin kesini. Baru kesampaian."
Talita seperti mendapatkan hadiah istimewa. Bagaimana tidak, kantor ini memang menakjubkan.
Semua produknya sangat dikenali masyarakat. Bahkan, bagi kalangan menengah ke bawah seperti Talita. Produknya menjadi pilihan utama. Apalagi, harganya terbilang ekonomis, dibanding dari brand lainnya.
Talita tampil menawan dengan dress selutut dibalut blazer. Meski dandanan sudah terlihat dewasa, tetap saja sikap Talita tidak berubah.
Bisa dibilang, sosoknya itu genit, petakilan dan sok pintar. Tidak tahu malu dan percaya diri.
"Kenapa ingin kemari?" Tanya Rey, yang jadi penasaran.
"Aku penggemar mie instan R.C. Apalagi mie super pedas. Aku suka banget."
Rey hanya menggeleng, melihat sikap dari tawanan pribadinya itu. Emh, mau dibilang asisten ya terlalu baik, kecuali di depan para rekan dan relasi kerjanya. Bisa saja, Rey mengatakan kalau sosok belia ini, adalah asisten pribadinya.
"Selamat datang Bos Rey." Doddit yang menyambutnya lebih dulu.
"Terima kasih atas sambutannya. Meski aku tidak membutuhkan bunga ini." Balasan Rey, santai dan memberikan bunganya kepada Talita, yang ngumpet di belakangnya.
Doddy mengintip ke sisi belakang, ia bertanya "Apa Bos Rey punya sekretaris baru?"
"Owh ini. Dia, Talita. Dia asisten pribadiku." Jawabnya Rey.
Talita muncul dari belakang punggung Rey dan tersenyum sedikit menunduk saat bertemu Doddit.
"Kita sepertinya pernah bertemu."
"Iya pernah, waktu di DeNuca."
"Owh benar. Gadis yang resleting gaunnya rusak."
Talita meringis tipis dan masih memegang tas arsip yang berisi berkas-berkas dan buket bunga.
"Jas Kakak, sudah saya laundry."
"Owh, simpan saja dulu."
Doddit yang penasaran akan teman kencannya Rey, ia membuntuti Talita.
Sewaktu di elevator, gaun Talita memperlihatkan area punggung yang terbuka, karena resleting belakang rusak. Doddit memakaikan jasnya, tanpa berkata, ia pergi.
"Baik Kak." Talita malu-malu meong, saat menatap Doddit.
"Perkenalkan, nama saya Doro Dita. Biasanya dipanggil Doddit, saya asisten Bos." Doddit mengulurkan tangan kanannya.
"Saya Talita." Balasnya manis.
"Hanya Talita?"
"Iya."
Keduanya saling tersenyum.
Doddit membatin, "Owh, aspri. Pantas saja berani berduaan di hotel. Hemms, nanti nyakitin Jihan."
Doddit masih membatin. "Peduli amat aku sama hubungan Rey dan Jihan."
Talita yang tersenyum, dan tangannya masih di pegang Doddit. Rey, melepas kedua tangan itu dan tampak senyuman tipis mereka.
"Sudah cukup kenalannya. Sekarang kita harus bekerja."
Doddit berkata, "Bos besar sudah menunggu di dalam bersama Metta."
Metta sekretaris Richard, yang cantik dan sexy. Berkulit kuning langsat, body sintal dan berisi. Pantat dan dada semok.
__ADS_1
Terlebih lagi, dia mantannya Doddit. Tatapi itu sudah biasa. Mereka tidak ada ketertarikan lagi, Metta sedang mengincar seorang Bos Duda.
"Selamat datang Bos Rey." Ucapan dari Presdir Nicholas.
"Presdir Nicholas."
Rey bingung, ia sudah membawa Talita malah Richard tidak ada.
Rey hanya tersenyum, saat keduanya saling bersalaman. Talita melihat aura sugar Daddy yang sesungguhnya.
Meski Daddy Nicholas sosok yang apa adanya, setelah memakai setelan jas, beliau tampak lebih berkharisma.
"Mari silakan duduk."
"Terima kasih Presdir Nicholas."
