Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Ada Yang Marah


__ADS_3

Seorang Ibu yang datang, untuk meminta bantuan.


Papi Benny saat ini menemui beliau di ruang tamu. Mama Jessika dan sang Nenek turut duduk di ruang tamu.


"Benny, maaf kalau aku sudah datang malam-malam begini."


"Kak Monica ada perlu apa, sampai datang kemari?"


Keduanya saling menatap dengan perasaan gelisah. Mengingat akan keluarganya yang tersandung masalah, karena Damian yang telah menusuk Richard.


Monica, Ibunya Damian yang sudah seperti kerabat bagi sang Nenek.


"Monica, apa yang membuat kamu datang malam-malam begini?" Tanya sang Nenek.


Monica sosok Ibu rumahan, yang sangat jarang keluar rumah. Pasti ada hal yang penting, sampai mengharuskan beliau datang ke rumah ini.


Raut wajah yang tampak sendu, dari sorot mata juga terlihat penuh kegelisahan.


"Ini soal Damian. Aku tidak mau putraku di penjara. Benny, tolong bantu aku untuk menemui Lovie. Aku ingin, Lovie membujuk pacarnya, agar keluarganya mencabut tuntutannya kepada Damian."


"Kak Monica. Aku paham, tapi yang aku lihat. Kak Bram juga tidak mau meminta maaf secara kekeluargaan. Aku juga tidak bisa bicara dengan Kak Bram. Bahkan, Kak Bram sendiri tetap melanjutkan laporannya atas pemukulan yang dilakukan oleh Richard."


"Tapi, Pedro calon menantuku. Aku tidak mau, hal ini jadi masalah untuk Clarissa."


Papi Benny terdiam, Mama Jessika hanya seperti pendengar setia.


Jenny tampak menguping dari jauh, dan tidak mau mendekati Ibunya Damian.


"Kak, Jenny."


"Ssth, pergilah."


"Memangnya ada apa?"


"Ada tamu penting."


Jerry melihat sosok wanita berusia 48 tahun, dan sudah duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Bukannya itu, Mamanya Kak Damian."


"Ssth, jangan berisik."


Neneknya Lovie berkata "Monica, aku juga turut prihatin atas kejadian ini. Tapi, kita bisa apa. Suami kamu juga keras kepala."


"Ibu." Papi Benny memegang tangan sang Ibu, yang duduk di kanannya.


"Aku bicara apa adanya. Apa susahnya meminta maaf kepada pemuda itu. Toh, itu juga karena Damian masih labil. Dari pada anaknya yang masuk penjara."


"Ibu, tidak semudah itu bagi Kak Bram"


"Coba, kamu bicara sama Lovie. Biar Lovie yang menjelaskan kepada Monica." Ujar Nenek kepada putranya.


Ibu Monica tampak meneteskan air matanya. Memang benar, suaminya juga tidak mau mengalah. Malah ingin melihat seberapa hebat calon menantunya itu, yang menjatuhkan pengacara handalnya.


Sudah seperti ajang perlombaan dan Presdir Bram yang mengamatinya.


Sang istri, juga tidak bisa meminta kepada suaminya. Kalau sang suami sudah berkata A ya A, tidak bisa diganggu gugat.


Sampai sekarang, Damian mendekam di kantor polisi dan sidang akan dilakukan dalam waktu yang dekat.


Sebelum kasus ini, masuk dalam pengadilan, seharusnya masih bisa mencabut laporannya, pikirnya Ibu Monica.


Mari kita simak, obrolan Lovie dengan Richard, yang didengarkan oleh para orang tua itu.


Lovie yang turut duduk di ruang tamu. Ibunya Damian sangat berharap kepada Lovie. Agar bisa membujuk Richard dan keluarga Richard segera mencabut laporannya itu.


Mama Jenny, Nenek dan Papi juga turut mendengarkan nada sambungan pribadi di telephone.


"Hallo My Lovie sayang." Ucapnya Richard, saat menjawab panggilan Lovie.


"Hallo Kak, Kak Richi lagi apa?" Tanya Lovie.

__ADS_1


Para orang tua itu fokus memperhatikan Lovie dan mendengarkan suara Richard.


Panggilan di loudspeaker.


"Aku lagi kerja. Doddit datang bukannya menjaga aku, malah aku disuguhi berkas perusahaan."


"Owh, aku pikir Kak Richi lagi rebahan."


