
Pagi yang cerah, anak-anak berangkat ke sekolah. Lucas merasa senang, bisa bersama sang Nenek.
Nyonya Nancy juga menggandeng tangan kanannya, mengantarkan sampai ke kelasnya.
Sesampainya di depan pintu kelas "Nenek, ini ruang kelas Lucas."
Nyonya Nancy melihat pintu yang tertutup. Ada beberapa teman Lucas, yang berjalan masuk ke ruangan, kelas 4 SD.
"Iya. Kamu harus belajar yang rajin. Nenek mau menemui guru kamu."
"Baik Nenek."
Lucas mencium tangan sang Nenek dan masuk ke kelasnya.
Nyonya Nancy sudah tampak melamun, "Jihan akan segera kembali. Aku harus memasang tembok yang tinggi."
Nyonya Nancy sudah melihat, kalau Lucas sangatlah mudah diberi nasehat.
Benar, saat ini Jihan dan suaminya baru tiba di Bandara Internasional Shindong.
Jihan yang sudah menyandang status istri, dia juga tidak mengatakan kepada sang suami, kalau sudah punya anak hasil dari sewa rahim orang luar.
"Honey, apa kita akan pulang ke apartemen kamu?"
"Iya. Kita hanya hidup bertiga. Aku nggak mau bergantung kepada orang tua kamu."
Jihan tersenyum, suaminya yang dingin, galak dan posesif. Sudah masuk ke dalam hidupnya dan sedikit kesalahan akan fatal akibatnya.
Si pengacara Pedro, ternyata orangnya. Dia juga dijebak si pengacara tua yang dulu bekerja di Rich.
Pedro anak tiri si pengacara tua.
Si pengacara tua kalau sewaktu-waktu dirinya hancur. Beliau tetap bisa memasukan anaknya ke Rich, tanpa orang tahu.
Jihan-pun hidup sederhana dengan Pedro. Dia menemani Pedro untuk melanjutkan pendidikannya. Sampai nantinya Pedro menjadi hakim di pengadilan Shindong.
Pedro menghentikan taxi. Jihan masih terdiam. Anaknya yang duduk di atas koper digital, hanya memandangi kedua orang tuanya ini.
"Ethan, kita akan pulang ke apartemen."
Anak kecil itu berkata "Iya."
Jihan, jadi menghembuskan nafas panjangnya.
Meskipun begitu, dia merasa disayang suaminya dan tidak mau membuat kesalahan apapun.
5 tahun lalu, saat menangani masalah Richard, Pedro akhirnya putus dengan Kakaknya Damian.
Pedro, terlihatnya memang dingin. Namun, dia bukan pria yang tidak bisa perhatian dengan istri cantiknya.
"Ayo, naiklah." Tangan itu masih memegang pintu taxi, setelah mendudukan anak tampannya.
"Terima kasih." Balasnya Jihan dan diiringi senyuman tipis.
Jihan menjadi sosok yang kalem, setelah hidup bersama Pedro Karirro.
Taxi putih itu, segera melaju ke apartemen azurra golden star.
Bukan apartemen kelas C, yang seperti diceritakan oleh Nyonya Bianca.
Jihan malah tidak pernah tahu. Kalau tempat tinggal suaminya, apartemen mewah dan termasuk kelas A.
Setibanya di apartemen itu, sang suami juga tidak banyak bicara. Jihan, hanya mengikuti langkah kaki suaminya.
"Mama, apa kita akan tinggal disini?" Tanya putranya.
"Iya sayang, kita akan tinggal disini."
Ethan yang menyukai tempat ini dan lebih luas dari tempat tinggalnya waktu di luar negeri.
Sangat mewah, serba digital dan terlihat bersih. Meskipun lama tidak ditempati, ada petugas kebersihan yang selalu menjaga apartemen milik suaminya.
Pedro tengah kembali di Shindong dan sudah mendapatkan posisi terbarunya, sebagai Hakim.
"Honey, apa disini ada pelayan?"
Predro berkata "Bukannya, kamu sudah terbiasa melayani aku dan menjaga Ethan."
"Bukan begitu, tapi aku hanya merasa aneh."
"Kamu ingin kembali seperti dulu??"
Meski suara itu pelan, tatapan Predro kepada istrinya sangatlah tajam.