Talita masih memandangi beliau "OMG, jadi ini pemimpin sekaligus pemilik R.C. Wow, nggak nyangka aku bisa bertemu langsung. Emh, gimana caranya aku mendekatinya?"
Talita, mengikuti langkah Rey. Ia dengan cepat membuka tas yang ia bawa. Bahkan, Rey meminta Talita sendiri yang presentasi di depan pemilik Rich.
"Seperti di sekolah?" Batin Talita, sewaktu di mobil.
Tadinya, Talita masih ragu. Namun saat ini, ada daya tarik tersendiri, sampai membuat Talita lebih percaya diri.
Gadis berusia belia, yang presentasi di depan pimpinan sekaligus pemilik dari perusahaan besar. Bahkan, Talita juga memakai setiap produk andalan dari Rich.
Produk dari Rich meliputi kebutuhan harian dari produk pangan, seperti beras, gula, teh, kopi dan mie instan. Lalu ada, produk perlengkapan mandi dari sabun, pasta gigi, sikat gigi dan shampo. Setelah itu, ada produk alat kebersihan seperti alat pel, sabun pencuci pakaian dan pencuci piring. Ya, seperti itu.
Saat ini yang akan diiklankan perusahan Sheen, yaitu produk terbaru dari Rich, serangkaian kosmetik.
Rich mempunyai beberapa pabrik besar yang ada di Donghae, Shindong dan ada pula yang di Min-ju.
Label R.C sudah mendominasi semua produk, baik produk impor, maupun produk dari produsen lokal, kebanyakan sudah memakai label Rich Corporation.
Selama, ada kerjasama dari kedua pihak perusahaan. Pasti akan ada nama R.C. dalam produk tersebut.
Tidak semua produk berlabel R.C itu, olahan dari industrinya R.C sendiri. Melainkan, ada sebuah kerjasama dengan pabrik luar negara maupun pabrik lokal.
"Konsep yang bagus. Mengagumkan." Suara Presdir Nicholas dan memberikan applause.
"Terima kasih." Ucap Talita. Padahal yang di maksud bagus itu, rancangan konsep iklan, pemikiran dari Rey.
Presdir Nicholas membatin "Gadis ini seusia Lovie. Apa Rey mempekerjakan anak di bawah umur? Ah, aku tidak boleh berfikir terlalu dangkal."
"Rey."
"Iya Presdir Nicholas. Bagaimana dengan konsep yang saya ajukan ini?"
"Untuk desain dan perencanaan bagus. Hanya saja, biayanya terlalu tinggi. Akan sayang sekali bila durasai 1 menit itu membutuhkan anggaran dengan jumlah yang sangat banyak."
"Saya sudah memperhitungkan semuanya Presdir."
"Saya tahu, kamu pasti mengira, nanti akan ada perubahan permintaan dari perusahaan saya. Terlebih, ini produk kosmetik. Saya lebih suka, kalau ini mengunakan sentuhan alami."
Mendengar itu, Rey terdiam. Talita membuat coretan dan mencoba untuk memberikan konsep tentang kosmetik dan sentuhan alami.
"Bos Rey. Coba buat begini." Talita menyodorkan kertas yang berisi gambaran untuk iklan.
"Talita, ini bukan tugas menggambar di sekolahmu." Tolaknya.
"Aku setiap hari nonton iklan. Aku jauh lebih memperhatikan iklan dari pada acara televisi."
"Iya, tapi ini tidak seperti kamu sewaktu sekolah."
"Aku memang tidak bisa membuat konsepnya. Aku masih SMA. Tapi aku mengerti apa yang Presdir inginkan."
Ketiga orang yang ada di ruangan itu, tampak menatap Rey.
"SMA??" Doddit terkaget.
Si sexy Metta "Emh, si bucin berubah daya tarik ke gadis SMA."
Metta tahu tentang Richard, Jihan dan Rey. Selalu memanggil Rey dengan si bucin. Budak cintanya, Jihan.
Metta berkata "Hallo, Talita."
__ADS_1
Karena tadi sebelum presentasi, Talita memperkenalkan nama dan posisi kerjanya sebagai asisten pribadi Rey.
"Iya Kak." Talita jadi berdebar.
"Kamu, masih sekolah?" Tanya Metta.
