Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Dirawat Lagi


__ADS_3

Keesokan paginya, di rumah sakit swasta kota Shindong.


Cahaya mentari menyusup ke celah tirai, menyinari wajah tampan nan menawan. Tangan Lovie yang menyentuh wajah tampan, jemarinya jadi membangunkan sosok tampan itu.


"Lovie." Lirihnya. Saat Richard menoleh ke wajah Lovie.


"Kak Richi baik-baik saja?" Tanya Lovie dan mengharap kesembuhan Richard.


Richard tersenyum dan tangan kanannya meraih tangan Lovie.


"Terima kasih, sudah menjaga aku."


"Harusnya, Kak Richi tidak perlu meladeni Damian."


"Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil." Ucapnya Richard, berusaha menenangkan Lovie.


Meskipun, dalam hatinya Richard. Kejadian ini adalah hal terkonyol disepanjang hidup dewasanya ini.


Richard rela menyelamatkan seorang perempuan, bahkan perempuan itu bukan sosok terpenting dalam hidupnya.


"Untung saja, aku semalam balik lagi. Coba kalau aku nggak balik kesana. Pasti, perut Kak Richi tertusuk lebih dalam. Terus, aku bakal kehilangan Kak Richi."


"Sekarang, aku baik-baik saja. Aku tidak akan mati semudah itu."


"Kak Richi, dari kemarin masuk rumah sakit. Seandainya, Kak Richi kemarin nggak kabur dari sini. Pasti, perut Kak Richi nggak bakalan ditusuk sama Damian."


"Lovie, Lovie. Aku pingsan bukan karena tusukan ini. Aku hanya.."


Lovie membungkam mulutnya Richard, dengan ciuman.


Greet!


Pintu terdorong, kedua orang tua Richard datang. Melihat mereka ciuman, tidak jadi masuk ke kamar.


Ciuman manis dipagi hari ini. Membuat Richard merasa kembali sehat.


"Kak Richi, aku minta maaf."


"Kamu tidak salah. Mantanmu yang salah."


"Bukan itu, tapi ini. Aku cium Kak Richi.


"Lovie. Aku belum cuci muka, aku belum gosok gigi dan aku belum."


Lovie yang menutup mulut Richard dengan jemari kanannya "Sstth, jangan banyak bicara. Kak Richi harus istirahat."


"Baik, susterku." Balasnya Richard dengan nada bercanda.


"Iih, aku bukan suster."


"Terus, kenapa kamu masih disini? Sana pulang, mandi, makan dan istirahat."


"Kak Richi selalu mengusir aku."


Lovie jadi cemberut, Richard melihat Lovie yang berubah manyun manja.


"Aku tidak mengusir kamu."


"Ini, barusan bilang begitu."


"Aku cuma nyuruh kamu pulang ke rumah Mommy."


"Ya sama saja, berarti ngusir aku dari kamar ini."


Richard jadi merasa salah bicara.


Kemarin siang, sakit perut gara-gara mie super pedas produk miliknya. Sekarang, sakit perut karena tusukan senjata tajam dari Damian.


Meskipun tusukan itu tidak terlalu dalam, namun perut Richard tetap terluka dan mengeluarkan banyak darah.


"Lovie, aku tidak akan mengusir kamu."


"Baguslah kalau begitu.


Richard salah tingkah sendiri, ia berkata "Lovie, aku mau mandi dulu."


"Jangan mandi. Nanti perbannya basah. Tunggu orang tua Kak Richi datang dulu." Lovie berusaha menahannya.


"Kenapa aku harus menunggu orang tuaku?" Tanya Richard dan ia sudah tampak memegang perut yang diperban.


"Suster cantik tidak boleh menemani Kak Richi di kamar mandi. Nanti Kakak bisa malu. Kalau Bapak atau Ibu sendiri nggak apa-apa." Balasnya Lovie.


"Aku bisa jalan sendiri, aku nggak pusing. Perutku juga baik-baik saja."


"Kalau ngeyel, aku yang akan mandiin Kakak. Sini aku lepasin bajunya."


"Nggak mau."


Richard semakin berbedar dan ia jadi gelisah akan tatapan Lovie.


"Ya sudah kalau begitu. Aku mau sarapan di cafetaria."

__ADS_1


"Jangan sendirian."


"Ada pengawalnya Kak Richi."


"Hati-hati. Cepatlah kembali."


