Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Lembur Pacaran


__ADS_3

Masih suasana malam di kantor Rich.


Ruangan khusus tempat kerja lembur, terkesan ruangan santai.


Ada meja rapat, lalu ada sofa di sisi sudut kanan. Ada mesin pendingin minuman dan berbagai fasilitas kekinian.


Sangat nyaman dan tidak akan jenuh, bila harus bekerja lembur.


"Bos. Ini sudah sesuai dengan anggaran dan dana yang harus dikeluarkan." Ucap Metta menyodorkan tabletnya.


Laporan dari data keuangan dan sudah diperiksa oleh Milie bersama staff keuangan yang bertugas sebagai staff andalan Richard.


Sebelum ditandatangi secara digital. Bos tampan ini harus melihat semua rincian.


Sekian ratus juta untuk pabrik A. Sekian M untuk pabrik B. Sekian ratus juta untuk pabrik C dan beberapa data keuangan yang harus disetujui oleh Bos bobrok ini. Sebelum nantinya, di kirim ke pimpinan pabrik dan semua yang bertanggung jawab atas kinerja para pegawai.


"Kak Richi masih pusing?" Tanya Lovie.


Bocah manis ini, duduk di sebelahnya dan tangan Richard memegang tangan kanannya Lovie. Richard jadi mencium punggung tangan nan halus itu, dengan perasaan manis.


"Selama kamu di dekat aku. Aku tidak akan pusing lagi."


Cieee..


7 staff andalan, dan sekretaris sexy ini semakin baper.


Doddit sudah terbiasa melihatnya, meski kali ini dirinya juga memastikan kalau Bosnya tidak tertukar jiwa.


"Doddit, aku masih heran melihatnya."


"Bu Choi saja heran, gimana perasaan saya waktu itu. Saya sampai merinding. Sekarang, saya ada teman yang percaya perkataanku. Saya tidak merasa gila sendiri."


Kedua orang itu saling berbisik.


Metta duduk di sebelah Bos Richard dan tampak memandangi wajah Lovie.


"Apa yang membuat Bos Richard suka padanya? Dia sangat berbeda dari Jihan." Batin Metta, penasaran.


Milie juga memandangi sosok belia yang duduk di seberang meja. Para staff andalan itu, juga duduk di meja rapat.


Pekerjaan mereka sudah selesai, hanya duduk dan memandangi tingkah Bos tampannya itu bersama sosok belia.


"Apa dia masih sekolah?" Batin Juno.


Lovie merasa malu, saat semua orang yang ada di ruangan itu, jadi menatap dirinya.


"Kak Richi, aku mau ke toilet."


"Aku temani kamu."


"Nggak usah. Kak Richi kerja saja. Aku bisa sendiri."


Richard melihat ke arah Milie, "Milie, tolong temani My Lovie ke toilet perempuan."


Milie secepatnya berdiri, "Baik Bos."


Lovie merasa aneh, namun dia tetap tersenyum tipis, saat menatap staff perempuan ini.


Kedua tangan mereka terlepas, Lovie beranjak pergi dan Richard masih menoleh ke arah Lovie yang berjalan pergi.


Metta yang duduk di sebelahnya, jadi memberanikan diri untuk bertanya, "Bos, apa dia kekasih Bos yang diceritain Doddit?"


"Memangnya, Doddit cerita apa saja?"


Doddit yang duduk di ujung kiri, sudah menatap Metta dan menggelengkan kepalanya.


"Dia, yang Bos lindungi dari mantannya. Sampai Bos tertusuk pisau??"


Richard menoleh ke wajah Metta, ia berkata "Iya. Seperti itu."


"Bos sudah siap menikahi dia?"


"Untuk apa kamu perlu tahu. Kamu bukan mantan kekasihku."


"Bos."


"Aku kerja, kamu nggak lihat. Aku lagi fokus memeriksa ini."


Kembali lagi kasar. Dingin dan tidak berperasaan. Metta jadi diam. Itulah yang dirasakan Doddit bila tiada Lovie disamping Bos galaknya.


"Bu Choi, melihat sendiri sikapnya Bos.


"Doddit, kamu memang benar."


"Bu Choi, kita harus memanfaatkan kekasihnya Pak Bos." Bisiknya Doddit.


