
"Jadi dia, calon istrinya Troy?" Gadis itu, melihat ke layar ponselnya.
Video kiriman manager mal, yang menginjinkan Troy, untuk membuat acara lamaran di mal Haha.
Nona Katte patah hati, saat melihat Troy melamar Lily.
Masih di ruangan rapat pemegang saham. Nona Katte meneteskan air matanya. Padahal, dia juga sosok yang sulit jatuh cinta. Pertemuan pertama kali di kantor ini, saat Troy diajak CEO Ron, untuk melihat tempat kerja CEO Ron.
Meskipun, Ayahnya Troy adalah pemegang saham yang tertinggi dan sekarang sudah dialihkan kepada Troy. Namun, Troy belum pernah melihat Hanz Group, waktu itu karena ada kunjungan bisnis, sekalian mampir sebentar.
Nona Katte hanya berani memandang, dari kejauhan saja. Tidak berani untuk mendekatinya. Namun, saat keberanian itu sudah muncul, Troy melamar gadis lain.
Nona Katte jadi mendengus kesal dan membentak "Sangat menyebalkan!"
Semua orang yang ada di ruang itu, jadi menatap ke arah Nona Katte.
"Katte, kamu kenapa?" Tanya sang Mama, yaitu Presdir Helena.
Nona Katte sadar, semua orang telah menatap ke arahnya. "Owh, aku tidak apa-apa. Hanya ada masalah di mal. Aku harus segera kesana."
"Memangnya, ada masalah apa?"
Belum sampai menjawab itu, Nona Katte buru-buru pergi.
"Ada apa dengannya? Biasanya sangat sopan dan menjaga etika. Sekarang, pergi begitu saja." Batin Mamanya tidak paham.
Presdir Richard berkata "Sekarang sudah selesai. Saya juga masih ada urusan lain."
Presdir Richard berdiri dan pria di sebelahnya menjabat tangannya.
"Terima kasih. Sudah mendukung saya."
"Selamat Presdir Ronaldo Gi Vanco. Selamat memimpin Hanz Group, semoga lebih berjaya."
"Terima kasih Presdir Richard. Saya tidak akan mengecewakan anda." Balasnya pria tampan yang satu ini.
Keduanya saling memberikan senyumam. Meskipun sering berselisih paham. Kali ini, keduanya tampak kompak.
Presdir Helene, hanya bisa duduk manis dan Presdir Richard juga pergi setelah menyalamani semua anggota pemilik saham.
Buho berkata "Saya juga masih ada pekerjaan penting. Saya permisi."
Buho keluar, seraya melangkah cepat untuk mengejar Presdir Richard.
"Presdir Richard."
Papa tampan yang satu ini, pesonanya semakin terpampang nyata.
"Iya. Ada apa, anda memanggil saya?"
"Bos Troy, sudah menempati apartemen anda Tuan Richard."
"Saya malah tidak tahu soal itu."
"Saya mendapat rekomendasi dari asisten anda dan kemarin pagi saya kesana. Bos Troy sangat menyukainya."
"Baguslah kalau begitu. Disana, ada Metta yang mengurus semuanya."
"Iya Presdir Richard. Saya sudah menemuinya dan mengatur kontrak sewa sebulan."
"Hanya sebulan?" Papa tampan ini, tahunya kalau Metta biasa mengurus kontrak sewa tahunan.
"Iya. Bos Troy sangat pemilih. Saya ingin memberikan tempat yang nyaman. Kalau Bos Troy nyaman. Saya akan menyewa lagi untuk kelanjutannya nanti."
"Baik. Tidak masalah. Anda bisa bicarakan dengan Metta."
"Tapi Presdir. Bos Troy memilih Lily Penthouse. Saya harus memakai nama anda, dihadapan Nyonya Metta. Mohon maaf, saya hanya mengikuti instruksi asisten anda. Soalnya, apartemen yang lain, sudah ditolak oleh Bos Troy."
"Lily juga tidak suka, kalau ada pria lain nenempati kasurnya. Apa, yang harus aku katakan sama Lily? Kemarin di hotel, Mr. Troy juga mengeluh soal keamanan hotel dan pelayanan hotel."
"Soal itu, nanti saya yang akan bilang sama putri saya. Semoga, Mr. Troy merasa nyaman tinggal disana. Soalnya, putri saya terkadang juga usil. Semoga, dia tidak mengganggu Mr. Troy."
"Terima kasih Presdir Richard. Terima kasih banyak." Buho sampai menyalami tangan kanan Papa tampan ini.
"Kalau begitu, saya permisi dulu."
"Silakan Presdir Richard."
Yang di mal, sudah tampak bertiga, di sebuah restoran VIP.
"Ternyata, Lily putrinya Presdir Richard."
__ADS_1
Mama Lovie, menatap kedua orang yang duduk berdekatan.
Lily, malah merangkul lengan tangan calon suaminya dan terlihat manja.
