
Jam menunjukan pukul 15.10 waktu setempat. Langit tampak cerah dan udara terasa panas.
Lovie dan Talita, telah tiba di rumah Nyonya Nancy.
Talita yang bingung, saat melihat mobil Rey belok ke kanan dan mobil yang dia tumpangi malah belok kiri.
Setelah, keluar dari mobil. Talita fokus menatap rumah yang tampak bangunan tua.
"Lovie, ini rumah hantu?"
"Hush, kamu ini ngaco. Rumah ini milik Ibu Nancy. Dulunya, ini rumah orang tua Ibu Nancy."
"Owh, pantas saja bangunannya tua. Terus, tadi mobilnya Bos Rey ke kanan, apa itu rumahnya Richard?"
"Iya, lebih tepatnya rumah Bapak Nicholas."
"Owh, rumah Presdir Nicholas. Pantas saja, rumahnya mewah banget."
Lovie merangkul lengan sang sahabat, ia berkata "Ayo masuk ke dalam. Aku sudah capek banget."
"Iya. Aku akan menamani kamu."
"Terima kasih, sahabatku tersayang."
Doddit yang lebih dulu masuk ke dalam, ada seorang ART yang sudah tampak menyapa Doddit.
"Sus, tolong buatkan saya cappucino hangat."
"Baik Tuan."
Doddit sudah tampak duduk di kursi yang ada di ruang tamu. Begitu santai dan dia tidak tahu apa yang sudah terjadi di kediaman Presdir Nicholas.
"Jihan." Rey merangkul dari belakang dan menarik Jihan, agar menjauh dari Richard.
Richard yang baru turun dari mobil Rey dan dipindah ke ranjang pasien, oleh suster dan seorang perawat laki-laki.
Mereka jadi melihat model cantik, yang tampak menangisi pasien korban penusukan ini.
"Richard."
Richard memilih diam dan memejamkan kedua mata. Berbaring dengan nyaman.
Setelah menjauh dari Richard, para suster juga membawa Richard masuk ke rumah, bersama dua pengawal yang menemani pak bos tampannya.
"Rey, lepaskan aku!" Bentaknya dan menangis.
"Jihan, tenanglah. Richard masih butuh istirahat. Kamu jangan membuat dia semakin sakit." Ucapnya Rey.
"Aku tidak membuat Richard sakit. Pasti cewek tengil itu yang membuat Richard jadi celaka."
Rey menatap penuh tanya, "Kamu tahu dari mana kalau Richard celaka?"
Rona wajah Jihan seketika berubah gelisah, tidak bisa menjelaskan kepada Rey. Kalau dirinya, memasang mata dan telinga di kantor Rich.
"Emh, aku mengikuti kamu." Ucap Jihan dan berhenti menangis.
"Kamu mengikuti aku?" Tanya Rey, yang masih curiga.
"Iya, aku melihat mobil kamu yang masuk area rumah sakit. Tapi, di rumah sakit, aku tidak berani masuk ke kamar Richard. Aku tahu, kalau Richard dibawa pulang. Makanya, aku sampai duluan." Jawabnya Jihan.
"Jihan, lebih baik kamu pulang."
"Kenapa kamu mengusir aku??"
"Apa kamu tidak takut sama Nyonya Nancy?"
Baru berkata begitu, mobil Nyonya Nancy juga telah tiba.
Nyonya Nancy, sudah menatap wajah Jihan dari dalam mobil mewahnya.
Jihan dan Rey tampak berdiri, melihat ke arah Nyonya Nancy.
Wanita biasa yang selalu memancarkan kharisma hebatnya. Begitulah, gaya ayu yang dipancarkan dari Nyona Nancy.
Setelah keluar dari mobil, Nyonya Nancy memilih berjalan dengan tenang, tanpa menegur sapa untuk Jihan.
Meskipun, semua sudah berlalu dan masih menjalin ikatan pertemanan dengan Papanya Jihan. Namun, keluarga Nicholas tidak mau memaksakan putranya.
Apalagi tentang perjodohan, itu tidak akan mungkin terjadi. Papanya Jihan juga tidak ingin melibatkan urusan bisnisnya, dengan asmara putrinya.
"Jihan, sebaiknya kita pulang saja."
"Aku ingin menemui Richard."
"Jihan!"
__ADS_1
Jihan sudah berlari ke dalam rumah. Rey, sudah tampak menggelengkan kepalanya.
