Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Menerima Kehadirannya


__ADS_3

"Papa!" Suara nyaring anak kecil ini dan ia melambaikan tangannya. Memanggil dari balkon kamar.


Lovie mendekat dan mengusap gemas rambutnya "Airnya sudah siap. Ayo kita mandi."


Richard jadi berdiri dan berkata "Nenek, aku mau masuk dulu. Mau memandikan putraku."


Richard berjalan pergi, dan Nenek jadi bergumam sendiri "Harusnya memang begitu. Mau bagaimanapun, Lucas anakmu."


Wajah Lucas, memang sama miripnya seperti Richard. Namun, sepertinya sifat Lucas sama miripnya dengan Jihan. Mudah dipengaruhi dan dibujuk, tidak pernah menjadi pendedam, meski sudah disakiti.


Meskipun disakiti, Jihan bukan orang yang menyimpan dendam. Cepat berubah baik, bila sudah didekati. Namun, dia juga sangat mudah dipengaruhi.


Setelah mengetuk pintu kamar, Lovie membuka pintu kamarnya.


"Aku saja yang memandikan Lucas."


"Baik. Silakan."


Lovie mencebikan bibirnya dan tampak bersedekap di sisi pintu kamarnya. Jerry yang berdiri di depan pintu, ia juga melihat Richard yang mendekati putranya.


Lovie menatap Jerry, "Kenapa, apa kamu juga ingin dimandiin?"


Jerry menjawab "Oh, tidak. Aku hanya."


Belum selesai berkata ini itu, Lovie menutup pintunya dengan kasar.


Jerry jadi mengaruk kepala, ia berkata "Kak Lovie masih saja ketus sama aku. Apa salahku sama dia?"


"Salahmu itu, kepo. Jadi cowok, jangan kepo." Ucapnya Jenny, yang berjalan melewati kamar Lovie.


"Kenapa para cewek ini selalu jutek? Aku nggak mau punya kekasih jutek seperti mereka." Gumamnya Jerry.


Richard sudah meletakan jasnya di stand hanger dan menyingsingka lengan kemeja panjangnya sampai ke siku.


Lovie, hanya memandangi sang suami.


Richard mendekat ke telinga Lovie, ia jadi berbisik dengan suara manis "Selesai aku memandikan anakku. Aku juga akan memandikan istriku."


Lovie menjauh dan memegang leher. Jadi tampak salah tingkah, berkata, "Aku mau nyiapin bajunya Lucas."


Richard beralih ke Lucas, dengan wajah yang tampak tersenyum, meski ada rasa canggung dan bingung.


"Ayo, mandi sama Papa." Richard segera menggendong bocah tampan itu. Lucas juga hanya tersenyum imut.


Lovie melihat seorang Papa yang mulai mengasuh anaknya, "Baguslah. Semoga, kalian berdua terus begini."


Richard membawa Lucas ke kamar mandi dan segera melepaskan pakaian putra tampannya ini. Meski rasanya masih kaku, tetapi Papa Richard sudah berusaha untuk menerima kehadiran Lucas.


Lovie yang turut masuk ke kamar mandi, malah berdendang. "Mandi, ayo kita mandi. Jangan lupa gosok gigi. Pakai sabun, pakai shampo. Badan bersih dan wangi."


Nada asalnya juga tidak jelas, tapi Lucas senang sekali. Malah asyik bermain air menyiramkan ke Papanya.


Tangan imutnya memainkan air,


Ceepyek' cepyek!


"Lucas. Baju Papa jadi basah semua."


"Yeye ye ye. Papa juga harus mandi." Sambungan lagunya.


Richard melirik istrinya "Bayi besarku. Nanti, aku akan memandikanmu."


Richard menangkap pinggang Lovie dan menyemplungkan Lovie ke dalam bath-tub.


"Aaaa.." Rengeknya Lovie.


Lucas menunjuk wajah Lovie dengan gemas berkata "Wwuu, Mama nangis."


"Papa nakalin Mama." Rengekan Lovie manja.


Richard jadi menggeleng, ia berkata "Hemm, aku seperti Bapak dua anak."


"Mama, beneran nangis?" Lucas kepo, karena Lovie menutup wajahnya.


Lucas yang berdiri di bath-tub, berjalan mendekati Lovie, sambil di pegangin Papanya.


"Mama."


"Baaak. Cilukba..."


"Yeyeye...Mama. Aku, sayang Mama."


Lucas jadi memeluk Lovie. Lovie yang duduk di bath-tub terlanjur PW, sampai roknya basah kuyup. Malah mainan air, bersama putra kecilnya ini.


