Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Pembukaan Acara Bazar


__ADS_3

Pagi yang hangat dengan sinar mentari. Kegiatan senam pagi, yang sangat seru dan asyik sekali.


Acara bazar tahunan yang di gelar meriah. Jam 6 pagi sudah dibuka oleh sang Bos tampan, yang tidak lain adalah CEO Rich Corporation.


Di lapangan yang dekat taman kota, yang biasanya dipakai untuk olah raga pagi dan terdapat gedung serba guna.


Hari ini, ada acara bazar dari Rich Corporation. Berbagai produk dari Rich dijual dengan harga lebih murah dan ada produk perpaket.


Semisal, produk sembako, ada yang dijual perpaket, satu kardus isinya macam-macam, dari beras, gula, teh, kopi, susu dan masih banyak lagi, dengan harga lebih murah dari harga biasanya.


Acara ini, hanya ada di setiap ulang tahun Rich Corporation. Meskipun harga sudah terbilang murah, namun tidak banyak peminatnya, kecuali mereka yang ingin menyimpan stok bulanan. Biasanya dari mereka, penduduk luar kota Shindong yang ingin berbelanja kebutuhan dengan harga murah dan tentunya produk berkualitas. Semua produk yang dijual juga terbatas dan khusus untuk bazar.


Penduduk Shindong sendiri, dari segi ekonomi lebih tinggi dari penduduk luar kota Shindong. Warga Shindong sendiri, kurang tertarik dengan acara seperti ini. Namun, dari penduduk pinggiran kota Shindong. Mereka berduyun-duyun mendatangi acara bazar ini.


Ada yang naik kereta, ada pula yang membawa rombongan seperti bertamasya.


Lovie dari tadi masih tepuk tangan. Richard, datang mendekat dan Lovie berkata "Kak Richi, ternyata acaranya seru banget. Aku baru kali ini, ke acara bazar Rich."


Richard tampak merangkulnya, dan Lovie kesenangan saat menatap instruktur senam yang hokya hokya. Richard berkata, "Sekarang, kamu jadi tahu acara ini, setelah kamu mengenal aku."


"Yaaa dulu, Talita pernah ngajakin aku. Tapi aku nggak suka datang, di tempat keramaian. Aku pikir, konsumen datang berdesak-desakan dan cuma belanja kebutuhan rumah saja. Ternyata tidak seperti bayanganku."


Ada panggung acara, ada stand bazar produk Rich, dan ada stand kuliner di dalam gedung serba guna. Membuat Lovie jadi gembira ria.


Lovie yang memakai kaos putih dan rok hitam mekar selutut. Tampak topi putih dengan logo Rich dan kembaran dengan semua karyawan Rich.


"Kamu masih ingin disini apa pulang?"


Selesai Richard membuka acara ini, tangannya nggak bisa lepas dari Lovie.


"Emh, aku mau pulang dulu. Aku belum mandi, tapi nanti kemari lagi."


"Oke, kita bisa pulang dulu."


Yups, Lovie yang tadi baru bangun tidur langsung diajakin Richard pergi ke acara ini. Tanpa mandi lebih dulu. Hanya sempat cuci muka dan gosok gigi.


Semalam ngambek, kemudian Richard cari cara agar sang kekasih tidak lagi ngambek padanya. Sampai dibacain buku dongeng segala dan akhirnya Lovie bisa tertidur pulas. Saat pagi kembali, Lovie sudah tersenyum dan tidak lagi marah padanya.


Richard yang mengendarai mobil sendiri, dan tangannya itu tak lepas dari tangan Lovie. Menciumi punggung tangan Lovie.


"Jangan ngambek lagi. Kamu harusnya melarang aku. Kak Richi, jangan dansa sama Crystal. Aku nggak suka. Aku juga bisa cemburu."


"Harusnya Kak Richi yang peka, masak aku harus bilang."


Crystal adalah bintang iklan, yang telah mengiklankan produk kosmetik. Produk itu, akan launching siang nanti di acara bazar ini.


"Apa susahnya manja?!"


"Nantinya, Kak Richi menganggap aku yang kekanakkan. Nggak bisa dewasa, iya kan??!"


Lovie jadi cemberut gemas, namun ia merasa disayang oleh Richard.


"Dari pada aku bingung, aku juga takut salah ngomong."


