
"Lovie??" Jihan yang bingung dan ia menoleh ke wajah Richard.
"Richard, siapa Lovie?"
"Mom, antarin aku ke toilet."
Richard tidak kuat menahan lagi, dan akhirnya mengeluarkan boom meletus di kolornya.
Broot!
Jihan duduk di area letusan dan langsung merasa mual. Segera bangkit dari kursinya dan menutup mulutnya. Berlari menjauhi Richard.
Dalam hati Mommy Nancy, beliau sudah tersenyum gemas saat melihatnya.
"Kayak begini saja, dia sudah pergi. Apalagi kalau suaminya nggak bisa jalan dan harus dirawat intensif. Pasti, Jihan kabur ke yang lain. Hemm, aku sudah putuskan, kalau Lovie yang pantas menjadi istrinya Richard." Batin Nyonya Nancy.
Mommy membuat Richard bangun, "Ayo duduk dulu."
"Mom, Lovie mana?"
"Lovie lagi tidur. Biarkan dia istirahat dulu. Semaleman, dia jagain kamu sampai tidak tidur."
Richard bangkit dari ranjang. Rasanya nyeri sekali, apalagi di bagian luka.
"Mom, sakit."
"Pelan-pelan jalannya."
"Nggak kuat Mom. Aku bisa pup disini."
"Ya sudah, pup disini saja. Kamu punya perawat khusus hari ini."
"Mommy, aku beneran."
"Oke, oke. Mommy tahu caranya."
Kemudian, Richard duduk di kursi roda dan Mommy Nancy membawa Richard ke kamar mandi.
"Mommy, kenapa bawa Jihan kemari?"
"Dia yang meminta kesempatan."
"Mommy, aku tidak mau menerima dia kembali. Aku mau Lovie."
"Lovie?"
"Iya."
Wajahnya itu berubah sendu, "Tapi Mom, Lovie menolak aku? Aku jadi patah hati."
"Kamu sudah ditolak?"
"Ntar aku jelasin Mom. Aku mau beol dulu."
"Mommy tunggu di luar ya."
"Iya Mom."
"Nanti panggil Mommy."
"Iya Mommy."
Mommy Nancy keluar dan melihat ke arah Jihan.
Jihan salah tingkah sendiri dan bingung harus berbuat apa. Dirinya meraih tas dan mendekat ke arah Nyonya Nancy.
"Tante Nancy."
"Kamu mau pulang?"
"Tante Nancy. Memangnya, Lovie itu siapa?
"Lovie, calon istrinya Richard."
Jihan tersentak kaget. Telapak tangannya menjadi dingin. Tatapan matanya semakin tidak fokus.
Jihan yang berdebar, mengalihkan pandangannya dan ingin segera menangis. Namun, dia berusaha menahan perasaannya.
"Semalam, Lovie yang merawat Richard sampai pagi."
"Tante, maafkan saya."
Jihan bingung dan susah sekali untuk membalas perkataan Nyonya Nancy.
"Aku sudah memberikan kesempatan untuk kamu. Tapi, kamu sepertinya tidak sepenuhnya mencintai Richard."
"Tante Nancy, saya sangat mencintai Richard. Tapi, saya hanya tidak tahu cara merawat orang yang sedang sakit."
"Jihan. Aku paham, arti dari perkataan kamu."
Nyonya Nancy, bukan orang yang udik dan tidak mau mengenal jaman modern. Hanya saja, beliau telah memikirkan tentang putranya.
Sewaktu di tinggal kuliah ke luar negeri, Jihan malah memilih jadi model dan terjun ke dunia hiburan.
__ADS_1
Kemudian, mengenal beberapa teman pria. Bahkan, sampai bermesraan dengan aktor terkenal. Bagaimana nantinya, kehidupan Jihan setelah menikah dengan Richard.
Pernikahan, bukan hanya menyatukan dua perasaan, dua hati, dan ikatan cinta. Namun, pernikahan juga menyatukan dua kepala, dua pemikiran, bahkan dua keluarga.
Apa jadinya, bila Richard kembali pada Jihan. Keluarga Jihan tidak bisa menjadi contoh yang baik, untuk rumah tangga anaknya.
Mamanya Jihan, sudah empat kali menikah dan sekarang menikah dengan Papanya Rey, sahabat dari mantan suaminya yang pertama.
Sedangkan, Papanya Jihan juga menikah lagi dengan wanita, yang tidak tahu asal usul dan latar belakangnya.
