
Sepasang pengantin kabur dari atas pelaminan.
Troy membawa istrinya pergi.
Apapun yang Lily minta, Troy langsung menurutinya.
Saling memandang, saat Lily masih berada dalam dekapan.
Lily yang digendong Troy, menuju ke kamar pengantin yang ada di lantai paling atas.
Eits, mereka nggak sabar. Milih kabar yang asal-asalan. Ada pintu kamar terbuka dan seorang staff hotel mengecek ruangan ini.
Opss!
Perempuan itu, segera tutup mulut dan keluar dari kamar ini.
"Aku akan mengunci mereka berdua."
Wanita yang berusia 25 tahun itu, tampak terkekeh melihat ulah pengantin baru itu. Lalu, ia-pun pergi meninggalkan kamar itu.
Lily masih dalam dekapan Troy dan bibir mereka tengah berciuman.
Berulang-ulang ciuman itu dilakukan dan akhirnya sampai Lily terbaring di atas tempat tidur mewah.
Saling menatap dan mengungkap perasaan.
"Aku mencintaimu." Ucapnya Troy, dan tangan itu membelai rambut Lily.
"Aku juga mencintamu." Balasnya Lily.
Kembali lagi berciuman, kedua tangan Lily masih mengalungi lehernya Troy.
Disaat para tamu masih menikmati pesta pernikahan di aula hotel. Pengantin baru itu, malah bermain nina boboan.
Lily memang suka membaca novel dan berkhayal manis. Malam ini, bukan lagi cerita dalam novel yang dia baca.
Sentuhan demi sentuhan Lily rasakan.
Sssh..
"Aku akan menggunting gaunmu."
"Jangan!!"
"Kenapa?"
"Kita dikamar lain??"
Troy menoleh ke ruangan ini. Sepertinya, mereka salah memilih kamar.
"Om Bule, kita terjebak disini."
"Tidak apa-apa. Asalkan aku bersama kamu."
"Iya. Aku senang kita menikah."
Troy jadi membaringkan diri, di sebelah kanan Lily.
"Bee. Kamu ingin bulan madu kemana?"
"Kemana ya? Aku bingung."
Lily, jadi menatap suaminya dan membelai wajah Troy dengan jemarinya.
"Suamiku. Ayo kita bercinta."
"Sekarang??"
"Iya."
Troy membalikan badan Lily, melepaskan ikatan tali gaunnya Lily.
"Suamiku, pelan-pelan dong. Jangan ditarik begitu."
"Sayang, ini sudah pelan. Talinya kecil, susah banget, kalau digunting bisa cepat terbuka."
"Aaa..."
"Jangan mendessah dulu. Belum aku apa-apain juga."
"Eemhh."
"Bee. Sabar dulu, sebentar lagi."
"Suamiku. Perasaanku jadi nggak enak."
"Kenapa?"
"Aku ngerasa kalau aku jadi pusing lagi."
"Jangan bilang, kamu minum obat itu?"
"Nggak tahu. Aku minum dari Lexi."
Troy melihat keanehan Lily yang berubah lebih genit padanya.
"Bee."
"Apa aktingku kurang gereget ya?"
"Suamiku. Aaa.."
Lily dalam hatinya tertawa, saat melihat ekspresi suaminya.
"Bee.. Sadar. Ini aku sayang."
"Emwmm.. Bule tampan. Peluk aku."
Lily melihat suaminya takut padanya.
Semoga saja, itu suaminya nggak sampai ilfil sama istri nakalnya.
Yuk, balik ke aula pernikahan.
Papa Richard, sudah menikahkan putra putrinya dengan perasaan kasihnya.
Mama Lovie menangis, saat Lucas memeluknya dan meminta restu kepada Ibu yang membesarkannya.
"Sayang, maafin Mama. Kalau selama ini, Mama mengecewakan kamu."
"Mama tidak mengecewakan aku. Aku tahu, Mama sangat menyayangi aku. Aku akan menjaga Violla, seperti Mama menjaga aku."
"Terima kasih sayang. Kamu sudah mewujudkan permintaan Mama."
Karena, sebuah janji persahabatan. Mama Lovie membujuk Lucas untuk menikahi Violla.
Awalnya, Latte yang harus memenuhi janji Mamanya kepada sahabat Mamanya.
Sayangnya, Latte sudah menikahi Vanilla. Mama Lovie juga tidak menyalahkan Latte.
Namun, Mama Lovie pernah berjanji kepada sahabatnya, kelak akan menjodohkan anak mereka.
Mama Talita, juga menceritakan kalau Violla dari dulu menyukai Lucas.