Dan saat ini, sudah dilakukan oleh Milie. Kesempatan untuk mengobrol, dengan kekasih Pak Bos bobroknya.


"Aku pikir, cuma aku yang merasa Kak Richi aneh."

__ADS_1


"Bos memang aneh. Kita cuma staffnya. Bisa apa, kalau tidak menurut dengan atasannya. Kita semua juga takut dipecat. Apalagi, sekarang ini mencari pekerjaan sangat susah sekali. Setidaknya, Bos bisa murah senyum, biar kita tidak ketakutan setiap harinya."


"Kak Milie tenang saja. Aku akan membujuk Kak Richi. Meskipun, terkadang memang keras kepala."


"Keras kepala?"


"Iya, dia kadang juga susah dinasehati. Apalagi kalau di depan Ibu dan Bapak. Manja."


"Benarkah?!"


"Iya, seperti itu. Kak Richi orangnya memang aneh. Ya, mungkin menjaga wibawa di depan para staffnya. Coba nanti aku bilang ke dia, agar dia tidak arogan lagi sama kalian."


"Setidaknya, memerintah kita dengan sikap baik."


"Tapi, barusan dia meminta Kak Milie dengan kata, tolong."


Lovie menatap Milie.


Milie membalasnya, "Iya, kalau ada kamu disini. Bos, berubah lebih sungkan."


"Iya Kak, aku jadi mengerti."


Yang di toilet, staffnya lagi curcol dan mengadu tentang kelakuan Bos tampannya itu.


Lalu, yang di ruang kerja lembur. Bos Richard jadi ceramah. Para staff itu terdiam dan tidak berani membalas semua ucapan pedasnya.


Lovie kembali, Richard seketika anteng.


Seet!


Lovie menatap Richard, dengan tatapan serius.


Perlahan, senyuman manis telah terlukis di wajah polosnya itu.


Segera berlari mendekati Richard dan merangkul lengan kanannya.


Bersandar dada Richard, Lovie berkata "Silakan, bekerja lagi. Aku temani Kak Richi."


Richard jadi terdiam. Semua staffnya hanya menatap ke arah Lovie.


"Kamu kenapa jadi manja begini?"


"Aku sayang sama Kak Richi. Kak Milie bilang, Kak Richi Bos yang hebat dan sangat baik."


Semuanya jadi menoleh ke arah Milie. Milie berjalan dengan pelan dan kembali ke tempat duduknya.


"Milie cerita begitu?" Richard jadi tersenyum, meski itu terpaksa.


"Aku bangga sama Kak Richi. Teruslah begitu, aku jadi makin sayang sama Kak Richi."


"Memangnya, Milie cerita apa saja?" Tatapannya kepada Milie, sudah mengancam.


Milie jadi menunduk dan semuanya juga jadi melihat ke arah Milie.


"Kak Richi murah senyum, tidak pernah marah-marah, dan selalu baik sama semua karyawan Rich."


"Begitukah?" Tanya Richard dan Lovie sudah PW saat bersandar dada Bos tampan ini.


"Iya. Kak Richi harus begitu terus ya. Jangan sampai berubah. Aku makin sayang sama Kak Richi.".


"Segitunya, kamu sayang sama aku?"


"Iya, Kak Richi sudah seperti Papi. Papi kalau sama karyawannya juga sangat baik."


"Emh, ini rambut kamu belum keramas ya?"


"Iya. Soalnya tadi pagi buru-buru ke sekolah. Aku nggak sempat keramas."


"Sore sudah mandi?"


Lovie cekikikan, dan menyengir di depan Richard "Cuma ganti baju saja."


"Oke, ayo kita pulang. Aku harus memandikan kamu."


"Hemm, terus kerjaan Kak Richi bagaimana?"


"Ada Metta dan lainnya. Aku akan percayakan sama mereka semua."


"Tapi kasian mereka. Mereka sudah capek."


"Kamu benar. Ini juga sudah malam, semuanya juga harus pulang." Richard tersenyum meski kaku.


"Berarti mereka semua boleh pulang?"


"Iya."


Richard berkata "Sana, ambil tas kamu. Kita pulang ke rumah."


Richard menoleh ke Metta menyodorkan tablet kerjanya. "Metta, tolong simpan ini, di brankas ruang kerjaku."

__ADS_1


Lovie pergi ke ruang kerja Richard, bersama Metta.


