Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Anaknya Mama Lovie


__ADS_3

"Selamat pagi, matahariku." Lovie yang membuka tirai kamar.


Suasana pagi di kediaman Presdir Nicholas.


Mentari baru saja memancarkan sinarnya dari ufuk timur. Terlihat langit yang cerah dan segar.


Udara pagi yang disertai embun tampak membasahi kaca jendela kamar.


Ada seorang Mama muda, yang sedang kegemesan. Saat, melihat bocah tampan yang kakinya sudah berada di wajah sang Papa.


Tidur bertiga di atas tempat tidur yang berukuran besar dan hal ini sudah terbiasa. Tidur-pun sudah tidak karuan, kepala dimana, kaki dimana, dan selimut dimana. Gaya tidur Papa dan anak ini, membuat Mama Lovie menjadi gemas.


"Latte sayang, selamat pagi."


Suara Mama Lovie, juga masih imut sekali dan mencium gemas pipinya.


Mama Lovie berusaha membangunkan putra tampannya ini. "Latte sayang, bangun nak."


Mama Lovie mengelus rambutnya dan kembali menciumi pipinya, agar segera bangun dari tidurnya.


"Latte sayang, ayo bangun. Sudah pagi." Ucapnya manis sekali.


Latte, malah meraih selimut dan masuk ke dalam selimut.


"Sayang, nanti kamu dicariin suster. Ayo bangun."


Papa Richard masih tertidur pulas. Sepertinya, tidak mendengar suara istrinya, yang sedang membangunkan putra tampannya.


Yaps!


Itulah kebiasaan malamnya, Latte.


Selalu terlihat perfect, namun ketika mimpi buruk, ia jadi terbangun dan takut tidur sendirian. Akhirnya, berlari ke kamar orang tuanya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu, Mama Lovie bangkit dari kasur dan segera membuka pintunya.


"Sayang, kamu sudah bangun."


"Pagi Mama."


"Pagi sayang."


Mama dan anak saling mencium pipi.


Lily yang masih memakai gaun tidurnya dan terlihat kucel ketika bangun tidur. Rambut terurai dengan berantakan. Masih tampak mengantuk dan berjalan sambil mengucek mata kanannya.


"Papa."


Mama Lovie yang masih gagang memegang pintu, menunggu anaknya yang satu lagi.


satu


dua


tiga


Langkah kaki, berlari mendekat ke arah kamar orang tuanya.


"Pagi Mama."


Lucas mencium pipi kiri sang Mama.


"Pagi sayang."


Sang Mama membalasnya dengan mencium pipi kanannya.


Lucas lanjut berlari.


Hanya dia yang bisa membangunkan Latte. Karena, Latte ini gengsinya gede. Apalagi kalau bersiap dan berangkat sekolah sudah didahului oleh Lucas, dia tidak akan terima.


"Latte, aku masuk ya." Lucas masuk ke dalam selimut.


"Emm.Em," Rengeknya. Kaki-pun turut menendang.


Lalu, si gadis kecil itu, asyik mendekap dada sang Papa.


"Selamat pagi Papa."


Perlahan sang Papa terbangun dan melihat tuan putri kecilnya sudah nemplok di dadanya.


Sang Papa mencium rambutnya.


"Lily, kamu nanti minta keramas sama suster. Rambut kamu sudah lepek."


"Maunya mandi sama Mama."


Sang Mama hanya menatap dari sofa, karena menerima panggilan telephone dari sang Nenek.


Setiap pagi, Nenek tuanya selalu telephone, menanyakan kabar para cucunya ini.


"Latte."


"Iya."


"Besok, aku mau ada kegiatan out bound."


"Terus?"


"Aku bakalan pergi dua hari."


"Iya. Aku nggak akan mencari Kak Lucas."


"Kamu pasti senang selama aku pergi."


"Nggak ada saingan. Aku juga nggak suka."


"Kalau begitu, aku akan minta Mama sama Papa ikut kegiatan."


"Aku sama Lily, gimana?"


"Ikut juga. Nanti kita bisa out bound keluarga."


"Terus, sekolahku gimana?"


"Setelah sekolah. Nanti bisa nyusul."


"Iya. Aku mau. Nanti aku bilang dulu sama Nenek Nancy."


Lucas hanya diam, Latte selalu saja mengatakan tentang Nenek Nancy.


