
Ron berjalan pergi, tiba-tiba ada seorang anak yang berlari sampai menabraknya.
Dugh!
Ia-pun jadi terjatuh, saat menabrak pria yang berkharisma ini.
"Kamu baik-baik saja?"
Bocah ini, hanya menatapnya saja.
Doddit segera mendekat "Tuan Muda."
"Om Doddit, lutut aku sakit."
"Latte?" Ucapan Ron, memastikan.
Doddit mendekat dan berjongkok, "Sini, naik ke punggung Om Doddit."
Setelah dalam gendongan Doddit. Latte kembali melihat dan menghafal wajah Ron.
Ron menoleh ke arahnya "Latte? kembaran Lily?"
Doddit sebenarnya mengenal Ron. Namun memilih diam dan tidak menyapanya. Karena dia tahu, Bosnya tidak menyukai pria tampan yang satu ini.
"Jadi, yang barusan ini tadi. Latte, anaknya Lovie." Batinnya Ron.
Entah kenapa, Ron jadi tersenyum.
Setelah tiba di ruangan VIP. Latte sudah tertuju kepada sang Mama.
"Mama." Panggilnya begitu nyaring.
"Sayang, kamu sudah pulang sekolah."
"Mama, aku akan ikut olimpiade."
Latte, begitu membanggakan dirinya dan sang Mama mendekatinya.
"Anak pintarnya Mama. Terus, ini kenapa minta gendong sama Om Doddit?"
"Aku jatuh. Ditabrak orang tua." Jawabnya.
Latte, kemudian turun dari gendongan Doddit.
Doddit setelah selesai makan siang bersama istrinya, lalu mengantar istrinya kembali ke apartemen dan segera menjemput tuan muda Latte.
"Mama, lututku jadi sakit banget."
"Coba Mama lihat lutut kamu."
Doddit mengirim pesan kepada Bosnya. Kalau tadi Latte berlari dan menabrak Ronaldo Gi Vanco.
"Duniaku terasa sempit. Sebaiknya aku harus segera membawa keluargaku pulang ke rumah." Batinnya Papa Richard hereudang.
Padahal Ron juga anteng-anteng saja. Tidak gencar mendekati Lovie, tapi Papa Richard yang cemburuan.
Makanan yang dipesan sudah datang. Mama Lovie jadi menyuapi Latte dan sang suami hanya diam saja.
Doddit juga sudah keluar ruangan ini, ia tampak bersantai dengan Juno di meja restoran.
"Sayang, kenapa kamu tidak makan?" Tanya sang istri dan ia tetap sibuk menyuapi anaknya, sambil makan sendiri.
"Tanganku masih begini, gimana aku bisa makan sendiri."
Papa Richard memang tidak habis akal. Apalagi, hatinya sempat panas dan padam setelah istrinya datang.
"Oke. Kalau begitu, aku duduk di sebelah kanan saja. Biar bisa nyuapin duo tampanku ini."
Papa Richard jadi tersenyum manis, dan Mama Lovie segera menyuapinya.
"Mama, tadi aku menabrak orang tua. Ternyata dia mengenal aku. Dia panggil namaku." Ucapnya Latte.
"Orang tua? Ya, mungkin pegawai hotel kita sayang. Mereka tahu, kamu anaknya Papa." Balasnya Mama.
Papa Richard jadi malas banget.
"Tapi, aku tidak kenal dia. Aku juga tidak menyukai dia."
"Latte, Papa juga tidak menyukai pria itu." Ucapnya Papa Richard.
Mama Lovie jadi bingung, "Papa tahu, kalau yang nabrak Latte itu cowok?'
Tuing tuing, nah lo. Mau jawab apa.'
Mama Lovie menyuapi suaminya dan sang suami ini sudah memasang muka polosnya.
"Mama, dia itu cowok. Seusia Mama. Pokoknya orang tua. Aku nggak mau bertemu dia lagi."
Bocah satu ini, sama ngeselinnya dengan sang Papa. Dia yang nabrak. Eh, bilangnya ditabrak orang tua. Hadeeh, keturunannya Papa Richard memang bukan maen.
Saat ini pula, Lily jadi terbangun dari tidurnya. Mata itu, perlahan terbuka dan masih tertahan kantuknya.
"Papa." Lirihnya Lily memanggil Papanya.