"Kamu cemburu, aku suka."


"Aku nggak suka begini. Ini semua gara-gara Ron yang nertawain aku. Aku jadi mikir, aku tidak seperti perempuan kriteria Kak Richi."


"My Lovie sayang. Kamu sendiri, juga punya kritrea pasangan katanya, yang tampan. Ya sama, aku nyari yang cantik. Kamu dimata aku ini, kamu perempuan cantik."


"Aaa, semua perempuan itu cantik. Jangan gombalin aku."


"Hems, kalau cemberut gini. Bikin aku makin kegemesan."


"Gemes, pasti karena aku masih remaja. Bukan gadis cantik yang dewasa, begitu maksudnya?" Lovie memancing prahara lagi.


"Uuuu, kamu ngambeknya. Bikin cinta." Richard malah jadi gemas sendiri.


Lovie yang menganggap Richard aneh. "Aku yang cemburu, malah senang."

__ADS_1


"Iya. Berarti kamu sudah ada rasa sama aku." Senyuman Richard sampai terlihat lesung pipinya. Uwu, baper beneran deh.


"Kak Richi, jangan main-main sama aku. Kalau aku sudah suka. Aku cemburu berat, pake banget." Lovie menjelaskan tentang dirinya.


Perkataan Lovie membuat Richard baper, "Cemburu berat? Wah, kita berdua beneran cocok."


"Kak Richi, aku serius." Nada suara Lovie ini manis lembut, dan kalau ngambek nada marahnya juga masih terdengar imut.


Richard mengelus rambut dengan lembut "Iya, My Lovie sayang. Aku juga serius. Aku juga cemburuan. Kamu jangan dekat-dekat sama Ron. Aku nggak suka."


"Iya, Kak Richi."


Melirik ke wajah Richard dan rasanya manis sekali. Sambil menggigit tipis bibir imutnya sendiri.


Richard yang mengendarai mobil, jadi senyam-senyum sendiri. Sesekali, ia menoleh lagi ke wajah Lovie.


Lovie berkata "Kak Richi, mampir yuk ke rumah Papi. Aku ingin mandi disana."


"Oke, aku dengan senang hati akan mengantar kamu."


Kebetulan, jalan ini melewati rumah calon mertua.


Sesampainya di halaman rumah Papi Benny. Mobil Richard sudah terhenti dan Lovie segera keluar dari mobil Richard.


Lovie meregangkan kedua tangannya ke atas, ia bergumam "Rumahku, istanaku."


Mau bagaimanapun, ini tempat tinggal Lovie dari bayi sampai sekarang. Mau kabur seberapa jauh jaraknya, tetap ingin kembali pulang.


Richard yang sudah berada di dekat Lovie, ia bertanya "Kenapa nggak masuk rumah?"


Lovie yang sudah tampak tersenyum manis dan merangkul lengan kiri Richard "Aku nungguin Kak Richard."


"Manisnya calon istriku ini."


"Hems, beneran calon istrinya Kak Richi? Apa jangan-jangan cuma ngaku-ngaku saja, biar dibilang laku?"


Richard mencubit gemas pipi Lovie, "Kamu ini, makin pinter menggoda aku."


Lovie jadi menjulurkan lidahnya, wlek!


Richard berkata "Gemussh!"


Hidungnya Lovie jadi sasaran tangan jahilnya. Ekspresi Richard begitu gemas.


Jerry yang membuka pintu rumah "Kak Lovie. Kirain aku, tamu."


"Emh, aku memang tamu kalian."


"Masuklah Kak. Semuanya, lagi sarapan."


Lovie yang bergandengan tangan dengan Richard, berjalan ke arah kamar, tidak mau menyapa keluarganya di ruang makan.


"Lovie, aku di ruang tamu saja."


"Kenapa begitu? Aku yang mengajak ke Richi kemari."


Richard, tetap tidak mau melangkahkan kaki ke anak tangga dan Papi Benny datang mendekat.


"Richard, ternyata kamu. Om pikir siapa yang datang. Ternyata putri cantiknya Papi pulang ke rumah."


"Iya Om. Kita dari acara bazar. Lovie bilang mau mandi dan minta diantar pulang kemari."


"Kak Richi, ayo ke kamarku."


Richard yang tampak mingkem dan sudah menggelengkan kepala.