"Emh, tidak. Aku tidak akan bekerja sebagai model. Hanya saja, kalau Papa kemari. Aku jadi merasa aneh. Gimana nantinya pendapat orang tuaku kepada suamiku ini." Jihan memasang muka dengan sedikit senyuman di bibir sensualnya.
"Jihan. Aku tidak masalah, apa pendapat mereka kepadaku. Aku suamimu, aku yang .."
Belum sampai berkata lagi, Jihan sudah mengecup bibir manis suaminya.
"Tidak perlu kamu jelaskan."
Jihan pergi menyusul putranya, yang asyik lompat-lompatan di kasur.
Di kantor Rich, Bos Richard juga baru tiba di ruang kerjanya.
Melepaskan jas dan meletakan di stand hanger yang ada di ruangan itu.
"Selamat pagi Bos." Sapa Juno.
"Iya."
Bos Richard jadi duduk di kursinya dan menatap Juno.
Sang sekretaris tampan ini, sudah membawakan agenda hari ini.
"Siang ini?" Bos Richard menyernyitkan dahi setelah tahu agenda hari ini.
"Bagaimana Bos?"
"Apa kita meeting di Hanz?"
"Bukan di Hanz, My Boss. Tapi dia hotel anda. Di Hotel DeNuca jam makan siang."
"Jadi, pihak Hanz mengutus orangnya dan aku bersama Nona Marginsha. Bagitu maksud kamu, My secretary?"
"Benar sekali. Nona Marginsha juga mengingap di Hotel anda. Jadi, lebih baik pertemuan penting ini, ya di Hotel anda saja, My Boss."
"Terserah kamu saja."
Bisnis kali ini, bekerjasama dengan Hanz, dan dari pihak luar ada sang pemilik brand terkenal.
Juno pergi dan Richard belum tahu siapa wakil dari Hanz yang diutus oleh sang Presdir.
Di sekolah Lily, bocah kecil ini tidak mau ditinggal sang Mama. Akhirnya, sang Mama tidak mengajar dulu. Harusnya, sang Mama hari ini sudah kembali mengajar di Taman Ceria.
__ADS_1
Sekolahan yang didirikan pemerintah kota Shindong dan tidak dipungut biaya.
Pengajarnya juga suka rela, dan hanya ada beberapa guru resmi yang memang dibayar dari pemerintah kota Shindong.
Sekolah itu bukan hanya untuk anak usia dini, melainkan dari usia 5 sampai 12 tahun. Kebanyakan, yang bersekolah disana adalah anak-anak dari yayasan anak yatim piatu dan yayasan anak terlantar.
Lovie, memang sudah mengajar di Taman ceria selama dua tahun terakhir dengan suka rela.
Awal masuk mengajar juga karena tugas dari kampus. Lovie medapat tugas mengajar di Taman Ceria. Namun, malah jadi betah dan merasa nyaman bila mengajar disitu.
"Tangan ke atas. Tangan ke samping. Lalu ke pinggang. Ayo kita berjinjit dan berputar." Serunya guru Lily saat mengajar kelasnya.
Tarian, dengan tema Angsa menari.
Mama Lovie hanya memandangi putrinya dan duduk di atas karpet karakter.
"Yeyeeye." Semua murid senang.
"Ayo, ayo, kita merentengkan kedua tangan dan mengepakan tangan kita. Seperti angsa yang akan terbang."
Lily begitu senang menggerakan tangannya.
"Aku akan jadi angsa terbang."
Begitu riang gembira dan berputar, kembali berjinjit, kemudian angsa terbang.
"Hore,.... Semuanya bisa. Bu guru ulangi lagi yaa." Seruan gurunya.
Berulang-ulang sang guru membimbing anak-anak imut ini. Lily dan Violla tampak senang sekali.
Papa Rey yang duduk di kursi luar ruangan ini, ternyata sibuk telephone dengan sekretaris sexy.
"Thalia, aku masih menemani Violla."
"Tapi Bos. Ini sangat penting."
Papa Rey, menoleh ke arah ruangan. Melihat putrinya yang tampak senang menari. Kemudian, menoleh ke arah Mama Lovie.
"Oke. Aku akan segera kesana."
"Baik Bos."
Sang sekretaris ini, juga selalu mencari kesempatan untuk bersama bosnya.
Papa Rey, masuk ke ruangan. Tampak ruangan dengan dinding kaca. Ia-pun berjalan mendekati Lovie.