"Iya sayang, kamu sudah bangun."
Lily menoleh ke arah sang Mama, "Mama. Aku mau sama Mama."
"Iya sayang, sebentar ya. Mama masih nyuapin Kak Latte."
"Aku mau sama Mama."
__ADS_1
Kalau sudah begitu, Mamanya juga tidak bisa menahan kemauan putri cantiknya.
"Sayang, sini sama Mama."
Mama Lovie berdiri dan mengambil Lily dari kedua tangan sang suami.
Latte jadi melihat ke arah Lily, "Lily, sayangku. Aku sudah beliin cokelat pinky buat kamu."
"Kak Latte beli berapa?"
"Satu saja, buat kamu saja."
"Kasian Kak Lucas. Dia belum pernah makan cokelat yang sering Kak Latte beli."
"Kenapa kamu jadi baik lagi sama Kak Lucas?"
"Kata Papa, Kak Lucas kayak si anak angsa. Nggak ada Papa Mamanya waktu Kak Lucas lahir ke dunia ini. Kasian Kak Lucas sendirian, nggak punya keluarga dan saudara. Kita berdua, harus jadi saudaranya Kak Lucas."
"Iya. Iya. Kamu bawel banget."
Mama Lovie tersenyum, memeluk gemas bocah yang ada di atas pangkuannya.
"Anak Mama makin pintar. Kalau begitu, besok siang kita nyusul Kak Lucas ke Donghae."
"Yeye yeye. Asyik, aku mau ke Donghae."
Semuanya jadi tersenyum, Lily terdiam dan dia bingung. Lalu, mengingat akan sesuatu. Lily, mulai memegang lengan tangan sang Papa.
"Papa. Papa kasih tahu Om Rey. Kalau aku mau ajak Violla. Aku lupa kasih tahu Om Rey. Ayo, Papa telephone Om Rey. Sekarang. Cepat."
Sang Papa tampan, segera merogoh ponsel yang tadi ia kantongi, di saku jasnya.
"Iya, Papa akan kasih tahu Om kamu. Tapi, kalau dia sibuk. Pasti dia nggak mau mengantar Violla."
Papa Rey, sepertinya sangat sibuk dan panggilan itu tidak diterima olehnya.
"Yah, nggak diangkat. Gimana dong?"
"Papa chat saja. Siapa tahu, nanti Om Rey nggak sibuk."
"Oke. Papa akan kasih tahu Om Rey. Tapi, kalau Violla nggak bisa kesana. Lily, nggak boleh ngambek loh ya. Janji?"
Papa Richard menyodorkan kelingking kanannya. Lily dengan segera mengaitkan kelingking mungilnya ke jari kelingking Papanya.
"Aku janji nggak ngambek. Tapi, Papa juga nggak boleh sama perempuan yang lainnya. Pokoknya, aku cuma mau Mama." Cerocosnya Lily, padahal vocal suaranya belum fasih. R saja belum bisa. Tapi, kalau sudah mau ngobrol, omongannya sudah kayak emak-emak.
Mama Lovie menatap aneh suaminya, ia berbisik "Sayang, anak perempuan kamu lagi kenapa sih?! Yang dipikirin perempuan terus. Apa jangan-jangan, kamu memang lagi dekat sama perempuan lain?"
"Sayang, kamu jangan nuduh aku juga dong. Aku malah nggak tahu apa-apa. Mungkin saja, malah kamu yang lagi di dekati cowok lain." Balasan sang suami tampannya.
Latte jadinya makan sendiri, sampai piringnya bersih. Dia juga suka makanan kesukaan Papanya. Jadinya gampang, kalau makan tinggal disamain Papanya.
"Lexi punya Mama dua. Aku nggak mau punya Mama dua." Cicitnya Lily dan tampak manyun.
"Iya Mama. Tadi, Papanya Lexi datang ke sekolah."
"Damian keterlaluan, bisa-bisanya punya perempuan lain. Tapi kenapa, Jenny nggak cerita sama aku?"
Mama Lovie, tadi sibuk mengobrol sama wali murid yang lain. Jadi, tidak memperhatikan Damian, yang datang ke sekolah bersama perempuan lain.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu cemburu?" Bisiknya sang suami pada istrinya.
