
Jihan yang membaca berita tentang Sheen dan Rich. Perasaannya, seketika hancur. Wajahnya terlihat muram sekali.
Dengan dada bergemuruh dan bibir bergetar, Jihan sudah mengumpat Rey. "Rey, kamu lebih bejat dari Richard." Teriakkan kesal dari Jihan "Aaaaaaa!!!"
Jihan sampai membanting ponselnya.
Retak!
Sebelum orang tuanya datang ke kamar, Jihan sudah kabur dari hotel JM.
Jihan lebih dulu mendapatkan kabar, sebelum media menyebar luaskan berita tentang Sheen.
Ada mata-mata Jihan di Rich, yang sampai sekarang masih setia padanya.
"Kita mau kemana?" Tanyanya dan menoleh ke arah Jihan. Ia, seorang model seperti dirinya.
Saat ini, Jihan sudah berada di mobil teman dekatnya.
"Kemana saja, aku tidak mau bertemu dengan Rey." Jawabnya Jihan dan hanya menangis, sambil menatap ke arah jalanan.
Ia yang sedang melajukan mobilnya, kembali menoleh ke arah Jihan dan berkata "Aku heran deh sama kamu. Urusan cowok saja ribet banget. Masih banyak cowok ganteng di luar sana. Malah ingin dijodoh-jodohin segala. Nah, jadinya malah begini, gimana?!"
"Angella, kamu benar. Masih banyak cowok yang mau tidur sama aku."
"Emm??" Ia tampak tersenyum, melihat dari atas sampai ke bawah " Jihan memang punya Nilai jual yang tinggi."
"Aku kesal. Aku nggak mau mengharap cinta dari Rey. Aaaaa...bereengsek!" Jihan yang sangat kesal.
"Oke. Aku pastikan, kalau Mama kamu tidak akan mengawasi kamu."
Jihan ini, sebenarnya sudah terbawa arus pertemanan yang tidak baik. Akhir-akhir ini, sering kali melampiaskan masalahnya dengan minum-minuman keras. Sampai lupa diri dan banyak pria yang datang menggoda.
Temannya malah mengompori kalau Jihan sosok cantik dan sexy. Pasti banyak cowok yang akan mengantri.
Saat ini, teman itu sedang mengatur aksi nakalnya.
Mobil sport warna kuning itu, sudah tiba di sebuah club mewah dan jauh dari pusat kota Shindong.
Bestiee Club, yang ada di kawasan timur Shindong.
"Jihan, selamat bersenang-senang." Gumamnya, diiringi senyuman.
Di Hotel JM, acara tetap dilangsungkan. Nyonya Bianca, nekat menjodohkan putrinya yang masih kecil untuk bertunangan dengan Ron.
Gadis 11 tahun, yang tampak manis dengan balutan gaun warna putih dan Ron juga terpaksa memenuhi harapan Papanya.
Melihat Papanya yang berwajah muram, Ron juga tidak tega melihatnya. Apalagi, Mama yang mengasuhnya juga sudah memaksanya. Agar, pesta malam ini tidak mempermalukan keluarganya.
Untungnya, undangan itu tidak tertera nama Rey dan Jihan. Jadinya, tetap aman di hadapan para tamunya.
Akhirnya, Julian dan Hanz tetap akan berbesanan. Menunggu nantinya, gadis kecil itu sampai lulus sekolahnya. Dia juga cantik, tidak berbeda dengan Talita.
Pandai dalam akademi dan sikapnya lebih kalem dari pada saudaranya yang lain.
Briella dan Ron, telah resmi bertunangan.
Saat menatap wajah Briella, Ron sangat jelas menolak gadis ini. Dia, yang berdiri di sebelah kanan Briella, Ron berbisik pelan. "Semua ini, aku lalukan demi Papaku."
Briella hanya terdiam. Ia membatin "Ron. Aku juga tidak peduli dengan ucapan kamu."
Mereka berdua, tampak photo bersama dengan background dekorasi yang menawan.
Lalu, yang di hotel DeNuca. Sudah selesai pesta.
Doddit dan Metta berjalan bersama. Terlihat Bu Choi dan timnya Bos Richard.
"Doddit, kejutan dari Presdir Nicholas. Beneran bikin aku syok." Ucapnya Metta.
Milie jadi berkata "Emh, saya ingat. Dia itu, yang fotonya tersebar di grup chat bukan?!"
