
Di hotel DeNuca, saat itu pukul 8 pagi, waktu kota Shindong.
Madam Lovie, baru tiba di hotel dan segera ke ruangan pimpinan hotel.
Beliau mengumpulkan staff utama dan menanyakan tentang keberadaan putri cantiknya.
"Kalian yakin? Lily tidak datang kemari?" Mama Lovie manatap ketiga staff utama dan seorang pimpinan hotel, yang terlihat seusianya.
"Madam Lovie. Saya akan mengerahkan semua staff agar segera menemukan Nona Lily." Ucapnya pimpinan hotel, dengan gaya yang selalu anggun.
"Cepat! Cari di setiap ruangan. Aku tidak mau, putriku kenapa-napa." Titah Mama Lovie dan telihat cemas sekali.
"Baik Madam." Balasnya para staff dan pimpinan hotel, terdengar kompak.
Jam terus berputar.
Troy tamu terakhir yang menikmati makan paginya, di restoran hotel.
"Pagiku sudah kembali." Gumamnya Troy, ia tampak santai dan seolah tidak terjadi apa-apa.
Duduk dengan elegan dan begitu menawan.
Tidak peduli akan para staff, yang tengah sibuk mencari gadis belia.
Bahkan, mereka semua mencari di setiap sudut ruangan dan juga kamar para tamu hotel.
"Kopi yang nikmat. Aku sangat menyukainya."
Hotel DeNuca terdiri dari 120 kamar tidur untuk para tamu. Kamar-kamar itu dibagi beberapa tipe ruangan, dari superior room, deluxe room dan suite room.
Juga terdapat, ruangan kebugaran, tempat spa, karaoke, restoran VIP, restoran santai, kolam renang dan masih banyak fasilitas lainnya, serta gratis wifi.
Ada pula ruangan kantor, dapur hotel, serta tempat parkiran dan juga sistem keamanan yang terjaga ketat. Masih ada lagi, yaitu aula serba guna dan ballroom.
Hotel DeNuca, juga tepat untuk bisnis serta liburan. Bisa dijadikan tempat konferensi atau acara kegiatan sosial lainnya. Seperti, acara pesta pernikahan, acara pesta ulang tahun, acara pesta kalangan bisnis dan lain-lain.
Kembali, ke cerita.
Pimpinan hotel DeNuca, sudah menemukan sesuatu dan meletakannya di atas meja sofa.
"Madam Lovie."
Mama Lovie hanya duduk di ruangan pimpinan hotel, dengan raut wajah yang tegang dan suaminya juga belum tahu, tentang masalah Lily, yang semalam tidak berada di asrama putri.
"Madam Lovie. Kantong hitam ini mencurigakan. Ditemukan, di kotak sampah area besement."
"Maksud kalian, ini tentang Lily?"
"Madam, di hotel kita, tidak pernah memakai kantong sampah seperti ini."
"Cepat buka kantongnya! Aku ingin melihatnya."
"Baik Madam."
Perasaan Mama Lovie semakin gelisah, dan tidak berani melihat ke arah kantong sampah itu.
Violla mengatakan, kalau Lily memakai babydoll pororo warna hijau toska dan membuat janji dengan anggota genknya Ethan, terutama Vano.
"Itu, itu, ponselnya Lily." Badannya jadi lemes dan semakin gelisah.
Dari tadi, ponselnya Madam Lovie sengaja dimatikan. Agar suaminya, tidak bertanya macam-macam.
Tangannya sangat gemetar, saat memegang ponsel putrinya.
Mama Lovie sangat tidak percaya, saat melihat bungkus k*ndom dan pakaian pororo sudah tergunting-gunting.
Berusaha kuat dan mengaktifkan HP Lily.
"Ethan??!"
Ethan juga mengirim pesan, bertuliskan [Kamu yang berengseek! Rasain itu akibatnya.]
"Ethan??!"
Lily, Violla dan Lexi tiba di ruang ini.
"Mama!"
Mama Lovie, menoleh ke arah pintu.
Violla berkata "Yah, kita sudah terlambat."
Lexi berkata "Kamu sih, lama larinya. Jadinya, ketahuan."
Lily berlari mendekat, "Mama, ini cuma prank. Kita bertiga ngeprank Mom asrama. Ini semua, nggak benar."
"Jangan bohongi Mama." Mamanya menangis.
Tatapan Mama Lovie begitu syahdu. Wajahnya awet muda sekali. Apalagi, kalau bersanding dengan putrinya, akan seperti kakak dan adik.
"Mama."
Lily yang berwajah kekanakan dan berlutut di depan sang Mama. Memegang kedua tangan sang Mama.
__ADS_1
"Itu, aku sama dua sahabatku itu, cuma ngeprank. Kalau soal Ethan, bahasanya memang begitu. Dia nggak apa-apain aku. Dia cuma iseng sama aku." Jelasnya Lily.