Lalu, Mama Lovie meminta Lucas untuk menerima cinta Violla. Meskipun, Lucas hanya menyayangi Violla seperti adiknya. Ternyata, Lucas menyetujui pernikahan ini.
"Aku sayang Mama."
Mama Lovie memeluknya erat dengan perasaan sayang. Lucas juga menangis haru, karena kasih sayang dari Mamanya.
Mama Jihan, melihat ke arah mereka. Tanpa sadar, air bening menetes begitu saja.
"Sayang." Sang suami, memberikan sapu tangannya kepada Mama Jihan.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya terharu."
"Lucas dan Ethan, pasti bisa memenuhi tanggung jawab mereka sebagai suami."
"Iya. Tapi, Ethan masih labil. Aku hanya menuruti kemauannya."
"Nantinya juga akan berubah."
Mendengar Lexi mau dijodohin, Ethan gercep.
Sebenarnya, Ethan mencintai Lexi. Dari semasa SMA sampai sekarang. Hanya saja, Ethan cemburuan dan sikapnya terlalu keras kepada Lexi. Itulah, yang membuat Lily tidak suka kalau Ethan berlaku kasar kepada sahabatnya.
"Jangan harap aku memaafkan kamu." Lexi sewot, saat duduk bersanding dengan Ethan.
"Aku minta maaf. Aku tahu, aku salah."
"Buktikan, kalau kamu sudah berubah."
"Iya. Aku akan buktikan sama kamu.".
"Ini, pegang tanganku. Biar orang-orang senang melihatnya."
__ADS_1
"Lexi."
Lexi menoleh ke wajah Ethan dan suami nakalnya itu. Mencium bibir Lexi di depan para tamu.
Auwh.
Violla yang duduk di pelaminan sebelah Lexi. Melihat itu jadi geregetan.
"Iih, bisa-bisa mesra di depan tamu."
Lucas diam-diam mendekat, dan tangan mereka tanpa terasa bersentuhan.
"Kak Lucas, sana jauh-jauh. Aku malu dilihatin orang." Ujar Violla jadi sensi.
Dia juga jadi sebal. Padahal, ingin membuka perasaannya sendiri. Perjodohan ini, menurutnya hal memalukan.
"Violla, ini hari pernikahan kita. Apa salahnya kita berdekatan."
"Awas kalau macam-macam. Aku bisa teriak." Si gemoy ini, jadi mengancam, namun wajah itu terlihat menggemaskan.
Lucas membalasnya "Kalau kamu teriak. Orang-orang juga tidak akan terpengaruh. Violla, aku suami kamu."
"Kak Lucas." Sekali lagi, Violla sudah memperingatkan.
"Siniin tangan kamu. Aku cuma ingin menggandeng kamu."
"Buat apa menggandeng tanganku? Kita juga mau kabur kayak Lily sama Mr. Troy?"
"Biar terlihat romantis."
"Hish, bilang saja kepingin kayak Ethan."
"Sepertinya, malah kamu yang kepingin begituan."
Cleguk.
Violla merasa menelan salivanya sendiri dan menatap bibir Lucas.
"Itu, kamu ngelihatin bibirku." Bisiknya Lucas.
"Oke. Kita gandengan tangan saja. Cukup gandengan tangan."
Perlahan-lahan, Violla memberikan tangannya. Padahal, tadi biasa saja. Waktu memasuki aula, sampai kiss pertama. Sekarang, malah jadi gerogi sendiri.
"Violla, malam ini kita berduaan." Bisiknya Lucas, semakin menciutkan nyalinya.
Violla berbisik "Aku tidak mau begituan."
"Aku suami kamu, sudah sewajarnya kita begituan."
"Tidak. Aku, nggak bisa malam ini."
"Kenapa nggak bisa?"
"Aku lagi PMS."
Lucas jadi memiringkan senyumannya. Ia merasakan kegelisahan dari Violla. Lucas semakin senang menggoda si gemoy.
"Violla. Aku ingin mengulang ciumannya."
Lucas meraih wajahnya dan mencium bibirnya lebih romantis dari pengantin sebelah.
Dari kursi para tamu, Papa Rey sudah menatap tajam wajah menantunya.
"Papa berhentilah menatap Lucas."
"Talita, aku masih tidak terima."
"Yang penting, anak kita bahagia."
"Lihat itu, Lucas memaksa putriku."
Istrinya malah jahil. "Violla masih malu-malu, seperti Papanya."
"Kamu ini, menyamakan Violla dengan aku?!"