Lovie tersenyum, kedua orang tua Richard menguping. Padahal, beliau sudah membawakan menu pagi untuk Lovie. Mendengar hal itu, tas bekalnya jadi diberikan kepada pengawal dan beliau berpura-pura baru tiba.


"Ibu, Bapak, sudah kemari lagi." Ucapnya Lovie, seketika berubah canggung.


"Iya, Ibu di rumah tidak bisa tidur. Kepikiran Richard terus." Kilahnya Nyonya Nancy, padahal dari kemarin sudah mengusir putranya. Haduh, ucapan Ibu jadi do'a untuk putra tampannya.


"Bapak juga tidak bisa menikmati sarapan pagi, masih kepikiran soal Richard."


"Kak Richi sudah bangun. Katanya, mau mandi. Tapi, saya sudah melarangnya."


"Kamu mau kemana?" Tanya Nyonya Nancy.


"Saya mau ke cafetaria bawah." Jawab Lovie dan terlihat manis.


"Bapak temani kamu. Sekalian, mau ngopi."


"Iya, biar Ibu yang temani Richard. Kamu bisa sarapan dulu sama Bapak."


"Baik." Lovie jadi tersenyum manis.


Richard berbeda ruangan dari kamar kemarin. Kalau kamar yang kemarin, satu lantai dengan ruangan Nenek. Sedangkan kamar ini, di lantai teratas. Karena, Richard juga diharuskan menjalani operasi.


Sampai saat ini, belum ada yang tahu tentang masalah Damian. Damian sendiri sudah kembali ke rumahnya dan orang tuanya juga tampak biasa saja.


Damian yang saat ini sarapan pagi, bersama orang tua dan Kakak perempuannya. Damian, hanya tampak terdiam tanpa suara.


Sang Kakak perempuan menegurnya. "Tumben kamu diam saja."


"Emh, aku hanya tidak enak badan."


"Habis main tinju jadi demam." Sang Kakak masih terus mencecar Damian.


"Apaan sih?! Nggak lucu."


"Yee, aku cuma ngomong doang. Kenapa kamu jadi ketus sama aku?"


Sang Ayah, menatap Damian, beliau bertanya "Ada masalah apa lagi?"


"Bukan apa-apa."


"Damian, kamu beneran hamilin Lovie?"


"Kakak dari tadi ngoceh melulu. Bikin aku nggak nafsu sarapan."


Sang Ayah, menerima pesan. "Damian, kamu berbuat masalah apa lagi?"


"Aku tidak berbuat masalah apapun."


"Lawyer Ayah mengatakan, semalam kamu menusuk orang."


"Ayah, aku tidak sengaja. Aku beneran tidak sengaja menusuknya."


"Damian, kamu?" Sang Ibu menatap putranya.


Sang Ibu dari dapur dan membawakan lemon hangat untuknya, mendengar hal itu, Ibunya jadi gelisah.


"Ibu, aku nggak salah. Aku nggak sengaja. Aku cuma menolong Lovie."


"Kamu sudah bertemu Lovie?"


"Iya, aku sudah bertemu dia. Tapi Lovie bersama pria itu. Pria itu menculik Lovie. Makanya, aku nggak sengaja menusuk dia."


"Ayah, bilang sama Benny. Biar dia tahu keberadaan putrinya."


"Iya, ini aku mau menghubungi Benny."


Damian perlahan tenang. Dengan begini, Papinya Lovie akan berpihak padanya.


Sang Kakak mendekat dan memberikan obat kepada Damian, "Minum ini, biar lukamu membaik."


"Iya." Damian merasa keluarganya sudah berpihak padanya.


Di tempat lain, sosok cantik terlihat murung dan hanya diam. Duduk di samping Bos tampan.


Talita saat ini berangkat ke sekolah dan diantar oleh sang bos tampannya.


"Kamu kenapa diam saja? Kamu takut sama gurumu?" Tanya Rey yang menoleh ke wajah Talita.


Muka Talita juga ditekuk dan tidak sedap dipandang mata. Bahkan, saat sang Bos tampan bertanya, Talita masih diam saja.


"Kamu marah?" Tanya Rey, kembali fokus mengendari mobilnya.


Kemarin, Rey melerai Jihan dan akhirnya mengantar Jihan pulang ke rumahnya. Lalu, Talita masuk ke kamar.


Akhirnya, Richard bisa keluar dari kamar mandi dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Kemudian, saat malam Rey kembali ke apartemen. Talita sudah di kamar dan mengunci rapat pintu kamarnya.