"Lovie."
"Emh, iya. Ada apa?"
"Aku ada urusan penting di kantor. Aku mau titip Violla sama kamu. Tolong, jagain Violla sebentar saja. Nanti setelah kerjaanku selesai, aku akan menjemput Violla."
Mama Lovie tampak mengangguk, ia berkata "Iya. Pergilah. Aku akan menjaga keponakan cantikku dengan aman."
"Tasnya Violla di lokernya. Jangan lupa kasih permennya kalau dia rewel."
"Iya, aku mengerti."
Papa Rey pergi dan melambaikan tangan kepada putrinya.
Violla tidak menghiraukan Papanya yang pergi, ia tetap asyik menari bersama teman-temannya.
Satu jam kemudian.
"Aku mau sama Papa." Rengekan Lily. Setelah tadi melihat seorang Papa, yang mendatangi putrinya di sekolah ini.
Violla yang duduk di sebelah Lily, ia merangkul Lily, "Lily, Papaku juga kerja. Papa kita sama-sama kerja. Kita disini saja. Biar Papa kerja dulu."
"Violla, aku kangen sama Papa."
Ya, begitulah sosok Lily, yang mudah baperan dan semua yang dia inginkan harus segera terlaksana.
Mimik wajah yang sudah manyun manja. Bibir imutnya juga mengerucut.
Muka ditekuk, tetap terlihat manis. Gemas sekali saat bibirnya itu mengerucut.
Perlahan, kedua mata cantiknya juga sudah mulai berkaca-kaca.
Baru jam 9 pagi dan Lily sudah merengek ingin bertemu Papanya.
"Papa."
Hikss,
"Papa."
Violla, berkata "Iya, iya. Ayo aku antar kamu bertemu Om Richard."
Violla mengandeng Lily, sampai keluar pintu gedung sekolahnya.
Jam istirahat dan kedua anak ini, semakin baper.
Violla tidak mau melihat Lily menangis terus, ia masih menggandeng tangan kanan Lily.
"Ayo."
Mama Lovie hanya mengawasi kedua anak ini, akan sampai kemana mereka pergi.
"Papa."
Sang guru, mendekati dua bocah ini.
"Sayang, kalian kenapa disini? Ayo masuk ke kelas."
"Papa." Ucapnya Lily, dengan tangis yang sesenggukan.
"Sayang, kita mau menyanyi bersama. Nanti, Bu guru akan menyanyikan lagu yang seru untuk kalian berdua."
"Aku mau Papa." Hikss, Lily.
Violla jadi turut menangis, Huaaa.
Tangisnya Violla, lebih nyaring lagi.
Mama Lovie melihat itu, dan sudah terbiasa begitu. Kemudian, mengambil tas kedua anak ini dan segera mendekati mereka.
"Bu guru, saya akan mengajak Lily dan Violla pulang."
"Baik Bu Lovie."
"Lily, Violla, ayo pamit sama Bu guru. Mama akan mengantar kalian bertemu Papa."
Lily mengusap air matanya, dan segera berpamitan dengan gurunya. Violla, juga melakukan hal yang sama.
Mereka, akhirnya pergi meninggalkan playgroup anak berbakat.
__ADS_1
Mama Lovie masih melihat wajah muram putrinya, "Hayo, kenapa Lily ingin bertemu Papa?"
Lily hanya diam.
Violla sudah duduk anteng dan tampak mengemut lollypop pelangi.
Di dalam mobil ini, tak ada suara kedua anak ini. Lily hanya diam dan kembali mengingat kalau Papanya bisa bersama perempuan yang lain selain Mamanya.
Lily, mengingat akan perkataan temannya.
Saat bersama teman di arena bermain. Temannya itu, didatangi Papanya. Namun, ada hal aneh yang Lily lihat.
"Lily, itu Papaku datang."
"Lexi, itu siapa yang bersama Papa kamu?"
Bocah ini, sangat pandai mengingat. Lily sudah mengenal Mamanya Lexi.
"Itu juga Mamaku. Kata Papaku, Mamaku ada dua."
"2 Mama??"
"Iya, aku pergi dulu ya. Daadaa Lily."
Lily saat mengingat itu, kembali membayangkan dengan pikiran buruknya.
"Papa!!" Jeritnya saat ini dan seketika menangis sejadi-jadinya.