"Lily sayang, Mama tahu. Kamu belum pernah pacaran. Tapi, pernikahan itu tidak mudah, tidak seperti membaca novel dan berkhayal manis."
"Aku sudah putuskan untuk menerima lamaran Om Bule. Lagian, aku yang menikah, bukan Mama." Balasnya Lily dan memang begitu adanya.
Mama Lovie melihat Troy, yang tampak sudah berumur. Pria dewasa yang tampak terdiam, saat seorang Mama menasehati putri kandungnya.
Lily dengan manja, tampak protes "Om Bule, harusnya ikut menjelaskan. Kok Om Bule malah diem aja sih!"
Mama Lovie menghembuskan nafasnya, yang dari tadi sudah mengganjal.
Pelan-pelan, Mama Lovie berkata "Troy, rekan bisnis Papa kamu."
Lily berkata "Wow. Ini sangat luar biasa. Bagus dong, kalau Om Bule rekan bisnisnya Papa."
"Lily sayang. Kamu harusnya sekarang kuliah. Ini, kenapa malah bolos?"
"Aku nggak bolos. Kuliahku lagi kosong, nggak ada dosen. Terus, aku ngadate sama Om Bule."
"Iya. Oke. Mama kasih kesempatan, buat kamu pacaran. Tapi, tidak untuk menikah."
"Mama. Nanti kalau aku hamidun gimana? Hayo, Mama mau, aku tekdung duluan. Kayak itu, teman SMAku, si Sisil."
"Lily, kamu ini lagi ditegur sama Mama. Kamu malah bandingin diri kamu sama teman kamu."
Ya, begitulah Ibu dan anak satu ini. Bahkan, Troy sendiri bingung. Kenapa bisa, Ibu dan anak ini, terlihat seperti Kakak dan adik yang sedang bertengkar.
Troy dari tadi hanya membatin dan memilih untuk diam saja. Mendengar obrolan sensitif, dari mulut dua perempuan.
Hanya, beberapa istilah yang Troy pahami. Untungnya, Troy tidak paham dengan kata tekdung.
"Lily sayang. Mama dulu kuliah. Mama hamil kamu. Kamu mau tahu rasanya gimana? Rasnya nggak nyaman sayang."
"Owh, jadi Mama nggak suka. Waktu Mama mengandung aku sama Kak Latte?"
"Sayang, bukan begitu maksud Mama. Intinya, menikah muda itu sangat berat. Tidak semudah, yang kamu bayangkan."
"Tapi, Mama sama Papa. Kalian baik-baik saja. Kalian berdua, tetap harmonis dan romantis."
Mama Lovie sudah kehabisan akal, malah bingung sendiri.
"Aduh, aku harus gimana. Kalau aku terus melarangnya. Lily akan semakin nekat. Dari dulu, cuma dia yang selalu pandai melawanku. Tapi, aku nggak mau melihat anak perempuanku harus menikah muda. Lily tidak kekurangan apapun, dia masih muda, dan sangat cantik. Pasti, dewasanya nanti, ada banyak laki-laki yang menyukainya."
"Mama. Pokoknya, Mama harus bantuin aku, ngomong sama Papa. Kalau aku, mau menikah sama Om Bule."
"Sayang, Mama nggak mau, kamu dibawa Troy ke luar negeri."
"Kak Latte boleh tinggal di luar negeri. Kenapa aku tidak boleh tinggal disana?"
"Lily sayang. Kamu anak perempuan Mama satu-satunya. Mama nggak mau, kamu jadi tinggal jauh dari Mama."
Lily menatap wajah Troy, ia bertanya "Om Bule, setelah kita menikah. Kita mau tinggal dimana?"
"Terserah kamu, mau tinggal dimana, aku akan mengikuti kemauan kamu."
Lily jadi menatap sang Mama, Lily berkata "Tuh. Mama sudah dengar sendiri. Apa yang Om Bule katakan."
"Baik, terserah kamu saja. Mama menyerah." Balasnya Mama Lovie dan meraih cangkir teh bunga krisan yang ada di hadapannya.
Lily mendusel-dusel lengan Troy sudah kayak kucing, yang minta dielus manja sama Tuannya.
Mama Lovie menatap Troy. Calon mertuanya jadi bertanya "Troy. Apa, sebelumnya kamu sudah punya pacar?"
"Saya tidak punya pacar. Hanya beberapa wanita bayaran." Jawabnya Troy jujur.
Mama Lovie jadi menghela nafas, tapi tetap menatap tegas pria itu. "Troy, apa kamu punya anak dengan wanita lain??Misalnya, sewa rahim wanita."
Troy menjawab "Saya tidak pernah begitu. Saya membayar wanita, hanya untuk bersenang-senang. Saya tidak suka anak-anak. Kecuali, nanti. Kalau saya sudah menikah Bee. Saya ingin punya anak dari Bee."
"Bee??!"
