Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Sahabat Menangis


__ADS_3

Suasana pagi yang tidak biasa. Sosok tampan nan muda. Sudah memandang gadis yang menarik dimatanya.


"Talita." Panggilnya dan sudah datang mendekat.


"Jerry, kamu kenapa disini?"


"Harusnya, aku yang bertanya. Kenapa kamu bisa ada di rumah sakit? Apa Kak Lolla sakit?"


"Oh, tidak. Aku hanya bekerja."


"Bekerja?"


"Nona, ini minuman anda." Ucap pelayan cafetaria.


"Terima kasih."


Talita meraih minumannya dan menoleh ke meja kosong. "Jerry, minggir."


"Ini tempat lebar. Kamu bisa ke samping."


"Suka-suka aku."


Talita selalu sewot bila berhadapan dengan saudara tiri Lovie. Namun, Jerry semakin menyukai sosok Talita.


Jerry mengikuti Talita dan duduk menghadap Talita.


Talita yang menyedot minumannya, rasanya enggan bila berhadapan dengan Jerry, sang adik kelas.


"Ada apa lagi?" Tanya Talita.


"Kamu tidak bertanya, kenapa aku bisa ada di rumah sakit." Jerry menampilkan wajah yang manis.


"Untuk apa aku harus bertanya. Lagian, aku malas mengobrol denganmu."


"Owh iya. Kak Lovie sudah ketemu. Dia diculik orang. Sampai, Damian menusuk pria itu." Ucap Jerry dan Talita menatap Jerry dengan tatapan yang sangat serius.


"Lovie diculik orang? Kamu serius?"


"Iya. Tadi aku dengar, waktu Ayahnya Damian menghubungi Papi. Papi sudah jalan ke kantor polisi. Disana, juga ada Ayahnya Damian sama Omnya Damian yang deketif itu." Jerry menjelaskan kepada Talita.


Talita jadi bingung, ia bertanya "Apa Lovie baik-baik saja?"


"Ya, mana aku tahu. Kalau kamu jadi penasaran. Ayo ikut aku ke kamar Nenek. Disana, keluarga menunggu kabar dari Papi."


"Ogah, ngapain aku harus kesana."


"Kalau tidak mau, mana nomor ponsel kamu. Nanti aku kasih informasi lagi soal Kak Lovie."


"Hei, jangan mencari harapan dalam hidupku. Aku tidak mau memberikan nomor ponselku, apalagi untuk saudara tirinya Lovie." Talita berbicara jelas.


"Tega sekali perkataanmu. Apa salahku bila aku menjadi saudara tiri?"


"Hanya saja, aku tidak suka."


"Kamu tidak menyukai aku?"


"Ya, semuanya. Semua yang menyakiti perasaan Lovie."


"Aku tidak pernah menyakitinya."


"Tetap saja, kamu selalu membela Ibumu yang hanya berpura-pura."


"Talita, jaga ucapan kamu."


"Nah, ini yang baru aku omongin. Jerry, kamu tidak akan mengerti perasaan sahabatku. Lebih baik, kamu menjauh dari aku, atau aku."


"Apa? Kamu mau menyakiti aku?"


"Bisa jadi begitu. Kalau Lovie sampai terluka. Aku tidak akan membiarkan kamu hidup enak di rumah Om Benny. Aku akan menghantui keseharianmu."


"Memangnya, kamu mau apa? Kamu juga masuk ke dalam rumah Papiku?"


"Hish, sana pergilah. Jangan ganggu aku."


Jerry terdiam dan hanya menatap wajah kesal Talita.


"Sana pergi." Ucap Talita dan memang sengaja mengusirnya.


"Oke, aku akan pergi."


"Baguslah!"


Jerry akhirnya pergi, Talita jadi terdiam sambil tangannya memainkan sedotan.


Ice americano, pahit manis dingin. Talita suka meminum kopi ini.


"Bentar, aku merasa dejavu. Menusuk?"


"Bos Rey bilang, sahabatnya tertusuk pisau. Ini sangat kebetulan sekali."


"Kemarin, akun pribadi aku dipakai putra pemilik Rich."


Talita merogoh ponsel, dari dalam tas selempangnya.


Tas warna pastel dan di dalamnya ada beberapa buku dan alat tulis lainnya. Tas sekolah yang aesthetic dan terkesan feminine.


"OMG. Ini bahasa Lovie. Tulisan Lovie kalau di sosmed begini. Apa, unggahan ini, Lovie yang membuatnya. Orang yang menculik Lovie itu Richard. Lalu, Richard bilang, keperjakaannya direnggut oleh gadis belia."

