Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Bab. 3. Lily Sudah Terjebak


__ADS_3

Sore hari, setelah Violla dari kantor sang Mama. Melihat Lily yang berubah jadi gadis rempong.


"Lily, kamu lagi ngapain??" Tanya Violla, yang melihat Lily sudah mengacak-acak lemari pakaian.


"Ternyata, aku nggak punya gaun." Jawabnya Lily, sampai kaos putihnya, parkir di atas kepala.


Violla meraih kaos itu, ia berkata "Mama sudah kasih ijin aku buat datang kesana."


"Terus, kamu ninggalin aku di cafe sendirian?" Lily yang seketika berubah polos dan memegang tangan Violla.


"Lily, aku ingin melihat calon suaminya sepupuku yang cantiknya kayak model itu. Tapi, nanti aku akan segera kembali."


"Memangnya, sepupu kamu sudah dijodohin?" Tanya Lily.


"Aku juga belum ngerti soal acaranya. Dia, cuma mau pamer sama aku. Aku juga penasaran, sama cowok yang katanya calon suaminya itu." Jawabnya Violla dan sangat tidak menyukai sepupu cantiknya yang bernama, Katte.


Lily jadi mencibirkan bibir dan sudah terlihat manyun. "Ya sudah, kamu bisa pergi ke acara pesta keluarga kamu. Sepertinya, Papa juga akan mengajak Kak Lucas. Aku baru selesai telephone Kak Lucas. Kak Lucas bilang, dia mau ke pesta bersama Papa dan Mama."


"Gimana, kalau kamu ikut aku saja. Kamu nggak usah ladeni Vano dan cowok-cowok itu. Aku yakin, mereka cuma ingin balas dendam."


"Kalau begitu, aku harus meladeni dia. Aku nggak takut sama mereka."


"Lily." Tatapan Violla sudah penuh keraguan, ia juga takut kalau Lily akan disakiti para cowok breengsek itu.


"Tenanglah. Aku bisa menghubungi anggota pengawal Rich."


"Ya sudah kalau begitu. Aku juga harus bersiap-siap."


"Violla. Aku pinjam baby doll kamu dong."


"Kamu mau pakai babydoll?"


"Iya, sesekali. Aku harus tampil berbeda. Biar para cowok itu, segera menyingkir dari hadapanku."


"Baik."


Violla akhirnya memilihkan babydoll berbahan kaos, dengan motif kartu pororo.


"Ini buat kamu. Tapi ingat! Jangan sampai lecet. Aku sangat mencintai My Pororo."


🌼🌼🌼


Malam tiba, di sebuah hotel berbintang lima. Paras yang masih mungil, sudah menindih tubuh kekar nan menawan.


Gadis belia yang sudah hilang akal dan pikirannya. Tampak belingsatan di atas tubuh kekar itu.


Tanpa mengenal nama dan siapa sosok tampan yang dinaikinya.


SaNgeee--


"Tampan, Hamili Aku!" Ucapnya gadis belia yang mengigau.


Lily terpengaruh obat perangs*Ng. Efek minuman cocktail yang tercemar racikan jahanam.


Pria yang berkharisma dan berusia 32 tahun ini, hanya menyernyitkan dahi dan ia merasa kalau gadis ini masih lugu.


"Berhentilah menawarkan tubuh kamu atau akan akan benar-benar memakan kamu."


"Emh, gerah." Ucapnya Lily dan ia turun dari tempat tidur.


Bukannya, tadi Lily ingin menemui Vano di sebuah cafe. Sayangnya, itu hanya siasat cowok itu. Ternyata ketemuannya pindah ke bar.


"Aku harus meninggalkan kamu." Ucapnya Pria itu dan segera pergi dari kamar hotel ini.


Baru jam 9 malam, acara pesta Hanz Group sudah tampak dimulai.


Pria dengan sejuta pesona berjalan memasuki aula pesta. Hotel DeNuca, tempat acara pesta ini berlangsung.


Troy Arrion Shonte, putra pertama dari keluarga Shonte. Ia, pria yang sangat tampan dan bersahaja.


Di usia ini, belum punya tambatan hati. Makanya itu, orang tuanya menyuruh putranya untuk mengenal para gadis di kota Shindong.


Ibunya Troy berasal dari kota Shindong, lalu tinggal ke luar negeri. Karena itu, Ayahnya Troy ingin sekali kalau putranya bisa mengenal gadis Shindong. Lalu, Ayahnya menyuruh Troy untuk segera mengembangkan bisnisnya di kota Shindong.


Kemudian, berdirilah perusahaan ARR Company dan kerjasama dengan Hanz Group. Itupun, sudah satu tahun yang lalu.


Pria dengan tinggi badan 180 centimeter dan sangat tampan.


Sangat menawan, bila mengenakan pakaian formal. Apalagi, saat memakai setelan jas warna hitam. Terlihat lebih berwibawa dengan kharisma yang ada.


