
Richard melihat ke layar ponselnya. Ada nama Jihan yang masih online dalam panggilan telephone. Richard memutus panggilan itu dengan jari telunjuknya.
Ponsel yang masih berada di tangan Lovie itu, sudah tidak ada suara sang mantan.
Teriakan Jihan begitu nyaring saat berada di dalam mobil sedannya. Dirinya sudah kesal sekali.
Melihat, ke arah rumah Presdir Nicholas dan akhirnya berjalan memasuki gerbang itu.
Richard berkata "Aku nggak punya duit lagi. Daddy sama Mommy tega sama aku. Aku juga dilarang kerja lagi."
Lovie yang polos ini, dia belum tahu apa-apa tentang Richard yang bekerja di kantor sebagai CEO dan dia tidak tahu kalau Richard mempunyai hotel berbintang lima.
Yang Lovie tahu, Bapak Ibunya Richard ini pensiunan. Lalu bapaknya punya usaha kecil-kecilan dan Ibunya juga turut membantu Bapaknya Richard. Lovie hanya berfikir, kalau Richard kerja di kantor sebagai asisten Bos.
Anggapan seorang gadis polos, saat melihat penampilan luar Richard, yang serba mewah dan mahal. Lovie hanya berfikir, kalau Richard sosok pria biasa.
"Oke. Nanti aku kasih. Berapa yang Kak Richi butuhkan?" Tanya Lovie dan suara itu manis banget.
"Ya. Berapa saja. Sekarang aku sudah jadi pengangguran. Aku butuh biaya hidup. Sekarang, serba mahal." Hissh, alesannya bukan main.
"Oke. Ayo, kita ke bank. Ambil semua duitku."
"Serius?!"
"Iya."
Richard memandangi Lovie "Ini gadis kecil beneran polos apa oon sih?! Mau aja aku kibulin. Kalau begini, bisa gawat kalau dia berada di luar sana."
"Kak Richi tunggu di ruang tamu. Aku mau siap-siap dulu. Kita harus pakai masker sama topi."
"Oke. Tapi nanti aku di luar saja. Kalau kita berduaan di Bank, Papi kamu bakalan tahu. Nanti kamu dibawa pulang gimana?"
Sikap Richard saat ini sudah seperti teman seusia Lovie. Gadis polos ini tersenyum gemas.
Lovie membalasnya cepat "Tenang saja."
Richard pergi meninggalkan kamar Lovie, ia membatin "Kenapa aku jadi penasaran sama Lovie?"
Richard menoleh ke arah pintu kamar, ia berkata "Kalau dia beneran polos dan tidak aneh-aneh. Duitnya banyak. Gimana kalau minta dihamilin orang??!"
"Hissh, bisa-bisa diperkossa." Richard nggak ngaca juga, dia tadi juga begitu, masih saja menganggap dirinya korban.
Tidak butuh waktu lama, kedua orang ini sudah berada di taxi. Apa Jihan melihat mereka?? Emh, sepertinya tidak. Jihan di rumah mewah juga hanya sebentar.
Lovie yang duduk di sebelah kiri, ia berkata "Kak Richi, nanti kalau Kakak ditanya sama Omku. Kak Richi tinggal jawab kalau Kak Richi pacarku. Oke."
"Om? Aku pacarmu??" Richard bingung.
"Iya Kak Richi. Soalnya, rekeningku atas nama Omku. Meski itu duitku dari Mami, tapi waktu itu aku masih dibawah umur. Sampai sekarang, aku belum bikin rekening pribadi." Jawaban polos Lovie.
Richard hanya terdiam dan tidak membalas lagi perkataan Lovie ini.
Shindong, di jam kerja. Jalanan, sudah mulai lengang dan tidak seramai dijam-jam berangkat kantoran.
Penampilan mereka berdua terlihat casual dan memakai masker penutup hidung.
Lovie mengenakan hoodie, penutup kepalanya sudah menutupi sebagian rambut panjangnya.
Setelah turun dari taxi, Richard memegang lengan tangan Lovie "Jangan tinggalin aku."
"Iya. Aku tidak akan meninggalkan Kak Richi." Balasan Lovie.
Ya iyalah, duit aja nggak punya. Kalau ditinggal Lovie. Bisa-bisa Richard jalan kaki lagi.