Bocah ini, hanya tahu kalau dia anaknya Papa Richard dan Ibunya meninggal sewaktu melahirkan dirinya.

__ADS_1


Lovie dan Richard, meski mereka sudah menjadi orang tua sah dari Lucas. Tetapi dalam kartu keluarga Richard. Lucas hanyalah anak angkat, dari luar negeri.


Di pengadilan Shindong, dokumen resmi dari luar negeri tidak bisa diterima.


Kecuali, kalau Jihan dan Richard memang menikah, hal itu bisa dilampirkan. Namun, lain halnya dengan anak yang lahir dari Ibu warga asing dan hasil titip benih.


Di Shindong hal itu masih sangat tabu. Untungnya, tidak diliput sama media lokal. Jadi, sampai sekarang, Lucas statusnya anak angkat.


Apalagi, di surat nikah Richard dan Lovie. Usia Lovie masih sangat muda. Hal itu juga memberatkan, bila Lucas ditulis anak mereka berdua. Mengingat usia Lovie, belum cukup umur saat Lucas lahir ke dunia.


Surat kelahiran Lucas sendiri, tertulis nama Ibu yang melahirkan.


Itu juga karena pernyataan profesor, yang melakukan proses yang sangat sensitif itu.


Yang jelas, orang-orang yang mengenal Richard, memang tahunya Lucas ini anak angkat.


Meskipun Doddit tahu aslinya, dia tetap tutup mulut. Begitu pula dari keluarga Jihan. Ini, juga menyangkut masa depan Lucas.


Lucas, juga tetap menganggap Ibu kandungnya sudah meninggal dan sekarang Mama yang sangat menyayanginya adalah Mama Lovie. Tidak mengenal, yang namanya Mama Jihan.


"Kak Lucas, ayo kita mandi bareng."


"Di kamarku saja."


"Nggak mau. Aku khusus mengajak Kak Lucas. Aku nggak akan nakal."


Kepala Papa Richard masuk ke selimut tebal itu, jadi menggoda. "Hayo?? Kalian punya rencana apa? Papa kenapa nggak diajak?"


"Mandi bareng." Jawabnya Lucas polos.


Latte berkata "Kak Lucas mau out bound."


"Out bound? Kapan? Kenapa Papa tidak tahu?"


Mama Lovie menarik selimut tebal itu, semua jadi menatap ke arah sang Mama.


"Besok ada acara out bound ke Donghae. Mama akan menamani Lucas."


Latte yang berada di dekat sang Mama. Secepatnya, memegang lengan tangan sang Mama.


"Mama, aku ikut ya. Aku iku dong. Aku juga mau ikut."


Mama Lovie berkata "Emh, gimana ya. Boleh nggak ya?"


Lily berkata "Aku juga ikut. Aku mau ke Donghae. Aku mau ajak Violla. Mama, aku ikut."


Papa berkata "Terus, nanti Papa sama siapa? Kalau kalian semua ikut ke Donghae.


"Papa juga ikut dong. Ayo, Papa juga ikut ke Donghae. Pasti teman-temanku juga bersama Papanya." Pintanya Lucas dan berdiri memeluk sang Papa.


Papa Richard duduk di tengah, tuan putri Lily juga sudah ada di pangkuannya.


Lucas memeluk sang Papa sambil berdiri menatap sang Mama. "Mama. Semua harus ikut. Jangan cuma sama Mama."


"Iya. Kamu kemarin sudah bilang sama Oppah Benny dan Ommah Jess. Mereka juga bersiap ke Donghae. Jadi, setelah selesai out bound, kita pulang ke Villa."


"Yeyeye, asyik. Aku mau ajak Violla." Lily sudah berloncat-loncat di atas kasur.


Papa Richard berkata "Sana, buruan pada mandi. Hari ini kalian sekolah dulu. Acaranya masih besok."


Lily mengecup pipi sang Papa "Iya Papa. Aku mau mandi."


Latte dan Lucas sudah berlari ke kamar mereka masing-masing. Tadinya, ngajak mandi bareng. Malah endingnya, balapan mandi.


Lily loncat dari tempat tidur dan segera menghampiri sang Mama.


Lily melambaikan tangan kirinya "Daadaa Papa, aku mau mandi dulu."


Papa Richard, jadi merebahkan badannya lagi.


Tarik selimut lagi, 10 menit cukup untuk meregangkan otot-ototnya. Setiap hari, ada saja yang membuatnya jadi gemas.


