Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Aku Ingin Mengenalnya


__ADS_3

Anak laki-laki berusia 7 tahun, menunjuk ke arah Latte. "Gara-gara dia, Vani menangis."


Latte yang dikelilingi anak-anak panti asuhan dan menunjuk-nunjuk ke arah wajahnya.


"Itu, karena ulah dia." Ucapnya yang lain, mengolok-olok Latte.


Anak perempuan seusia Vani berkata "Dia, yang membuat Vani menangis."


"Huuu, anak nakal." Ujarnya yang lain dan Latte jadi merasa terintimidasi.


Latte merasa takut, akan anak-anak panti yang telah menyalahkan dirinya.


"Tidak. Aku tidak salah." Elaknya, dan berwajah ketakutan.


"Huuu, anak nakal."


"Anak nakal."


"Anak nakal."


Latte menatap ke semua anak, yang bersorak dan mengatakan kalau Latte, anak nakal.


Latte berteriak "Aku tidak nakal!"


"Aku tidak nakal!!"


"Huu, anak nakal. Anak nakal." Sorakan dari mereka semua.


"Aku bukan anak nakal!!"


Teriakan itu, tengah membangunkannya.


Tampak keringat yang mengalir membasahi wajah dan lehernya.


Latte ketakutan dan merasa kalau tadi itu, seperti nyata.


"Apa, aku bermimpi?"


Latte menyingkap selimut tebalnya dan segera berlari ke arah kamar orang tuanya.


"Mama."


"Mama."


Tok tok tok.


"Mama."


"Mama."


Sang Papa membuka pintu dan telah menatap wajah putranya "Kamu mimpi buruk lagi?"


"Mama. Mama."


Latte segera berlari ke atas tempat tidur dan mencari sang Mama.


"Mama. Mama. Mama."


Latte merasa, kalau Mamanya masih marah kepada anak-anaknya.


"Papa. Mama dimana?"


"Mama."


Belum sampai dijawab oleh sang Papa, Lucas berlari ke kamar mandi dan ke ruang ganti. Namun, Latte tidak menemukan keberadaan Mamanya.


"Mama. Mama."


"Tenanglah. Ayo, bobok."


Sang Papa begitu mengantuk, dan saat ini baru jam 2 dini hari.


"Aku mau Mama."


"Mama tidur di kamar Lily."


Latte pergi mendatangi kamar Lily. Setibanya di kamar adiknya, Latte segera naik ke atas tempat tidur.


Melempar guling yang dipeluk sang Mama dan tidur memeluk Mama.


"Mama."


Perlahan, kedua mata Mama terbuka dan melihat wajah putranya.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Mama. Aku besok mau minta maaf sama Vanilla. Aku akan minta maaf sama dia. Aku takut ..."


Latte tidak jadi menceritakan tentang mimpi buruknya.


Mama mengelus rambutnya. "Iya sayang. Ayo, bobok lagi."


Lily di sebelah Latte, tampak terlelap sambil memeluk boneka angsa. Terlihat anteng dan sangat menggemaskan.

__ADS_1


Latte, memeluk sang Mama dan ia juga berharap, kalau tadi hanya mimpi buruk yang menakutkan.


🌼🌼🌼


Pagi telah kembali dan membawa kehangatan. Duduk berpayung awan dan tampak malu-malu menatap dia.


"Aku ingin mengenalnya." Batinnya Latte.


Latte yang tengah duduk bersebelahan dengan Vanilla di kursi taman. Tampak dikawal sepasang bodyguard tangguh.


^^^Taman Fantasya Ceria.^^^


Mama asyik main boom-boom car bersama Lily. Lalu, sang Papa asyik menaiki wahana kora-kora bersama Lucas.


Latte semalam bermimpi buruk, ia merasa kalau sudah dikelilingi anak-anak panti.


Mereka mengatakan kalau Latte nakal. Latte merasa dipojokkan, dirundung oleh mereka, bahkan ditertawakan dan disoraki dengan melambungkan kata anak nakal.


Latte saat ini mengingat. Kemarin, itulah yang ia lakukan kepada Vanilla.


Trio L kemarin sudah merundung dan menertawakan Vanilla, bahkan sampai memberikan kejutan baby gurita yang membuat Vanilla sampai ketakutan. Apalagi, saat bayi gurita menempel di tangan Vanilla.


