Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Ciuman Menyakitkan


__ADS_3

Masih di Hotel DeNuca, milik Richard.


Setengah jam yang lalu, mantan datang. Padahal sudah dihadang, tetap merusuh dan akhirnya menyerah, karena Lovie.


Asisten pribadi Richard, sengaja pasang badan di koridor kamar itu. Sempat cekcok dan saling menjatuhkan.


Namun, sang asisten yang memakai kacamata bening, ternyata menangnya hanya sesaat saja. Sudah diusir kasar, eh balik lagi dan sampai emosi sama Lovie. Sekarang, sudah tidak kembali lagi.


"Doooddiiiitt." Suara memanggilnya, dengan nada kemayu nan merdu.


Sang asisten pribadi Richard, bernama Doro Dita menyebut dirinya Doddit, biar terkesan keren dan usianya 28 tahun.


Setelah Doddit mendengar suara yang memanggilnya, ia berjalan cepat ke arah Nyonya besarnya. Yang tidak lain adalah Ibu kandungnya Richard.


Panggil saja, Nyonya Nancy.


Nyonya Nancy bertanya, "Apa kamu melihat Bosmu?"


Gaya anggun dan terlihat glamour. Namun, sikapnya tidak seanggun penampilan luarnya.


Nyonya yang bawel, bicaranya juga ceplas-ceplos dan sosok perempuan yang penyayang.


Tetapi, kalau sekalinya kecewa. Kebaikan apapun, akan selalu disalah artikan olehnya. Benci ya benci, tidak mau menerima dan melihat orangnya lagi.


"Nyonya Nancy. Bos sudah ada di kamar, bersama gadis itu." Jawab Doddit.


Nyonya Nancy tersenyum tipis, dan tatapan Nyonya besarnya ini, terlihat penasaran. "Dodd, apa kamu bertemu gadis itu?"


"Iya Nyonya Nancy. Saya sendiri yang menyerahkan kunci kamar Bos, sewaktu saya di resepsionis. Dia wanita muda dan telihat imut."


"Aku jadi penasaran. Seperti apa, wajah gadis itu, harusnya aku meminta fotonya."


Ternyata benar, dugaan Richard. Kalau Ibu kandungnya ini, yang berbuat usil padanya.


"Apa Nyonya besar penasaran? Kalau Nyonya ingin melihatnya, saya bisa membantu Nyonya."


"Bagaimana caraku melihatnya? Pasti kamarnya sudah dikunci rapat. Mana bisa aku mengintip mereka."


"Bisa Nyonya. Lewat balkon kamar saya. Saya tetap stay di kamar sebelah Bos."


"Oke, kamu selalu bisa diandalkan." Balasnya dan berjalan bersama Doddit.


"Kalau dia hamil. Aku akan jadi Oma." Batin Nyonya Nancy.


Setelah rencananya berhasil. Mau menikah atau tidak, yang terpenting, Nyonya Nancy bisa memiliki cucu, dari putra kandung, semata wayangnya itu.


"Tante Nancy." Panggilan dari sahabat Richard. Dia itu, selingkuhan Jihan.


Sebut namanya, Reynaldi Jo Vanco. Dipanggil Rey.


"Kamu tumben kemari? Apa kamu sengaja mengantar Jihan kemari?" Sang Mommy menutup mulut, merasa sudah keceplosan. Malam ini, tidak boleh ada kegagalan. Yang terpenting, bisa punya cucu kandung.


"Mohon maaf Tante Nancy, saya hanya ada urusan pribadi. Kebetulan kita berpapasan. Saya hanya ingin menyapa Tante. Itu saja." Ucapnya sahabat Richard dan terlihat sopan satun.


Meskipun begitu, Richard tetap bisa menerima sahabatnya. Tapi, tidak dengan Jihan. Hanya saja, Mommy Richard merasa geram akan sosok Rey. Karena pria ini pula, sampai sekarang Richard tidak mau menikah dan malah bermain-main dengan banyak wanita.


