
"Kamu sepertinya pria yang optimis." Ujar Papi Benny, wajah itu tampak tersenyum.
"Om Benny, jujur saja. Saya seperti ini karena Lovie. Kalau Om berkenan, sekarang juga saya akan menikahi Lovie."
"Kita dengarkan dulu, jawaban dari Lovie."
Papi Benny melihat wajah gemas, dari seorang pria dewasa yang jatuh hati dengan putrinya.
Lovie yang datang mendekat, tanpa permisi dan menyapa sang Papi. Langsung membalas ucapan Richard barusan. "Kak Richi, sekarang ini aku nggak mau menikah."
Richard yang tampak duduk bersandar di ranjang pasien, menatapnya dengan cemberut "Kenapa tidak mau?"
"Seharusnya, Kak Richi bilangnya sama aku, bukan bilang ke Papi."
"My Lovie, dari tadi pagi, aku sudah bicara sama kamu. Aku serius, aku mau menikahi kamu. Tapi kamu menolak aku."
"Kak Richi, aku memang belum ingin menikah."
Richard yang tampak manyun manja. Perasaannya jadi gelisah, lagi-lagi dirinya ditolak Lovie, apalagi di hadapan calon Papi mertua.
Sang Mommy, tampak berdiri di sebelah Papi Benny. Hanya bisa tersenyum, saat melihat putranya yang sudah ditolak gadis belia ini.
"Lovie."
"Aku mau menikah, tapi tidak harus sekarang. Buktikan keseriusan Kak Richi. Karena Papi aku, sudah datang kemari, aku sepertinya harus pulang."
"Kamu mau ninggalin aku?" Tatapan Richard sudah terlihat putus harapan.
"Aku harus pulang dulu. Nenek tidak mau pulang dari rumah sakit, kalau aku tidak pulang. Aku tadi juga sudah bilang sama Kak Richi, besok pagi aku harus kembali ke sekolah."
"Terus, aku harus gimana? Siapa yang akan merawat aku?" Suara Richard terdengar sangat mengharapkan Lovie. Perlahan menata bantalnya. Mulai berbaring ganteng di ranjangnya itu.
Lovie mengelus rambutnya, seperti mengelus bulu kucing.
"Malam ini saja. Besok sepulang sekolah. Aku akan kemari lagi. Aku janji."
"Filingku benar. Kamu pasti ninggalin aku."
Lovie tersenyum, ia berkata "Hanya sebentar. Aku akan kembali kesini dan merawat Kak Richi sampai sembuh."
Richard dengan terpaksa, ia tersenyum di depan Lovie dan ia berkata "Baiklah, aku tidak apa-apa. Kamu memang harus pulang dulu. Nanti kalau aku sudah pulih, aku akan menjemput kamu."
"Menjemput aku?"
"Aku akan antar jemput kamu ke sekolah." Jawabnya dan hanya berpura-pura sok cool, di hadapan pujaan hatinya.
Lovie jadi baper, "Kak Richi, aku minta maaf. Aku sudah banyak merepotkan Kak Richi. Sampai-sampai, Kak Richi jadi celaka karena aku."
"Tidak, kamu tidak bersalah. Aku memang harus melindungi kamu."
Keduanya orang ini jadi tersipu, serasa dunia milik berdua. Lovie membawa perasaannya, mencium bibirnya Richard.
Papi Benny jadi memalingkan wajahnya dan Mommy Nancy sudah tampak tersenyum manis saat melihatnya.
Lovie kembali mengelus kepala Richard, ia berkata "Aku tinggal dulu ya. Aku mau siap-siap. Kak Richi bisa ngobrol dulu sama Papi."
"Iya." Richard jadi salah tingkah, saat menoleh ke arah Papi Benny.
Lovie pergi bersama Nyonya Nancy, ke rumah seberang.
Sudah jam 5 sore waktu setempat. Di kota Shindong bagian selatan. Jalan utama yang menghubungkan kota Shindong dan Donghae.
Udara di Shindong bagian selatan, sudah mirip di kota Donghae, yang berhawa sejuk. Tapi, tidak sedingin Donghae yang memang daerah pengunungan.
Dari rumah Nyonya Nancy ke Donghae, menempuh perjalanan mobil selama 3 jam.
Sedangkan perjalanan menuju ke puncak gunung, di kota Donghae, bisa sampai 6 jam perjalanan.
