Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Bertemu Mantan


__ADS_3

Gemerlap malam kota Shindong dan masih setia menunggu. Rintik hujan, perlahan mulai mereda.


"Kak Richi!"


Lovie yang kembali, tampak mengagetkan Richard.


"Lovie. Aku pikir, kamu tidak akan kembali."


Kedunya saling menatap dan Richard saat ini sudah tampak tersenyum. Entah, apa yang Richard rasakan saat ini. Yang jelas, Lovie seakan menggiring perasaan manisnya yang sempat membeku.


"Bagaimana, Mie kuahnya enak tidak?" Tanya Lovie dan tengah duduk di sebelah kanan Richard.


Richard menatap wajah Lovie, tangan kirinya mengelus rambut Lovie yang sedikit basah.


"Mienya sangat nikmat. Baru kali ini, merasakan kaldu daging yang gurih. Padahal, bumbunya tidak menyengat. Tetap berbeda rasa, bila Mommy yang memasak di rumah."


Gantian, Lovie menikmati Mie kesukaannya. Richard hanya sibuk memandangi Lovie.


"Gadis kecil, maukah kamu menikah denganku??"


Uuhuk, uhhuk, uhhuuk.


Lovie tersedak, sampai batuk-batuk. Richard mengambilkan minuman untuk Lovie.


Long tea hangat dan tanpa pemanis. Lovie juga menyukai minuman ini.


"Makannya pelan-pelan saja." Ucap Richard dan menyeka bibir mungil Lovie.


"Kak Richi bikin aku kaget."


"Kamu kaget?" Richard penasaran.


"Ya kaget, dengar ucapan Kak Richi barusan." Jawabnya Lovie santai.


"Ucapan yang mana?" Richard masih saja menggoda Lovie.


"Itu, soal menikah." Jawab Lovie dan dadanya masih berdebar.


"Aku hanya bertanggung jawab. Apa yang kamu pikirkan?"


"Aku juga hanya ingin hamil. Aku juga tidak masalah, bila aku tidak menikah."


"Tapi, itu tidak baik. Aku tetap harus menikahi kamu."


"Ya, lihat nanti."


"Apa aku sudah ditolak? Aku ditolak gadis kecil?" Richard bingung.


Wajah Richard sudah seperti anak-anak yang kecewa, ketika tidak mendapatkan mainan baru.


"Apakah ini, yang namanya penolakan? Apa ini, karma dari Jihan?" Batin Richard, yang jadi gegana sendiri.


Richard dan Jihan, sudah photo preweed ketika Richard kuliah di luar negeri. Begitu mau melangkah ke jenjang serius. Richard lari dari acara pertunangan. Setelah kembali, ingin menemui Jihan. Malah melihat Rey yang mencium kening Jihan. Meskipun, mereka sahabat, Richard tidak terima dan marah kepada sang sahabat.


Satu hari sebelum acara pertunangan, Richard dikirim pesan dan ternyata Jihan bersama aktor tampan di sebuah hotel berbintang. Sikap dan hati Richard yang awalnya selalu manis, berubah dingin.


"Lovie, makanlah yang manis. Aku kesana dulu." Richard menunjuk ke arah mini market.


"Iya." Lovie kembali menikmati mie, tanpa menoleh Richard yang berjalan pergi.



Di sebuah restoran makanan oriental. Beberapa staff handal dari Rich, telah berpesta dan mereka tampak menertawakan Bos Richard.


"Aku sampai sakit perut." Dia yang masih ngakak, karena berita ngeprank.


Seorang perempuan cubby dan beberapa rekan kantornya. Mereka berkumpul dan bersenang-senang. Tidak lupa bergosip, apalagi tentang Bos kulkasnya.


Di management Bos Richard, para staff andalannya. Sangat membenci bos kulkasnya, yang suka main perintah bawahannya.


"Aku harap, pernikahannya gagal lagi."


"Tapi, aku kasian sama Presdir. Di usianya yang harusnya pensiun. Eh, anaknya tidak berguna."


"Ya, kita semua yang disini bekerja keras dari pagi sampai malam. Bos, ena-enak di hotel sama pacar-pacarnya."


"Hei. Kalian yakin, ini calonnya Bos?"


"Aku bertemu gadis itu, sewaktu memberikan berkas ke Nona Metta. Dia, ada di ruang meeting."


"Kamu serius??" Tanya si Cubby. Dia tampak memakai kacamata tebal.


