Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Drama Trio L


__ADS_3

Setelah malam tiba, trio L sudah kembali di rumah dan tengah disidang Mama Lovie.


"Apa kalian bertiga sayang Mama?"


Mama Lovie duduk di seberang sofa dan menghadap ketiga bocil yang selesai membuat ulah nakalnya.


"Aku sayang Mama." Jawabnya kompak.


Raut wajah mereka bertiga sudah tampak manyun, Mama Lovie semakin menatap mereka.


Sang suami tampannya, hanya diam dan tak berkata apapun, saat Mama muda ini tengah menasehati ketiga anaknya.


"Lucas kamu sudah besar. Kenapa kamu tidak menasehati Lily? Kamu malah ikut menjahili Vani." Mama Lovie fokus menatap wajah Lucas.


Lucas yang dari tadi hanya diam, ia juga merasa bersalah setelah berbuat nakal. Lucas kemudian menjawab "Aku tidak tega melihat Latte menangis. Aku juga menyayangi Lily, aku akan selalu membela kedua adikku."


Degh!


"Aku seharusnya tidak memojokan Lucas. Ternyata dia sangat menyayangi kedua adiknya." Batinnya Mama Lovie.


Lily bertanya "Mama memarahi aku?"


Mama Lovie menjawab "Mama tidak marah. Mama hanya malu."


Dari pada nantinya nggak kelar-kelar, Mama Lovie malah berakting di depan anak-anaknya. Akan percuma kalau dinasehati. Nantinya, mereka bertiga akan semakin nekat mengusili Vanilla. Lebih baik, memainkan peran Ibu yang terasakiti hatinya.


Mama Lovie menutup wajah dengan kedua tangannya "Mama malu sekali. Pasti Ibu panti akan menegur Mama. Mama hanya ibu bodoh yang tidak bisa mendidik anak-anaknya."


"Mama." Lily jadi menangis merdu.


Namun, kali ini sang Papa hanya seperti wasit, yang mengawasi mereka semua.


Di ruangan kamar tidur orang tuanya dan pintu kamar juga di kunci rapat.


Mama Lovie setelah tahu kejadiannya, berpura-pura mengurung diri di dalam kamar. Sang Papa menyuruh ketiga anaknya untuk membujuk Mama.


Eh ternyata, mereka bertiga malah disidang sang Mama tercinta.


"Mama."


"Mama. Ini karena aku. Lily tidak salah." Ucapnya Latte dan ia ikutan menangis.


Lucas juga menangis, "Mama, aku minta maaf. Aku sayang Mama."


"Mama malu sekali. Mama nggak mau keluar dari kamar ini. Mama malu sama Ibu panti. Mama malu sama Vanilla. Mama malu."


Hikks. Nangisnya pura-pura, tapi anaknya beneran nangis merdu dan berusaha memeluknya.


"Mama, ternyata mendidik kalian jadi anak yang usil dan bandel. Mama, ternyata bukan Mama yang hebat." Hikks Ho Ho.


"Mama jangan malu. Mamaku hebat. Aku sayang Mama." Pintarnya Lily kalau lagi merayu dan berusaha meraih wajah sang Mama.


Sang Mama, masih menutup wajahnya.


Hikks, Mama Lovie perlahan membuka wajahnya, bertanya "Siapa yang mengajari kalian bertiga begitu? Apa, Mama pernah mengajari kalian untuk berbuat nakal?"


"Mamaku hebat. Mamaku sayang." Lily memeluk wajah Mamanya dan berdiri di atas sofa.


Kedua anak tampannya, juga di kanan kirinya Mama Lovie, tengah memeluknya erat.


"Mama, tidak mengajari aku jadi anak nakal. Tapi, Om Ron yang ngajari aku." Ucapnya Lily.


Mama Lovie bertanya "Kapan kamu bertemu Om Ron?"


"Tadi waktu di cafe ceria. Kita ngobrol sama Om Ron. Dia bilang aku boleh melawan anak nakal. Anak itu sudah nakal, dia mau merebut Mama dari Kak Latte. Sampai Kak Latte menangis. Mama punya aku. Mama punya Kak Latte. Mama punya Kak Lucas. Bukan punya anak itu."


Mendengar hal itu, Mama Lovie jadi mengerti, duduk masalah yang sebenarnya.