Bukan hanya anak-anak, tapi istrinya juga sangat menggemaskan.


Setelah selesai memandikan Lily. Mama Lovie kembali dan melihat suaminya yang tertidur.


"Kak Richi, kenapa tidur lagi? Apa, pagi ini nggak ada pekerjaan penting??"


Richard meraba-raba di sekitarnya dan menangkap tangan istrinya.


"Pekerjaan pentingku ada disini."


"Emh, aku juga malas sekali."


Lovie kembali ke kasur dan mereka jadi berpelukan.


"Aku yang akan mengantar Lily." Ucapnya Lovie.


"Aku akan ke sekolah Latte. Kemarin, gurunya telephone. Mau ada olympiade matematika untuk anak usia dini. Latte akan diikut sertakan, tapi aku belum menyetujuinya."


"Terserah Latte saja, gimana maunya."


"Oke Mama. Aku juga ingin dimandiin sama Mama." Papa Richard yang sudah menggoda istrinya.


"Kalau nakal, Mama cubit."


"Galak banget, Mamaku ini. Cuma minta dimandiin saja malah mau dicubit." Rengeknya.


Lovie tersenyum, "Ayo buruan mandi. Kita nanti terlambat ke sekolah anak-anak."


"Iya sayang, hanya beberapa menit saja."


Hish, bahasanya Papa Richard bisa saja. Bilang saja, minta jatah vitamin dengan gairah manja.


Akhirnya, suami tampan ini mengangkat istrinya, ke kamar mandi.


Sesederhana inikah hubungan mereka. Jarang sekali menghabiskan waktu di luar meskipun sebenarnya bisa. Tetapi, lebih berharga waktu di rumah, bersama anak-anak dan orang tuanya.


Kedua orang yang menyandang status suami istri. Tengah mandi bersama, di bawah gemercik shower, yang sudah membasahi tubuh mereka berdua.


Ssshh,


Keduanya saling menatap, cukup lama saat saling pandang memandang. Tangan kiri Richard menarik pinggang Lovie dengan satu hentakan.


Degh!


Bibir imut yang basah karena air yang berjatuhan dari atas, leher putih yang indah jadi terlihat lebih segar.


Dua bukit kembar nan sintal, padat dan berisi. Begitu bulat dan sangat kenyal. Tampak dalam satu genggaman tangan suami nakalnya.


Bibir-pun mendessih seperti ular, seshh.


Keduanya saling berciuman dan melummat bibir dengan manisnya. Sentuhan demi setuhan dengan jemari nakalnya, telah dirasakan oleh keduanya.

__ADS_1


Usia matang Papa tampan dan usia Mama muda ini juga baru menginjak dewasa. Semakin menggairahkan, di setiap waktu berduaan.


Emmh!


Tiada henti mencium dan mengulumnya.


Apa yang mereka lakukan selain mandi??


skip!


Othor nggak tahu. Othor nggak mau bintittan. Apalagi, mereka lagi mandi. Nggak boleh ngintip yaw.


Yuk jangan traveling dulu. kembali ke cerita keluarga RiLovA.


Pagi di ruang makan, ada keluarga Rilova, dan keluarga Nuca.


Lucas duduk di sebelah kiri Presdir Nicholas dan Latte duduk di sebelah kanan Nyonya Nancy.


Lalu, di seberang meja, ada tuan putri Lily yang duduk di antara Mama dan Papa.


Pelayan tengah melayani makan pagi keluarga Rilova dan keluarga Nuca.


Menu pagi sesuai keinginan mereka masing-masing, ada roti gandum, sandwich keju, ommelet, kentang panggang, bubur tim dan spaghetti bolognese.


Teh bunga krisan tanpa pemanis untuk Mama Lovie dan Kopi latte rendah gula untuk Papa Richard.


Anak-anak memilih jus jeruk. Sedangkan Kakek Nenek tampak menikmati teh long tanpa pemanis.


"Lily, buburnya harus dihabiskan." Ucapnya Mama Lovie.


Lily cemberut, "Kenyang."


"Oke. Mama yang akan habisin ini. Semalam kamu pasti kekenyangan makan mie instan di dapur."


Lily yang merasa salah, ia menutup mulutnya dan sudah mingkem.


Papa Richard pura-pura saja tidak tahu apa-apa.


