Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Bab. 19. Pernikahan Usia Belia


__ADS_3

"Milo."


Ternyata, Latte mencari anaknya.


"Idih, ngapain kamu nyariin Milo?"


Latte dengan cepat meraih bayi tampan itu, dari dekapan saudara kembarnya.


"Sayang, kamu dicariin mommy."


Dr. Wen, jadi mengerti dan tampak bersedap menatap serius keponakannya.


"Owh, jadi ini hasilnya. Kuliah jauh-jauh keluar negeri. Buat mencetak bayi. Iya, begitu Latte Naa Rilova?!"


"Tante Wen. Aku sudah dewasa. Aku juga Daddy yang baik. Apa salahku, kalau aku menikah muda."


Ck!


Dr. Wen berkata "Baguslah. Kalau kamu bisa bertanggung jawab."


"Itu, Milo sudah dikasihin ke aku kenapa kamu ambil lagi?" Lily jadi berdiri dan tidak terima dengan tindakan Latte.


"Lily, kamu bisa bikin sendiri sama Mr. Troy."


"Emangnya gampang bikinnya?"


"Iya. Gampang. Buktinya, aku sekali cetak langsung goal." Jawabnya santai, sambil menimang buah hatinya.


Lily jadi terdiam dan memilih duduk di sebelah Troy.


Latte berkata "Mommy akan kemari. Ayo kita pulang ke rumah Nenek."


Dr. Wen berkata "Jaga baik-baik bayi kamu."


"Iya Tante."


Latte, pergi membawa anaknya.


Lily sudah bersandar bahu Troy, ia malu-malu meong. Lalu, menatap sang Tante. Lily bertanya "Tante. Kalau aku mau konsul soal kehamilan. Dimana tempatnya?"


"Owh, soal itu gampang. Aku kasih nomornya Dr. Panda. Nanti, kamu tinggal telephone dia. Soalnya, malam ini dokternya nggak praktek. Adanya, dokter cowok. Nanti, kamu risih kalau tanya sama dia."


"Iya juga sih. Ya udah, Tante kasih nomor ponsel yang dokter perempuan saja."


Obrolan santai dan cukup lama. Troy, juga tidak keberatan membahas tentang bayi. Sekalian belajar, kalau nanti Lily punya anak. Setidaknya tahu, tentang tumbuh kembang anak dan cara merawatnya.


Setelah, malam tiba.


Violla dan Lexi, menunggu di lobby apartemen Rilova.


"Sorry, aku tadi ke dokter dulu." Ucapnya Lily.


Violla dan Lexi berkata "Hallo Mr. Troy."


"Iya. Mari, kita masuk."


"Oke Mr. Troy."


Lexi menepuk pantat Lily.


"Iih, apaan sih?!"


Lexi berbisik "Kamu masih perawan?"


"Ya masihlah. Aku belum begituan."


Troy sudah menunggu di lift. Violla hanya menggeleng melihat kedua belia itu saling menggoda.


Beberapa saat kemudian.


"Latte punya bayi?"


"Iya. Ini, kalian lihat sendiri. Bekas aku bikin susunya."


Violla jadi meraih botol air mineral dan segera meneguknya. Lexi jadi merasa aneh, saat mendengar Latte punya anak dengan Vanilla.


"18 tahun, punya anak? Wow."


"Violla. Aku nantinya juga akan menikah. Aku pasti juga punya anak. Mama kita dulu, 18 tahun juga punya kita."


Lexi berkata "Lily, itu Mama kita jaman dulu. Jaman dulu sama jaman sekarang beda sayang."


"Bukannya, kamu juga mau dijodohin." Lily kembali mengungkit.


Ketiga belia ini asyik sendiri. Troy, ke ruang kerjanya dan melihat beberapa file penting di layar tabletnya.


"Lily, memangnya. Kamu serius, mau menikah dengan Mr. Troy?"


"Iya. Aku serius."


"Aku pikir. Kamu lamaran di mal Haha, cuma buat seru-seruan."


"Violla. Kak Katte tadi juga bilang begitu. Tapi, Om Bule memang serius. Om Bule sudah bilang sama Mama Papa. Tadi, juga ketemu Nenek sama Kakek, waktu di hotel."


"Aku harap. Kamu bahagia."


"Iya Violla. Kamu juga harus bahagia."


Kedua belia itu, jadi berpelukan.


Lexi, membuka snack makanan dan sudah menyiapkan film yang akan mereka tonton.


Lexi bertanya "Mr.Troy, orangnya cemburuan nggak?"


"Sejauh ini, aman-aman saja."


"Emh, nanti kalau sudah malam pertama. Jangan lupa kasih tahu aku. Gimana rasanya."


"Hish, Lexi. Kamu juga nanti tahu sendiri gimana rasanya."


Lexi jadi terdiam saja dan mereka betiga nonton film. Makan malamnya cukup di Lily Penthouse.


Nona Katte di rumahnya sedang sakit dan Mamanya membujuknya agar mau bangkit dari kasur.