Rasa dongkol terlihat di wajah cantiknya, dan memalingkan pandangan mata ke arah lain. Mommy Richard tidak ingin lagi menatap pria maskulin ini, kemudian kembali berjalan begitu saja.


Pria itu lantas pergi, Mommy Richard menoleh ke belakang. Melihat punggung pria maskulin itu. Mommy tampak menggeleng kepala.

__ADS_1


"Ckckck, dia juga membujang. Salahnya dia sendiri, menyukai pacar sahabatnya. Kalian akan mendapat karma" Bawelnya Nonya Nancy.


"Untuk apa aku mengurusinya. Aku lebih baik, fokus dengan putraku." Batinnya dan Doddit memberikan jalannya.


Doddit mempersilakan Nyonya besarnya memasuki kamarnya. Tampak ruangan yang bergaya classic dan terlihat lebih agung. Dilihat dari interior dan furniture seperti kamar seorang Ratu. Warna putih keemasan, telah mendominasi kamar ini.


"Dodd, apa aku harus memanjat balkon sebelah?" Tanya sang Nyonya.


"Iya Nyonya. Tapi kalau Nyonya tidak berkenan memanjat. Di ujung ada pintu penghubung kamar Bos Richard." Doddit sudah menunjuk ke arah pintu itu.


Tampak pintu kayu yang tertutup rapat dan terhubung ke kamar sebelahnya. Harusnya, ini menjadi kamar Richard, namun Richard lebih menyukai kamar sebelah.


"Tapi pintu itu, sudah terkunci rapat. Kuncinya juga di simpan sama Richard."


"Nyonya Nancy bisa menguping mereka."


"Jangan!! Nanti kita malah mengganggu mereka. Aku hanya ingin punya cucu."


"Baik Nyonya Nancy. Saya mengerti."


"Ingat! Kamu sudah aku bayar mahal. Jangan sampai salah berucap, bila ditanya Richard."


"Baik Nyonya Nancy. Saya akan tutup mulut dan akan berkilah bila ditanya sama Bos Richard."


"Bagus. Kamu harus tetap mendukung aku."


"Baik."


Nyonya besar ini, berjalan ke arah pintu penghubung kamar sebelah. Tampak menempelkan telinga kanannya.


Aaaagrh!!~ Teriakan gadis dan terdengar manja.


"Woww."


Doddit pergi ke ruang CCTV, untuk mengambil rekaman sewaktu bertemu Lovie. Doddit tidak boleh meninggalkan jejak, agar Bosnya tidak curiga. Dia juga akan memberikan kepada sang Nyonya besar.


Selama bekerja, Nyonya besarnya memberikan gaji yang jauh fantastis, dari pada Richard. Bos tampannya, memang lebih perhitungan.


Di kamar Richard saat ini. Lovie yang telah menjerit, karena gigitan kasar Richard.


Lovie sudah merengek dan meraba bibir yang digigit Richard. "Aauw, perih."


"Kenapa bisa sampai berdarah?" Batin Richard, yang malah semakin penasaran.


Biasanya tidak akan sampai seperti itu. Hanya sedikit kemerahan di dalam bibir gadis kencannya. Kali ini, Richard malah menyakiti gadis kecil dan membuatnya terluka.


"Aaa, sakit banget bibirku." Rengekan Lovie dan masih memegang bibir bagian bawahnya itu.


"Sorry, aku nggak sengaja, namanya juga ciuman, hasilnya pasti begitu." Kilahnya dan ia segera mengambil es batu dari kulkas.


"Padahal cuma menggigit tipis. Kenapa bisa sampai berdarah?"


Terbiasa sama bibir sensual nan tebal, eh sekarang mencium bibir manis nan tipis, yang belum pernah berciuman panas. Pasti rasanya hot, sampai tidak sadar, sudah menggigit gemas bibir manisnya Lovie.


"Tahan ya. Nanti nggak bakal sakit lagi."


"Iih, aku udah bayar kamu mahal-mahal. Kamu malah nyakitin aku." Lovie yang sudah tampak kekanakan.