"Aku mau nunjukin kamarku aja. Nanti aku anterin lagi ke ruang tamu."


Papi Benny berkata "Richard, masuklah. Tidak ada yang istimewa disana."

__ADS_1


"Nah bener kata Papi. Adanya photo cowok-cowok keren." Lovie tersenyum dan memancing pikiran Richard.


"Siapa? Cowok-cowok keren kamu?


"Makanya, ayo ikut aku. Aku kasih lihat sama Kak Richi."


Sang Nenek yang sudah tampak memicingkan mata, bersuara keras. "Lovie, kalian belum menikah. Famali kalau mengajaknya ke kamar kamu. Nanti pernikahan kalian bisa batal."


"Nenek, masih percaya aja sama begituan."


Lovie yang malah meledek Nenek dengan bibirnya dan Nenek melotot.


"Lovie, aku nggak bisa kesana."


"Ya sudah, berarti nanti nggak perlu kepoin aku lagi oke. Jangan tanya aku, siapa cowok-cowok keren yang aku suka."


"Oke." Richard memberikan kode jarinya.


Lovie jadinya pergi ke lantai dua seorang diri.


Mama Jessika dan Jenny melihat dari ruang makan.


Nenek melihat Richard yang berpakaian santai, Nenek bertanya "Kamu habis jogging?"


"Nenek, saya dari acara senam di taman kota."


"Owh, acara Rich. Nanti Nenek juga mau kesana. Mau beli susu lansia. Tapi, bukan buat Nenek. Buat bestienya Nenek."


Richard berkata "Nenek tinggal bilang saja sama saya. Nenek butuh berapa karton. Nanti, saya akan kirim kemari."


Nenek mendekat, belaiu berbisik "Aku butuh banyak. Nanti di kirim ke panti jompo ceria."


"Baik Nenek. Apa ada lagi yang dibutuhkan?"


"Kamu memangnya, bisa kasih apa lagi buat aku?"


"Di panti jompo, pasti butuh beras dan kebutuhan lainnya."


"Jangan, susu saja sudah cukup. Kamu itu, mau kasih apa buat aku?? Sebagai calon cucu menantu."


"Bagaimana kalau, Guci keramik buatan ChanYu?" Richard yang telah mengulum bibirnya, Nenek berbisik "Boleh juga."


Batinnya terasa lega, karena Lovie sudah menceritakan tentang hobby Neneknya.


Hobby Nenek mengoleksi perabotan rumah yang berbahan keramik, apalagi guci keramik kuno yang sangat antik.


Pagi ini tadi, Mama Jessika juga memecahkan guci kesayangan. Sekarang, hanya bisa berdiam saja. Tidak berani lagi, mendekati Ibu mertuanya.


Richard, Papi Benny dan Nenek ke ruang tamu. Nenek berkata merdu, "Jessika, calon menantumu datang. Apa kamu tidak mau menyapanya?!"


Mama Jessika, meraih nampan yang di bawa Bibi "Biar aku yang bawa ini ke ruang tamu."


"Baik Nyonya."


Bibi juga tidak banyak interaksi dengan Nyonya yang ini. Hanya datang bila sudah dipanggil saja. Kecuali, kalau untuk Nyonya besar, Tuan dan Nonanya. Bibi tanpa diperintah sudah siap dengan tugasnya.


Mama Jessika yang mengantarkan minuman untuk tamu. Tampak terdiam dan menampilkan pembawaan diri yang anggun sebagai Nyonya.


"Mari silakan diminum." Ucapnya manis.


Kemudian duduk di sebelah suaminya.


Nenek yang duduk di sebelah Richard jadi berbisik "Tadi bangun tidur, guciku tersayang pecah. Sekarang, kamu datang mau kasih aku guci."


"Iya Nenek. Nanti biar asisten saya yang mengirim kemari."


Papi Benny hanya tersenyum, saat sang Ibu mengadu kepada calon menantunya.


Mama Jessika kembali memandangi sosok Richard, dari atas sampai bawah. Semua yang dikenakan terlihat mahal.

__ADS_1


"Richard, kamu pria dewasa. Kenapa malah memilih cucuku yang masih bau kencur. Dia tidak bisa apa-apa." Ujar sang Nenek.


"Nenek, saya mencintai Lovie."


__ADS_2