"Huh!"
Papanya Rey, Papanya Jihan dan Daddynya Richard, mereka dulunya teman kuliah dan akrab sampai sekarang.
Ada jadwal pertemuan di setiap bulannya, di tempat golf, di tempat mancing, di pacuan kuda, atau hanya sekedar ngopie santai.
"Tante Nancy." Suara Jihan nyaring.
Nyonya Nancy membalikan badan, lalu menoleh ke arah pelayan perempuan "Antar tamunya Richard, ke ruang tamu."
"Baik Nyonya."
Nyonya Nancy berjalan kembali, menuju ke kamarnya yang ada di lantai tiga. Pintu lift terbuka dan masuk ke dalam elevator.
"Tante Nancy."
"Nona, mari silakan ke ruang tamu."
"Ruang tamu?"
"Iya Nona. Nanti, Nyonya akan segera menemui anda."
"Baiklah." Jihan menurut, meski berjalan ke arah ruang tamu, Jihan tetap melihat ke arah elevator.
Pintu lift masih terbuka dan Nyonya Nancy juga masih menatap sosok Jihan. Seorang pelayan menekan tombol di dinding elevator itu dan perlahan pintu tertutup.
"Aku akan memberikan dia kesempatan."
Rey juga turut masuk ke dalam dan ia malah diantar pelayan ke ruangan khusus tempat Richard dirawat.
Richard masih dalam perawatan dokter. Alat medis dan semua peralatan dokter sudah disiapkan.
Ruangan ini sudah steril dan sangat terjaga kebersihannya. Kamar tidur yang menawan dengan nuansa putih.
"Suster, apa Richard sedang tidur??"
Rey pikir, Richard hanya berpura-pura tidur saja.
"Iya Tuan."
Sewaktu Rey mau pergi ke pertemuan penting sudah dilarang oleh Richard dan akhirnya menemani sang sahabat. Apalagi saat hendak ke rumah ini, Richard tidak mau dibawa ambulan, ia memilih duduk di mobilnya Rey.
Rey tadi menyalip mobil yang dikendarai Doddit atas permintaan Richard, alhasil mobilnya Rey kesodok mobil yang dikendarai Doddit.
Saat Rey pergi dan melewati ruang tamu.
Nyonya Nancy sudah duduk di hadapan Jihan. Keduanya hanya terdiam tanpa kata.
Rumah mewah dengan nuansa klasik dan berdiri di atas tanah seluas 1500 meter persegi. Bangunan 3 lantai dan interior rumah ini serba lux. Di kelilingi halaman yang luas dan kolam renang.
"Semoga Jihan bisa dimaafkan dan kembali bersama Richard."
Tetapi, Rey juga mengingat akan senyuman Richard. Ketika sahabatnya itu menceritakaan tentang Lovie dan semua kejadian yang menimpa dirinya. Richard tampak sebal, namun tersenyum manja kepada Rey.
"Richard juga harus bahagia. Tapi, Jihan juga harus diberi kesempatan."
Rey berjalan pergi dan kedua orang yang ada di ruang tamu, tampak saling menatap serius.
"Kamu ingin menemui Richard??" Tanya Nyonya Nancy kepada Jihan.
"Tante Nancy. Tolonga maafkan saya. Tolong beri saya kesempatan. Saya sadar, saya salah. Saya hanya ingin memulai dari awal."
"Kamu masih menjadi model??"
"Iya Tante."
"Apa kamu bisa melepaskan karir kamu?"
"Tante Nancy, ingin saya berhenti dari pekerjaan saya sebagai model?"
"Aku tidak berharap begitu. Hanya saja, semua masalah berawal dari situ. Aku tidak mau, putraku menderita karena pernah mencintai kamu."
"Tante Nancy, saya masih mencintai Richard. Saya kembali ke kota ini juga demi Richard. Tante Nancy, beri saya kesempatan."
Tatapan penuh harap, agar Ibunya sang mantan, mau menerima dirinya kembali.
Setelah acara pertunangan batal, Jihan juga pergi ke luar negeri untuk waktu yang lama.
Kemudian, tahun lalu kembali dan mengejar-ngejar Richard. Bahkan, dirinya meminta bantuan dari Rey.
Rey yang selalu menuruti kemauannya, telah membuat Richard semakin muak. Pada akhirnya, Rey mencari sosok gadis untuk membantunya, dalam mejalankan misi menyatukan Richard dan Jihan.