Pemandangan pegunungan di belakang rumah Nyonya Nancy nampak kebiruan. Saat Lovie menyeberang jalan bersama Nyonya Nancy, tidak henti memandangi bukit gunung yang indah.
"Ibu, aku dulu lahir di bukit sana." Ucap Lovie dan menunjuk ke arah gunung itu.
__ADS_1
"Kamu lahir di Donghae?"
"Mami asalnya dari Donghae. Saat hamil. Mami dan Papi tinggal disana, sampai saya lahir." Jawabnya manis.
"Pantas saja, kamu sangat cantik. Air pegunungan dari Donghae, banyak kasiatnya. Ibu, selalu memesan tangki air pengunungan Donghae."
"Jadi, air minum di rumah ini dari Donghae?"
"Bukan itu saja. Kalau Richard ingin berenang, Ibu pesan banyak tangki dari sana."
"Owh, pantas saja Kak Richi kulitnya sehat. Saya pikir, Kak Richi sering perawatan ke klinik kecantikan."
Sudah tampak menyebrang jalan dan Lovie jadi merasa semakin penasaran.
"Ibu, Kak Richi dulu remajanya gimana? Apa dia rajin sekolah?"
"Richi, biasa saja. Sekolahnya lumayan rajin. Tapi, dia murid biasa. Tidak banyak kelebihan, biasa saja."
Nyonya Nancy tersenyum, mengingat beliau yang selalu mengantar ke sekolah.
Terkadang Richard malu, sudah SMA kelas tiga. Masih diantar sama Mommy, bahkan dicium pipi kanan kiri, setiap hendak masuk ke gedung sekolahnya.
"Malu?" Lovie jadi terkekeh, malah juga membayangkan saat Richard di usia itu.
Lovie melanjutkan perkataannya "Ya, mungkin saja, karena anak cowok. Kalau saya, malah ingin diantar sama Mami. Tapi, Mami udah nggak ada."
"Ibu akan mengantar jemput kamu."
"Ibu, saya sudah banyak merepotkan Ibu."
"Mami kamu, pasti mendidik kamu dengan baik."
"Benar. Mami dulu seorang guru. Saya juga ingin menjadi seperti Mami, tapi sayangnya, saya tidak sepandai Mami. Mami mengajari saya, untuk mandiri. Agar tidak bergantung sama orang lain. Meskipun, di rumah ada asisten, dan pekerja lainnya. Mami tetap memasak sendiri, menyiapkan bekal, menyiapkan pakaian saya dan semuanya. Dari situlah, saya mulai belajar untuk bisa mandiri seperti Mami. Wajah saya memang dupiklat Mami, tapi saya seperti Papi, tidak pandai dalam hal pelajaran. Dulu, Nenek bilang sama saya, kalau Papi dijodohin sama Mami, biar cucunya pintar dan rajin. Tapi tidak begitu hasilnya, saya begini, biasa saja dan tidak pandai." Lovie jadi tersenyum gemas.
"Mami kamu, pasti bangga sama kamu."
"Semoga saja begitu. Saya hanya berharap, semua ini menjadi pelajaran berharga untuk saya. Saya juga salah, kabur dari rumah, dan minta dihamili pria tampan."
Nyonya Nancy memegang wajah Lovie, kemudian bertanya dengan lembut "Apa kamu menyesal atas tindakan Richard?"
Nyonya Nancy, meraihnya dalam dekapan dan mengelus rambut Lovie.
Lovie merasakan kasih sayang yang tulus, dari seorang Ibu.
Ibu Nancy berkata "Lovie, terima kasih banyak. Semoga kedepannya. Kamu bisa menerima Richard dengan sepenuh hati."
"Saya akan pertimbangkan. Karena, saya bersungguh-sungguh dengan janji saya kepada Ibu Nancy."
Saling menatap dan Nyonya Nancy jadi terharu, ada perasaan yang susah untuk diungkapkan.
"Maafkan Ibu, kalau Ibu telah membuat masalah untuk kamu."
"Ibu tidak perlu minta maaf."
Ibu Nancy tersenyum, "Ayo Ibu bantu rapikan baju-baju kamu."
"Ibu, saya cuma mau ambil tas saya. Pakaian saya biarkan disini saja. Nanti, saya akan kembali."
"Baguslah kalau begitu. Sering-seringlah kemari."