"Beneran? Kamu nggak bohong?!"
"Ini buktinya. Aku nggak kenapa-napa. Mama bisa periksain aku ke dokter, kalau Mama nggak percaya."
Perlahan, Mama Lovie menghembuskan nafas lega. Kedua gadis itu juga merasa lega.
Lexi membatin "Ethan, tunggu balasan dari aku. Kamu sudah mempermainkan aku dan kamu berani mengerjai Lily. Aku bersumpah, aku sendiri yang akan memperlakukan kamu seperti Lily semalam."
Kedua tangan Lexi, jadi meremas di depan dada dan Violla juga baper saat melihat Mama Lovie.
"Uu, aku jadi ingin pulang ke rumah. Kangen Mama sama Papa." Gumamnya Violla, manja.
Pimpinan hotel ini, tampak membuang muka. Sepertinya, beliau tahu kalau Lily semalam memang menginap disini.
Dari pada, muncul kehebohan dan sampai mengganggu acara pesta. Pimpinan hotel, membiarkan saja Lily menginap.
Toh, tidak terjadi keributan apapun. Namun, soal kantong sampah ini. Beliau mencuragai sosok pria berkacamata. Tetapi, sang tuan putri mengatakan kalau ia hanya ngeprank saja.
"Baguslah kalau begitu. Aku akan kembali bekerja, semoga tidak ada gangguan lagi." Batinnya dan beliau memang perempuan yang tegas dan gila kerja. Semua staff dan pekerja lainnya, semua takut kepadanya. Sebut saja, Buna.
Kejadian yang sebenarnya, Ethan telah sengaja merencanakan itu, bersama teman-temannya.
Berpura-pura kembali kepada Lexi. Namun, saat mereka bersama, Lexi mengtahui rencana jahat Ethan.
Lexi buru-buru kembali dari pucak Donghae sampai ke Shindong. Saat Lily sudah meneguk minumannya, saat itu pula Lexi datang dan segera membawanya pergi.
Namun, Lexi ribut lagi bersama Ethan dan para mantan Lexi yang lainnya. Tapi, ada seseorang di bar itu yang mengenal dekat sosok Lexi.
Lily kabur sendirian dan perasaannya seketika berubah aneh. Lily masih dalam keadaan sadar saat berada di taxi. Makanya itu, Lily memilih kembali ke hotel, dan pergi ke kamar yang biasa dia tempati.
Troy membuka pintu, Lily mendorongnya masuk ke dalam. Keadaannya sudah linglung karena pengaruh obat. Ucapan Lily yang memakai kata-kata umpatan, juga terdengar di telinga Troy.
"Ethan, annjjing. Bereeengsek. Dasar cowok sialan. Kampreet. Bajingaan." Bla, bla.
Setelah itu, "Emh, sayang. Peluk aku. Cun bibirku." Itu, hanya sebagian kegilaan dari Lily Nee Rilova.
Kembali, ke jam saat ini.
"Mama jangan bersedih lagi. Aku baik-baik saja."
"Ya sudah, kalau begitu. Mama masih ada urusan penting sama Tante Talita."
"He'em. Mama pergi saja. Aku, Violla sama Lexi, juga mau ke kampus. Aku juga ada kuliah siang."
"Iya. Pokoknya, kamu harus hati-hati. Jaga diri kamu. Kalau ada apa-apa. Cepat, hubungi Mama."
"Siap Mamaku sayang." Mmuuach. Gemasnya, cun pipi kanan kiri dan jenongnya.
"Terus, kamu diapain saja sama pria itu??" Tanya Violla, penasaran.
"Aku tidak tahu. Yang jelas, aku lupa."
Lily memang hendak memperka*s pria itu, namun ia lupa apa saja yang sudah dilakukannya.
"Tapi, bangun tidur tadi. Di tangan kananku, kayak putih-putih lengket gitu."
Lexi langsung berkata "Aku yakin, itu speerrma."
"Lexi, memangnya kamu sudah pernah lihat begituan?" Violla yang lebih polos dan lugu ini, ia menatap Lexi. Lily, juga jadi menoleh ke sebelah kiri.
Ketiga belia ini, duduk bertiga di bangku panjang mini market, sambil makan mie cup dan sosis. Tidak lupa dengan es krim dan minuman ala mereka.
Mereka bertiga memang selalu kompak kalau di mini market depan kampus RL.
Mereka lebih memilih mini market luar kampus, dari pada yang ada di dalam kampus. Disini mereka bisa curcol.
"Kalian bertiga, memangnya nggak ada kuliah. Kenapa masih nongki disini??"
"Hehe, Kak Salsa. Sorry. Kita hanya rumpi manis."
"Rumpi manis tapi bahas sperrma."
