Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Bab. 16. Berduaan Di Kamar Hotel


__ADS_3

Suasana siang hari di hotel DeNuca, pukul 12.12, waktu kota Shindong.


Lily dan Troy, tiba di Hotel DeNuca.


Buho yang kembali melajukan mobil. Dia membatin, "Jadi, gadis itu. Putrinya Presdir Richard De Nuca dan Bos Troy, menyewa Lily Penthouse."


Buho merasa bodoh, mengingat kontrak sewa apartemen. Ekspresinya, sudah tampak mewek dan memukul-muluk setiran mobil.


"Bodoh! Nanti kalau Bos Troy tahu. Aku suka mengambil keuntungan dari dia. Dia pasti akan melempar aku ke kutub utara."


Hikks, penyesalan sudah percuma.


Semoga, Bosnya tetap cuek soal keuangannya dan tidak merasa kalau selama ini sudah dimanfaatkan asistennya.


Lily dan Troy, memasuki lobby hotel DeNuca. Troy memesan kamar di resepsionis hotel ini. Salah satu resepsionis cukup mengenal Lily.


"Kenapa Nona Lily berkencan di hotel Presdir? Apa, hanya ingin menunjukan kalau dia sudah pacaran." Batin gadis berusia 23 tahun.


"Bee, pilih kamarnya."


"Emh, aku biasanya suka kamar ini."


"Kamu mau, kamar yang itu lagi?"


"He'em, aku suka kamar yang itu."


Lily tetap merangkul lengan kirinya Troy. Sudah menempel seperti perangko dan tampak manja sekali.


Gadis yang mengenal Lily, langsung memberitahu kepada pimpinannya.


"Apa??!"


Buna, setelah membaca pesan dari resepsionis Hotel DeNuca. Beliau segera bergegas ke kamar yang dipilih Lily.


"Apa yang harus aku perbuat? Siapa orangnya?" Jalannya, cepat sekali.


Troy, telah menerima kunci kamar hotel yang diinginkan Lily.


Kamar nomor 112. Kamar yang disukai Lily dan di kamar ini pula. Lily bertemu Troy.


Berjalan mesra dan Lily sangat terlihat manja.


Sampai di depan pintu elevator dan menanti lift itu. Setelah berapa detik kemudian. Pintu lift perlahan terbuka.


Degh!


"Nenek. Kakek." Gumam Lily.


Ada empat orang yang berada di dalam lift itu sudah tampak mematung, saat melihat Lily, yang terlihat menggandeng Troy dengan mesra.


Pintu lift tertahan sesaat dan perlahan Kakek Neneknya berjalan mendekat.


Lily jadi berkata "Om Bule. Ini Kakek sama Nenek. Orang tua Papa."


Mr. Troy, sempat bertemu di hotel ini, sebelum acara pesta.


"Kenapa Nenek diam saja? Kenalin dulu, ini calon suami aku."


"Calon suami?" Sang Nenek bingung dan menatap Troy.


Pada hari itu, Hanz sahabat sang suami mengenalkan Troy. Sebagai, calon cucu menantu untuk Katte.


Troy saat itu, juga diam saja. Mungkin, tidak mengerti rencana para Kakek Nenek itu.


Kakek Nicholas berkata "Iya. Kakek sudah pernah bertemu dengan Mr. Troy. Kakek juga mengenal Ayahnya Mr. Troy."


"Wah. Ini sangat luar biasa."


Lily melepaskan tangannya dari Troy, ia berlari mendekati sang Kakek. Lily membisikan sesuatu "Aku sama Om Bule mau menikah. Tapi, Mama belum setuju. Kakek harus tolongin aku untuk membujuk Mama."


"Kamu masih kecil, ingin menikah?"


"Om Bule sudah melamar aku. Ini buktinya."


Lily sampai memamerkan cincin yang tampak permata berkilau indah.


Nenek Nancy, jadi tersenyum manis.


"Franda, kamu ternyata sudah kalah lagi. Pria itu, malah melamar cucuku. Baik, aku akan membujuk Lovie. Agar segera menikahkan putrinya."


Lily menatap wajah sang Nenek, ia bermanja "Nenek..."


Suara rengekan Lily sudah terdengar di telinga Troy. Meski terkadang rasanya aneh. Namun, ia mulai membiasakan dirinya.


"Iya sayang."


Nenek Nancy jadi melepaskan lengan suaminya dan memeluk cucu perempuannya ini.


Kakek Nicholas juga masih terlihat bugar. Hanya saja, rambutnya sudah banyak putihnya. Sampai tidak terlihat hitamnya. Jadi rada abu-abu, kalau dilihat dari jarak kejauhan.


"Lily sayang. Kamu tidak boleh sedih. Urusan Mama kamu. Nanti biar Nenek yang bilang. Pasti, Mama kamu juga akan segera merestui pernikahan kamu." Balasnya Nenek dan masih memeluk cucu cantiknya.