"Iya Milie Cantik. Dia Nonaku yang baru. Aku disuruh Nyonya nyari asisten buat dia."
"Kak Doddit. Aku mau dong." Ucapnya Milie, yang terlihat bersemangat.
Doddit memandangi Milie. Tampak gadis manis dan cantik. Namun, tidak sesuai kriteria yang diharapkan Doddit.
"Sorry Milie. Kamu kurang begini." Doddit yang menilai lekuk tubuh yang harus sexy dan aduhai.
"Aku kurang sexy ya?" Milie jadi menatap dirinya sendiri.
Bu Choi di sebelahnya, merangkul Milie "Milie, jangan sedih. Lebih enak duduk di kantor, pulang tepat waktu. Dari pada seperti Doddit, yang harus jalan kesana kemari. Pasti akan jauh lebih capek."
__ADS_1
"Iya Bu Choi. Aku tidak akan bersedih. Tapi Kak Doddit benar. Body ini kurang sexy."
Metta berkata "Milie, nanti aku akan ajari kamu, biar kamu jadi sexy."
"Benarkah?!"
Doddit merangkul Metta, ia berkata "Darling, jangan aneh-aneh deh."
"Iiih, pikiranmu saja yang ngeres. Aku cuma mau kasih resep biar bodygoal. NgeGym, makan sehat dan menjaga penampilan, begitu saja."
Bu Choi berkata "Nona Metta, saya juga mau resepnya. Biar suami saya jadi makin tergila-gila terus."
Doddit berkata "Hish, perempuan kalau udah ngumpul, yang dibahas begituan."
Winz berkata "Kak Doddit, kita tim cowok juga selalu menjaga penampilan."
Metta memegang lengan tangan kekar Winz, "Nah, ini yang aku suka. Macho, tapi tidak berlebihan."
Doddit berkacak pinggang, menantang Metta. "Metta, kok kamu jadi menilai fisikku."
Metta berkata "Kamu tadi juga, menilai fisik seseorang."
Semua temannya jadi berjalan pergi. Doddit terdiam, melihat ke arah mereka semua.
"Hish, aku selalu salah di mata kalian semua."
Richard berdehem, Doddit jadi berbalik badan dan tampak berdiri tegap.
"Siap Bos Richard."
"Antar aku pulang ke rumah. Aku malas tidur disini."
"Lalu, Nona Cantik?"
"Dia masih sama Mommy dan Talita."
Doddit bersemangat, "Oke, kalau begitu saya siapkan mobil anda."
Saat bersamaan, Rey keluar dari Aula dan bertemu Richard di sebuah koridor.
Richard menyernyitkan dahi, ia bertanya "Kamu kenapa bisa memilih Talita?"
"Richard, aku harus bertanggung jawab, dengan apa yang sudah aku perbuat."
Richard mendesis "Rey, sudah terjerat. Aku pikir, cuma aku yang terjerat gadis belia. Ternyata, dia juga dilahab sama adik baruku."
Richard kali ini benar-benar tertawa. Rey menoleh ke belakang. Saat ini, bukan lagi hanya banyangan wajah Richard yang menertawakan dirinya.
"Hiissh...Richard awas saja nanti. Kalau kita punya anak. Aku nggak mau punya besan seperti kamu."
"Rey, semoga saja kita bisa jadi keluarga. Kamu jadi suaminya adik baruku. Duniaku rasanya menggila."
Lovie yang datang mendekat, sudah merangkul lengan tangannya.
"Kak Richi, ayo kita pulang."
Richard menoleh ke wajah Lovie. "Aku pikir, kamu bareng Mommy."
"Iih, tadi Kak Richi nyuruh aku jangan kemana-mana. Aku cuma pamit Ibu, eh Kak Richi malah ngacir duluan. Hufh."
"My Lovie sayang, aku minta maaf. Ya aku tidak tahu, kalau kamu pamit sama Mommy. Aku pikir kamu bereng Talita."
"Aku berangkat sama Kak Richi, pulang juga harus bersama Kak Richi."
Melihat ekspresi kesal Lovie, Richard memegang wajah Lovie dengan kedua tangannya.
"My Lovie sayang, kamu kalau lagi ngambek ngegemesin."
"Apanya yang ngegemesin?"
"Ini wajah kamu. Beneran bikin aku gemas."
"Iya, soalnya aku masih anak-anak jadi ngegemesin. Bukan gadis sexy yang pandai berdansa."
