Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Demi Cucu


__ADS_3

Lovie yang terperanjat kaget, saat terbangun dari tidurnya. Seorang Nyonya sudah memandanginya.


Wajah Nyonya ini, terlihat muram dan tidak bergairah. Sepertinya Nyonya ini, bukan orang jahat.


"Nyonya. Saya dimana?" Tanya Lovie.


Sewaktu terbangun, ia menoleh ke sekitar ruangan ini. Tidak seperti kamar yang ada di hotel. Ruang kamar yang tampak sederhana. Bahkan, lebih sederhana dari kamar yang ada di rumah Papinya.


"Kamu di rumah orang tua Richi." Jawab sang Nyonya. Cara bicaranya begitu lembut, membuat Lovie merasa gelisah. Lovie merasa berdebar, saat mendengar kata orang tua.


"Apa, Nyonya Ibunya Kak Richi?" Tanya, Lovie terlihat begitu polos.


Sang Nyonya menjawab dengan suara lembut "Iya, aku Ibunya Richi."


"Nyonya, maafkan saya. Saya sudah tidak sopan. Tolong maafkan saya. Saya yang salah. Saya tidak berniat untuk datang dan tidur disini." Ucap Lovie dan ia merasa takut, kalau orang tuanya akan mengetahui tentang aplikasi BoX Tampan.


"Tidak apa-apa. Aku yang salah. Aku sudah bersalah sama kalian berdua." Ucapnya, sang Nyonya ini.


Sang Nyonya yang berpenampilan biasa. Hanya mengenakan blouse lengan pendek dipadukan dengan celana kulot panjang.


Demi memainkan peran ibu yang telah tersakiti. Nyonya Nancy, sudah tampil lusuh dan tanpa riasan bedak di wajah cantiknya.


"Panggil saya, Ibu Nancy."


"Baik Ibu Nancy." Lovie melihat wajah yang sudah pucat dan tatapannya telihat begitu sendu.


"Aku ini hanya seorang Ibu. Yang ingin melihat cucuku." Ucapnya begitu adanya dan Lovie masih menatapnya.


Lovie yang tampak duduk di atas kasur dan bagian kaki masih tertutup oleh selimut katun.


"Aku ingin putraku Richi menikah dan punya anak. Tapi, aku tidak tahu caranya. Richi tidak mau menikah. Bagaimana, aku bisa memiliki cucu. Kemudian, beberapa hari yang lalu. Seseorang menyarankan aku, agar mendaftarkan putraku di biro kencan. Supaya, putraku bisa menghamili gadis itu yang di aplikasi. Demi cucuku." Hikss. Sudah menangis. Lovie melihat wajah itu, ia turut berkaca-kaca.


"Ibu ingin, Kak Richi menghamili aku?"


"Iya. Kamu bilang, kamu hanya ingin hamil. Dari situ aku langsung sepakat. Aku membuat kalian berkencan di hotel. Agar kalian bisa membuat anak. Tapi, Richi menyalahkan aku. Aku sakit, aku sakit, aku sakit gagal." Hiks. Hiks.


Hoho ho ho Tangisnya tersedu-sedu dan Lovie turut menangis.


"Ibu sakit gagal ginjal?" Tanya Lovie.


Sang Ibu hanya menangis dan Lovie meraih Nyonya Nancy ke dalam pelukannya.


"Mamiku juga sakit gagal ginjal dan sudah meninggal. Aku akan berusaha membuatkan cucu untuk Ibu. Aku janji."


Huo hoo hoo (Suara tangisnya pecah)


Kedua perempuan yang menangis dan suara itu sudah membangunkan Daddy dan Richard.


Huaa hhooo. Semakin merdu suara tangisan mereka.


Semalam, Daddy Nicholas mengatakan kepada Mommy Nancy, kalau Lovie akan menginap di rumah mereka.


Daddy Nicholas juga bercerita, kalau Richard telah memperhatikan gadis kecil ini.


Dari situ, Mommy Nancy tidak mau gagal lagi, tetap pada rencananya. Menjerat gadis kecil ini, agar menaklukan putra semata wayangnya.