"Emh, kamu ada apa telephone ke nomor yang ini? Apa kamu sudah kangen sama aku?"


"Idih, Kak Richi Ge'Er."


"Emh, kebalik kayaknya. Aku yang udah kangen sama kamu."


"Nona cantik, Bos Richard sudah mala rindu, meriang!!" Suara Doddit ngakak, lalu mulutnya ditutup sama map yang dipegang oleh Richard.


"Ssth, jangan ikut campur."


"Owh, ada Kak Doddit juga. Aku pikir sendirian." Suara Lovie terdengar santai.


Tangan dan bibir Nenek memberikan kode, agar Lovie segera mengutarakan niatnya itu.


"My Lovie sayang. Kamu kenapa? Apa ada masalah di rumahmu?"


"Emh, iya. Aku ada masalah besar. Aku mau minta bantuan sama Kak Richi."


"Kamu minta bantuan? Kamu ingin aku datang menjemput kamu dan membawa kamu kabur dari rumah Papi kamu?"


"Iiih, bukan begitu. Ini soal Damian."


Mendengar kata Damian, perut Richard jadi terasa senat-senut, bahkan terasa nyeri lagi.


"Aduhh,"


"Kak Richi kenapa?"


"Kamu jangan mengingat mantanmu. Perutku jadi sakit."


"Minta dibebaskan?" Suara Richard terdengar pelan dan rasanya galau.


"Emh, iya. Apa Kak Richi bisa mencabut laporan itu dan membiarkan Damian bebas? Apalagi, Kak Pedro itu calon suaminya Kak Clarissa."


"Pedro? Siapa? Aku tidak mengenal yang namanya Pedro."


"Owh, dia pengacaranya Bapak."


"Nona Cantik, saya yang membawa Pedro kepada Presdir. Memangnya, kenapa? Apa ada masalah soal Pedro?"


"Ini Kak Doddit?"


"Iya ini saya Doddit, asisten pribadi yang ganteng maksimal dan selalu setia kepada Bos Richard."


"Emh, begini Kak. Aku mau bilang, soal laporan ke polisi. Ini soal Damian. Apa laporannya bisa cabut dan diselesaikan secara kekeluargaan?? Soalnya, Ibunya Damian meminta aku untuk membujuk Kak Richi. Aku bingung."


Ampun deh Lovie. Polosnya pakai banget. Tidak melihat ke sosok Ibu yang tengah bersedih ini. Untungnya, Ibunya Damian tidak peduli tentang tanggapan orang lain, yang terpenting putranya bisa terbebas dari jeratan hukum.


"Nona cantik. Soal itu, nanti saya bicarakan sama Presdir dan Pedro. Karena, Bos Richard tidak tahu soal masalah ini."


"Owh, begitu. Kalau aku meminta sama Bapak. Apa Beliau bisa memaafkan Damian dan mencabut laporan itu?"


"Nona, saya tidak tahu kalau soal itu. Malam itu, memang saya yang melapor ke kantor polisi atas perintah Presdir. Coba nanti saya bicarakan dulu, dengan Presdir. Malam ini, Presdir ada pertemuan penting dan saya tidak berani mengganggu beliau."


"Ya sudah kalau begitu. Saya tutup telephonenya."


"Baik Nona cantik."


Telephone itu terputus dan Richard memasang wajah cemberut.


"Doddit!!"


"Bos tidak boleh ikut campur. Kalau Bos ikut campur, pasti akan langsung menyetujui permintaan Nona cantik."

__ADS_1


"Aku tidak tega sama My Lovie."


"Bos..."


"Oke. Aku tidak akan ikut campur urusan Daddy sama kamu."


Doddit tampak menggelengkan kepala dan ia kembali memeriksa berkas yang perlu ditanda tangani Bosnya.


Ada data yang kebanyakan angka nol. Bosnya memang teliti kalau soal angka di data kontrak kerjasama dengan perusahaan produk snack.


Kembali ke Lovie, setelah ia selesai menghubungi Richard. Lovie tampak duduk anteng, tampak diam sesaat.


"Memangnya, mereka siapa? Apa keluarga itu seperti Papi dan Ayahnya Damian?" Batin Jenny yang masih menguping.