"Iya, aku minta maaf. Soalnya, aku terbiasa begitu. Kamu nggak pakai lipstik. Aku jadi bisa menikmatinya."

__ADS_1


"Kamu menikmati bibirku, sampai kamu menggigit aku, hemms?" Lovie yang sudah mencebikkan bibir bawahnya. Tampak bibir membengkak dan Richard malah jadi kegemasan, malah ingin kembali menciumnya.


Richard, dengan penasaran, ia bertanya "Memangnya, kamu nggak pernah ciuman?"


"Ya pernah. Tapi nggak begini caranya. Ini sakit tahu. Seperti disengat lebah." Hikss, bahasanya polos.


Richard kembali mengompres bibir manis Lovie. Bibir bawah terkesan imut, tapi unik. Bibir atasnya juga tipis-tipis imut manis. Rasanya, manis-manis gimana gitu.


Richard, yang sudah sering berciuman, baru kali ini dirinya tampak menikmati. Mungkin, karena lupa akan sang mantan kekasih.


Biasanya, Richard hanya fokus memancing amarah Jihan. Terkadang Richard menunggu lama, sampai Jihan datang dan membebaskan dirinya.


Setidaknya, tidak akan sampai ke ranjang panas dan Richard bisa bermain sendiri dengan film yang ditontonnya. Pria dewasa yang normal, dan punya gairah sexxsual.


Sayangnya, cinta itu membuat dirinya frustrasi. Sampai harus menghukum dirinya sendiri dan susah untuk memulai hubungan baru.


Takut, nantinya akan kecewa lagi. Takut akan dimainkan oleh para gadis, yang hanya mencintai materinya saja. Takut, akan hatinya, yang berubah menjadi bumerang untuknya.


Richard kalau sudah menyukai dan jatuh hati, dia akan sangat mencintai. Namun, bila sudah dikecewakan, yang ada hanyalah kebencian dan dendam. Mirip seperti sang Mommy.


Richard menyentuh bibir itu dan melihat lebih dekat "Sudah nggak berdarah lagi."


"Tapi masih sakit." Balasnya Lovie dan mimik wajah itu terlihat manja.


Richard melihat manik mata Lovie, yang terlihat kalau gadis ini memang polos.


"Sudah, jangan cemberut. Aku khilaf.


Richard jadi mengelus rambut Lovie, bak orang yang menyayangi kucing.


Lovie jadi melihat sorot mata pria peyayang, ia jadi mengingat sang Papi. Yang penuh kelembutan.


"Papi. Aku jadi kangen Papi."


Lovie hanya menatap pria tampan ini, yang sudah berjalan pergi, meninggalkan Lovie seorang diri.


Lovie jadi terdiam dengan bibir yang masih cemberut. Richard yang telah ke kamar mandi tampak berganti pakaian.


Lovie yang tadinya duduk, perlahan berbaring menyamping dan masih mengingat akan sang Papi.


"Aku harus bagaimana? Apa aku harus pulang ke rumah? Pasti, aku akan di bawa ke dokter. Kalau Papi tahu aku tidak hamil, nantinya Papi malah mengurung aku di rumah. Aku nggak mau pulang ke rumah."


Richard kembali mendekati Lovie. Tampak penampilan menawan dan berlagak seperti pria sejati.


Richard menatap wajah Lovie. Ternyata, gadis kecil itu menangis.


"Kenapa dia menangis? Aku cuma menggigit bibir atasnya, bukan bibir lembahnya." Batin Richard.


"Gadis kecil, siapa nama kamu?" Tanya Richard.


"Cinta." Jawabnya.


"Bohong."


"Beneran."


"Oke. Aku akan mengantarmu pulang."


"Pulang??!"

__ADS_1


Lovie menatapnya dengan perasaan bimbang. Kalau dia pulang, berarti harus siap dikurung oleh Papi dan ibu tirinya.


"Rumah kamu dimana?"


__ADS_2