"Benar Bu Choi. Dia gadisnya."


"Wah, gila. Kita sepertinya akan kembali lembur. Apalagi, kalau Bos bulan madu ke luar negeri."


"Aku ingin ganti Bos baru."


"Aku lelah, setiap hari aku harus membuat salinan pekerjaannya Bos."

__ADS_1


"Aku selalu berjaga di tempat fotocopy. Lari kesana kemari dan sering di suruh buat kopi latte rendah gula. Kalau kopi itu kebanyakan gula, aku di suruh balik lagi ke pantry. Padahal, aku bukan OB. Aku ini staff administrasi. Kapan aku bisa bekerja sesuai pekerjaanku?" Tampang pria polos yang berusia 25 tahun. Sebut saja, dia Juno.


Para pekerja ini, usianya di bawah Bos Richard. Hanya Metta, sekretaris sexy yang seusia Bos Richard.


Bu Choi, si wanita cubby berkacamata, berusia 29 tahun dan sudah menikah.


Yang lainnya masih muda, baru 23, 24 dan 25 tahun. 7 staff yang bekerja untuk Bos Richard. 4 wanita dan 3 pria. Lalu ada, si Doddit dan Metta.


"Hallo semuanya. Kalian pasti nungguin aku." Suara Doddit yang riang gembira.


Metta duduk lebih dulu dan tanpa berkata apapun. Metta, memilih duduk di sebelah pemuda tampan.


"Winz, kamu mau makan apa?" Tanya Metta yang menggoda.


"In-ni, sa-ya. Baru pesan." Jawabnya Winz, gugup.


"Makan yang banyak. Aku yang akan bayar tagihan kamu." Metta memang pandai menggoda.


Doddit segera memesan makanan, untuk dirinya dan sang mantan kekasih yang setia.


"Doddit, apa ini yang kamu maksud perjodohan Bos Richard?" Tanya Bu Choi, yang menanti jawaban.


Doddit menatap foto Talita dan ia tampak tersenyum "Kalian salah sasaran. Kali ini, Bos Richard sangat berhati-hati dan menjaganya."


"Hah? Kak Doddit serius?" Tanya si imut dan berambut pendek. Sebut saja, Milie.


"Iya, Milie cantik. Bos Richard, kali ini sudah kalah. Dia terjebak asmara."


"Maksud Kak Doddit?" Tanyanya lagi.


"Dia gadis belia. Tapi, Nyonya dan Presdir sangat mendukung dia."


"Presdir juga mendukung gadisnya??" Pertanyaan, para rekannya.


"Benar. Aku sendiri, yang menjalankan misi Nyonya besar."


"Wah, kita bakal kecipratan bonusnya." Bu Choi menggoda Doddit.


"Malam ini, Metta yang traktir kalian. Aku kapan-kapan saja."


"Oke!"


Semuanya, siap makan malam bersama dan tampak akrab.


"Cheers!"


"Bu Choi, dapat fotonya dari mana?"


Bu Choi mendekatkan diri ke bahu Doddit "Dari tim humas. Dia, dari si tua hukum."


"Owh, masih saja begitu. Apa mereka tidak takut ketahuan istrinya yang judes."


"Doddit, aku malah cemas. Kalau pimpinan kita yang mengetahui hubungan gelap mereka."


"Apa kita berdua, harus menutup mata? Apa kita harus membuka tirainya?


"Hems, jangan libatkan aku. Aku bekerja untuk keluargaku."


"Bu Choi tenang saja."


Doddit tersenyum dan tangannya segera membuka botol minuman. Perlahan, menuang minuman, yang tercium aroma anggur.


"Bu Choi, bersulang."


"Bersulang."


Metta di seberang meja, tangan kirinya sudah berada di paha pemuda tampan. Namun, matanya tetap fokus kepada Doddit.



Di rumah sakit, sang Nenek sudah kembali berbaring. Beliau memilih diam tanpa berkata apapun. Apalagi, tentang pertemuannya dengan Lovie.


"Ibu, jangan membuat aku cemas." Ucap Papi Benny sendu, beliau tampak duduk di sebelah kanannya.


"Aku bosan. Aku tidak suka disini."


"Ibu. Besok pagi kita akan pulang, setelah hasil periksa Ibu sudah membaik."


"Aku tidak sakit."


Menantu dan dua cucu tirinya tampak duduk di sofa. Jessika tidak memarahi putra putrinya. Hanya diam dan tidak banyak bicara.