"Kamu mau? Jadi ibu dari cucu-cucuku?"


"Iya. Saya mau. Saya janji. Tapi, Ibu jangan meninggal dulu seperti Mami."


"Terima kasih."

__ADS_1


Kedunya saling menatap, Nyonya Nancy. perhalan jadi tersenyum. Meski masih menangis dan tangan kanannya telah mengusap rambut Lovie.


"Saya sampai sekarang masih menyesal. Saya belum bisa membuat Mami bangga. Saya tidak pernah mendapatkan juara, padahal Mami sudah mengajari saya. Saya tetap tidak sepintar Mami."


"Memangnya, mami kamu sudah meninggal?"


"Iya. 3 tahun yang lalu. Mami meninggal karena sakit gagal ginjal."


"Aku turut berduka. Semoga Mami kamu bahagia di atas sana. Kamu gadis yang baik.


"Terima kasih." Ucap Lovie dan ia perlahan juga telah tersenyum.


"Ibu, saya harus bagaimana? Papi saya, tahunya saya hamil dan saya tidak hamil. Saya kabur dari Papi, saya tidak suka dengan keluarga baru Papi. Keluarga baru Papi, jahat padaku."


Lovie yang tampak meluapkan keluh kesahnya. Nyonya Nancy melihat sorot mata yang penuh kekecewaan.


"Bagus. Dengan begini. Aku tidak akan melepaskannya. Sebelum dia hamil, dia harus disini. Aku akan mengatur pernikahannya."


"Langkah pertama, aku harus bawa dia ke dokter, memeriksakan rahimnya. Lalu, aku tidak akan membiarkan dia pulang ke rumahnya, sebelum dia hamil. Aku memang rakus." Batinnya Nyonya Nancy sudah senang.


Ada-ada saja ini madam satu. (Bayangin saja seperti Emak-emak, yang di drakor..🤭)


Setelah mandi, dan berganti pakaian.


Saat ini sudah jam 7 pagi. Keluarga Presdir Nicholas, telah berkumpul di ruang makan.


Sarapan pagi, dengan menu simple, roti.


Cukup sederhana dan tidak merepotkan, itulah dua pria menawan yang di rawat Nyonya Nancy.


Kebetulan, di rumah yang ini, tidak ada pembantu. Kecuali, rumah mewah yang ada di seberang halaman depan.


Ada rumah mewah nan megah, itulah rumah Presdir Nicholas. Maklum saja, meski rumah tua nan sederhana, namun rumah ini milik kedua orang tua Nyonya Nancy. Jadinya, harus tetap dijaga dan dihuni. Mereka, seringnya malah tidur di rumah ini.


Meski tidak semewah rumah yang lain, namun rumah ini nyaman sekali. Ada pohon-pohon yang masih setia hidup bersama mereka.


"Selamat pagi Ibu Nancy."


"Selamat pagi Lovie. Sini, duduk dekat Ibu." Nyonya Nancy begitu senang, saat memperpesilakan Lovie untuk duduk di sebelahnya.


"Terima kasih." Balas Lovie, setelah itu, menarik kursinya.


Duduk di sebelah Richard dan Presdir Nicholas sudah tampak memandanginya.


Gadis belia dan telihat cantik manis. Itu dari sudut pandang Presdir Nicholas saat melihat Lovie, ketika sudah berhadapan langsung dengannya.


"Lovie, ini suami saya. Bapaknya Richi."


"Selamat pagi Bapak. Maaf, saya sudah merepotkan keluarga Bapak. Terutama Kak Richi." Ucap Lovie dan suaranya terdengar begitu manis.


"Selamat pagi, selamat bergabung di keluarga kami. Kita disini hanya bertiga. Sekarang, ada kamu. Terasa lengkap sudah keluarga kecil ini."


Mendengar itu, Lovie bingung. Dia tidak sepintar Talita, namun cukup memahami ucapan itu.


"Terima kasih." Balas Lovie dan ia tersenyum.


Beberapa saat kemudian.


Richard sudah selesai makan sandwich dan secangkir kopi latte hangat. Ia bangkit dari kursi.