"Iya Kak. Saya hanya kerja sambilan." Jawabnya terlalu jujur.
Rey memalingkan wajah dan tangan kirinya sudah mengepal.
"Konsep apa yang bisa kamu tawarkan untuk perusahaan saya? Saya juga sedang dekat dengan gadis SMA. Dia seperti kamu. Bahkan, dia banyak membantu keluarga saya." Ucapnya Presdir Nicholas.
Semua orang yang ada di ruang meeting, jadi menatap ke arah Presdir Nicholas.
"Apa beliau ini sugar Daddy?"
"Apa maksudnya dengan perkataan Presdir Nicholas?"
"Presdir sudah baper duluan. Padahal, belum tentu si Lovie hamil. Emh, tapi setidaknya, putranya sudah berusaha melepaskan burung gantengnya."
"Saya tidak mengerti tentang cara pembuatan iklan. Hanya saja, saya menyukai tayangan iklan. Apalagi, produk R.C. sudah menjadi kegemaran saya. Saya melihat dari konsep mie instan yang super pedas, itu terlalu berlebihan. Meski aroma dan rasanya memang nikmat, harusnya rasa nikmatnya itu bisa difokuskan kepada kalangan menengah ke bawah seperti saya."
"Talita." Teguran Rey terdengar pelan.
"Aku hanya mengutarakan pendapatku. Apa itu buatan Bos Rey. Harusnya nggak perlu lebay. Masa iya, Mie instan makanan sultan??!"
Rey merasakan sengatan lebah, dari mulut manisnya Talita ini.
Presdir Nicholas dan lainnya tampak terheran saja akan sosok Talita.
"Silakan, lanjutkan. Saya akan mendengarkannya. Ini juga akan menjadi masukan agar produk kami, selalu digemari para konsumen."
"Untuk kosmetik ini. Lebih baik menggunakan pesona alam. Apalagi, produknya berbahan herbal. Lebih menarik, bila nuansa alam yang mendominasi dari sisi backgroundnya dedaunan, kolam yang ada gemercik airnya, dan sunscreen lebih tepat iklannya di pantai, bukan di menara emas. Tidak harus artis sexy, yang memakai produk dalam pengambilan gambarnya. Lebih baik, suasana alam terbuka dan air yang menjadi point utamanya."
"Bagus sekali ide kamu. Lalu, siapa yang cocok untuk menjadi model iklan saya ini? Sebutkan, menurut kamu saja."
"Emmmh."
"Emmh??"
"Jihan. Sepertinya cocok."
Gubrrak!
"Good."
Rey menggeleng dan semakin kesal.
"Talita, jangan mengacaukan ideku."
"Bos, mana berani aku mengacaukan ide bagusnya Bos. Aku hanya mengatakan pendapatku saja."
"Tapi, ini iklan. Bukan rancangan kamu membuat rumah-rumahan."
Talita tersenyum, dan masih menatap Rey, "Emh, Bos iri ya sama aku."
"Siapa juga yang iri sama murid Ibuku. Aku akan bilangin sama gurumu, kalau kamu sudah mengacaukan pekerjaanku."
"Silikan laporin aku. Aku juga tinggal bilang sama guruku. Aku anak dibawah umur, sudah diculik dan dirayu Bos dari Sheen."
Yang lain bingung, hanya menatap Talita dan Rey, yang tampak ribut sendiri.
Tiba-tiba, seorang pria berusia 40 tahun dengan tampilan kemeja pendek, datang mendekat.
"Pres-dir. Ga-wat." Ucapnya yang terdengar terbata-bata.
"Ron, kenapa kamu kemari? Kamu kenapa sampai berkeringat begitu??" Tanya Presdir Nicholas.
"Saya dari lobby, lari-lari sampai kemari. Itu Presdir." Mencoba mengatur nafas dulu, sampai menunduk dan memegang kedua lulutnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Presdir Nicholas kepada asisten pribadinya.
"Polisi."
"Polisi??"
__ADS_1
"Ii-iya Presdir. Polisi datang kemari."
"Hah, ada polisi. Apa mereka tahu soal perjanjian aku sama Bos Rey?" Talita mengingat, akan semalam yang melihat polisi juga mendatangi Hotel DeNuca.