Pelukan terlepas dan saling menatap. Nenek Nancy, mengelus poni tipis Lily.


"Nah, kalau senyum begitu cantik. Nenek yang akan mengatur pernikahan kamu. Kamu tidak perlu mencemaskan orang lain. Oke sayang."


"Nenek hebat. Aku sayang Nenek."


Sang Kakek, hanya bisa tersenyum. Saat melihat istrinya yang selalu berlebihan.


"Pasti, ini karena keluarga Hanz. Coba saja kalau bukan karena Franda yang pamer. Nenek kamu pasti juga akan menolak pernikahan kamu." Batinnya sang Kakek.


Walaupun begitu, Kakek Nicholas mengutakan kebagian keluarganya. Terutama, istrinya tercinta.


"Kalian berdua, mau menginap disini?"


"Nggak. Kita cuma main doang."

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu. Kamu baik-baik disini. Jangan nakal. Jangan nyusahin Mr. Troy."


Kakek Nicholas mendekati Troy, beliau berkata "Mr. Troy, cucu saya yang ini. Agak bandel. Mohon dimaklumi kalau dia suka usil dan sering nangis."


"Tuan Nicholas, tidak perlu khawatir soal itu. Presdir Richard, sudah menjelaskan kepada saya, tentang keseharian Lily."


"Baguslah kalau begitu. Kalau Mr. Troy ada waktu. Silakan berkunjung ke rumah. Kita bisa makan malam bersama."


"Baik. Nanti saya, akan sempatkan berkunjung ke kediaman anda Tuan Nicholas."


"Panggil Kakek saja. Biar kita lebih akrab."


"Baik Kakek."


Lily spontan, "Yes!"


Dan melakukan toss dengan Kakeknya, dan sang Kakek berkata "Tapi ingat! Lily nggak boleh nakalin Mr. Troy."


"Emh, aku sudah besar. Yang ada, malah Om Bule yang nakalin aku."


Nenek Nancy kembali merangkul lengan tangan suaminya. Beliau berkata "Mr. Troy, kami masih ada urusan di luar. Kami permisi dulu."


"Iya Nyonya. Silakan."


"Panggil Nenek dong." Celetuknya Lily dan sudah merangkul lengan tangan Troy.


"Iya lupa."


"Kakek Nenek. Hati-hati di jalan, sampai bertemu lagi." Sambil dadada.


Kakek Neneknya tengah berjalan pergi, bersama pengawal. Tampak harmonis dan melangkah bersama di usia yang sudah tua.


"Aku juga ingin, menua bersamamu." Ucapnya Lily dan masih menatap ke arah Kakek Neneknya.


"Menua bersamaku?"


"Iya. Seperti Kakek dan Nenek. Mesra sampai tua."


Troy jadi memegang tangannya, "Aku memang ingin menjadikan kamu ratu dalam hidupku."


"Idih, gombal."


"Apa itu, gombal?"


"Pandai merayu wanita."


Lily iseng deh, Troy ditinggalin. Dia lari ke lift duluan. Saat mengejar, liftnya sudah jalan.


Troy, menunggu dan akhirnya tuan putri kembali.


"Idih, nungguin."


"Kamu ninggalin aku."


Lily segera menarik tangannya dan pintu lift perlahan tertutup.


Lily membuat Troy jadi terhimpit dan Lily sudah berjinjit. "Ajari aku ciuman yang enak."


Emmh'


Troy mellummat bibir Lily dengan lembut. Lily sampai merinding, ia baru pertama kali merasakan ciuman manis begini.


Seshh'


Dessahan kecil itu terdengar di telinga Troy, saat jemari Troy yang memegang leher Lily spontan bergerak lembut.


Setelah, melepaskan ciuman itu. Lily bertanya "Om Bule, aku taju. Kalau Om Bule ingin memanfaatkan aku. Hanya karena, membatalkan perjodohan dari keluarga Hanz."


"Kamu curiga sama aku?"


"Tidak."


"Aku memang memanfaatkan kamu. Karena, hal lain."


Pintu lift terbuka, mereka tidak luar juga. Malah asyik bersama di lift. Troy masih memegang pinggang Lily.


Kedua saling menatap, Lily bertanya "Apa yang membuat Om Bule, jadi ingin memanfaatkan aku?"


Lift itu, sampai di lantai atas.


"Kita bahas di kamar kita."


"Jawab disini."


Pintu elevator tertutup.


Kedua saling menatap, Troy mendekati teling Lily, ia berkata "Aku butuh kamu."


"Om Bule butuh aku?"


"Iya."


"Kenapa membutuhkan aku, apa karena masalah bisnis?"


"Aku membutuhkan kamu. Karena, masalah lain."


"Apa?"


Troy sulit menjelaskan hal itu.


Pintu lift terbuka.


Ada pimpinan hotel yang tampak berdiri dan menatap mereka berdua.