"Sayang, kamu kenapa?"
Mama Lovie bingung dan tidak mengerti apa yang terjadi.
"Lily sayang. Cup sayang." Mama Lovie mendekapnya dan Lily masih menangis histeris tanpa sebab.
"Sayangnya Mama, kamu kenapa?" Berusaha menenangkan.
"Hoo, Hoo, Papa. Papa." Tangisnya Lily yang semakin tersedu-sedu.
"Iya sayang. Kita mau bertemu Papa."
"Papa nggak boleh Mama. Papa nggak boleh Mama."
"Apa sayang, Papa nggak boleh kenapa?"
Meski sudah di dekap Mamanya, Lily masih menangis. Akhirnya, Violla yang duduk di kursi depan samping sopir, Violla juga jadi ikutan menangis.
Sopir cantik ini, juga jadi bingung.
"Dessya, kita berhenti dulu saja."
"Baik Nyonya."
Dessya juga mencoba menenangkan Violla, yang menangis tapi masih mengemut permen pelanginya.
"Papa. Papa. Papa."
Violla juga ikutan merengek memanggil Papa.
Dessya berkata "Nona cantik, tenang ya. Saya akan mengantar Nona cantik ke kantor Sheen."
"Diem dulu ya. Kalau nangis terus malah nggak sampai-sampai."
Violla juga sudah terdiam. Lily masih sesenggukan namun tidak lagi histeris seperti tadi.
Bahkan, bukan cuma menangis, Lily sering kali meronta bila Mamanya yang menenangkannya.
Kecuali, kalau bersama Papanya. Meski menjerit dan berteriak ketika sedang menangis, Lily tidak memberontak kepada Papanya.
"Oke. Kalian yang tenang. Biar Tante Dessya bisa fokus nyetir mobilnya." Ucapnya Mama Lovie dan sopir cantik kembali melajukan mobilnya.
Setelah tiba di kantor Rich, Mama Lovie membawa putrinya memasuki gedung Rich.
Sedangkan Dessya, akan mengantar Violla ke kantor Sheen. Untuk menemui Papa Rey.
Lily, sudah digandeng Mama Lovie. Lily berjalan dengan muka masam.
Air mata itu masih membekas di wajah imutnya. Beberapa staff keamanan dan resepsionis juga melihat kedatangan tuan putri kecil ini.
"Itu, anaknya Bos Richard?"
"Iya. Sepertinya begitu."
"Waktu itu kemari masih bayi, sekarang sudah besar."
Mama Lovie menoleh ke wajah putrinya, "Lily, kalau mau bertemu Papa nggak boleh rewel. Kita di kantor tempat bekerja. Bukan di rumah atau di sekolah."
"Iya. Mama."
"Anak Mama, pintar."
Mama Lovie begitu gemas.
Setelah, elevator tiba di lantai paling atas.
Memasuki ruangan khusus CEO.
"Emmh, Nona kecil kemari" Doddit yang menyapanya.
Lily hanya diam dan tidak tersenyum padanya.
"Lebih dingin dari Bos Richard." Batinnya Doddit.
Mama Lovie bertanya "Kak Doddit, apa Papanya Lily ada di ruang kerjanya?"
"Bos Richard, masih di ruangan kerjanya."
"Lily, ayo masuk ke ruangan Papa."
"Waah, gawat. Nanti siang ada meeting penting di DeNuca. Apa Bos akan mengajak anaknya?"
Doddit yang bingung, karena dia sangat tahu watak bocah kecil yang satu ini.
Setelah tiba, di ruangan Papanya.
"Papa. Papa." Lily berlari ke arah Papa Richard dan segera memeluk Papanya.
Papa Richard bukannya menatap putri kecilnya ini, malah menatap ke istrinya. Hanya kode mata, tapi Mama Lovie juga cembetut dan menandakan kalau dia tidak bisa menenangkan putri cantiknya.
"Cantiknya Papa. Kamu kenapa lagi? Kamu tadi menangis?"
"Aku sayang Papa."
Lily dalam pangkuan sang Papa dan memeluk sang Papa dengan erat.
Mama Lovie menggunakan jarinya, untuk memberikan kode, kalau mau keluar sebentar.
__ADS_1
Belum dibalas oleh sang suami, istrinya tetap pergi. Suaminya hanya bisa pasrah dengan keadaan.
"Papa."