Nyonya Nancy, begitu berat untuk berkata tentang pernikahan. Karena, pernikahan bukan hal yang diinginkan oleh gadis belia seperti Lovie.
Saat Lovie pergi meninggalkan ruang perawatan Richard, Presdir Nicholas pulang dari kantor dan akhirnya malah mengobrol dengan Papinya Lovie.
Sang pasien tampan ini, hanya mendengar obrolan mereka.
"Daddy malah mendukung Lovie. Apa Daddy nggak mikirin perasaan aku?"
Richard jadi genana, baru kali ini perasaan manisnya muncul. Setelah, 5 tahun berlalu.
Bahkan, dulu dengan Jihan tidak sampai tergila-gila begini. Richard sepertinya, kebanyakan obat bius saat operasi.
__ADS_1
Baru beberapa hari lalu, selalu menolak kehadiharan gadis belia yang satu ini. Giliran sang gadis mau pergi, perasaan dia semakin terasa nyata.
"Semoga saja, Mommy menghalangi kepergian Lovie. Aku nggak mau, dia pergi disaat aku sayang-sayangnya. Aku juga belum mengatakan cinta padanya. Ini, ini nggak bisa dibiarin." Batinnya Richard semakin aneh.
"Selamat sore Pak Nicholas."
"Pak Dokter sudah datang, mari Pak silakan diperiksa lagi. Itu dari tadi pagi merengek, katanya sakit lagi perutnya."
Dokter tampan yang berusia 50 tahun sudah tersenyum "Itu karena, putra Pak Nicholas, sangat aktif sekali."
"Maksudnya Pak Dokter?"
"Sepertinya, Richard menikmati masa bulan madu."
"Bulan madu?"
Richard jadi memasang muka datar dan berpura-pura tidak mengerti akan perkataan dokternya.
Presdir Nicholas, jadi memicingkan matanya dan melihat ke inti kolornya Richard.
Papi Benny, jadi senyam-senyum. Dari penilaiannya, pria ini memang sudah mantab menikahi putrinya.
"Mari silakan dokter. Cepat periksa saja. Kalau perlu, berikan obat yang ampuh, agar dia bisa menikmati bulan madunya, tanpa kekasakitan."
"Baik Pak Nicholas, saya juga sudah membawa obatnya. Semoga saja, besok lukanya sudah membaik dan tidak akan terasa nyeri lagi."
"Silakan dokter periksa anak saya, saya mau ada perlu di luar."
"Baik Pak Nicholas."
Papi Benny juga pergi dari ruangan ini. Papi Benny dalam hatinya juga sudah gemas.
Suster yang selalu menjaga disini, telah mengadu kepada dokternya. Kalau pasien yang ini, sempat bercinta.
Saat Lovie disuruh begini-begitu juga menurut saja dan akhirnya terlihat oleh suster, yang mengantar obat malamnya.
"Pak Dokter, saya hanya olah raga ringan, biar saya bisa mengeluarkan sedikit keringat."
"Bisa saja, senam malam itu dilakukan. Namun, tunggu lukanya mengering."
"Pak Dokter, apa luka saya jadi infeksi?"
Dokter tampan ini sangat mengerti, kalau diajak ngobrol begini. Richard jauh lebih rileks dan tidak akan merasa sakit, saat membuka perbannya.
Ada luka dalam jatihan operasinya, Dokter meneteskan obat, rasanya mantab jiwa.
Aaaahhh!
Aaaagggrrhhh!!
Menjerit kencang.
Lovie berlari mendekat dan langsung membungkam mulutnya dengan ciuman.
Emmh!
Dua suster muda jadi tersenyum, saat melihat hal yang menggila dan perawat pria menutupi wajahnya, dengan map hitam yang ia pegang.
"Setelah ini, tidak akan sakit lagi." Dokter menoleh ke arah Richard.
Lovie menyudahi ciumannya dan mendekati Pak Dokter.
"Pak Dokter, bagaimana keadaan Kak Richi, apa lukanya baik-baik saja?"
"Ini, tinggal sedikit lukanya. Tidak apa-apa. Besok juga akan kering."
"Baguslah kalau begitu."
"Kamu sepertinya, juga tidak sabar menantikan kesembuhan kekasihmu."
"Iya Pak Dokter."
__ADS_1
"Besok pagi, kalian berdua bisa kembali berolah raga."
"Baik."