Lovie memeluk Lucas, ia berkata, "Mama sayang Lucas."


Richard mengambilkan handuk dari hanger, yang ada di sebelah shower. "Mandinya sudah selesai. Ayo! Kita pakai baju."


Lucas dalam gendongan Richard. Keluar kamar mandi.

__ADS_1


Lovie-pun terlanjur basah-basahan dan segera mengunci pintu kamar mandi.


Setelah melepas seluruh pakaiannya. Lovie yang berada di bawah percikan air shower.


Gemercik air, yang berjatuhan mengenai kepalanya dan meraup wajahnya.


Bibir mungil Lovie bergetar memecah percikan air. "Aku memang bodoh. Tapi aku punya rasa. Aku mencintai suamiku."


Orang lain, menganggap Lovie bodoh. Memilih membesarkan anak yang bukan anak kandungnya. Bahkan, Nyonya Nancy menyarankan agar Lucas, di masukan ke sekolah asrama. Namun, Presdir Nicholas dan Lovie, tetap ingin mengasuh Lucas.


Nyonya Nancy, tidak mau ada urusan dengan keluarga Jihan. Apalagi, harus sering bertemu mereka karena anak itu.


Keluarga Papi Benny juga tahu. Pasti, Lovie akan memilih merawat anak itu.


Setelah hasil test DNA anak kecil itu keluar, Richard memang harus mengakui Lucas.


Sedangkan Lovie, menginginkan Lucas tetap bersamanya. Meskipun nantinya, Richard akan sering bertemu Jihan karena Lucas.


Lovie yang menangis, "Aku, Mamanya."


Setelah selesai mandi. Memakai kimono handuk dan mengancingnya.


Rambut basahnya, sudah terlilit handuk. Tampak serba warna putih.


Lovie, kemudian keluar dari kamar mandi.


"Mama, aku sudah keren."


Lovie tersenyum, saat rambut lebat Lucas jadi bergaya mohawk.


Richard berkata "Cepatlah ganti baju. Pakaianku juga basah. Aku juga harus mandi."


"Oh, oke. Titipin dulu Lucas sama Nenek."


"Pakaianku basah begini."


Lovie tersenyum, ia berkata "Lucas sayang. Kamu duduk di kasur saja ya. Mama mau ganti baju dulu. Papa biar mandi."


"Oke Mama." Suara itu, terdengar imut.


Lovie segera ke ruang ganti dekat kamar mandi, Richard bukannya segera ke kamar mandi. Malah ngintilin istrinya.


"Kenapa kemari?"


"Ambil baju."


"Nanti juga bisa ganti disini."


"Kak Richi mau ngapain aku?" Lovie menatap suaminya dengan sebal.


"Kamu masih ngambek sama aku?"


"Iya. Aku juga ingin tinggal disini."


"Oke. Kalau begitu. Aku juga tinggal disini."


"Bodo' ah. Terserah Kak Richi, aku nggak peduli."


Lovie mendorong Richard. Beranjak ke lemari sliding, dan menggesernya kasar.


Richard berkata "Aku butuh kamu."


"Butuh apa lagi?" Padangannya fokus pada daleman.


Satu set daleman warna tosca yang tersimpan di laci lemari ini. Telah dipilih oleh Lovie, untuk dipakainya sekarang.


Ada suaminya yang menatap dirinya, melepaskan kimono, dengan cepat Lovie memakai braa dan cancutnya.


"Jelas, aku butuh semuanya dari kamu. Aku butuh kamu mendampingiku. Aku butuh dukungan dari kamu. Aku juga butuh dilayani. Apalagi, ini, sekarang."


"Sana. Cari saja yang sexy terus ke hotel."


"Kok begitu sih, ngomongnya." Richard malah mendekat, setelah istrinya tampil menggoda.


"Huh, jangan dekat-dekat. Katanya disuruh cepat pakai baju."


"Sayang. Sudah seminggu loh, kita nggak bikin anak."


Lovie mencebikan bibirnya, "Kamu sudah punya anak."


"Beda sayang."


"Kamu seminggu ini yang badmood. Aku juga, kamu anggurin. Aku tahu, kamu lagi mikirin soal test DNA Lucas. Tapi, aku selalu ada buat kamu. Kamu saja yang sesuka hatimu sendiri."


"Sayang, jangan marah." Richard berusaha memeluknya.


Lovie, melepas handuk yang tadi melilit rambutnya.


