
"Selama aku pergi ke kantor. Kamu jangan pergi kemana-mana." Tatapan Richard sudah membuat Lovie takut.
Lovie hanya mengangguk-anggukan kepalanya, dengan kedua tangan memilin selimut yang menutupinya sampai ke dada.
"Sana mandi."
"Iya."
Richard berusaha membuka jendela kamar ini, ternyata teralisnya susah dilepas.
Richard kembali menoleh ke arah Lovie yang polos dan tanpa sehelai benang.
Richard meraih selimut dari kasur. Menutup keseluruh badan Lovie.
Kedua tangan Richard sempat mendekap Lovie dari belakang.
"Kak Richi kenapa?" Batin Lovie, yang merasakan kalau Richard tangannya gugup.
"Sebisa mungkin, tutupi tubuhmu. Kecuali kit_" Richard hampir saja keceplosan. Lalu kembali berkata "Kamu jangan terlalu polos, tidak baik telanjang di depan orang dewasa. Nanti aku belikan kimono."
"Iya, di rumah aku juga pakai kimono. Disini nggak ada." Balas Lovie oon.
"Ada handuk di kamar mandi. Ingat, jangan aneh-aneh. Selama aku pergi, tetap di rumah ini, atau aku akan menghukummu."
"Kenapa begitu?" Tanya Lovie, yang tidak mengerti akan ucapan Richard.
"Aku harus menghukum kamu sama Mommy. Intinya, kalian berdua sudah menyakiti aku." Jawaban Richard aneh.
"Bukannya Kak Richi yang menyakiti aku. Lihat ini, bawahku sampai berdarah. Badanku sakit semua. Harusnya aku yang mengadu kepada Ibu Nancy, agar menghukum Kak Richi."
"Gadis bodoh. Terserah kamu. Aku sudah terlambat." Ucap Richard dan melepaskan kain selimutnya itu.
Lovie sudah yang terbungkus selimut itu dan Richard berusaha keluar rumah dari jendela kamar dapur.
Hanya Jendela dapur yang tralisnya sudah keropos dan begitu mudah dilepas.
Lovie yang keluar dari kamar dan berjalan ke kamar mandi dekat dapur. Masih melihat Richard.
"Pria tampan yang aneh. Mengapa malah menyalahkan aku. Aku sudah berusaha memberikan cucu kepada Ibunya." Ucap Lovie, yang terlalu polos.
Richard sudah berhasil keluar dari rumah itu dan ia juga bingung harus memanjat pagar tinggi.
Sepertinya, ia harus keluar dari semak-semak pandan berduri.
"Hissh, sialaan. Kenapa hari-hariku semakin terasa kejam. Ibu kandungku sudah berubah seperti ibu tiri. Kalau begitu, aku akan minta Mommy baru sama Daddy." Ucap Richard yang gila.
Richard yang kesusahaan, saat melewati pandan berduri, yang mengelilingi halaman rumah itu.
Sang Mommy, tampak memegang gunting besar.
"Kamu bicara apa barusan?!"
Cegrek
Cegrrek
Cegrrek
Mommy memperagakan guntingnya.
"Mommy mau ngapain??"
"Burungmu tidak berguna. Aku akan mengguntingnya, biar tumbuh kembali menjadi burung yang hebat." Ucapan Mommy terlalu kejam.
Richard melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Perlahan, mundur selangkah.
"Ampun Mom. Aku yang salah. Aku tidak bermaksud bilang begitu. Daddy tidak akan mencarikan Mommy yang baru."
"Aku tidak peduli soal Daddy kamu. Aku hanya ingin melihat burungmu bisa berguna."
Kedua tangan Richard menutup bagian pusakanya dan sang Mommy dalam hatinya tertawa.
"Burung tidak berguna."
"Ampun Mom. Aku sudah berusaha. Mommy tinggal menunggu hasilnya."
Sang Mommy semakin memainkan guting rumputnya itu, dengan kedua tangannya yang kuat.
Cegreek!
Menggunting pandan berduri dengan satu guntingan saja.
__ADS_1
Krreess!
Auu, Richard melihatnya ngilu.
Pohon pandan berduri, ukurannya begitu besar, tergunting dengan kasar nan sadis.