Tadi, Ibu panti asuhan menghubungi Mama Lovie dan mengatakan kalau ketiga anak Mama Lovie mendatangi panti, membawakan banyak makanan dan minuman.


Tapi, Vanilla jadi menangis terus. Setelah ketiga bocah itu pergi. Vanilla, mengatakan kalau dia takut sama trio L.


"Lily, harus minta maaf sama Vani. Kasian dia, dia nggak punya Mama Papa. Dia juga ingin berteman baik."


Lily berkata "Aku hanya membalasnya. Dia duluan yang salah. Kenapa, aku harus minta maaf sama dia?"


"Kamu mau Mama malu? Mama malu sama Ibu panti. Pasti Ibu panti akan mengira, Mama yang mengajari kalian."


"Aku akan bilang, yang mengajari aku Om Ron. Bukan Mama."


Flashback On.


"Lily." Panggilnya.


"Violla, kamu sama siapa??" Tanya Lily dan sudah tampak menikmati es krim bersama dua saudara tampannya.

__ADS_1


Latte tampak duduk di sebelah Lucas. Dan Violla tidak bisa naik ke kursi.


Kedua tangan menawan mengangkat Violla, untuk duduk di kursi dan menghadap ke Lucas.


"Kak Lucas."


"Iya."


Violla tersenyum.


Sosok tampan nan menawan duduk di kursi, ketiga bocah itu jadi menatapnya.


"Lily, aku ditemani Om aku. Dia tadi di kantor Papa, terus temani aku kesini." Ucapnya Violla begitu imut.


Lily berbisik "Tadi aku bilang. Jangan mengajak orang tua. Kita punya misi. Membalas anak nakal yang merebut Mamaku."


"Aku tidak tahu. Soalnya, Papa menyuruh Om Ron menjaga aku. Gimana dong?" Bingung.


Lily memasang wajah tegas, tapi centil.


Mengulurkan tangan kanannya, "Hallo Om tampan. Aku Lily Nee Rilova. Om, namanya siapa?"


"Kenapa bocah ini jadi genit padaku? Apa dia mau mengerjai aku?" Batinnya Ron.


"Hallo juga Lily. Nama Om, Ronaldo Gi Vanco. Biasa dipanggil Ron. Senang berkenalan dengan Lily."


Lily jadi senyam-senyum, meski pernah bertemu. Lily mengusap telapak tangannya, setelah bersalaman dengan Ron. "Dia juga, mau merebut Mamaku."


"Kenapa wajah kalian berdua muram? Tadi, Latte jadi juara. Kenapa sedih??"


"Latte..." Belum sampai Lucas menjawabnya.


Lily berkata "Kak Latte senang dapat juara. Tapi, kita bertiga sedih. Soalnya, ada anak nakal yang merebut Mama kita."


"Anak nakal?" Ron tengah menatapnya dan ia juga jadi penasaran.


"Iya. Anak nakal yang genit. Dia peluk dan cium Mamaku."


Lily, kembali menikmati es krimnya.


Ron bertanya "Kalian bertiga kesini sama siapa? Mama kalian dimana??"


Ron berfikir kalau Lovie yang menemani Lily, karena tadi Lily menghubungi Violla. Kemudian, Kakaknya memintanya untuk menamani Violla.


"Kalian nggak takut diculik orang? Gimana, kalau ada yang menculik kalian bertiga?"


Lucas jadi bertanya "Kok Om Ron tahu, kalau ada yang mau menculik aku?"


"Bukan begitu. Kalian masih anak-anak. Kenapa dibiarin jalan sendirian?"


"Aku sering kesini sendirian." Jawabnya Latte.


Ron bertanya "Jadi, kalian bertiga, nggak pamit sama Mama kalian?"


Lily menjawab "Suster yang akan bilang Mama, kalau kita kemari. Mama masih pacaran sama Papa. Pasti, pacarannya lama."


"Owh begitu. Oke, kalau begitu. Om yang akan menemani kalian semua."


Seorang CEO muda nan menawan, tampak menggiring anak-anak ke supermarket yang ada di mal ini.


Anak-anak itu, berjalan mengambil beberapa makanan dan minuman.


"Aku harus ambil ini, biar anak nakal itu kapok." Batinnya Lily dan Ron hanya mengikutinya.


"Lily memangnya, ini buat apa?"


"Buat teman-temanku." Jawabnya Lily.