Meskipun, Richard telah melamar Jihan dan akan ada acara pertunangan. Itu, Nyonya Nancy lakukan, demi Richard yang mencintai Jihan.
Tetapi, Richard melarikan diri.
"Tante Nancy. Apa saya masih punya kesempatan kembali bersama Richard?"
"Jihan, aku sudah memberi kamu kesempatan. Tapi, kalau masalah percintaan kamu. Aku tidak tahu. Richard sendiri, yang akan menentukan pilihannya."
"Tante."
"Jihan, kamu harus mencoba melupakan tentang masa lalu."
"Saya masih menunggu Richard. Dia, yang lari dari pertunangan."
"Jihan. Richard, beberapa hari ini, selalu bersama Lovie. Bahkan berduaan di kamar hotel. Tidak seperti, teman kencan biasanya."
"Apa dia? Gadis yang waktu di DeNuca? Bukan gadis yang di apartemen Rey. Apa aku sudah dibodohi sama gadis itu?" Batin Jihan yang semakin gelisah.
Mata-matanya Jihan, terpaku pada foto kiriman si pengacara tua, yang bekerja di Rich Corporation.
Makanya, waktu Jihan di apartemennya Rey, dia benar-benar mengamuk kepada Talita.
Karena foto sialan itu, Jihan jadi salah sasaran. Jihan pikir, Talita yang menjadi pacar barunya Richard dan sorenya ia kembali ke apartemen Rey, hanya ingin memastikan kebenarannya. Kalau Talita itu, pacar Rey atau pacarnya Richard.
Tetapi, Talita yang tengil memancing emosinya, sampai Jihan mengamuk dan keduanya ribut sampai adu fisik. Saling pukul, jambak-menjabak, cakar-cakaran dan menggigit.
"Tante Nancy, apa Richard serius?"
"Sepertinya, mereka sudah berhubungan intim."
Jihan menatap wajah Nyonya Nancy dengan tatapan sendu, dan kedua mata itu sudah tampak berkaca-kaca.
Hatinya begitu sakit sekali. Meskipun, dirinya kepergok di hotel bersama pria lain, tetapi Jihan tidak sampai begituan.
"Tante Nancy, saya permisi. Terima kasih, sudah menerima saya." Suaranya terdengar sendu.
"Jihan. Hati-hati di jalan."
Jihan pergi dan air matanya tak terbendung lagi. Ia berlari pergi dari ruangan khusus itu.
Jihan berlari dan air mata itu semakin mengalir deras.
Sesampainya di luar halaman dan ia tidak kuat lagi menahannya.
Jihan, menangis tersedu-sedu. Berjongkok di depan mobil.
"Ayo pulang. Aku akan mengantar kamu."
Tenyata, Rey masih setia menunggu. Mungkin, dia tahu akan terjadi hal seperti ini.
"Rey, aku..." Jihan tak kuasa menahan kesedihannya.
Rey mengangkat Jihan untuk berdiri dan memeluknya, berusaha menenangkan sahabat kecilnya ini.
Nyonya Nancy, membuka tirai kamar dan Richard kembali melihat sendiri, Rey masih sangat memperhatikan Jihan.
"Mom, sudahlah. Apa Mommy sengaja, biar aku ribut sama Rey?"
"Bukan begitu."
"Terus kenapa Mommy membuka ini?"
"Mommy hanya membuka jendela, biar udara terasa segar."
"Panas begini, segar apanya."
"Sudah sore, bentar lagi angin sore menyejukan suasana."
"Mommy, aku tidak menyesal. Rey jauh lebih cocok sama Jihan.
"Richard, dari dulu mereka memang begitu. Sekarang, mata kamu sudah normal."
"Mommy, jangan mengolok aku."
"Iya sayang. Mommy cuma ingin kamu bahagia di tangan perempuan yang tepat."
"Tumben, Mommy ngomongnya begitu. Biasanya yang dipikirin cuma cucu."
"Mommy menyesal. Mommy tidak mau kehilangan anak nakalnya Mommy."
Richard masih menatap luar dan Rey melihat kalau Richard menatap dirinya. Rey, langsung melepaskan pelukannya.
Richard tersenyum, mengangkat tangan kanannya. Memberikan jempol padanya.
__ADS_1
Rey membalasnya dengan anggukan dan segera membawa Jihan masuk ke mobilnya Jihan.
"Kamu ingin duduk disini? Apa ingin tiduran lagi?"
"Aku ingin disini saja."
Richard masih memandangi arah luar. Sampai mobilnya Jihan, melaju pergi meninggalkan halaman rumah.