Sang Nenek membuang muka dan tampak memejamkan kedua mata. Padahal, beliau sendiri yang menyuruh putranya agar menikah. Tenyata malah membuat masalah dalam kehidupan putranya, Ibu ini tetap menyalahkan putra tunggalnya.


Papi Benny juga anak satu-satunya. Dulu dengan Maminya Lovie, juga dijodohin. Karena, putri dari sahabatnya. Sekarang, ingin memiliki menantu, yang bisa merawat dirinya.


Melihat, sosok Jessika yang tangguh dan pekerja keras. Janda 12 tahun dan berjuang seorang diri demi putra putrinya. Itulah, yang membuat Neneknya Lovie, jadi menyukai Jessika.


__ADS_1


Suasana malam dan tampak duduk sendirian. Menikmati Mie kuah kesukaannya.


Ssrruup


Kuahnya terasa nikmat sekali, saat menyeruputnya. Itulah, kebiasan Lovie. Kedua tangannya masih memegang mangkok keramik besar.


"Emh, enak banget."


Tatapannya saat ini, hanya fokus pada mangkoknya saja. Tidak peduli dengan hal yang ada di sekitarnya.


"Beb, ternyata kamu disini."


Degh!


Hawa merinding, saat mendengar suara itu dan seketika Lovie menoleh ke arah yang memanggilnya.


"Da-mian. Kamu bisa disini?"


Sang mantan yang lama tak berjumpa dan sekarang malah menatapnya.


Damian meraih bangku yang ada di sebelahnya dan duduk di hadapan Lovie.


Bukannya menghadap meja, namun malah menatap mantan cantiknya.


"Ternyata, kamu kaburnya cuma kemari. Padahal, aku sempat diinterogasi sama Papi kamu." Ucapnya Damian, santai.


"Aku hanya kangen makan disini. Anggap saja kita tidak bertemu. Kamu! Kamu jangan kasih tahu sama Papi."


"Soal itu, gampang. Asalkan, kita bisa balikan lagi."


"Ogah. Aku nggak mau. Aku sudah punya pacar yang tampan."


"Pacar? Kamu punya pacar baru?"


"Iya. Aku punya pacar baru."


Lovie bangkit dari kursinya dan segera membayar tagihannya. Damian masih menatap Lovie.


Lovie berjalan dan tidak menatap wajah Damian, seolah tidak mau mengenal sang mantan.


"Lovie." Damian sudah memegang tangannya dan Lovie jadi menatap wajah itu.


"Lepaskan tanganku. Aku harus pergi."


"Aku akan mengantar kamu."


"Aku tidak mau. Damian, kamu bukan lagi pacarku."


"Siapa bilang. Papi kamu sudah setuju. Malahan. Yang aku dengar. Kalau kamu hamil anakku. Papi kamu akan segera menikahkan kita berdua. Aku yakin, kamu hanya berpura-pura hamil di depan Papi kamu."


"Mau aku hamil atau tidak. Yang jelas. Aku tidak mau lagi berhubungan sama kamu."


Lovie menghempaskan tangan Damian dengan kasar dan ia segera berlari pergi.


"Gadis bodoh. Kamu mau lari kemana?"


Damian ketua genk motor di kampusnya. Ada beberapa teman motornya, yang sudah mengepung kawasan ini.


"Damian, lepasin aku."


"Bebebku. Bukannya, kamu ingin hamil anakku?"


Degh!


Ada rasa yang tidak dimengerti, melihat tatapan mata Damian, Lovie seketika menjadi takut.


"Damian!"


Damian, tidak lagi seperti Damian yang Lovie kenal. Padahal dari kecilnya, Lovie mengenal Damian.


"Damian, lepas!"


"Teriaklah. Tidak ada orang yang bisa menolong kamu."


"Lepasin aku!!"


"Menjeritlah lebih kencang. Aku akan segera memanggil Papi kamu. Pasti, kamu akan dibawa pulang ke rumah. Lalu, saudara tiri kamu, akan merundung kamu lagi."


"Damian, lepasin aku!!" Lovie yang meronta, ketika tangan Damian telah memeluknya dengan erat.


"Tetaplah begini, aku tidak akan menyakiti kamu."


"Damian. Kamu breengssek. Lepasin aku!" Lovie meronta, berusaha mendorongnya.


Bluugh,


Lovie jadi terjatuh ke paving.


__ADS_1


__ADS_2