Perlahan telapak tangan Lovie, sudah meraih punggung tangan Richard.
"Tetaplah begini. Biar kita tidak terpisah." Ucap Lovie dan sangat menggemaskan.
Richard menganggukan kepalanya saja.
"Apa dia memang gadis polos?"
Richard memang anak tunggal yang termanjakan. Meski usianya sudah terlampau matang, bagi seorang pria dewasa. Namun, terkadang Richard bersikap kekanakan.
__ADS_1
Sedangkan Lovie, menganggap kalau Richard ini takut akan ketahuan Bapak Gerrmmo. Padahal, malam kencan sudah lewat, tapi masih bersama Lovie.
Lovie tangan bapak germoonya kamu pegang.'
Meskipun, Nyonya Nancy sudah menjelaskan keisengannya, agar memiliki seorang cucu. Namun, Lovie sendiri masih berfikir kalau Richi sudah terlanjur kecemplung di aplikasi Box Tampan itu dan pastinya akan diburu oleh Bapak germoo yang bernama Richard De Nuca.
'Hish, kapan sadarnya sih ini bocah satu.
"Lovie, sepertinya memang anak rumahan."
Richard merasa kalau Lovie, tampak berbeda dari beberapa teman kencannya.
Mereka berdua berjalan memasuki Bank swasta, yang sangat terkenal dengan keramahan dalam pelayanannya.
Dari nasabah silver sampai diamond, semua nasabah disambut hangat dengan senyuman mereka.
"Selamat pagi." Seorang petugas membuka pintu, ada beberapa bodyguard yang berjaga di luar pintu dan ruangan lobby.
Lovie hanya mengangguk dan tangan Richard tetap ada di tangannya.
Lovie memandang ke seluruh ruangan itu, dan ternyata Rasya sudah tampak berbincang bersama pegawai Bank.
Mengingat, jumlah dana yang diambil jumlahnya cukup besar. Rasya telah membuat janji dengan pihak Bank. Sebenarnya, Lovie dari kemarin sudah meminta uangnya kepada Omnya.
"Owh, itu Omku. Kita tunggu saja disini." Lovie menunjuk sofa kosong.
"Om kamu? Beneran Om kamu?" Richard bingung, ia sempat berfikir kalau Om-om nakal yang memberikan uang bayaran.
Salah sendiri, tidak mau melihat profile Lovie. Padahal, Daddy sudah mencari semua informasi tentang Lovie.
Hampir satu jam menunggu, Om Rasya datang mendekat, setelah selesai mengambilkan uangnya.
"Om Rasya." Panggilan manja dari sang keponakan.
"Ini, milik kamu." Om Rasya, yang telah memberikan satu kantong uang.
Kantong cokelat yang berbahan kertas, isinya sangat banyak. Semua uang Lovie sudah ada di tangan Lovie.
"Om Rasya sudah mengambil bagian Om?" Tanya Lovie.
Hish, modal usaha untuk calon bini kedua.'
Richard hanya diam dan Lovie tanpa banyak berkata lagi. Dia segera memasukan duitnya ke tas ransel sekolahnya.
Om Rasya melihat ke arah Richard, dan ia hanya membatin "Owh, ini orangnya. Pria yang menghamili keponakan aku."
"Om Rasya, ditanya sama Papi?"
"Iya, tapi kemarin Om di luar negeri. Cuma ngobrol di telephone saja."
"Owh, aku kirain sudah ketemuan sama Papi. Ternyata, Papi nggak peduli sama aku."
"Papi kamu sudah ketutupan sama wajah Ibu barumu. Biarkan saja Papi kamu begitu. Kalau kamu butuh apa-apa. Kamu bisa hubungi Om."
"Kalau begitu, Om jual saja swalayan yang di Donghae. Kalau kebun buahnya jangan di jual. Itu kenanganku sama Mammi." Ucap Lovie terlihat manja.
"Kamu tenang saja. Om juga tidak bisa mengurus swalayan itu. Kamu tahu sendiri, bisnis Om sendiri bikin pusing. Om juga harus sering ke luar kota."
Memang benar, Rasya punya bisnis travel yang sering kali mengharuskan dirinya bekerja keliling kota dan luar negeri.
Bahkan, sering kali survei lokasi dan bila ada yang trouble, secepatnya sang Bos tampan ini meluncur ke lokasi.