Troy jadi sungkan, dan melepaskan pinggang Lily.


Lily tidak terima dilepaskan Troy, ia jadi merangkul lengannya Troy.

__ADS_1


"Buna, silakan masuk." Ucapnya Lily.


"Mohon maafkan saya Nona. Saya sudah mengganggu kenyamanan anda."


Wanita itu, membungkukkan badannya dan menekan tombol di dinding elevator.


"Silakan."


Pintu lift tertutup kembali, Troy menoleh ke arah Lily, ia bertanya "Bee. Dia, siapa?"


"Itu, Buna. Pimpinan Hotel ini. Dia teman Mama."


"Owh, iya. Aku mengerti."


Lily kembali menatapnya, ia bertanya "Kenapa kamu memanfaatkan aku? Apa, karena aku masih terlihat seperti anak remaja?"


"Bee. Kamu hanya salah menerka. Aku tidak bermaksud begitu."


"Terus, apa dong?!"


Troy berbisik. "Partner ranjang panas."


"Apa itu, ranjang panas?"


Troy mengisyaratkan dengan kedua telunjuknya dan Lily mengerti. Lily berkata "Bukannya, Om Bule pernah bayar wanita sexy di luar negeri."


"Iya."


"Terus, kenapa masih minta bantuan aku??"


"Bee, kamu jangan marah ya. Terus, jangan diceritain ke siapa-siapa."


"Oke."


Troy meraih tangan Lily, dan meletakan ke celana pas di pusat intinya.


"Iih, apaan sih?!"


Lily menarik tangannya dan merasa itu menggelikan.


"Tadi kepingin tahu. Sudah dikasih tahu, malah begitu sama aku."


"Kan, bisa cerita. Nggak perlu tempelin telapakku ke kantong itu."


"Kenapa, kamu jijik? Padahal, malam itu. Kamu pegang punyaku ini sampai pagi."


"Hah?"


Lily mati kutu, ia jadi menggaruk ke lehernya sendiri, padahal tidak gatal. Namun, rasanya jadi berubah gerah.


"Iih, ini liftnya kenapa sih?! Malah berhenti di tengah-tengah."


Troy jadi terdiam "Lily pasti nggak suka aku. Sudahlah, aku cari cara yang lain saja."


Lily menoleh ke wajah itu, "Tapi, aku suka sama dia. Huh, masak iya, itu sperrma? Aaaa.. Siall, siall, aku belum pernah melihatnya, tapi sudah memegangnya."


Lily jadi menjedot-jedotkan dahi jenongnya ke dinding elevator ini.


"Bee. Kamu kenapa? Kamu marah sama aku?"


Lily membalikan badannya dan pintu lift sudah terbuka. Lily berkata "Om Bule. Ayo kita ke ranjang panas."


"Hemms??"


Berjalan melewati koridor hotel, terasa hening saat hanya ada dua orang yang berjalan dan tanpa bercakap-cakap.


Troy, membuka pintu kamar 112 dan Lily langsung tertuju ke atas tempat tidur.


"Kamu mau makan apa? Aku pesankan sekarang."


"Aku nggak mau makan, sebelum jelas semuanya."


"Bee."


Troy akhirnya, pelan-pelan menceritakan semuanya. Bahkan, saat dia mengalami kecelakaan dan sempat terbaring lama di rumah sakit yang ada di negara asalnya sana.


"Terus, semenjak itu. Om nggak bisa merasakannya?"


"Ya, pernah bangkit sebentar aja. Itu, kalau mau pipis."


"Owh, aku nggak ngerti soal begituan."


"Banyak, wanita yang membuat aku. Biar aku tidak mati muda. Maksudnya, biar burungku tidak mati muda. Tapi, mereka tidak membuat aku bergairah. Makanya, aku lebih fokus pada pekerjaanku. Aku nggak pernah pacaran. Apalagi, jatuh cinta. Tapi, sama kamu aku bergairah. Aku bisa nyaman sama kamu. Kamu elus-elus burungku. Aku suka, makanya kamu pegang sampai pagi. Aku tidak masalah. Aku malah senang."


"Emh, apa sekarang. Aku boleh melihat itu?"


"Kamu tidak takut sama burungku?"


"Aku akan tutup mata dulu."


Troy melepas celana panjangnya, terlihat boxxer ketat dan warnanya hitam.


Bahkan, bukan hanya celana. Dadanya juga sudah terlihat.


Itu, memang sengaja Troy buka jaket dan kaosnya. Biar Lily, jadi terkesima saat menatap dada kekarnya itu.


Lily sangat penasaran, ia meraba pelan dada kotak-kotak itu.


Aah'


"Om Bule, kenapa?"


"Aku suka, kamu menyentuhku."


Kedua matanya Lily sampai ditutup dengan sapu tangan yang ada di meja kamar hotel ini.


Sapu tangan putih, yang samar-samar.

__ADS_1


Aah'



__ADS_2