"Mama, itu namaku dalam panggilan sayang dari Om Bule."
Mama Lovie membalasnya sewot. "Iya. Mama paham. Mama cuma ingin mengenal Troy."
"Kenapa Mama nggak menyelidiki saja pakai detektif dari pada tanya ini itu. Aku, jadi malu sama Om Bule."
"Ini, kekasih kamu, ada di depan Mama. Lebih baik, Mama bertanya, dari pada membuang waktu." Mamanya sensi.
__ADS_1
Lily juga mencebiknya, "Idih, Mama lebay."
Mamanya berubah manis, "Lily sayang, kamu jajan es krim dulu sana. Mama mau bicara berdua sama Troy."
"Oeh, Oke Mamaku sayang. Tapi Mama jangan marahin Om Bule. Dia calon menantu Mama."
"Iya. Iya."
Lily pergi dari ruangan VIP dan ternyata ada dua pengawal yang berjaga di pintu ruangan ini.
"Kalian berdua. Jangan ikuti aku! Aku cuma mau beli es krim." Ucapnya Lily, ketus.
Lily berjalan seorang diri.
Troy membatin, "Jadi, aku menyewa apartemen milik Lily. Ini, kebetulan yang luar biasa. Aku harus segera menikahi Lily."
"Troy. Lily punya saudara kembar. Dia anak laki-laki. Meskipun mereka kembar. Mereka banyak perbedaan."
"Iya, Madam Lovie. Saya tahu hal itu."
"Lily masih sangat muda. Apa kamu bisa menuruti semua keinginannya? Lily, bukan gadis yang hanya berdiam diri di rumah. Dia selalu punya keinginan untuk keluar rumah. Bermain, berkumpul dengan teman-temannya dan sikapnya masih kekanakan. Apa kamu tidak memikirkan itu?"
"Madam Lovie. Saya sudah memikirkannya."
"Lily sangat termanjakan. Sampai saat ini, Lily tidak pernah kekurangan apapun. Satu kesalahan saya. Saya membiarkan Lily tinggal di asrama, sampai saya susah memantau kesehariannya."
"Madam Lovie. Saya mengerti. Saya bertemu Lily di hotel DeNuca."
"Di Hotel DeNuca?"
"Benar Madam. Malam itu, saya hendak pergi ke pesta Hanz Group. Namun, ada gadis yang menyelonong masuk ke kamar."
"Apalagi yang terjadi?"
"Saya berusaha membuatnya keluar kamar. Tapi, gadis itu tidak tahu, apa yang sudah dia minum. Sepertinya, ada yang sengaja membuatnya berahi."
Kucing kali berahi.'
"Berulang kali, Lily menyebut nama Ethan dan memaki saya. Lily, tidak ingat, apa yang sudah dia lakukan kepada saya. Tapi, saya tidak menyentuh Lily."
"Jadi, soal baju di sampah?"
"Benar, Madam Lovie. Itu ulah saya. Saya mengganti pakaiannya, karena Lily menggigil saat di dalam bath-up. Saya juga salah. Harusnya, malam itu, saya tidak membiarkan dia masuk ke kamar saya."
"Lalu, apa yang terjadi dengan Lily? Apa kalian sampai??"
"Tidak Madam Lovie. Saya memang mengganti pakaiannya. Tapi, saya tidak sampai hati untuk menyentuh Lily."
"Kamu melamar Lily, hanya karena kesalahan?"
"Madam. Bukan itu tujuan saya."
"Apa tujuan kamu, sampai ingin menikahi Lily?"
"Madam Lovie. Ini, sangat sensitif bagi saya."
"Katakanlah!"
Cukup lama Troy terdiam. Madam Lovie menantikan penjelasan dari Troy.
"Madam Lovie. Sudah lama sekali, burung saya tidak bisa berdiri tegak. Karena malam itu, Lily menyentuh saya, burung saya, akhirnya bisa bangkit kembali."
Mama Lovie, tiba-tiba sesak nafas. Berpegang erat pada meja restoran. Susah untuk menyalahkan Troy.
Dari awal, Madam Lovie sudah tidak bicara formal padanya. Mengingat akan lamaran untuk putrinya. Beliau tidak peduli dengan bisnis suaminya.
"Madam Lovie, baik-baik saja?"
"Kamu, kamu, kamu sengaja memanfaatkan kepolosan putriku?"
"Madam Lovie. Tolong mengerti keadaan saya." Tatapan Troy sangat berharap dan perasaannya juga sudah malu sekali.
"Tidak. Ini, tidak baik untuk putriku."
Madam Lovie berusaha berdiri dan hendak pergi.
Troy, berlutut di hadapannya.
Saat itu pula, Presdir Richard datang.
"Apa yang Mr. Troy lakukan sama istriku?"
__ADS_1
Presdir Richard kepalang emosi, meraih jaket yang dikenakan oleh Troy.
Kepalan tangan kanan, mengayun ke wajah Troy.