
Suasana siang, di kediaman Presdir Nicholas.
3 bocah kecil yang saling menyayangi, tampak bersama memasuki elevator.
Lucas anak SD yang baru berusia 9 tahun, sekarang tampak menggendong adik tampan di punggungnya.
Di ajak ke ruang makan, dan mereka ingin makan bersama.
Duduk bersebelahan dan para suster mereka yang melayani.
"Latte, kamu harus makan."
"Iya Kak Lucas."
Wajah itu masih sendu. Lucas yang merasa kalau Latte memang masih sangat kecewa.
Lily, juga duduk di sebelah Latte dan masih mengelus punggung Latte.
"Kak Latte sudah nangisnya. Aku sudah lapar. Aku mau makan siang. Stop dulu nangisnya, kita makan dulu ya." Bocah ini memang pandai bicara. Padahal, ia sendiri juga sering menangis tanpa sebab.
Lily selalu saja begitu, pagi malas sarapan dengan alasan ini itu. Namun, setiap jam makan siang tidak boleh terlambat semenitpun.
"Ini makan siangnya Nona Lily." Ucap susternya dan sudah meletakan makan siangnya Lily.
"Terima kasih suster." Balasnya Lily manis.
Menu makan siang Lily, ialah nasi tim dengan topping daging cincang.
Lucas meminta nigiri sushi dan Latte makan siangnya salmon mentai.
Tapi, Latte masih tidak berselera.
Ketiga bocah ini, tampak makan bersama. Meskipun, mengunyah makanan. Latte, tetap sendu dan meneteskan air mata.
Aem!
Lucas juga sambil makan dan para suster masih setia menemani mereka.
"Latte, aaak??!" Lucas bersiap untuk menyuapinya dan masih memegang sendoknya.
Tangan kanan Lucas secara bergantian, memegang sendok dan sumpit.
"Kak Lucas, aku nggak mau makan ini lagi." Ucapnya Latte begitu sendu. Rasa makanan ini, juga tidak seenak biasanya mungkin karena masih kecewa. Apalagi, ini tentang kehormatan Latte.
Awalnya, sering sekali bersaing dengan Lucas dan sampai berebut Mama. Namun, sekarang ada gadis kecil yang ingin merebut Mamanya. Pikiran Latte memang sama seperti Lily. Namanya juga kembar, ya begitulah sikap mereka.
Lily berkata "Ya sudah kalau nggak mau makan. Biar aku saja yang makan."
"Ini buat Kak Lucas." Balasnya Latte, menyodorkan pingringnya ke Lucas.
"Terus, kalau kamu nanti laper?" Tanya Lucas.
Belum sampai menjawabnya, Latte kembali menangis dan pergi dari ruang makan. Segera kembali ke kamarnya.
Lily jadi cemberut "Tadi bilangnya mau makan. Kenapa malah pergi ninggalin aku??"
Hikk Ho... Hoo..
Bocah satu ini juga baperan. Lucas berpindah duduknya dan mendekati Lily.
Mengelus kepala Lily, dengan rasa sayangnya.
"Jangan menangis. Aku nggak mau lihat kamu menangis. Cuup cup cup. Anak cantik." Ucapnya Lucas, yang berusaha menenangkan adik cantiknya ini.
Kedua tangan Lily, jadi mengusap air matanya sendiri.
"Aku juga ingin disuapin Kak Lucas."
"Iya. Sini mangkoknya, aku suapin kamu."
Lily tersenyum.
Aaakk.
Aeemh.
"Anak pintar. Makan yang banyak ya."
Lily-pun mengangguk dengan senang.
Lucas gantian menyuapi Lily dan Latte sudah tiba di kamarnya. Latte, kembali menangis di atas kasurnya.
Kakek Neneknya juga sedang tidak ada di rumah. Sepertinya, tadi ada Mama Papa.
Lalu, dimana Mama Papanya?
Ternyata, sibuk sayang-sayangan di kamar.
"Sayang, aku khawatir sama Latte."
__ADS_1
Papa Richard malah sibuk menciumi punggung istrinya. Nggak dikasih dada, tetap saja ingin meninggalkan bekas percumbuannya, di punggung indah istri cantiknya.
Emmh.
Tidak hentinya menciumi tekuk leher hingga punggung, tangannya melingkari pinggang istrinya dan tidak memberinya ruang gerak.