__ADS_1


"Lovie. Lovie. Lovie. Aku harus gimana. Aku jadi merinding begini. Lovie aku cuma curcol. Aku tidak memikirkan masa depanmu. Sugar Daddy? Hot Man? Handsome Man? Ah, apa itulah pokoknya." Hikss.


"Lovie." Talita jadi lemes, telapak tangan jadi semakin dingin sekali.


"Kalau Lovie beneran begitu. Aku harus bagaimana? Aku jadi bersalah."


Talita semakin bingung, IQ Talita serasa turun dan pikirannya terbang melayang.


"Aaa..." Talita jadi menangis.


Jerry, dari kejauhan masih menatapnya.


Rey sudah tiba di kamar Richard dan hanya ada Mommy Nancy. Lovie dan Presdir Nicholas, menemui dokter yang menangani operasi.


Nyonya Nancy, membiarkan Richard bersama Rey.


"Anak itu, selalu menggangguku."


Entah kenapa, Nyonya Nancy masih tidak suka dengan Rey. Meskipun, cukup dekat dengan Ibunya Rey. Namun, Nyonya Nancy tidak menyukai Papanya Rey, apalagi semenjak menikahi Mamanya Jihan. Rasanya sangat aneh, hanya menghormati sebagai kawannya suami.


"Rey."


"Kenapa bisa sampai begini?" Rey melihat perban yang menutup luka perutnya Richard.


Jahitannya lumayan, Rey menutup kembali pakaian Richard.


"Ckckck, kamu dilawan anak bau kecur sampai begini?" Rey menggodanya.


"Ya dia anak kuliahan. Tapi aneh, ada genk motor dan dia ketuanya. Aku jadi malas membicarakan tentang dia."


Rey bertanya "Lalu, bagaimana dengan gadismu itu?"


"Dia sudah aku suruh pulang ke rumah. Tapi, untungnya dia balik lagi Rey. Kalau tidak, tusukannya pasti merobek ususku ini."


"Hish, kamu sudah berubah lemah."


"Aku tidak lemah. Aku bisa menahan pisaunya. Ini, tanganku juga terluka."


"Iya, aku tahu. Lalu, kamu pingsan dan dibawa kemari?"


"Iya, aku tidak ingat. Tapi, sebelum aku pingsan. Dia memeluk aku dan aku melihat dia menangis. Aku masih terngiang suara dia yang sedang menjerit, memanggilku."


"Kamu sudah jatuh cinta." Ucap Rey dan perlahan dia duduk di sofa, yang tidak jauh dari ranjang pasien.


Duduk menyilang kaki, dan menatap sang sahabat.


"Aku tidak jatuh cinta. Aku hanya merasa, ini seperti mimpi. Aku baru mengenal dia. Tapi, banyak moment yang membuat aku nyaman. Aku merasa diriku aneh."


"Berarti, kamu sudah membuka hatimu untuk perempuan. Kamu tidak lagi membenci perempuan."


"Bisa jadi begitu."


"Kamu sendiri bagaimana? Apa Talita itu beneran cuma simpanan kamu?"


"Sudahlah, kamu tidak perlu memahami masalah aku. Talita, tidak ada orang tua. Aku bisa menjaga dia, sampai dia kuliah."


"Lalu Jihan? Kemarin saja, Jihan sudah begitu. Apa kamu yakin? Bisa menjaga Talita sampai kuliah?" Richard yang bingung akan tindakan Rey.


"Emh, tidak masalah. Asalkan mereka berdua tidak bertemu dalam satu ruangan."


"Wah, kamu sudah gila."


"Papaku bisa beristri 4. Apa menurut kamu? Aku bisa begitu?"


"Bisa, bisa banget malah. Iya, kamu bisa membuktikan kalau kamu keturunan Presdir Hanz Yo Vanco."


Rey tersenyum, melihat Richard yang tampak baik-baik saja. Tidak berselang lama, Presdir Nicholas dan Lovie tengah masuk ke kamar inap itu.


Rey seketika menatap wajah Lovie. "Dia, kekasihnya Richard."


"Rey, kamu sudah lama disini?" Tanya Presdir Nicholas.


"Iya Presdir. Saya sudah lumayan lama disini." Jawabnya dan saling berjabat tangan.


Lovie hanya terdiam dan ia berdiri di sisi ranjang pasien.


"Kak Richi sudah mandi?"


"Hem, aku belum mandi. Mommy melarang aku mandi."


"Iya, kata dokter jangan mandi dulu."


"Kamu menemui dokterku?"