"Dia anakmu, ya seperti kamu. Masa' seperti orang lain."
Papa Rey melihat ke sekitarnya. Istrinya ini, kalau bicara asal ceplos saja. Tidak melihat ke sekitarnya.
"Iya. Aku akan menerimanya dengan lapang dada. Aku masih terima jadi besan Richard. Tapi, aku harus tetap mengawasi putriku."
Aula pernikahan yang mewah dan acara pesta malam ini, sangat romantis.
Sekitar 500 tamu undangan yang hadir memenuhi kursinya. Tampak, menikmati jamuan pesta ini.
Yang di kamar baru pemanasan. Ini juga baru jam 9 malam, belum ada tanda jejak kecupan dari bibirnya Troy.
Lily terdiam dan ngambek.
Tadi, suaminya beneran merasa geli. Habisnya, aktingnya kaya uler yang lagi kelojotan di atas kasur.
"Nggak mau sama aku, ya sudah. Aku memang suka iseng." Ucapnya ketus.
"Bee. Aku minta maaf."
"Nyebelin."
Lily melepaskan gaun dengan mudahnya. Ternyata, tali-tali dipunggungnya cuma variasi.
Resleting samping itu, memudahkan Lily melepaskan tubuhnya dari white gown mekar nan mewah.
"Kenapa aku tidak mengetahui resletingnya??" Batin Troy.
Tampak kaos singlet putih dan hotpants jeans warna putih.
"Sana, geser. Aku mau tidur."
"Bee. Jangan marahin aku lagi."
"Siapa juga yang marahin kamu."
"Itu, tadi kamu marahin aku."
Lily diam dan masuk ke dalam selimut.
"Tahulah! Aku sebal sama kamu."
Lily ngumpet di dalam selimut, tapi suaminya merasakan kedua tangan Lily.
Troy, pura-pura merem dan gantian membalas Lily.
"Teruslah begitu, sampai burungku berdiri." Batinnya Troy yang merasakan ada yang meraba dengan lembut.
Lily masih mencari ujung resleting. Tangannya, meraba ke bagian inti.
"Hish, susah banget narik resletingnya."
Lily mulai asyik bermain sendiri, Troy merem melek, semakin keenakan.
Sssh,
"Sayang, bibirmu memang terhebat."
Lily terdiam, kepalanya menerobos ke dada Troy.
"Aku mau membuka bajumu. Ini semua milikku." Cicitnya Lily, tampak wajah imut menggemaskan.
Tangan Troy memilin bibir Lily, ia berkata "Sini, cium aku."
Lily memasang wajah kekanakan, ia berkata "Om Bule, nanti pelan-pelan saja ya. Aku takut."
"Kenapa takut??"
"Kata orang-orang. Malam pertama itu, pasti sakit banget."
"Aku yakin, kamu bisa menahan rasa sakitnya."
Kedua tangan Troy menarih Lily, dalam dekapannya.
Pria yang kekar itu, membuat Lily berada di atasnya dan melummat bibirnya Lily.
Lembut sekali.
Kedua bibir yang saling mencium dan melummat dengan perasaan cinta.
Lily semakin terbawa rasa, saat jemari menerobos masuk ke dalam kaos singlet yang Lily kenakan.
Awumh,
Sentuhan pertama dengan pelan, Lily merasa geli dan menggeol badannya ke kanan ke kiri. Ingin rasanya menolak, tapi kok enak. Pikiran Lily ya begitu.
Emmh'
"Om Bule, geli."
__ADS_1
"Enak??"
"He'em."
Troy dalam hatinya senang, bisa memegang dua gundukan kenyal itu.
Meski ukurannya kecil, tapi terasa berisi dan nikmat bila dimainkan oleh tangan nakalnya.
"Eemmh,, Suamiku. Aku.. Aaa.."
Saat merasakan ada yang masuk ke lubang inti wanitanya.
"Om Bule."
"Sayang, ini baru awal."
"Emmh.."
"Bentak aku. Sebut namaku. Aku tidak keberatan kalau kamu mengumpatku."
"Sseshh.."
Lily jadi berpindah posisi.
Semakin terangsaang. Baru sentuhan jemari sudah merasakan hal aneh di sekujur tubuhnya.
Merinding, geli tapi enak. Bahkan, pantatnya menggeol ke kanan ke kiri dan tidak mau pasrah.
Troy merasa kalau ini baru permulaan, ia tidak ingin membuat Lily kesakitan.
Lebih baik bermain dengan jemari dan kecupan dulu, biar terbawa suasana, lama-lama Lily akan memanggilnya dan meminta sendiri, untuk dimasuki liang kenikmatannya itu.