Tadi pagi jam 8, keluarga Richard telah bertandang ke panti asuhan dan tengah meminta maaf kepada Vanilla.


Lalu saat ini, Latte ingin berteman dengan Vanilla. Tetapi, dia tidak berani.


Vanilla terdiam saja, hanya menatap ke sebuah wahana.


Wahana yang membuat pengunjung pusing saat menaikinya. Berputar dan melayang di udara. Saat permainan berputar cepat dan serasa diayun di udara. Terlihat, seru sekali.


"Kamu ingin naik boom-boom car??" Tanya Latte.


Vanilla hanya tampak menggeleng saja. Meski, ini kali pertama dirinya di tempat ini, Vanilla tidak tertarik untuk menaiki wahana permainan.


"Ayo ikut aku!" Latte menarik tangan Vanilla dan ia hanya diam saja tanpa membalas perkataan Latte. Ia mengikuti langkah kaki Latte menuju ke wahana istana buatan.


"Kamu suka boneka?"


Vanilla menggelengkan kepalanya.


"Kamu bisa ngomong. Kenapa diam saja? Kamu masih takut padaku?"


Vanilla menjawab "Tidak."


"Nah begitu, bicara. Aku nggak akan pusing lagi, memilihkan wahana untuk kita." Ucapnya Latte, layaknya orang dewasa yang tengah berkencan.


Penampilan Latte sudah bagaikan anggota VIP. Meski terkesan terlalu formal, memang begitulah gaya Latte.


Mengenakan setelan jas warna abu-abu muda. Namun, ia melepaskan jasnya saat tadi kegerahan. Hanya terlihat kemeja yang dibalut dengan rompi.


Bodyguard perempuan dan laki-laki itu, juga selalu mengikuti tuan muda Latte.


"Vanilla. Ayo! Naik bersamaku." Latte mengulurkan tangannya dan Vanilla memegangnya.


Latte tampak dingin dan tidak menampakan senyuman di wajah tampannya. Namun, Vanilla juga merasakan, kalau Latte tidak akan mengerjainya lagi.


Duduk bersebelahan dan kedua pengawal itu juga duduk di belakang tuan mudanya.


Pengawal juga terdiam. Tuan muda tak ada senyuman, mereka-pun juga sama. Kecuali, kalau tuan mudanya tersenyum dan tertawa, mereka turut tertawa bersama.


Kereta yang di desain mirip kereta kencana dan muat untuk lima orang. Bak kereta di negeri dongeng dan di dalam wahana permainan ini, ada berbagai karakter dalam kartun dongeng seperti patung cinderella dengan sepatu kacanya.


Kareta memasuki istana buatan dan kereta-pun berjalan dengan santai.


Vanilla merasa kagum akan apa yang dia lihat saat ini. Namun, tidak terlihat keceriaan di wajah cantiknya.


Kedua bocah ini, bak patung yang hanya terdiam. Cuma menoleh, ke kanan dan kiri.


"Apa dia tidak suka dengan wahana ini??" Batinnya Latte yang bingung.


Vanilla masih terdiam saja, tidak terdengar tawa serta keceriaannya.


Setelah selesai bermain di istana buatan. Latte mengajak ke wahana selanjutnya.


Naik kuda-kudaan dan Vanilla memilih menaiki kuda warna putih.


"Kamu suka warna putih?" Tanya Latte. Kedua tangannya berpegang pada tiang dan menoleh ke wajah Vanilla yang ada di sisi kanannya.


"Iya." Jawabnya Vanilla.


"Owh, mungkin karena namanya Vanilla. Jadi, dia suka warna putih."


Dua bocil ini, tampak menikmati wahana ini. Meskipun, keduanya diam dan tak ada ekspresi keceriaan.


Dua bodyguard itu, juga turut naik wahana ini. Bahkan, sang bodyguard berbadan kekar dan ganteng itu. Malah asyik selfie sendiri.


"Kamu ini, malah selfie-selfie."


"Aku belum pernah naik beginian. Ini pertama kalinya aku naik kuda-kudaan. Aku harus mengabadikan moment ini."


Bodyguard wanita itu, jadi mendesis "Dasar! Kekanakan."


Namun, perlahan ia juga mengambil ponsel dari sakunya, dan memotret mengarah ke temannya itu.

__ADS_1


"Lumayan."


Pengawal wanita ini, sepertinya suka dengan rekan kerjanya yang ganteng itu. Tapi, masih gengsi untuk mengungkap perasaannya. Sayangnya, rekannya ini tak bisa melihat gerak-gerik dan kode dari si cewek tomboy ini.