Berjalan sendirian, mendekati CEO Ron dan ia merasa, pesta ini begitu mewah.


"Selamat datang Mr.Troy."


"Pesta yang indah." Ucapnya yang kaku. Masih terbawa logat bulenya.


Manik mata pria ini berwarna unik, silver. Abu-abu gimana gitu. Kulitnya tidak terlalu bule, hampir mirip dengan Latte. Tapi, rambutnya terlihat kecoklatan dan sudah rapi dengan gaya ala CEO. Bahkan, gigi putihnya juga terlihat rapi.


Berhidung mancung di wajah yang terlihat sedikit kotak. Rahang pipi telihat tegas, leher sampai jakunnya sangat maskulin.


Bbrrr.


Banyak yang menatapnya, saat Troy minum wine.

__ADS_1


Cess'


Gadis-gadis jadi ileran.


"Kak Katte."


"Violla! Kamu ini, gangguin saja."


"Mana? Mana? Yang mana, calon suami Kak Katte?"


"Itu. Dia, baru datang."


"Yang mana sih?! Aku nggak lihat."


"Benerin dulu, kacamata kamu."


Violla memang ngadi-ngadi. Padahal, dari tadi juga sudah melihat kalau Kakak sepupunya ini, terpesona akan sosok tampan yang baru datang.


Presdir Richard bersama istri dan putranya, mendekati CEO Ron.


"Presdir Richard, ini Mr. Troy."


"Saya Richard. Senang bertemu dengan anda Mr. Troy."


"Saya juga, senang bertemu dengan anda, Presdir Richard."


Meskipun, perusaahan sudah berdiri satu tahun yang lalu. Troy baru tiba pagi tadi, dan menginap di hotel DeNuca.


Ia bahkan, belum sempat mencari tempat tinggal.


Baru asisten pribadinya, yang sering mondar-mandir ke perusahaan miliknya.


"Ini istri dan putra pertama saya."


"Iya. Senang sekali, melihat kehadiran keluarga Presdir Richard. Berarti, saya tidak salah bekerja sama dengan anda."


"CEO Ron, pasti sudah mengajak anda keliling kota Shindong."


"Saya baru tiba tadi pagi. Beberapa bulan lalu, saya juga kemari. Hanya bekerja."


"Kalau begitu, saya akan mengundang anda dan mengajak anda keliling kota Shindong."


"Dengan senang hati, Presdir Richard."


"Silakan, nikmati pesta ala Hanz Group, saya permisi dulu Mr. Troy."


Troy, mengangkat gelas wine yang ada di tangan kirinya. Tampak senyuman manis di wajah tampannya.


Ron berkata "Presdir Richard, sudah punya 3 anak."


"Ya, begitulah."


"Istrinya masih sangat muda." Ucapnya Troy, yang terlalu mengamati pasangan Presdir Richard.


CEO Ron berbisik "Istrinya, teman SMAku."


"Wah, sangat istimewa sekali."


Mereka berdua tersenyum dan bersulang dengan rasa hormat.


Dua perempuan, datang mendekati Troy.


Violla dan Katte, berkenalan dengan Troy.


"Saya Violla." Ucapnya Violla, manis.


Melihat Violla, ia jadi mengingat akan gadis belia, yang tiba-tiba menyelonong masuk ke kamarnya.


Tadi, Troy hendak keluar kamar, eh malah di dorong masuk sama gadis aneh yang sedang mabuk. Sampai mereka saling memeluk di atas tempat tidur.


"Om Ron, minggir dulu dong, gantian aku yang ngobrol." Bisiknya Katte.


"Ingat! Nggak boleh, nggaguin Troy."


"Cuma PDKT doang."


Troy tersenyum tipis, saat mendengar ucapan gadis itu. Meskipun, tidak banyak kosa kata yang dia mengerti. Setidaknya, dari kecil Ibunya sudah mengajari bahasa negara Ibunya.


Apalagi, ada kata-kata yang tidak biasa, yang kerap kali diucapkan oleh warga Shindong. Membuat Troy jadi merasa aneh saat mengdengarnya.


Seperti kata 'bodo amat'. Kalau dalam bahasa Troy, itu lucu. Tapi, kalau dalam bahasa Shindong, itu sangat kaku terkesan sebal.


Setelah saling berkenalan, Violla tidak ingin buang-buang waktu lagi.


Violla bertanya "Mr. Troy, sudah punya pacar?"


"Pacar?" Seolah, memperjelas ucapan Violla barusan.


Violla tampak mengangguk, karena ia disuruh Katte.


"Saya sudah punya calon istri." Balasnya Troy, yang terdengar kaku di telinga Violla.


"Future wife?" Violla masih tidak percaya.

__ADS_1


"Yes, of course!" Jawabnya santai.