Richard harus menahan diri. Meski tidak sexy, tapi istrinya hanya memakai bra dan segitiga imutnya. Rambut basahnya tergerai dan membasahi leher putih tampak menggoda.

__ADS_1


Sang suami jadi terdiam dan hanya bisa menelan ludahnya sendiri.


"Minggir!! Aku mau ambil baju."


Richard bukanlah suami yang takut istri.


"My Lovie sayang."


"Cepatlah mandi. Selesai aku ujian nanti. Kita bisa berlibur bertiga."


"Kok bertiga??"


Lovie menoleh, ke wajah datar suaminya "Aku, kamu dan Lucas."


Richard hanya bisa menahan emosinya. Semenjak ada Lucas, Richard memang lebih emosian dan moodnya naik turun.


"Baik. Kita memang harus liburan keluarga."


Richard menyergapnya, Lovie sampai mendongak, tangannya Richard sudah memainkan bustiie.


Emmhh!


Richard mencuri kesempatan, ia jadi melummat bibir istrinya. Lovie jadi sedikit mendesah karena kenakalan suaminya.


Aagh'


Richard melepasnya.


"Mau sekarang??"


"Nggak."


Lovie yang jadi salah tingkah, ia malah meraih gaun malam dan tampak memalingkan wajahnya.


Richard tersenyum, "Itu. Kamu mau pakai itu, biar apa coba?"


"Hish, aku malah jadi error."


Lovie berkata "Sana keluar. Lucas sendirian."


"Oke, kali ini aku menyerah. Nanti malam, aku tidak akan menyerah lagi."


"Besok aku ujian. Aku harus belajar."


Merasakan kenalan suaminya, Lovie dengan cepat berkata "Terserah kamulah."


Richard jadi terkekeh, "Iya, iya. Aku minta maaf. Kamu harus fokus belajar buat Ujian."


Richard lantas mengecup kening Lovie dan secepatnya meninggalkan ruang ganti yang memang minimalis.


Lovie berkata "Huh, suamiku jadi menyebalkan."


Beralih ke apartemen Loona.


Talita, setelah menikah lebih sering tinggal di apartemen. Kecuali kalau hari sabtu minggu. Tinggalnya di kediaman Presdir Nicholas dan terkadang ke rumah Kakek Yu, hanya sekedar makan malam bersama keluarga.


Talita saat ini, sedang memasak untuk makan malam bersama suaminya. Dia jadi lebih rajin memasak dan dia juga sudah bekerja di Rich. Membutikan kalau dirinya, wanita yang tangguh.


"Wangi banget. Kamu masak apa?"


"Iga bakar."


Talita jadi membalikan badan, suaminya sudah memicingkan mata. Ia bertanya "Kenapa kamu lihatin aku begitu??"


"Bukan apa-apa. Hanya saja, aku merasa aneh. Kamu dulu sayang sama Jihan. Tapi, kenapa kamu jadi nggak peduli sama dia?"


Rey jadi memalingkan wajahnya, ia berkata "Meskipun, aku menikahinya. Aku nggak bisa menyentuhnya."


"Kenapa begitu? Apa karena..."


Belum sampai selesai ngomong, Rey mengecup bibir Talita. Si genit nan bawel ini, jadi merem melek.


Ssshh,


"Jangan mikirin macem-macem. Apalagi soal Jihan dan Richard. Kamu, jangan pengaruhi Lucas dan Lovie. Mau bagaimana-pun, Jihan Ibunya Lucas dan sepatutnya mereka mengenal. Lalu, soal Richard, ia sudah berubah, dia sangat mencintai Lovie."


"Iya, aku tahu soal itu. Yang aku heran malah kamu. Kamu juga sudah berubah. Aku sempat baca..." Talita tak lanjut berkata, kalau ia sempat membaca diary Rey tentang Jihan dan Richard.


"Aku tahu, kamu membaca tulisanku. Aku berubah. Itu, karena kamu."


Berdebar!


Rey pergi dari dapur dan Talita jadi menonyol kepalanya sendiri "Hish, kenapa aku jadi telmi. Rey suamiku, berarti dia mencintai aku. Tapi, dia nggak pernah bilang begitu sama aku. Dia pasti cuma kasian. Apalagi, kalau aku hamil. Dia hanya merasa tanggung jawab atas perbuatan dia."


"Talita!" Panggilan Rey begitu merdu dan manja.


Talita segera menghampiri suaminya, "Iyaa...suamiku. Ada apa?"


Ting Tong!

__ADS_1


"Itu!" Tunjuknya.


"Tamunya siapa??"


__ADS_2