Semuanya masih terdiam, dan Milie hanya bisa menerima keadaan ini.


Meski namanya telah diungkap Lovie, setidaknya dirinya bisa segera pulang.


Bos Richard berdiri, "Kalian semua boleh pulang. Terima kasih, sudah bekerja keras dan besok aku kasih bonus untuk kalian semua."


Winz yang memastikan "Beneran Bos?"


"Iya benar. Kalau tidak sampai dapat bonus. Berarti pekerjaan kalian selesai. Siap-siap pindah ke Min-ju."


"Bos Richard, maksud saya tidak begitu. Saya hanya bercerita saja." Ucapnya Milie yang lemah lembut.


Kedua telapak tangan Richard sudah bersandar meja, menoleh ke arah Milie.


Bos ini berkata "Kerja bagus untuk malam ini. Aku tidak masalah dengan perkataan kalian semua."


"Bos, tidak memarahi saya?"


"Tidak. Tapi, minggu depan. Kamu dan Juno harus mengurus pabrik baru di Min-ju."


Juno menoleh ke arah Richard "Saya juga Bos? Saya tidak mengadukan soal sikap jeleknya Bos."


Yah, Juno malah keceplosan sendiri.


"Saya merekomendasikan kalian berdua. Biar naik jabatan. Apa kalian berdua tidak mau jadi manager di pabrik? Apa kalian berdua masih mau jadi staff Bos gila ini?"


"Meski disana gajinya dua kali lipat. Saya tetap mau disini saja Bos." Jawabnya Milie, jujur.


Juno berkata "Bos, saya tidak apa-apa setiap hari bikin kopi dan sibuk di mesin fotocopy, tapi saya tidak mau jadi pimpinan di pabrik itu."


"Oke, kalau begitu. Mulai besok, Milie ke akuntan dan kamu ke ruang admistrasi."


"Bos! Saya mau disini saja. Meskipun, Bos galak sama saya, dan selalu menyuruh kerja lembur, saya tidak apa-apa." Milie cari aman. Di ruangan akuntan lebih mengerikan.


"Oke, kalau begitu. Jangan suka bergosip. Kunci, mulut kalian semua."


Lovie kembali, mendekati Richard "Pakai jasnya."


Richard pasrah, saat Lovie membenahi dirinya.


Mengancingkan kerah tangan kanan dan kiri, lalu memakaikan jas yang berwarna hitam.


Sore tadi, Richard ganti busana dengan nuansa putih hitam.


Lovie mengusap bagian dada "Kak Richi harus sabar. Nanti cepat tua. Aku masih muda, masa' iya, nanti suamiku jadi seperti Om-om."


Para staff itu dalam hatinya tertawa dan Doddit kelepas tawanya.


Richard mengeratkan giginya dengan pelan dan menoleh ke arah Doddit, "Doddit, antar kita pulang ke rumah Nyonya Nancy."


"Aa, siap... Bos Richard." Ucapnya Doddit dan ia segera berjalan pergi.


Richard melihat ke seluruh staffnya, "Kalian semua masih ingin disini?"


"Pulang Bos." Milie kikuk dan Bu Choi memegang lengan tangan kanannya.


Juno berkata "Bos, saya permisi duluan."


"Kita pamit Bos."


Winz dan lainnya juga segera pergi.


Lovie mengelus dada itu, "Emh, aku suka yang begini."


"Apanya yang disuka?"


"Kak Richi yang berwibawa dan menawan. Nggak harus galak-galak sama staffnya. Karena, Kak Richi sudah terlihat wibawa."


"Aku nggak galak."


"Tapi diam saja dan sok cool kalau lagi bad mood. Juga bikin takut para staff."


"Memangnya, aku cool?"


"Mataku melihat, Kak Richi manja."


Tangan kanannya Lovie, merangkul lengan kiri Richard, mereka berjalan mesra.


Sudah jam 9 malam. Metta bersama Bu Choi satu lift, dan yang lainnya berjalan lebih dulu.


Lovie dan Richard, hendak menaiki elevator.


Setelah di elevator, Richard kembali mencium bibirnya Lovie.


Emm, mellummatnya.


Saatnya tiba di bawah.

__ADS_1


Jengjreng


"Bos Richard!!"


__ADS_2