__ADS_1
Sayangnya, Richard lebih dulu membuka perasaannya yang lama membeku itu, berkat gadis belia yang minta dihamili, yaitu Lovie.
"Apa kamu serius??"
"Iya Tante, saya bisa melepaskan karir saya. Saya akan selalu bersama Richard."
"Baik. Aku beri kamu kesempatan. Kamu bisa memulai dari merawat Richard."
"Merawat Richard??"
"Kalau kamu berhasil merawat Richard. Aku akan mendukung kamu, mendekati Richard."
"Tante mau mendukung aku, kembali bersama Richard?"
"Buktikan, keseriusan kamu."
Jihan berubah berwajah manis dan terlihat bersemangat. Apalagi, dipercaya untuk merawat Richard. Pacar pertama, yang dia harapkan untuk kembali lagi.
"Richard, aku disini." Ucapnya Jihan.
Saat ini, Jihan sudah berada di ruang perawatan Richard. Nyonya Nancy tampak bersedekap. Setelah mereka datang ke ruangan ini. Nyonya Nancy meminta para suster untuk istirahat di ruangan yang disediakan.
Para suster dimanjakan para pelayan. Hidangan dari menu berat sampai menu yang ringan, tersedia di meja. Ada kursi pijat, layar besar untuk menonton film dan fasilitas lainnya.
Lalu, yang di ruang perawatan. Jihan harus merawat Richard dan Nyonya Nancy yang akan mengawasinya.
'Bagaimana, cara Jihan merawat putra semata wayangnya itu.'
Setelah satu jam tertidur, Richard terbangun.
"Mom." Lirihnya Richard.
Pagi tadi masih santai, karena Lovie yang menjaganya. Akibat kebanyakan tertawa, jahitan di luka tusuknya itu terasa nyeri dan sakit. Sampai diberi obat penenang agar Richard tertidur pulas.
Setelah tiba di rumah, Richard kembali mengantuk dan tidur satu jam. Sekarang sudah terbangun, dan Jihan memandangi wajahnya.
"Richard, kamu sudah bangun. Kamu mau apa? Apa, kamu mau minum?"
"Aku mau, kamu pergi." Jawabnya Richard, dengan suara pelan.
Sang Mommy, hanya duduk di sofa dan tampak membaca novel.
"Mom." Panggilan dari Richard manja.
Sang Mommy menutup buku bacaannya itu, dan mendekati putranya. "Iya. Kamu membutuhkan sesuatu?"
"Iya." Jawabnya.
"Kamu butuh apa?" Sang Mommy mengelus rambut putranya.
"Aku mau buang air." Jawab Richard.
"Disini ada perawat khusus buat kamu. Dia yang akan membantu kamu."
Richard menoleh ke arah Jihan. Saat ini, Jihan memasang wajah manis dan tangan kirinya mulai melambai.
"Hai, aku suster cantikmu."
"Jihan, tolong pergi. Kalau kamu pergi. Aku akan segera sembuh."
"Kenapa kamu mengusir aku?"
Richard sudah mengeluarkan keringat dingin, ia berasa ingin kentut, tapi masih menahannya.
"Sayang, perut kamu sakit?" Tanya sang Mommy.
"Iya Mom. Sakit banget."
"Kamu mau buang air besar??"
Richard mengangguk, wajah Jihan jadi berubah gugup.
"Gimana cara merawatnya? Apa aku harus menemaninya di toilet? Uuh, bauk. Aku nggak mau." Batinnya Jihan.
Nyonya Nancy menatap wajah Jihan, ia berkata "Jihan, ayo bawa Richard ke kamar mandi. Kamu harus merawat Richard."
"Tante, caranya gimana? Aku takut infusnya terlepas."
"Ini, infusnya dipindah kesini. Terus, tangan kiri kamu penggang tiang ini, tangan kanan kamu papah Richard sampai ke kamar mandi."
"Tapi Tante, aku nggak kuat."
"Tadi, kamu minta kesempatan. Ini, kesempatan kamu. Apa Mama kamu tidak mengajari kamu. Cara merawat suami yang sedang sakit."
"Mamaku, tidak pernah merawat Papa. Mereka sudah bercerai."
__ADS_1
"Kalau kamu ingin menjadi istrinya Richard. Kamu harus bisa merawat Richard, seperti Lovie."