"Dadd, aku harus ke kantor."

__ADS_1


"Sudah, libur saja dulu. Ini, kamu ada tamu."


"Aku sekalian mau mengantarnya pulang. Aku mau siap-siap dulu."


Sang Mommy kembali berakting, air bening membasahi pipi. Lovie melihat air mata itu, dan ia juga selesai makan. Meraih orange jus yang ada di meja. Meminum itu, dan matanya masih tertuju kepada Nyonya Nancy.


"Ibu kenapa menangis?"


Richard tahu, kalau sang Mommy sering memainkan perannya dengan cantik. Bahkan, orang lain akan membantu Mommy. Agar, rencananya berhasil.


Richard berpura-pura tidak melihatnya, ia mengambil sepatu di atas rak dan segera memakai di sofa ruang keluarga.


Dari ruangan itu, Richard akan bisa melihat sang Mommy yang berulah lagi. Setiap dia pulang, itulah yang terjadi antara dirinya dan sang Mommy.


Membahas pernikahan, soal menantu, dan tentang cucu.


Richard mendesis, "3, 2,1 action!"


Hoo. hooo... Sang suami, menjadi bantal empuknya.


"Daddy, usia istrimu sudah 60 tahun. Neneknya Lovie baru 67 tahun, miris sekali nasibnya istrimu. Harusnya, aku juga sudah menjadi nenek."


Richard tampak menghembuskan nafasnya.


"Daddy juga sudah 62 tahun. Daddy juga ingin melihat cucu kita. 3 tahun lagi, Daddy ingin pensiun, biar bisa bermain sama cucu. Bermaain sepak bola, main pedang-pedangan, tembak-tembakan. Oh, cucuku."


Kali ini, sang Daddy mendukung Mommy.


"Yes! Akhirnya Daddy berpihak padaku." Batin Mommy senang.


Sang Daddy, juga bisa mengeluarkan air mata buaya, dan Lovie melihat itu jadi turut bersedih.


"Ibu, Bapak, jangan menangis. Kak Richi sudah besar. Dia pasti akan segera menikah."


Huuaa hoo hoo hikss, kedunya berpelukan dihadapan Lovie.


Lovie menoleh ke arah kiri, Richard yang tak pandai mengikat sepatu, rasanya kesusahan. Setiap harinya, ada Doddit dan hari ini Doddit stay di kantor saja.


Lovie merasa Richard sedang sedih dan merasakan kesedihan orang tuanya.


Lovie mendekati Richard, ia langsung berlutut dihadapan Richard dan tanpa merasa canggung, tangan Lovie sudah bergerak mengikat tali sepatu Richard.


Kedua orang tua Richard bisa melihat itu, ada perasaan yang susah dipahami. Namun, gadis kecil dihadapannya, dalam hitungan detik, tampak mengalihkan perasaannya.


Perasaan yang kesal akan tindakan sang Mommy, namun saat ini sudah tergantikan dengan perasaan manis, dari sosok gadis belia yang polos.


Lovie juga memakaikan dasi, Richard yang malah merasa canggung, ketika kedua wajah itu bertemu lebih dekat.


"Lain kali, beli sepatu yang mudah dipakai. Biasakan serba mandiri. Jangan bergantung kepada siapapun."


"Ha, gadis kecil ini menasehati aku?"


"Sekarang, kamu sudah tahu, siapa aku. Aku akan mengembalikan uangmu dan segera mengantarmu pulang."


"Sikap macam apa itu, pria dewasa yang menghindari masalah. Aku yang muda, juga mengerti situasi orang dewasa."


"Lovie menceramahi aku?"


"Kak Richi tidak perlu mengantar aku pulang. Aku mendatangi kamu dengan niatku dan aku akan pulang sendiri sesuai keinginanku. Terima kasih, semalam sudah menjaga aku. Aku pamit."


Lovie kembali ke kamar, untuk mengambil tasnya.

__ADS_1


Nyonya Nancy dan Presdir Nicholas, juga turut merasakan hatinya Lovie.


"Richard, kejar dia!" Seru Daddy.


__ADS_2