"Ayolah, jangan seperti anak kecil."

__ADS_1


"Aku lebih anggun dari anak kecil itu. Tapi, Mr. Troy, jauh lebih menyukai dia."


"Kalian belum berjodoh."


"Mama, pokoknya aku mau Mr. Troy."


"Mama ingin, kamu menikah dengan Alex."


"Mama?!"


Nona Katte tidak habis pikir dengan pola pikiran sang Mama.


"Ini demi Hanz Group. Kamu harus menikah dengan Alex."


Alex adalah putra Madam Marghinsa dengan suami pertamanya. Sekarang, menjadi anak tiri dari Omnya Nona Katte.


"Mama bisa melihatnya. Alex, sangat memperhatikan kamu. Mama juga sudah bertanya sama Marghinsa, dia juga tidak keberatan bila kamu dan Alex menikah."


"Mama memang kejam."


"Lebih kejam mana, kamu diusir dari Hanz dan hidup gelandangan."


Sosok tuan putri yang satu ini, tidak bisa hidup sederhana. Semuanya serba lux. Dari bangun tidur sampai mau tidur, itu semuanya pakai uang dari Kakeknya.


Coba saja, Kakeknya dulu bukan Presdir. Nona Katte juga mana bisa hidup mewah dan termanjakan.


Nona Katte berkata "Tapi, perasaanku ini nyata, Mama."


Sang Mama menyeka air mata putrinya.


"Kakek dan Nenek. Mereka menikah juga karena perjodohan. Mama dan Papa, menikah juga karena perjodohan. Mama, dulu juga seperti kamu. Punya rasa suka terhadap orang lain. Mama juga sama menangis orang itu. Bahkan, dia orang biasa. Mama juga kalut, sampai berhari-hari. Apalagi, Nenekmu sangat keras kepada Mama. Semua perkataannya, tidak boleh dibantah. Mama tahu, karena itu semua demi Mama. Mama pastinya juga tidak akan bisa, hidup sederhana dengan pria itu."


Nona Katte berkata "Troy bukan orang biasa."


"Mama tahu. Tapi, Mr.Troy, bukan orang yang bisa kita kelabuhi begitu saja. Mama juga tidak mau, harga dirimu hancur di mata orang lain. Ini demi kamu, demi keluarga Hanz dan Mama Papa. Alex, pasti akan menyayangi kamu."


Nona Katte perlahan-lahan tenang, ia berkata "Kalau begitu. Aku ingin menikah lebih dulu. Aku tidak mau didului sama Lily."


Di kamar yang mewah, duduk di tengah kasur, seorang Mama memeluk putrinya.


"Mama akan obrolkan ini, dengan Om kamu. Om Ron, juga menyayangi kamu. Dia akan menerima kamu sebagai menantunya."


Nona Katte hanya mengangguk pelan. Setelah itu, Mamanya pergi.


"Lily."


Nona Katte, meremas kesal selimutnya dan menyibaknya dengan kasar.


Tangisnya pecah dan ia membekap mulutnya. Menangis demi melepaskan perasaan cintanya.


Di kediaman Kakek Nicholas, semua keluarga sudah menerima kehadiran Vanilla.


"Bu Lovie."


"Sayang, kamu sudah dewasa."


Mantan guru TKnya, memeluk Vanilla dengan erat dan sangat manis.


"Bu Lovie. Saya minta maaf."


"Iya Bu Lovie. Saya kemari cuma mau ambil Milo."


"Kamu mau pergi?"


"Iya Bu Lovie."


Mama Lovie mengelus tangan Vanilla. "Batalkan kuliah kamu di luar negeri. Lebih baik, ambil S2 di Shindong. Kamu juga bisa membesarkan Milo bersama keluarga. Milo juga butuh kedua orang tuanya. Kita semua sudah menerima Milo dan kamu. Hanya saja, kita ingin Latte itu sadar, kalau dia sudah berbuat kesalahan, menikahi kamu secara paksa. Bahkan, membuat kamu hamil."


"Bu Lovie, bukan begitu ceritanya."


"Maksud kamu?"


"Saya saat itu dikerjai sama senior kampus. Awalnya Latte berniat menolong saya. Tapi, Latte tetap merenggut saya."


"Jadi, Latte tidak memberi kamu minuman yang memabukan itu??"


"Bukan Latte. Teman-teman sekelas juga mengatakan hal itu."


"Terus, kamu selama hamil disana gimana?"


"Mama yang mendampingi saya. Saya dan Latte memang menikah. Tapi, Latte tidak tinggal bersamaku. Saya di rumah saudara Mama. Latte tetap tinggal di apartemennya. Sampai bayinya lahir, Latte masih terus menemani saya."


"Syukurlah. Kalau begitu."


"Tapi, saya tidak bisa tinggal disini. Mama tidak ada temannya."


"Ajak Mama kamu tinggal disini. Apertemen Latte juga kosong. Kamu bisa tinggal bersama Mama kamu dan Milo. Latte, biar menyelesaikan kuliahnya dulu."