"Sayang, yuk udahan. Aku kepikiran anak kita."
Papa Richard, hanya ingin mengembalikan tenaganya.
Butuh di carger dulu. Biar baterai nggak lowbat.
Emhh!
Dari beberapa hari lalu, moment manisnya selalu terganggu.
Apalagi, Mama Lovie satu minggu ini khusus punya Latte. Jadinya, nggak ada malam panjang berduaan, sampai bercinta mesra.
"Oke. Sana, kamu mandi duluan. Aku masih ingin begini." Ucapnya santai.
Malah jadi rebahan di atas kasur.
"Jangan dong. Nanti, kalau tiba-tiba anak-anak kemari gimana?"
"Bilang saja, aku tidur."
Istrinya menatap serius, "Yakin, bisa begitu???"
Richard meraih tubuh polos istrinya dan posisi Lovie, jadi tengkurep di atas suaminya.
Keduanya saling berciuman.
"Yakin, masih mau begini??"
"Ampun sayang. Aku menyerah. Ayo kita mandi berdua."
Hish, bilangnya mandi berdua. Tapi, apa beneran cuma mandi.
Kedua tangan kekar sudah mengangkat tubuh yang berparas mungil sexy.
Langkah kaki santai berjalan ke kamar mandi, saling menatap dengan manja. Tak ada jeda dan saling melempar canda.
"Kak Richi yang ngeselin."
"Ngeselin apa ngangenin?? Ntar, aku tinggal dua hari saja. Kamu bilangnya, sayang pulang, aku kangen."
Jemari Lovie juga nakal, sudah memilin lembut daun telinga suaminya "Emh, masa iya aku harus bilang. Ya sudah, nggak usah pulang saja sekalian. Iya, maunya aku bilang begitu?"
"Ya sudah sana, nggak usah pulang sekalian, cari aja vitamin luar."
Richard kembali nyosor bibir bawel istrinya.
Emhh.
Saling mencium dan menggigit lembut. Perlahan, keduanya menyatukan liddah hingga menilisik ke dalam dan saling bergerak, memutar bahkan melenggak lengkok seperti penari. Menceecap sampai bertukar rasa.
Emmh,
Perlahan, tubuh polos istrinya, ia turunkan ke dalam bath-tub, menyalakan kran air hangat.
Tidak lupa, menuang parfum ke dalamnya.
Gemercik air, yang membawa suasana.
Aromaterapy di kanan bath-tub sudah memberikan keharuman, yang membuat sensasi berbeda.
Sseshh!
Saat kembali berciuman dan bertukar rasa. Menyessap rasa yang membuat candu.
Aaagrh!'
"Coba bilang nggak?!'' Suaminya semakin menggoda.
Dari tadi istrinya, bilangnya cukup satu ronde saja.
Meski pikiran dan ucapannya menolak. Tapi, tubuhnya masih menerima sentuhan demi sentuhan nakal suami tampannya.
"Emmh, nakal."
"Tapi suka-kan?!!"
"Iya, maunya nambah terus."
"Nah, gini dong. Nurut sama suami."
Duh, Papa Richard. Kasian itu anakmu yang di kamar menangis terus.
Ini Papa Mamanya, malah main mandi-mandian dan di obok-obok.
__ADS_1
Piye toh kui??
Beberapa menit kemudian.
Suasana siang hari, Lily dan Lucas kembali menemani Latte, yang masih tengah bersedih.
Lily sudah tampak berbaring di sebelah saudara kembarnya, "Aku mau bobok disini sama Kak Latte."
"Aku mau tidur sendirian." Balasnya Latte dan masih terus menangis
Lucas juga ada di dekat Latte, ia berkata "Sudah ya, jangan nangis lagi. Nanti, kamu pasti juara pertama. Kamu hebat. Aku malah belum pernah ikut Olimpiade."
"Tapi dia dipeluk Mama. Mama bangga sama dia. Aku nggak suka." Bibirnya sampai mengerucut.
"Ya sudah. Kak Latte tinggal minta dipeluk Mama. Apa susahnya." Ujarnya Lily, padahal dia kalau lagi baper, seharian juga nangis terus. Baru berhenti sebentar, tapi nantinya menangis lagi.
"Latte jangan nangis lagi. Aku akan panggilin Mama." Ucapnya Lucas.