Ron turut membantu mendorong troly dan Lucas juga sudah mengambil beberapa snack.


Latte melihat ke arah baby gurita. "Aku harus kasih hadiah ini buat dia."


Baby guritanya masih hidup, dan secepatnya Latte meminta staff dibagian seafood, untuk membungkuskan bayi guritanya.


Satu kantong, berisi 5 bayi gurita. Latte berlanjut ke tempat kotak kado. Berjejer kotak kado dan Latte memilih gambar karakter Frozen.


"Emm, Es cocok untuknya."


Latte sudah menampilan senyuman nakalnya. Kemudian berjalan kembali mendekati Ron.


"Om. Aku mau ini saja."


"Ini, isinya apaan?"


"Hadiah. Sudah aku bayar." Jawabnya Latte.

__ADS_1


"Oke."


Ron mendorong troly, sampai ke tempat buah dan sayuran.


"Tolong potongin buah ini." Ucapnya Lily, kepada staff yang berjaga di stand buah segar.


Violla hanya mengikuti pergerakan Lily. Lily mengambil nanas, ia juga ikut-ikutan mengambil nanas dan begitu terus.


"Honey. Ternyata, benaran kamu." Ucapnya calon istrinya Ron.


Ketiga bocil yang ada di dekat Ron, jadi menatap ke sosok cantik dengan paras aduhai. Parasnya bak pragawati dan ia sangat berkharisma.


"Kamu belanja?"


"Emh, iya. Aku lagi ngasuh keponakan aku."


"Mereka semua, beneran keponakan kamu?" Pertanyaan dia, memastikan.


Gadis ini, hanya mengenal keluarga Nyonya Franda, bahkan keponakan Ron sudah berusia SMP.


"Iya. Mereka keponakanku dari kerabat."


Ron, jadi bingung saat menjelaskannya.


"Oke. Aku nggak akan ganggu."


Wanita muda itu, lekas pergi setelah mencium bibirnya Ron.


Lily, berlari ke arah wanita itu.


Dugh!


Tanpa sengaja, mengotori pakaiannya.


"Maaf." Ucapnya Lily, dia juga tidak sengaja. Bahkan, Lily tidak sempat melihat ke arahnya.


Lily fokus pada gelas yang dia bawa. Lily mau menawarkan jus racikannya, kepada Ron. Eh, malah menumpahi pakaian calon istrinya Ron.


"Gressya, kamu tidak apa-apa?"


"Huh. Anak ini numpahin jus. Aku mau ada acara pesta bersama teman-temanku." Kesalnya.


"Aku minta maaf. Lily tidak sengaja."


"Jadi, dia juga keponakan kamu? Sebenarnya, kamu berbohong apa beneran keponakan kamu?"


"Oke. Aku akan carikan gaunmu. Kamu, tunggu aku di depan ya."


"Ron!"


Lily menatap kedua orang tua itu, "Om Ron punya pacar."


Wanita muda itu, pergi. Tampaknya marah.


Lily jadi terdiam, pakaiannya juga kotor.


Ron berjongkok di depan Lily, dan bertanya "Lily, baik-baik saja?"


"Iya."


"Om masih ada urusan. Apa Lily bisa membeli pakaian sendiri?"


Lily mengingat akan misinya, ia juga tidak boleh mengajak orang tua ini.


Lily jadi tersenyum, "Iya. Ada Kak Lucas dan Kak Latte yang menemani aku."


Violla mendekat "Ada aku juga."


"Ya sudah. Ini belanjaan, Om yang akan bayar. Tapi, kalian pulang ke rumah ya. Jangan lama-lama disini."


Lucas jadi merangkul bahu Lily, "Iya Om. Om Ron tidak perlu cemas. Aku bisa menjaga adik-adikku."


Ron jadi berdiri dan mengusap rambut Lucas, ia berkata "Lucas anak pintar."


Latte berkata "Aku juga pintar."


"Iya, kalian semua anak pintar. Kalau begitu, Om pergi dulu. Kalian semua harus segera pulang."


"Baik Om Ron."


Ron berlari menemui staff supermarket ini, ia memberikan kartu namanya dan menitipkan anak-anak kecil ini kepada staff itu.


"Bukannya, mereka anak-anaknya Bos Richard. Tapi, aku akan menyimpan kartu ini." Batin seorang staff, yang sudah mengenal para bocil ini.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2