Lovie jadi melepaskan diri dari Richard dan berjalan pergi lebih dulu.
"Kenapa jadi ngambek beneran?! Katanya mau pulang bareng aku?!"
Richard berjalan cepat mengejar Lovie.
Lovie yang mendesis "Bilangnya, mau buktiin kalau dia suka dan cinta sama aku. Kenapa jadi berdansa sama orang lain. Mana perempuannya, sexy banget. Bikin aku kesal."
__ADS_1
Menekan tombol lift, Rey masuk ke lift itu. "Lovie, kamu sendirian? Richard mana??"
"Entahlah, aku tidak tahu."
"Owh, dia masih dansa sama Crystal."
"Iya kali."
Lovie jadi bersedekap. Richard melihat Rey dan Lovie dalam satu ruangan. Rey memang sengaja menggodanya.
Rey melambaikan tangan kepada Richard dan perlahan pintu lift tertutup.
"Sialan!! Rey ternyata belum pulang. Dia sudah terjerat Talita, tapi masih ingin merayu My Lovie?"
Richard jadi kesal. Menekan tombol lift yang ada elevator satunya. Saat pintu itu terbuka, tampak bertemu Presdir Hanz.
"Om Hanz."
"Richard, kamu ingin pergi?"
"Iya Om."
Richard masuk dan Presdir Hanz keluar dari elevator.
Setelah pintu tertutup, Richard jadi berkata "Om Hanz, pasti mencari Rey."
Setelah, putranya bertunangan dengan putrinya Presdir Julian. Presdir Hanz pergi ke Hotel DeNuca seorang diri.
Di aula masih ada keluarga Shen. Bukan hanya Kakek dan Ibunya Rey. Namun, ada Paman dan Tantenya Rey. Yang turut hadir, apalagi soal bisnis. Mereka berdua, tidak mau ketinggalan berita.
"Diana." Suara yang terdengar lembut.
Bu Diana yang tadinya duduk di sebuah kursi, jadi berdiri melihat kedatangan sang suami tercinta.
"Hanz, akhirnya kamu datang kemari." Suara Papa mertuanya, begitu bersemangat.
Presdir Hanz berjalan mendekat dan tampak berkharisma.
Presdir Nicholas segera mendekat, dan langsung memeluk sahabatnya.
"Aku minta maaf sama kamu. Aku harus bertindak cepat, demi Sheen."
"Aku tidak apa-apa."
Kedua orang yang saling menguatkan dan mereka memang bersahabat dekat.
Talita yang masih duduk bersama keluarga ini, tampak ikut berdiri menyambut Presdir Hanz.
Nyonya Nancy berkata "Presdir Hanz, terima kasih. Sudah berkenan untuk menghadiri acara kami."
"Nyonya Nancy, saya tetap harus menghadiri pertunangan putra saya."
Keduanya, saling tersenyum. Meski Nyonya Nancy juga terlihat terpaksa menyambutnya.
"Diana, kenapa kamu tidak bilang sama aku?"
"Untuk apa aku bilang. Kalau istrimu yang lain juga mengatur acara sendiri. Rey putra kandungku. Apa kamu lupa?"
Keduanya yang saling berbisik sengit.
Nyonya Diana, memperkenalkan Talita.
"Hanz, ini Talita. Calon menantu kita."
Begitulah Nyonya Diana, ketika bersama suaminya. Tidak pernah berkata formal dan sikapnya memang begitu, dari dulu sampai sekarang. Hanya beliau ini, yang tidak pernah merayu dan berkata manis kepada suaminya.
"Saya Talita." Ucapnya Talita, manis.
Presdir Hanz, menatap wajah Talita. Sebelumnya, beliau memang pernah melihat Talita, saat di sekolahnya Ron.
"Saya Hanz, Papanya Rey."
Talita merasa canggung, saat seorang Papa ini menatapnya dengan serius.
Setelahnya, mereka semua duduk. Ada meja bundar dengan hiasan bunga segar.
"Hanz. Perjodohan ini. Aku yang mengatur. Kamu jangan menyalahkan Nicholas." Ucapan Papa mertua ini, jelas.
Presdir Hanz hanya tersenyum, kemudian istrinya berkata "Tiga bulan lagi, Rey dan Talita akan menikah."
"Tiga bulan lagi?"
__ADS_1
"Iya. Ini yang sedang kita bahas sekarang."
"Diana, bukannya Talita sudah hamil."