Meski banyak pekerja, namun Bos ini padai merayu saat pengguna jasa travelnya, yang bersikap arogan.
"Lovie, pria ini siapa? Apa dia pacar kamu?" Tanya Rasya.
"Owh, iya. Sampai aku lupa. Ini pacarku."
Lovie menoleh ke wajah Richard, ia berkata "Kak Richi. Kenalin. Ini Om Rasya. Dia ini adiknya Mami kandungku."
"Hallo. Saya Rasya. Omnya Lovie."
Rasya mengulurkan tangan kanannya dan Richard menjabat tangan kekar itu.
__ADS_1
Ricard berkata "Saya Rich. Saya Richi, pacarnya Lovie."
"Kamu tidak perlu takut sama saya. Saya ini, Omnya Lovie satu-satunya. Kamu bisa memanggil saya Om Rasya. Sama seperti Lovie."
"Baik Om Rasya." Richard tampak gugup.
Rasya bisa merasakan aura gugup Richard, ia semakin meremas telapak tangan Richard. Kemudian, tangan kirinya menepuk-nepuk bahu Richard.
"Kamu sepertinya sudah lebih dewasa dari Lovie. Jangan bermain-main sama keponakan saya."
"Baik, Om Rasya." Balasnya Richard, meski dalam hati Richard sudah mengumpat, akan sosok tampan yang meremmas tangannya ini.
Lovie yang berwajah polos, ia merangkul lengan kanan Richard, dan akhirnya kedua tangan mereka terlepas.
"Omnya Lovie kejam banget."
"Berani sekali, dia menyentuh keponakan cantikku."
Keduanya saling memancarkan aura keji. Sayangnya, mulut Ricard tetap tertutup masker. Hanya bagian mata, yang terlihat oleh Omnya Lovie ini.
Usia Omnya Lovie dan Richard hanya terpaut 7 tahun. Bisa dibilang masih sama-sama berkepala 3.
Saat mereka masih berada di Bank, Rasya mendapat panggilan telephone dari kantor polisi.
"Baik Bapak polisi, saya akan segera kesana."
"Polisi? Apa itu, karena Papi mencari aku?" Batin Lovie yang mendengar kata polisi.
Richard tidak peduli, ia hanya menatap ke sisi pegawai bank, syantik.
Mata Richard memang perlu sarapan. Setidaknya, ada hal yang indah di dalam sana.
Hemm, malah traveling sendiri, dan akhirnya lamunannya jadi terngiang, akan keperjakaannya yang direnggut oleh sosok gadis belia.
"Lovie!!" Pekiknya, seketika membuat orang di sekitarnya menatap ke Richard.
"Kak Richi. Aku disini."
"Ayo kita pulang."
"Tapi, itu Omku."
"Sudah, biarkan saja. Kepala aku pusing."
Richard meraih tangan Lovie dan mengajaknya pergi. Sang Om tampan sibuk telephone dengan seseorang.
"Kenapa pikiranku jadi gila? Aku melihat gadis sexy, tapi kenapa malah muncul wajah Lovie? Aku perlu periksa ke dokter."
Tanpa sadar, tangannya meremas keras tangan Lovie. Lovie berusaha melepas tangan Richard, tapi ternyata susah dilepaskan.
"Kak Richi. Pelan-pelan dong jalannya."
Richard tidak menggubrisnya, ia seolah memegang sesuatu dan lupa akan sosok Lovie yang digandengnya.
"Kak Richi."
Om Rasya dari dalam Bank, melihat Richard yang mengajak Lovie pergi.
"Pria itu memang arogan. Ah, bodo amat soal Lovie. Yang penting aku harus menyelamatkan My Bebeb." Om Rasya pergi dan secepatnya ke kantor polisi.
Siap-siap Om, ribut sama bini kalemnya ya. Wkwkwk.
Richard sudah menghentikan taxi dan Lovie tetap menurut akan tangan Richard, yang menggandengnya erat.
"Ayo masuk."
"Kita mau kemana?" Tanya Lovie yang masih polos.
"Ke hotel." Jawab Richard santai.
Lovie duduk di belakang sopir dan Richard secepatnya duduk di sebelah kiri Lovie.
"Pak, antar kami ke hotel DeNuca."
__ADS_1
"Baik."