Latte menatap Vanilla, bertanya "Vanilla, kamu ingin mencoba wahana apa?"


"Tidak tahu."


Latte berkata santai "Sebentar lagi, waktunya makan siang. Coba kamu pikirkan, kamu ingin naik wahana apa?? Atau kamu ingin sesuatu yang lain? Jangan sungkan memintanya padaku, aku akan memberikannya, sebagai permintaan maaf."


"Permintaan maaf?"


"Iya, aku tadi sudah minta maaf. Tapi, aku tidak tahu, apakah kamu benar-benar memaafkan aku."


"Baiklah. Aku, akan memikirkannya."


Vanilla, jadi melihat ke sekitar dan masih bingung.


Bodyguard tomboy, turut memotret dua bocil ini dan mengirimkan kepada sang Nyonya.


Mama Lovie yang memakai bando karakter micky mouse dan Lily memakai bando karakter princess bak mahkota ratu istana.


"Es krimnya enak?" Tanya sang Mama.


"Iya Mama." Jawabnya Lily.


Mama Lovie dan Lily, lebih dulu disini dan menikmati es krim. Mereka tengah duduk di food court Taman Fantasya.


Papa Richard dan Lucas datang dengan canda tawa mereka.


Mama Lovie, yang melihatnya turut senang.


"Mama." Panggilnya Lucas.


"Hem, yang naik wahana permainan, jadi lupa sama Mamanya."


"Aaa.. Mama. Aku senang. Harusnya, Mama juga senang melihat aku senang."


Lucas bukannya duduk sendiri, malah duduk dipangkuan sang Mama.


"Papa. Aku haus." Ucapnya Lucas.


"Oke. Papa belikan minuman yang segar buat kamu." Balasnya sang Papa.


Papa Richard berjalan pergi dan Lucas sudah tampak berkeringat. Kedua tangan sang Mama, mendekapnya dari belakang.


"Sebelum makan, kamu harus ganti baju. Baju kamu sudah basah."


"Siap Mama."


Lucas, masih mengatur nafasnya.


Lucas tadi sampai menjerit kencang, saat menaiki roller coaster bersama Papanya.


Tinggi badan Lucas sudah memenuhi syarat untuk menaiki wahana itu. Jadi, ini kali pertama Lucas, menaiki wahana yang memacu adrenalin itu. Membuat jantungnya berdebar dan sangat seru sekali.


Hari minggu yang indah, serasa tengah menikmati liburan keluarga. Mama Lovie, masih memeluk Lucas.


Dari kejauhan, ada sosok yang memandang ke arah Lucas.


"Lucas"


Jihan, melihat anaknya yang sudah tumbuh menjadi anak tampan.


Bahkan, lebih tampan dari putra keduanya, yang bernama Ethan.


Ethan menarik-narik baju Mamanya, berkata "Mama. Ayo beli es krim."


"Mama. Ayo beli es krim."


Jihan, malah terdiam saja dan masih menatap ke arah Lucas.


Lucas anak yang tampan, berkulit putih, berhidung mancung. Kedua matanya terlihat sedikit sipit dengan bulu mata yang lentik. Bibir sedikit tebal. Bila tersenyum, terlihat lesung pipinya, sama miripnya dengan Papa Richard.


"Mama." Panggilnya Ethan.


Jihan meraih tangan putranya, ia berkata "Sayang. Ayo, kita cari Papa dulu."


"Mama. Aku mau es krim."


"Es krimnya nanti saja. Kita beli sama Papa."


Jihan memegang erat tangan putranya dan membawanya pergi dari food court.


Lovie, yang bernyanyi dan Lucas senang mendengarnya.


"Anak Mama hebat. Anak Mama pintar. Anak Mama tampan sekali." Nadanya asal-asalan.


Lily menatap sang Mama, ia berkata "Cantik sekali."


"Owh, iya." Sambungnya Mama Lovie. "Cantik sekali."


"Mama. Latte dimana?" Tanya Lucas, yang menyadari, dari tadi dirinya sibuk bermain bersama Papa. Sampai lupa, akan adik tampannya itu.

__ADS_1


"Latte sama Vanilla. Naik komidi putar."


Sudah berjalan jauh, Jihan membatin "Aku ingin mengenalnya."


__ADS_2