Mama Jessika juga menatap Lovie dengan tatapan manis, "Gadis ini pandai juga. Lepas dari Damian, bisa mendapat pacar dari kelas A. Aku jadi penasaran, siapa yang bernama Richard itu? Apa dia juga sehebat keluarga Hanz?"


Mama Jessika, dulunya bekerja di perusahaan Presdir Hanz, bahkan sempat menjalin hubungan manis. Sayangnya, Presdir Hanz tidak bisa menerima kedua anaknya.


Meski Mamanya Jihan, mengajak Kakaknya Jihan. Tapi, dia sudah berkeluarga sendiri. Hanya saja, pengaruh nama memang menjadi pilihan Presdir Hanz.


Mengingat akan jalinan bisnisnya, yang seperti tiang, semakin tinggi, akan semakin diterpa angin besar.


Lovie yang masih memegang ponselnya, perlahan ia berkata "Tante Monica sudah dengar sendiri, bagaimana tanggapan Kak Richi tadi. Aku nggak bisa memaksa dia. Maaf, aku nggak bisa membantu. Kalau Tante tidak percaya padaku, Tante bisa Tanya sendiri sama pengacara. Pasti, Kak Pedro lebih jujur dari Damian. Damian yang aku kenal, sudah berubah. Malam itu, aku sangat takut melihat tatapan Damian. Dia seperti bukan Damian. Seperti kata Polisi, Damian sudah terpengaruh minuman beralkohol dan itu bukan kali pertamanya Damian meminum itu."


Wajah Ibu Damian semakin tidak tenang. Tapi, beliau hanya berusaha menyelamatkan putranya, dari jeratan hukum.


"Tante Monica. Saya minta maaf. Seandainya saya tidak kabur dari rumah. Saya tidak akan mengalami kejadian ini, dan Damian tidak akan masuk penjara. Tapi, ini semua karena Papi dan keluarga barunya. Tante Monica, saya permisi dulu."


Mama Jessika hatinya sudah kesal, tangannya jadi meremas sisi bantal sofa. Papi Benny hanya terdiam dan sang Nenek tetap tidak merasa bersalah.


"Teruslah menguping, sampai telinga kamu panas." Ucapnya Lovie kepada Jenny, saat bertemu di sisi ruang tengah dekat ruang tamu.


"Aku tidak menguping." Kilahnya.


Lovie tersenyum palsu, dan berniat menguliti Jenny "Sana, temui calon mertuamu. Bukannya, kamu sudah di hotel DeNuca bersama Damian."


Yang di ruang tamu, jadi mendengar suara Lovie.


"Lovie, jaga bicara kamu. Aku lebih tua dari kamu."


"Cih! Kamu tua tapi tidak bisa bersikap dewasa. Aku tahu, aku punya rekaman cctv tentang kamu dan Damian di hotel DeNuca." Ucapnya Lovie dan terlihat seringai penuh kekuasaan.


"Kamu punya rekaman cctv? Nggak mungkin?!"


"Emh, gimana ya. Kalau pemilik hotel itu ternyata orang yang melindungi aku."


"Apa maksud kamu?!"


"Owh, tidak penting. Yang jelas, aku muak sama kamu dan Damian. Aku malam itu juga ada disana. Aku melihat kamu pakai gaun ulang tahunku, yang aku buang di gudang belakang."


"Tidak."


Lovie menatap ke layar ponselnya, tangannya bergerak lincah mencari fotonya Jenny, yang dirangkul pinggangnya oleh Damian.


"Ini apa? Ini siapa? Kamu dan Damian? Atau aku dan Damian?"


Jenny semakin gelisah.


"Damian sepertinya mencari celah untuk kembali padaku. Dia mengatakan kalau dia yang menghamili aku. Padahal, aku tidak hamil. Lalu, Damian bersama gerombolannya mencari aku. Damian berniat memperkosa aku dan akhirnya akan menunjukan foto kalian ini, di depan Papi."


"Nggak, aku nggak ada niat begitu. Damian yang menyuruhku memakai gaun murahmu itu."


"Kamu masih mengelak. Kamu sudah bersekongkol sama Damian."


"Aku tidak bersekongkol."


"Atau mungkin, Damian hanya memanfaatkan tubuhmu, hanya demi kembali padaku dan mengatakan kalau tubuhmu itu adalah tubuhku. Wah, kalian berdua Gilla!"


"Damian mencintai aku."


Lovie tertawa.

__ADS_1


Plaak!


__ADS_2