Wanita berusia 30 tahun itu, malah memicingkan matanya.
"Emh, apa Kak Salsa, tahu tentang sperrma cowok?"
"Hissh,, aku menikah saja belum. Malah kalian tanya soal begituan."
Wanita itu kembali ke kasir, saat ada pengunjung yang datang.
"Selamat datang di Selleb Market" Ucapnya penjaga toko.
Ketiga gadis belia itu, tampak menggigit sedotan, menatap nakal ke arah pria tampan, yang baru saja memasuki mini market ini.
Terlihat, pria berambut klimis dan tampak mengenakan kacamata, mengekor di belakang pria tampan.
"Mr. Troy." Gumam Violla.
Lily membatin "Om Bule."
"Aauu, aura pria tajir melintir." Ceplosnya Lexi.
__ADS_1
Ketiganya saling terdiam, saat pria itu menatap ke arah mereka.
"Guyss, aku pergi duluan ya. Aku mau ada kuliah Mr. Kendrick."
Lily yang salah tingkah dan segera meraih tas ranselnya. Buru-buru pergi meninggalkan mini market.
Lexi jadi terpesona, "Aku ingin kenalan sama dia."
Violla berbisik "Dia inceran Katte. Dia punya calon istri. Jangan sampai, kamu terlibat masalah sama Katte."
"Owh, jadi dia punya calon istri. Tapi, Katte ingin memilikinya."
"Tepat sekali. Tapi, aku yakin, Mr. Troy, tidak akan terpikat sama Katte."
"Kamu kenal cowok itu?"
"Iya. Semalam di pesta."
Lexi masih mengamatinya dan Troy jadi menatap ke arahnya.
"Violla. Dia, sepertinya tertarik sama aku."
"Ya, semoga saja begitu. Ayo cabut. Aku juga mau ada kelas siang."
"Bentar dong. Aku masih ingin menatap dia."
"Lupakan dia! Kalau, kamu tidak mau terlibat masalah sama Katte."
"Hish, iya, iya. Padahal, dia juga bukan suaminya Katte. Sudahlah, aku masih punya misi pembalasan untuk Ethan."
Saat ini, mereka berdua bangkit dari kursi dan mendekat ke kasir.
Troy dan asistennya juga mendekat ke arah kasir.
"Silakan, Nona-nona cantik duluan." Ucapan sang asisten Troy, terdengar manis.
Troy tidak mengingat gadis cubby, yang ada di dekatnya dan Violla juga tidak peduli tentang hal itu.
Troy, menoleh ke arah seberang jalan "Gadis malamku"
Gerbang kampus yang bertuliskan nama kampus dan terlihat bangunan gedung kampus itu yang menjulang tinggi.
"Dia mahasiswa??" Batin Troy, seketika gemas.
Troy, jadi mendesis "Ini. Hanya kebetulan saja."
Violla menoleh ke arah Troy, "Mr. Troy mengingat saya?"
"Anda mengenal saya?" Tatapan Troy, seperti orang bingung.
Violla mengangguk, ia berkata "Semalam, di acara pesta Hanz."
"Owh, iya. Anda, gadis yang memakai gaun merah muda. Emm, namanya."
"Violla. Saya Violla. Keponakan Mr. Ron."
"Owh iya. Violla." Terlihat senyuman dari Troy.
Lexi selesai membayar jajanan mereka bertiga. Lalu, mendekat ke arah Violla. Asisten Troy, juga tengah bergerak maju, untuk membayar belanjaannya.
"Mr. Troy, ini sahabat saya."
"Hallo, saya Troy."
"Saya, Lexi."
"Senang bertemu dengan anda."
"Mr. Troy, kenapa anda kemari?"
"Saya mau survei apartemen baru."
"Kebetulan sekali Mr. Troy. Saya kuliah di kampus seberang jalan. Kalau begitu, saya permisi duluan."
"Iya, silakan Nona Violla."
Lexi masih menatapnya manis dan Violla menarik lengan kanannya.
"Iih, aku masih ingin menatapnya."
"Jangan main api sama Katte. Dia lebih dari kita berdua."
"Hish, mentang-mentang putrinya Presdir Helena. Apa, aku harus mengalah?"
"Mr. Troy, punya calon istri."
"Baru calon istri. Bukan istri."
"Kamu nggak takut, nanti kayak waktu itu. Tiba-tiba didatengi bininya dan terus istrinya bawa rombongan. Belum lagi, foto kamu disebarin ke sosmed. Terus, dibilang pelakor. Kita harus cari aman. Cari yang jomblo dan kenal sama keluarganya."
"Aku masih berharap, Ethan berubah."
"Gila kamu. Emangnya nggak ingat soal semalam."
__ADS_1
"Aku, bisa membalasnya dengan caraku."
Kasir tersenyum "Pakai Kond*m?"