Semalam dari kamar Lucas, Lily ingin makan mie instan dan sang Papa jadi mengajaknya ke dapur, lalu membuatkan mie instan untuknya


Nenek Nancy berkata "Lovie, biar Ibu yang mengatar Lucas ke sekolah. Kamu bisa mengantar Lily. Kalau mengantar Lily dulu, nanti Lucas bisa terlambat."


Mama Lovie tersenyum, ia berkata "Baik Ibu."


Papa Richard menoleh ke arah putra kembar "Latte, Papa tunggu kamu di mobil."


"Oke Papa."


Papa Richard paham, dari pada nanti jadi merembet kemana-mana. Lebih baik pergi duluan.


Presdir Nicholas mengelus rambut Lucas, beliau berkata "Lucas, besok Kakek mau ikutan out bound. Sekalian Kakek nostalgia mainan lumpur sama kerbau."


"Kakek pernah mainan lumpur, dimana?"


"Dulu Kakek sama seperti kamu. Ada kegiatan sekolah. Dulu di Donghae juga. Dekatnya ada air terjun, bagus banget."


"Benarkah? Tapi guruku cuma bilang, nanti flying fox dan menginap di tenda."


"Iya. Nanti Kakek akan temani kamu. Kakek juga jago manjat. Kakek juga bisa naik tali tambang dan meniti sampai seberang. Kakek juga hebat menangkap ikan."


Lovie melihat keseruan sang Bapak mertua, yang bercerita kepada Lucas.


"Bapak. Besok, biar saya yang menemani Lucas di Bus. Yang lain, tinggal menyusul saja. Papi dan yang lain, hari ini juga akan berangkat duluan, untuk bersih-bersih Villa."


"Lovie, kamu lebih baik menjaga Latte dan Lily, biar Bapak dan Ibu yang ikut di Bus." Ucapnya Ibu mertua, tegas.


Lovie masih tersenyum, ia berkata "Baik Ibu. Terserah Bapak Ibu saja. Lucas, pasti senang bersama Kakek dan Neneknya."


Sang Mama jadi menoleh ke wajah Lucas, "Gimana, Lucas senang?"


"Iya Mama. Aku senang. Mama sama Papa juga harus cepat menyusul kesana." Lucas sudah terlihat sangat bahagia.


"Oke. Mama dan Papa, juga adik kembar akan menyusul Lucas."


"Yes. Aku sayang Mama." Balasnya Lucas dan terlihat senang sekali.


"Mama juga sayang kamu. Mmuach!"


Mama Lovie mulai berdiri, dan berkata kepada Lily "Lily, sayang. Ayo kita berangkat ke sekolah. Ayo, pamit dulu sama Nenek dan Kakek."


"Oke Mama."


Secepatnya turun dari kursi dan mencium tangan sang Kakek dan berganti ke Nenek, lalu mengambil tasnya dari suster.


Latte juga segera mengambil tasnya dan balapan dengan adik perempuannya.


Lucas, juga sudah bersiap ke sekolah.


Empat mobil dan berjalan terpisah.


Mama Lovie, bersama Lily diantar oleh sopir perempuan.


Papa Richard bersama Latte, dan sudah diantar Doddit.


Lalu, Presdir Nicholas hendak ke kantor bersama Pak Rondi.


Sedangkan Lucas, untuk kali pertama duduk di mobil Nyonya Nancy.


Lucas hanya terdiam, saat Nyonya Nancy memakaikan sabuk pengaman kepadanya.


"Kamu takut sama Nenek?"


Lucas mengangguk.


"Baguslah. Kamu memang harus takut sama Nenek."


"Iya."


Mobilnya, melaju ke arah pusat kota Shindong.


Lucas kembali menoleh ke wajah yang selalu terlihat tegas. Jarang sekali, Nyonya Nancy tersenyum manis, apalagi tertawa di depan Lucas.


"Lucas."


"Iya. Nenek."


"Kalau nanti. Ada yang mengaku-ngaku, kalau dia Ibu kandung kamu, kamu jangan percaya."


"Iya. Nenek."


"Mereka itu, orang jahat. Yang suka menculik."


"Iya, Nenek."

__ADS_1


"Ingat kata Nenek. Ibu kamu sudah meninggal dunia dan kamu dirawat Mama Lovie. Lucas, anaknya Mama Lovie."


__ADS_2