"Nggak!"
Latte jadi terduduk dan mengusap air matanya sendiri.
"Mama nggak suka aku juara 2. Mama lebih suka dia yang juara 1."
"Latte, Mama sayang sama kamu. Nggak mungkin Mama begitu."
Lily berkata "Kak Latte. Yang salah bukan Mama. Tapi anak yang nakal itu. Nanti, aku akan cari anak nakal itu."
"Dia murid Taman Ceria. Namanya Vanilla."
"Vanilla Latte? Kok kayak nama kopi?" Lucas malah mengatakan hal itu.
"Aaa,, aku benci. Aku benci dia." Latte jadi merengek tidak jelas.
"Kak Latte nangisnya stop. Mana, kasih fotonya sama aku. Aku akan balas dia. Aku akan hancurin pialanya."
Mendengar hal itu, ia menoleh ke arah Lily, Latte berkata "Sampai kapan-pun kamu harus membalas dia. Aku nggak suka. Aku benci dia. Aku benci."
"Iya, aku janji. Aku akan terus membalas dia sampai Kak Latte senang. Tapi, diam ya. Jangan nangis lagi." Ucapanya Lily, yang sangat antusias sekali. Dia juga mengambil tisue, mengusap air mata saudara kembarnya.
"Aku mau ke kamar Mama. Aku akan bilang sama Mama. Kalau kamu masih sedih." Ucapnya Lucas.
Lily berkata "Kak Lucas jangan ke kamar Mama. Mama sama Papa lagi pacaran. Kasian Papa, sudah seminggu nggak pacaran sama Mama. Makanya, Mama sampai mau direbut sama anak itu. Kita nggak boleh gangguin Mama sama Papa."
Latte kembali berbaring "Tadi, aku juga ketemu sama teman Mama. Dia orang tua yang menabrak aku. Aku nggak suka juga sama dia. Tapi, kata Papa. Mama juga ingin punya teman. Tapi aku nggak suka dia. Aku benci dia."
"Siapa namanya??" Tanya Lucas.
"Om Ron."
Lily menyahut "Itu Om-Om yang kemarin di hotel. Tapi, aku suka sama dia. Soalnya, dia Om yang tampan, aku suka."
"Lily, tapi aku nggak suka. Aku nggak suka sama Om itu. Aku nggak suka dia dekat-dekat sama Mama. Dia juga bisa merebut Mama kita."
"Tapi Omnya tampan. Aku suka."
Lucas jadi duduk di tengah-tengah mereka berdua dan merangkul keduanya.
"Suka atau tidak. Biarkan saja Mama yang memilih teman. Yang aku tahu. Mama sayang sama kita bertiga. Aku malah takut. Aku yang akan pergi."
"Kak Lucas mau pergi kemana?" Tanya Lily.
Latte menatapnya "Jangan pergi. Aku nggak akan nakalin Kak Lucas. Aku janji, nggak nakal lagi sama Kak Lucas."
"Kata Nenek, aku bisa diculik orang jahat. Katanya Nenek, ada yang mengaku-ngaku Mama kandungku."
"Apa itu, beneran?" Tanya Lily.
"Aku juga tidak tahu. Kata Nenek, aku nggak boleh percaya sama dia. Kata Nenek, Ibu yang melahirkan aku sudah meninggal. Sekarang, Mamaku cuma Mama Lovie."
Mereka bertiga, jadi menangis.
Hikks! Hua, ho ho ho.
1 jam kemudian.
Kedua orang tua trio L, sudah selesai pacarannya. Mama Lovie keluar dari kamar. Namun, tak terdengar suara anak-anaknya.
Mama Lovie masih tenang, dan hanya berfikir kalau anak-anaknya sedang bobok siang.
"Sus.. Suster."
Ada yang mendekat "Iya Nyonya."
Setelah melihat ke arah ruangan kamar anak-anaknya. Ternyata sepi, tidak ada yang tidur. Mama Lovie, juga sudah mencari mereka bertiga.
"Suster, anak-anak dimana? Kenapa tidak ada di kamar mereka?"
"Anak-anak sedang pergi Nyonya."
__ADS_1
"Pergi?" Mamanya jadi berdebar.
Padahal ini siang menjelang sore hari. Sekitar jam 3 sore. Anak-anaknya pergi kemana?