"Aku heran, kenapa Jenny mau dimadu. Kalau aku jadi Jenny. Aku potong burung kebanggaan suami."
Papa Richard berkata "Ada anak-anak jangan ngomong begitu."
"Maaf, aku kelepasan."
"Kok malah, kamu jadi marah. Padahal, bukan aku yang menduakan kamu."
"Iih, kan aku hanya bilang. Kalau itu suamiku. Kamu? Tidak begitu-kan, sayang?"
Papa Richard meraih kepala istrinya, ia mengecup kening istrinya, lalu berkata "Cukup kamu saja, yang mengisi hati dan perasaan aku. Aku sangat, sangat mencintai istriku ini. Aku sangat mencitaimu."
"Emh, aku juga mencintaimu. Meskipun, banyak yang menggoda aku. Aku tidak akan tertarik padanya. Aku selalu bilang, aku sudah bersuami. Suamiku lebih tampan dari dia."
Papa Richard, menatap wajah polos istrinya. Mama Lovie sepertinya jadi keceplosan, dan menepuk mulut polosnya.
"Sayang, siapa yang mendekati kamu? Kenapa kamu nggak cerita sama aku?" Sang suami, telah menuntut penjelasan.
"Ya ada, waktu itu di kampus. Terus, teman SMA."
"Ron??"
"Hemm, bukan. Bukan dia."
Mama Lovie salah tingkah, ia jadi memalingkan wajah polosnya ini.
"Mama, aku jadi mengantuk. Aku mau bobok." Ucapnya Latte."
"Iya sayang, ayo kita ke kamar."
"Aku mau pulang. Nanti sore, aku ada jadwal bimbel matematika."
"Owh iya. Mama sampai lupa."
Lily berkata "Aku mau sama Papa. Aku mau ikut Papa."
"Lily sayang. Papa harus ke kantor nak. Kita pulang saja, kasian Kak Latte sudah mengantuk."
"Mama. Aku maunya ikut Papa."
__ADS_1
Papa Richard berkata "Iya sayang. Lily sama Papa ke kantor."
Latte bangkit dari kursinya dan mendekati sang Papa.
Latte jadi berbisik "Papa, jangan nakalin Mama."
Latte dari tadi melihat tatapan Papa yang memang begitu dingin. Dia sama dinginnya dengan sang Papa. Tapi kalau soal Mama, dia selalu ada untuk Mamanya.
Mama Lovie mengelus rambut Lily dan mencium pipi kanan kiri.
"Lily, ingat pesan Mama?"
"Iya."
"Kalau di kantor Papa. Lily nggak boleh apa?"
"Iya Mama. Aku nggak boleh nangis. Aku nggak akan rewel lagi."
"Uu, anak Mama pintar sekali."
Latte sudah menunggu di luar dan Lily juga berlari mencari Doddit.
"Sayang, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud begitu sama kamu."
"Kak Richi, aku juga salah. Aku cuma nggak mau, Kak Richi jadi kepikiran terus tentang aku. Kamu suamiku, perasaanku cuma buat kamu. Nggak ada hal lain di luar sana. Semuanya, aku anggap orang lain. Teman, dan nggak ada yang special."
Richard meraih kepala Lovie dan meletakan di dada bidangnya itu.
"Sayang, aku memang tidak sempurna. Tapi aku sangat tulus, di dalam dadaku cuma ada kamu. Aku manusia biasa, yang punya rasa cemburu. Aku sudah lebih tua dari kamu. Saat ini, usia kamu memang sudah dewasa. Orang luar berfikir, kamu masih muda dan belum berkeluarga. Tapi, aku akan berusaha, untuk selalu mempercayai kamu. Aku hanya cemburu."
Papa yang satu ini, malah jadi baper hanya karena cemburu.
"Kak Richi, aku juga bisa cemburu. Aku hanya takut, rasa cemburuku akan menghalangi karir kamu. Aku tahu, aku hanya perempuan biasa dan tidak seperti rekan bisnis kamu yang cantik, sexy dan pastinya akan menggoda mata kamu. Tapi, aku sadar, cemburuku hanya akan membuat aku semakin terluka dan nantinya malah kita akan sering bertengkar. Aku diam dan membebaskan kamu bertemu siapapun. Bukan berarti aku tidak cemburu. Aku juga sangat cemburu, karena aku sangat mencintai suamiku ini."