Aaaagh'
"Beee..."
"Eemh."
Bassaaah!
Wajahnya jadi ngumpet di keteknya Troy. Lily berkata "Om Bule, aaa gitu ah. Bikin aku.."
"Bee. Kamu kenapa?"
"Bikin aku,..suka banget."
Troy jadi merangkul Lily dan mengecup kepala Lily dengan rasa sayang.
"Aku tidak ingin memaksa kamu."
"Iya. Aku takut, aku takut hamil, aku takut jadi Ibu."
"Kenapa takut??"
"Aku melihat Vanilla yang seharian sibuk mengurus anaknya. Aku jadi mikir, betapa lelahnya menjadi Ibu."
"Kemarin, kita sudah berlatih menjadi Daddy dan Mommy."
"Iya. Itu cuma 3 jam. Coba kalau seharian, aku mana kuat."
Troy meraih tangan Lily yang ada cincin pernikahan mereka. Troy berkata "Bee, aku akan membantu kamu."
"Iya. Aku tahu."
Lily merasakan nyaman, saat tiduran di samping Troy.
"Suamiku, buat anaknya enak. Tapi, aku bingung."
"Iya. Kita jalanni berdua. Pasti bisa."
Lily kembali masuk ke dalam selimut "Om Bule, aku mau disini saja. Nyaman disini."
Kembali ke aula. Keluarga besar, tampak berfoto bergantian.
Moment ini, akan terkenang sampai tua nantinya. Seluruh keluarga besar Mama Lovie, berfoto bersama keluarga besar Papa Richard.
Tampak harmonis.
"Sayang, terima kasih. Kamu selalu setia mendampingi aku."
"Aku istrimu. Sudah seharusnya aku bersamamu."
Mama Lovie dan Papa Richard tersenyum manis.
Papa Richard, Mama Lovie dan Baby Milo tampak berfoto bertiga.
"GrandMa."
"GrandPa."
Latte memegang tangan Vanilla, ia berkata "Kita harus seperti Mama dan Papa."
"Iya. Aku akan sabar menghadapi kamu yang arogan." Balasnya Vanilla.
Latte mencium keningnya "I Love You."
"I Love You too."
Yang di kamar, ternyata melantukan, aa uhh aah aaah
Ranjangnya baru anget.
"Suamiku, sakit tahu."
"Bee. Nanggung ini."
"Papa Mama!!" Jeritnya
Selamat menempuh hidup baru Trio L.
...__ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ__...
Satu tahun kemudian.
"Cantiknya, GrandPa."
"Papa, ini bayi aku. Bukan bayinya Papa."
Kalah sama yang punya, hanya bisa terdiam dan pasrah memberikannya.
"Livy makin cantik kalau pakai bandana."
Lily kecil sudah jadi Mommy, dan punya mainan baru namanya Livy, bayi gemoy nan bule. Mirip banget sama Daddy Troy.
"Mama, aku nggak punya mainan kayak Lily." GrandPa juga ngambek.
Istrinya mulai menyandarkan kepalanya "Mendingan, Papa mijitin Mama. Pegel, habis kejar-kejaran sama Milo."
"Ayo, kita ke kamar saja."
Keluarga Mama Lovie dan Papa Richard. Tengah berkumpul bersama. Nenek Nancy dan Kakek Nicholas juga tengah menikmati hari tua mereka.
Oppah Benny dan Ommah Jessika. Juga turut bergantian menjaga bayi-bayi dari cucu mereka.
Semakin ramai dan tambah terlihat kompak. Apalagi, saat berkumpul bersama.
Mama belia, terlihat kompak bersama dengan bayi mereka. Livy, jadi bayi tercantik diantara para bayi tampan.
Milo anaknya Latte, sudah berumur 1 tahun.
Violla dan Lexi, anaknya laki-laki.
Vicco dan Luxe.
...TAMAT...
Hallo semuanya.
Terima kasih sudah membaca tulisan ini.
Othor senang, ternyata ada yang mau membaca tulisan ini.
Selama menghalu cerita Lovie dan Richard, ada teman-teman yang mendukung dengan memberikan Like, Komentar dan Vote.
Othor ucapan terima kasih banyak.
Ini hanya hiburan Othor dan semoga kalian tidak kecewa dengan ENdingnya, tulisan ini.
Bila kalian ada yang ingin membaca tulisan baru othor, silakan mampir ke "SUAMI BANDEL CEO CANTIK."
Othor tunggu kehadiran teman-teman.
Terima kasih. 🤗😙😘
__ADS_1