"Aku kenapa jadi merasa bersalah begini?" Batin Rey.


"Talita, pulang sekolah nanti. Aku jemput kamu. Terus, kita shopping ke mal."


Talita tetap diam dan tidak berselera dengan tawaran Rey.


"Kenapa nggak mempan? Aku salah apa sama dia?" Batin Rey yang masih terus berfikir.


Hanya butuh waktu 30 menit dan tiba di sekolah. Sudah hampir jam 7 dan pintu gerbang segera di tutup oleh penjaga sekolah.


"Sana keluar, cepat ke sekolah. Gerbangnya keburu digembok."


"Aku malas ke sekolah." Balasnya.


"Kenapa malas ke sekolah?" Tanya Rey.


"Hari ini, hari orang tua. Pasti akan ada acara. Aku tidak mau ke sekolah."


Talita, perlahan mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah gerbang sekolah.


"Aku akan menemani kamu." Ucap Rey dan mencoba menyemangati Talita.


"Tidak mau. Aku tidak ada orang tua. Selalu begini disetiap tahunnya. Aku lebih memilih bolos dari sekolah."


"Oke. Ayo bolos sekolah. Kita jalan-jalan."


Perlahan, wajah itu sudah berubah rona.


Rey, meraih ponselnya dan melihat ke jadwal hari ini.


"Hari ini, jam 10 aku ada pertemuan di Hotel DeNuca."


"Aku juga bisa pulang ke apartemen."


Dreet Dreet Dreet (Panggilan telephone)


"Hallo, selamat pagi."


"Pagi, sahabatku."


"Richard, ini pakai nomor hotel?"


"Rey, aku di rumah sakit."


"Kamu dirawat lagi?" Rey ingat, kalau Richard kemarin dirawat di rumah sakit karena pingsan.


"Emh, aku tertusuk pisau. Perih."


"Tertusuk pisau??!" Rey bingung, sekaligus terkaget. Tapi, Rey tidak berfikir buruk, tentang sahabat dekatnya itu.


"Rey, aku mau cerita. Aku bingung. Kenapa, aku bisa merelakan nyawaku, ketika bersama gadis ini. Rasanya, duniaku sudah jungkir balik."


"Kamu di rumah sakit mana?"


"Emh, aku di rumah sakit kemarin. Apa ini namanya." Richard membaca dari tulisan di papan informasi pasien dan memberitahu Rey.


"Sahabatku yang malang. Aku akan segera kesana. Tunggu aku. Jangan mati dulu." Ucapnya Rey bercanda.


"Iya, aku tidak mau mati, sebelum kamu mendengarkan cerita sialku."


Rey dan Talita, saling memandang.


"Kamu mau ikut aku atau pulang ke apartemen?"


"Aku, mau ikut Bos."


Rey tancap gas ke RS tempat Richard dirawat. Hanya butuh waktu 30 menit, mereka tiba di rumah sakit.


Talita berkata "Aku takut mengganggu Bos. Aku ke cafetaria saja."


"Terserah kamu saja." Balasnya Rey.


Talita juga masih menata perasaannya. Talita hanya berpura-pura melodrama saat di depan Rey, agar tidak ditindas oleh Rey.


Melihat, perhatian Rey kepada Jihan. Talita, jadi memainkan taktik cantiknya.


Baru saja Lovie pergi dari cafetaria.


Eh, Talita masuk dari pintu utama.


Lovie yang bersama Presdir Nicholas melewati pintu samping cafetaria dan segera menuju ke kamar inap Richard, dengan menaiki elevator.


"Bos Rey. Aku tidak akan membiarkan kalian bersatu. Aku harus membalasmu, Jihan." Batin Talita dan ia merasa kesal sekali, setelah Jihan menjabak keras rembutnya dan menggigit lengan tangannya.


Talita memesan minuman, ia menoleh ke samping meja yang kosong. Tapi, bekas wadah makanan dan minuman masih berserakan.


"Kebiasan orang kaya. Selalu ingin dimanja. Buang sampah saja tidak mau."


Baru saja mengomel sendiri, seorang pria kekar merapikan meja itu dan Talita merasa nyaman saat melihatnya.

__ADS_1


"Nah, harusnya begitu. Orang kaya selalu punya cara sendiri. Termasuk mempekerjakan orang miskin. Seperti aku."


Seseorang memandangi Talita.


__ADS_2