"Mommy, jangan bercanda sama guntingnya."
"Sana pergi atau aku gunting burungmu yang tidak berguna itu." Suaranya terdengar menakutkan.
"Burungku tidak bersalah, Mom." Richard siap berlari.
"Baguslah, kalau kamu sadar."
"Mommy kesurupan setan apa? Sampai mau memangkas burungku. Hampir saja, burungku disembelih pakai gunting." Lari terbirit-birit.
Mommy Nancy membatin, "Aku harus, membuat Lovie nyaman. Kalau aku masuk sekarang, dia akan malu. Cukup, membiarkan dia sendirian."
Tint tin tiiinnn
Richard menoleh ke mobil, yang baru keluar dari rumah mewah milik Daddy.
"Selamat pagi Bos Richard." Sapaan dari Doddit dan terlihat bahagia.
"Senang, godain aku." Richard tanpa basa-basi, langsung membuka pintu bagian belakang.
Richard yang sudah masuk, melihat sang Daddy berpenampilan formal.
"Daddy, ngapain duduk di mobilku?" Tatapan Richard tidak senang.
Richard duduk di sebelah kiri sang Daddy.
Sang Daddy berkata "Daddy kesiangan, lebih baik nebeng sama kamu."
"Memangnya asisten Daddy kemana??" Tanya Richard, dan tangannya bergerak merapikan penampilannya.
Richard sampai lupa dengan resleting celana bahannya dan mengancingkan kancing kerah tangan kemeja putihnya.
Setelan jas abu-abu muda, membuat penampilan Richard terlihat menawan.
"Sekali ini saja ya Dad,, Daddy nembeng sama aku."
"Pelit banget sama Daddy kamu sendiri."
"Bos. Gimana rasanya? Enak? Geli? Manis? Apa asin?"
"Bisa diam nggak??!" Sewotnya.
"Bos, kalau butuh panduan. Saya bisa bantuin." Seloroh Doddit dan ia sudah merasa menang.
Richard membalas kejam, "Kalian semua bikin aku gila."
"Gila-gila tapi nikmat-kan, Bos?!" Si asisten masih banyak omong.
Richard kesal, jadi terdiam. Sang Daddy memberikan sebuah berkas penting kepada putranya.
"Ini tentang Lovie. Sewaktu-waktu nanti, kamu pasti membutuhkannya." Ucap Daddy dan masih menyodorkan amplop coklat formal.
"Nggak perlu. Aku nggak butuh apa-apa."
"Baik. Daddy yang akan menyimpan ini." Sang Daddy kembali tersenyum.
"Kalian semua sudah menyakiti gadis kecil. Apa kalian tidak merasa bersalah padanya? Hah??!"
"Yang berbuat kamu. Yang merasakan kamu. Kita tidak melakukan apapun padanya." Richard sudah di skakmat oleh sang Daddy.
"Aku akan melaporkan kalian semua. Aku tidak mau terperangkap sendirian." Batin Richard.
"Daddy, aku juga masih anak-anak. Setatusku di dalam KK, anaknya Daddy. Aku ini, korban dari kekejaman orang tua. Aku akan melapor ke kantor polisi."
"Richard, kamu salah. Ini kartu keluarga baru kamu. Kamu sendirian." Ucap sang Daddy, memperlihatkan data diri baru Richard, dari layar pintar yang ada di tangannya.
"Ini serius? Bukan editan?"
"Meski kamu putra kandung Mommy sama Daddy. Kamu sudah berumur 30 tahun, tidak pantas kalau masih nebeng di KK Daddy." Jawaban Daddy Nicholas terdengar begitu santai.
Richard menatap Daddy dengan serius dan tampak berkaca-kaca, Richard lalu berkata "Nggak! Nggak mungkin, Daddy bisa kejam seperti Mommy."
"Ini demi kamu. Kamu juga harus belajar mandiri. Daddy duduk disini, mengambil semua fasilitas kamu."
"Daddy jangan begitu sama aku. Aku juga sudah berusaha memberikan cucu untuk kalian berdua."
"Semoga saja itu terjadi. Selama Lovie belum mengandung anakmu. Kamu harus bisa hidup sendirian."