Violla jadi tertawa, tapi dia sedang menertawakan Katte.


"Kenapa kamu tertawa. Apakah, perkataanku ini lucu?"


"Begini, Mr. Troy. Saya tidak menertawakan anda. Tapi, saya hanya ingin tertawa, mengingat sahabat saya."


Aula pesta yang sangat mewah dan hiasi bunga-bunga segar. Terlihat romantis, di mata para tamu yang hadir.


Namun, di mata Katte, seperti ruangan gelap.


Sesaat berubah gelap, setelah mendengar ucapan Troy barusan.


"Kak Katte, baik-baik saja?"


"Violla, aku mau ke toilet."


"Oke. Aku, juga mau balik ke asrama."


Violla melihat ke arah jam. Sudah jam 9 lebih. Dalam pikiran Violla, Lily pasti dalam kesulitan. Karena, sudah satu jam lebih tidak ada chat darinya.


Katte berjalan sempoyongan dan ia menuju ke toilet wanita.


Lucas yang berpapasan "Kak Katte, kamu baik-baik saja?"


"Iya. Aku cuma mau ke toilet.".


"Silakan."


Lucas mengenal Kakak kelasnya, ia wanita yang dikagumi oleh Lucas.


Katte, sosok yang anggun dan parasnya itu sudah seperti pragawati.


"Om Ron bilang, Troy belum punya kekasih. Kenapa Troy bilang sudah punya calon istri. Ini sangat memalukan." Batinnya Katte dan ia meredam perasaannya.


Katte mengambil obat dari tas tangan, yang dari tadi tengah di genggamnya.


Katte, punya riwayat penyakit aneh. Dia tidak bisa mendengar hal sensitif, apalagi secara tidak langsung, dirinya sudah ditolak oleh Troy.


"Aku harus memiliki Troy." Batinnya Katte dan ia masih akan berusaha mendekati pria sejuta pesona itu.


Troy, yang berada di ruangan pesta. Melihat ke beberapa gadis yang cantik, dengan paras aduhai.


Bahkan, tampak memakai gaun indah dan terlihat terbuka di bagian tertentu. Ia, jadi mengingat tentang gadis belia, yang hanya mengenakan babydoll.


"Tampan, Hamili Aku!" Batinnya dan dia bergumam "Apa maksudnya?"


Mengingat akan cerita ayahnya, kalau para gadis dari Shindong, punya etika yang baik dan sopan.


"Sopan? Dia tidak begitu?"


Tapi ekspresi wajah itu terlihat senang, dan menandakan ada sesuatu yang sedang menggelitik dalam pikirannya.


Troy, kembali berbincang dengan para pimpinan perusahaan yang lain dan sangat menikmati perjamuan pesta malam ini.


Setibanya, jam tengah malam dan Troy kembali ke kamar 112.


Ternyata, gadis itu tidak pergi. Malah tidur di dalam bak mandi. Terbenam sampai air bak meluap. Airnya, terasa begitu dingin.


"Gadis kecil. Haii, gadis kecil."


"Panas." Lirihnya, yang terdengar begitu pelan.


Troy, tidak tega melihatnya begitu. Meski ini bukan kali pertamanya, Troy mengalami hal seperti ini.


Troy bisa saja menggauli gadis ini, bahkan dengan senang hati. Namun, ia tidak tega saat melihat raut wajah yang sudah menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Kedua tangan kekar itu, mengangkat tubuh mungil Lily dan membawanya ke atas tempat tidur.


Kedua tangan gadis itu sudah bersedekap erat. Tangannya saling mencengkeram ke tangan yang satunya, begitu erat.


Terlihat, bibirnya bergetar dan menggigit, menahan gairah sexssualnya.


"Tenanglah. Aku punya obatnya."


Troy memang selalu membawa obat. Ketika ada perempuan yang hendak menggodanya. Dia memberikan obat itu, sampai penggoda itu malah teridur pulas.


"Apa, aku harus menggantikan bajunya??"


Kemudian, Troy menunggu reaksi dari obat itu. Sempat membungkus tubuh Lily dengan selimut, meski selimutnya juga basah.


"Aku harus melepas pakaiannya." Troy, juga masih ragu-ragu.


Kalau Troy di luar sana, gadis-gadis itu memang sengaja menggoda Troy dengan pakaian sexy. Tapi, gadis yang ada di hadapannya ini, sangat berbeda sekali.


"Tidak. Aku bukan orang jahat, yang menggauli gadis imut."


Wajah gadis itu memang terlihat imut sekali. Terlihat babyface dan sangat manis.


"Aku juga tidak tega melihatnya kedinginan."


Troy mematikan lampu kamarnya dan membungkus kedua tangannya dengan sarung tangan.

__ADS_1


Ia tidak mau ada masalah. Apalagi, kalau sampai dituduh, melecehkan gadis Shindong.


__ADS_2