"Jihan, maafin aku. Aku butuh waktu untuk bicara berdua sama kamu." Batin Richard.
Yang sebenarnya, dari dulu Richard memang mencintai Jihan.
Tetapi, cinta itu menyakitinya. Apalagi, Richard sosok yang cemburuan dan apapun miliknya, cuma miliknya, tidak bisa dibagi-bagi. Apalagi, soal pasangan hidup untuk selamanya. Richard, hanya mau hidup bahagia.
"Mommy, kalau Lovie sudah bangun. Ajak dia kesini." Ucapnya Richard.
"Iya. Ini Mommy mau kesana. Perawat dan pengawal ada di ruangan depan. Kamu bisa memanggilnya."
"Iya, aku bisa telephone Doddit."
"Doddit sudah balik ke kantor."
"Yaah, padahal dia belum ngejagain aku. Semalam, dia malah ngorok."
Mommy Nancy tersenyum dan mengayak rambut Richard.
"Ingat, pesan Lovie. Jangan suka bergantung sama orang lain."
Sang Mommy masih saja menggoda putranya dan berharap kalau putranya bisa kembali bahagia.
"Mommy pergi dulu."
Richard hanya terdiam dan masih melihat ke arah luar.
"Kenapa, aku jadi kangen sama Lovie?Padahal, baru tadi pagi, Lovie pergi ninggalin aku."
Yuk, beralih ke rumah sakit, di kamar Neneknya Lovie.
"Ibu, katanya nggak betah disini. Terus kenapa nggak mau pulang?"
Papi Benny hanya bisa menuruti kemauan sang Ibu.
Neneknya Lovie berbisik, "Benny, di kamar sebelah. Ada Rasya sama Syilla."
"Memangnya, siapa yang sakit?"
Neneknya Lovie terdiam dan kembali sibuk menonton acara TV. Papi Benny mengerti, kemudian menyuruh Jerry untuk membelikan makanan di cafetaria.
Setelah Jerry pergi, sang Nenek ini berkata "Lolla hamil."
Duuar!!
Papi Benny terkaget saat mendengar hal ini. Lolla juga sudah seperti putrinya sendiri, bahkan semua keperluannya, Papi Benny yang memberikan. Sama seperti Talita.
"Ibu ini bicara apa, pasti Ibu salah sangka lagi."
"Kamu ini, dikasih informasi penting, malah menuduh ibumu ini salah sangka."
"Ibu tahu dari mana, kalau Lolla hamil?"
"Gadis itu dari dulu ganjen. Sikapnya seperti ibu kandungnya. Dia menjerat Rasya, dan sekarang hamil."
"Rasya? Adik iparku??"
"Iya, Omnya Lovie. Itu, di kamar sebelah. Lolla dirawat suster, Rasya datang sama Syilla. Ibu mendengar dari balkon, tadi Ibu nggak sengaja lewat situ."
"Syilla tahu?"
"Syilla tahu, dia menahan dirinya. Ibu, jadi kasian melihatnya."
"Rasya, bisa-bisanya berbuat itu sama Lolla dan menyakiti perasaan Syilla." Papi Benny jadi bergemuruh.
"Apa kamu menyesal, mengenalkan Syilla kepada Omnya Lovie?"
"Aku tidak menyesal. Aku hanya kaget. Aku akan mencari tahu soal ini."
"Benny, lupakan saja. Rasya hanya Omnya Lovie, kamu tidak perlu bertanggung jawab atas pernikahan mereka."
"Lalu, bagaimana dengan Lolla? Lolla anak sahabatku sendiri. Lolla sudah seperti Lovie yang aku jaga dari kecil dan juga Talita."
"Pikirin putrimu sendiri, ajak dia pulang. Kalau Lovie tidak mau pulang. Aku juga mau disini terus."
"Ibu, aku sudah berusaha mengajak cucu Ibu pulang. Untuk sementara, aku berikan waktu. Aku juga takut, kalau Lovie nekat dan pergi jauh."
"Kamu ini Papinya, orang tua kandungnya. Malah kalah sama pemuda, yang statusnya hanya pacar."
"Ibu. Lovie sama Richard hubungannya sudah terlalu jauh. Keluarga Richard, juga menginginkan, agar mereka berdua segera menikah.
"Bagus. Lebih baik menikah dari pada hamil di luar nikah. Yang penting, tidak sampai merusak rumah tangga orang lain, seperti Lolla."
Ada yang sedang menguping.
__ADS_1
πΌπΌπ₯
Meski tampan, ketutnya membuat gadis kabur.