Richard mengecup ubun-ubun istrinya dan begitu lama menciumnya. Meredam, semua perasaan gelisah dalam dada dan pikirannya sendiri.
"Sayang, aku mencintai kamu."
"Kak Richi, aku juga mencintai kamu. Aku sayang banget sama kamu."
Latte kembali, "Mama, ayo buruan. Malah pelukan sama Papa."
"Sebentar Latte sayang."
Papa Richard mengedipkan sebelah matanya kepada Latte dan putra tampannya itu memberikan kiss bye untuk sang Papa.
Mama Lovie, dengan segera mendekati putranya dan selekasnya pergi dari ruangan VIP ini.
Richard tersenyum, ia merasa lega. Selama ini, dirinya memang terlalu posesif. Tapi, sering kali tidak melihat perasaan istrinya yang cemburu.
Lovie bisa saja, melarang suaminya agar tidak bertemu wanita si A. si B. atau si C. Lovie juga cemburu, bahkan merasa sakit hati akan perkataan beberapa rekan kerja suaminya. Namun, dia juga memikirkan banyak orang. Ada orang tua, ada pula karyawan dan pekerja lainnya. Kalau Richard hanya duduk manis di rumah dan hanya berduaan dengannya saja. Lalu, bagaimana dengan perkerjaannya.
Meskipun, bisa mempercayai orang lain, untuk menggantikan posisi itu, tapi tetap saja para pekerjanya, membutuhkan pimpinannya dan itu sudah menjadi pekerjaan utama suami tampannya ini.
"Emh, istriku mencintai aku. My Lovie tidak akan tergoda sama Ron. Tidak akan pernah tergoda." Batinnya Papa Richard percaya diri.
Keluar dari ruangan VIP dan segera menghampiri putri cantiknya.
"Cantiknya Papa sudah nungguin. Ayo kita ke kantor Papa. Lily, harus temani Papa kerja."
Lily jadi merasa senang, ia mendongak ke atas. Melihat wajah senang Papanya. Ia berkata "Aku sayang Papa."
"Papa juga sayang sama Lily."
Kaki kecil nan mungil itu, telah mengikuti langkah kaki sang Papa. Tangan kecil dengan jemari imutnya, juga tampak di gandeng sang Papa.
Sesekali, kembali mendongak ke atas. Memandangi wajah sang Papa. Lily jadi tersenyum, saat menatap wajah tampan ini.
"Lily, nanti Papa belikan baju lagi."
"Aku suka pemberian dari Tante Metta."
"Iya, itu produk baju dari pabrik Oppa Benny."
Lily jadi tertawa gemas.
Tadi, Papa tampan ini tidak sempat membelikan pakaian ganti untuk putrinya. Doddit mengajak istrinya membeli di mal dekat hotel DeNuca.
Ujung-ujungnya yang dibeli Metta, produknya Style Fashion, buatan pabriknya Oppah Benny.
Di mobil saat perjalanan pulang ke rumah. Latte menginginkan sang Mama hadir untuk mendukung dirinya.
Latte mengalungi lengan tangan kiri sang Mama, dan menyandarkan kepalanya.
"Pokoknya, aku maunya Mama yang temani aku."
"Tapi, Mama sudah punya janji."
Latte menoleh ke wajah sang Mama, "Mama janji sama siapa?"
Mama Lovie sudah tampak mengatur nafasnya dan tidak boleh salah bicara saat mengatakannya.
"Sayang, begini. Mama tadi di sekolah. Muridnya Mama juga mau ikut serta di Olimpiade Matematika. Terus, anak itu tidak punya orang tua, yang mendukung dia. Nah, Ibu kepala sekolah Taman Ceria. Meminta Mama, untuk mendukung dan menyemangati dia. Latte, tidak keberatan soal itu??"
Wajah Mama Lovie sudah terlihat bingung. Tanpa menunggu jawaban. Mama Lovie sebenarnya tahu jawaban putranya.
Mama Lovie juga lupa, padahal pagi tadi suaminya sudah mengatakan tentang acara itu.
"Mama tega sama aku. Padahal aku yang anaknya Mama, bukan dia."
Tatapan Latte berubah sendu dan tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sekali saja, Latte berbagi."
"Nggak!!"