__ADS_1
"Nggak, nggak mau. Aku nggak kau Dadd. Aku nggak mau, Daddy jangan mengusir aku."
"Kembalilah ke rumah. Rawat calon ibu dari anakmu. Kamu harus menjadi pria sejati. Berani berbuat, kamu juga harus berani bertanggung jawab."
"Daddy, mana bisa seperti itu. Aku sudah bilang. Aku nggak mau menikah. Aku nggak mau menikahi siapapun."
"Terserah, kamu mau menikah atau tidak. Yang pasti, kamu harus bisa mengurus gadis yang sudah kamu nikmati."
"Daddy aku tidak sekeji itu."
"Apa Daddy sama Mommy yang harus mengurus dia?"
"Oke, oke. Aku akan kembali mengurus dia. Dia juga sudah aku larang kemana-mana. Tapi, aku harus ke kantor. Masih ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan."
"Rapat dengan Rey. Kemudian, kalian berdua saling menyerang balik? Apa harus membawa nama perusahaan kita, hanya untuk egomu??"
"Tidak, aku sama Rey baik-baik saja. Tidak seperti yang Daddy bayangkan."
"Bohong! Ini buktinya."
Beberapa berkas tentang kerjasama perusahaan, namun Richard sudah membuat kerugian besar kepada perusahaan Rey.
Sewaktu bawahan Rey presentasi dihadapannya, Richard sudah menyetujui konsep iklannya itu.
Kemudian, setelah semua dipersiapkan. Richard ingin konsep yang berbeda dan menyuruh mengganti aktornya. Alhasil, perusahaan Rey rugi waktu dan biaya.
"Dadd, ini nggak seperti yang Daddy pikirkan."
Daddy Nicholas bertanya pelan, "Kamu masih menyimpan dendam sama Rey??"
"Nggak. Mana ada, dendam dalam persahabatan. Aku tidak begitu. Urusan pribadiku, nggak ada hubungannya sama perusahaan." Jawab Richard begitu adanya.
"Daddy saja yang meeting sama Rey. Kamu lebih baik pulang. Atau, fasiltas kamu akan Daddy ambil. Kamu bisa melangkah pergi dari rumah Daddy."
"Masih ada rumah Mommy."
"Disana ada Lovie, kamu mau tinggal bersamanya?" Daddy Nicholas jadi penasaran.
"Owh, oke. Silakan. Daddy bertindak seperti Mommy. Aku akan pergi sendiri." Ucapnya Richard, tapi dia merasa takut juga sama Daddy.
Daddy Nicholas berucap "Doddit, hentikan mobilnya."
"Dadd." Richard bingung dan takut akan tatapan sang Daddy.
Set!
Mobil itu berhenti dan Richard terdiam tanpa bergerak sedikitpun. Ia juga tidak berani menoleh ke wajah sang Daddy.
"Sana, keluar."
"Dadd. Daddy beneran ngusir aku??"
Richard merasa ada yang tidak beres, dan ia memang kekanakan.
"Cepat pulang ke rumah. Atau, pergilah sesuka hatimu dan jangan kembali lagi."
"Daddy serius??"
"Pergilah!"
"Gila. Semalam gara-gara Doddit habisin bensinku, aku sampai terdampar di pemakaman. Masa iya, aku harus pergi seorang diri." Richard bingung sekali, perlahan ia memegang tangan sang Daddy.
"Daddy. Beri aku satu kesempatan."
"Buatkan aku, cucu."
Richard membalas "Daddy. Aku sudah membuatnya dengan sepenuh hati."
"Doddit, kasih saku buat Richard."
Doddit memberikan uang recehan.
"Sana, pulang ke rumah naik angkot."
"Daddy serius?"
"Aku tidak bercanda."
Shindong kota yang besar, dengan hiruk pikuk yang ramai akan kendaraan bermotor. Namun, disini tidak ada angkutan umum. Berbeda, dengan kampung halaman Presdir Nicholas.
Hiiks, kasian.
Richard yang keluar dari mobil mewahnya. Akhirnya berjalan kaki.
__ADS_1
"Dia, mirip Richard." Batinnya.