Lovie mengangguk, ia berkata "Emh, iya. Hanya bertanya saja. Kapan Kak Richi boleh dibawa pulang."


"Kenapa? Apa kamu mau pulang?"


"Bukan begitu. Hanya saja, lebih baik Kak Richi dirawat di rumah. Jadi leluasa, dari pada disini." Lovie menatapnya manis.


Richard terdiam, dan Presdir Nicholas juga mengobrol dengan Rey tentang kondisi Richard semalam.


"Kak Richi, nanti aku mau pergi sama Bapak. Aku harus bertemu polisi."


"Polisi??" Richard jadi terkaget.


"Iya. Ada hal yang salah. Aku sendiri yang harus meluruskan masalahnya."

__ADS_1


"Kamu mau pergi ninggalin aku?"


"Tidak. Aku hanya pergi sebentar."


Richard jadi galau sendiri, dia tidak bisa melarang Lovie. Kalau dia bilang jangan pergi, pasti Lovie juga akan menurut padanya. Namun, nantinya membuat Richard canggung.


"Rey." Richard memanggil sang sahabat.


"Iya. Ada apa??" Tanya Rey.


"Sini, kenalan dulu sama Lovie."


"Lovie??" Rey yang tampak menawan.


Rey berjalan mendekat dan Presdir Nicholas juga sedang menerima panggilan telephone.


"Lovie, kenalin. Dia Rey. Sahabatku. Dia, sahabatku dari kecil."


"Owh, iya Kak Richi." Balasnya Lovie.


Rey membatin "Dia berani memanggil Richard dengan nama kecil, Richi. Richard juga tidak menolaknya."


"Hallo Kak. Aku, Lovie." Lovie sudah mengulurkan tangan kanannya.


"Aku, Reynaldi Jo Vanco. Biasa dipanggil Rey." Ucapnya manis dan tersenyum.


Mereka berdua saling menjabat tangan.


Richard berkata "Sudah cukup kenalannnya."


Kedua tangan mereka, jadi terlepas.


"Kak Richi. Aku pergi dulu."


"Jangan lama-lama. Cepatlah kembali."


"Iya. Aku tidak akan lama."


Belum sampai Lovie keluar dari kamar itu. Pintu itu sudah terdorong kuat.


Lovie membalikan badannya. Seketika menatap ke arah suara tangisan itu.


"Talita." Ucapnya Lovie.


Rey dan Richard, jadi menatap ke arah Lovie.


"Lovie mengenal Talita?"


"Apa, dia sahabat Talita yang kabur dari rumah? Putrinya, Mr. Benny." Batin Rey dan ia menoleh ke wajah Richard.


"Lovie!" Talita, yang memanggilnya nyaring dan berlari ke arah Lovie.


Lovie juga berlari ke arah Talita.


Hiks, Ho. Ho. Ho.


Talita sudah menangis tersedu-sedu.


"Kamu kenapa pergi? Kamu kenapa kabur dari rumah?"


Ho hoo hoo.


"Talita. Jangan menangis begini."


"Kamu gila. Kamu menyerahkan diri kamu begitu saja."


"Talita, tenanglah."


"Lovie. Sumpah demi apapun. Aku tidak menyuruh kamu untuk melakukan itu. Aku menyesal ngomong begitu sama kamu."


"Sstth, diamlah. Aku baik-baik saja."


"Lovie. Kamu sudah jangan gila. Kamu bilang hamil. Aku yakin, kamu tidak hamil seperti perkataan Papi kamu."


"Talita. Kamu yang tenang."


Talita terduduk di lantai dan menangis.


"Lovie, maafin aku. Aku yang mengajak kamu ke hotel. Tapi, bukan ini maksud aku. Kalau kamu sampai hamil. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."


"Talita. Kamu ini ngomong apa. Aku tidak hamil. Aku baik-baik saja."


"Lovie. Kamu bersumpah atas namaku. Kalau kamu masih, virgin."


"Talita. Jangan begini. Kita di rumah sakit."


"Aku tidak peduli."


"Aku akan jelasin nanti."


"Lovie, kalau kamu tidak perawan. Aku akan loncat dari lantai sini, biarkan aku mati saja."


Hooo, hiks.


Lovie menggeleng, ia berkata "Iya.Iya. Aku masih virgin. Sudah ya, jangan menangis."


Rey mendengar hal itu, menoleh ke arah Richard dan Richard sudah tampak menggeleng.

__ADS_1


Nyonya Nancy, mendekat "Lovie, ini sebenarnya ada apa?"


__ADS_2