"Nanti, saya bicarakan dulu sama Mama."


Mama Lovie melihat Vanilla yang masih menggemaskan seperti dulu.


Vanilla juga masih menganggumi guru kesayangannya itu.


🌼🌼🌼


Hari-pun berganti.


Satu minggu setelah lamaran, Troy dan Lily siap melangkah ke pelaminan.


Lily yang sudah tampak cantik, ia ditemani dua sahabatnya.


Madam Talita, memasuki ruangan itu.


"Lily sayang. Kamu sudah siap?" Tanya sang Tante.


"Iya Tante Talita. Aku sudah siap. Tapi."


Lily menoleh ke arah yang lain, Tante Talita menatap Lily "Tapi apa? Kamu kenapa?"


"Aku kepingin pipis dulu. Ini, gaunnya susah banget."


Semua yang ada disitu, jadi tersenyum.


Lexi berkata "Ayo buruan."

__ADS_1


"Kemana?"


"Ya ke toilet. Keburu kamu ngompol."


"Emh, aku takut gaunku rusak."


"Lebih baik rusak dari pada bau ompol."


Violla juga segera memegang gaun yang mengembang dan menjuntai sampai ke lantai itu.


Lily memang ingin memakai gown yang bernuansa klasik dan mengembang begitu.


Kedua temannya, memegang sampai ke dalam toilet.


"Kalian memang sahabatku."


"Iya. Kamu harus terus mengingatnya."


"Pasti, aku akan terus mengingatnya."


Di luar ruangan. Om Rey datang mendekat.


"Sayang kamu malah memegang pintu. Lily mana? Sudah ditungguin."


"Sayang. Ini masalah perempuan. Kamu sana pergi, bilang sama Kak Richard, tunggu sebentar lagi."


"Owh, begitu."


Suami Mama Talita pergi ke aula acara pernikahan.


Om Rey datang mendekati Papa Richard dan ia berbisik "Ada masalah sebentar."


"Ada masalah apa?"


"Urusan perempuan. Aku juga tidak tahu."


Papa Richard membatin "Apa Lily lagi PMS?"


Calon menantu dan para tamu juga sudah menantikan kehadiran Lily.


Sudah 30 menit tamunya menunggu. Mempelai tidak kunjung memasuki aula pernikahan.


Degh!


Dua gadis yang memakai gaun putih seperti pengantin memasuki aula.


Dua pangeran tampan dengan setelan jas hitamnya juga sudah menantinya.


"Apa-apaan ini?" Batinnya beberapa tamu dan mereka tampak berdiri.


Bukan Lily yang datang. Tapi, dua sahabat konyol yang masuk ke aula pelaminan.


Lucas menghampiri Violla dan gadis itu segera mengalungi lengan kanannya.


Ethan menghampiri Lexi dan gadis itu juga memegang lengan kirinya.


"Kalian siap?" Tanya mempelai laki-laki


"Kita sudah siap." Jawab mempelai wanita.


Latte dan Vanilla, ternyata mengekor di belakang mereka.


Ada asap buatan, yang membuat suasana seperti di negeri dongeng.


Aula hotel DeNuca, sudah disulap seperti istana.


Para pangeran tampan itu, akan membawa tuan putri memasuki istananya.


Semua sudah sampai di atas pelaminan, namun pintu utama masih terbuka.


Para tamu masih menantikan,


Suara musik klasik terdengar romantis.


Lily memasuki aula dan dia tampak memakai gaun super mewah.


Tapi, kakinya memakai sepatu sporty, bukan sepatu kaca seperti cinderella.


Melangkah dengan pasti dan Troy, segera menghampiri calon istrinya tercinta.


"Bee. Kamu sudah siap?"


"Apa kamu mencinta aku?"


"Tentu saja."


"Gendong aku. Aku susah berjalan."


Troy mengerti, ia segera mengangkat tubuh mungil itu dan membawanya ke atas pelaminan.


Kedua tangannya mengalungi leher Troy. Melemparkan senyuman manisnya. Para tamu bertepuk tangan.


Suasana romantis.


Bukan hanya satu pasang pengantin. Namun, ada empat pasangan yang telah menikah dengan ikatan suci dan saling mencintai.


Papa Rey berkata "Kenapa aku harus berbesanan sama Richard?"


"Papa, tenanglah."


"Harusnya kamu bilang sama aku."


"Kamu Papanya Violla, tapi kamu yang tidak mengerti perasaan dia."


"Talita, aku hanya."


Istrinya meliriknya dengan sengit "Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Disini juga ada Jihan. Kamu jangan macam-macam."


"Sayang, bukan begitu maksud aku."


Papa Rey bingung sendiri dan istrinya jadi kesal.


Mama Jihan dan Papa Pedro, duduk bersama Mama Jenny dan Papa Damian.


Di atas pelaminan, Lily merengek "Om Bule, ayo."

__ADS_1


__ADS_2