
Pagi menjelang siang hari. Sebuah taxi putih, melaju dengan kecepatan sedang.
Tangan Lovie tanpa sadar masih digenggam oleh Richard. Pandangan mata Lovie, hanya tertuju pada jalanan.
Banyak mobil berlalu lalang di jalan raya kota Shindong. Mengingat akan dirinya, yang berangkat ke sekolah dan seketika merindukan sahabatnya.
"Aku harus menemui Talita."
Perlahan, Lovie menoleh ke sosok berwajah tampan. Dari awal, Lovie hanya terpaku pada wajah tampan.
Tidak peduli akan kehidupan pria tampan ini, yang masih menggenggam tangannya. Lovie hanya menganggumi ketampanan Richard.
"Kak Richi memang tampan." Gumamnya.
Mendengar hal itu, Richard menoleh ke wajah Lovie. Kedua mata itu, saling memandang.
60 detik, cukup mendebarkan.
Set!
"Lovie, kita sudah sampai." Ucap Richard.
"Owh, iya. Kita sudah sampai."
Lovie melihat ke sekitar, ia membatin "Gimana kalau Bapak Richard melihat aku dan Kak Richi?"
Richard berkata "Cepat bayar sopir taxinya. Ayo kita turun. Aku sudah nggak kuat."
"Hemm, iya." Balasnya Lovie dan segera membayar biaya perjalanannya, dari Bank ke Hotel DeNuca.
Hanya butuh waktu 10 menit. Karena, jarak Bank swasta tadi, lebih dekat dari pada, jarak ke rumah Nyonya Nancy.
"Huh, mobilnya ditarik Bapak Richard. Kak Richi harus jalan kaki." Gumamnya setelah turun dari Taxi.
Richard berjalan memasuki lobby seorang diri dan Lovie masih berada di luar. Dia berfikir, kalau dirinya memang harus menjaga jarak selama di hotel.
Lovie melihat ke cctv dan bibirnya cemberut gemas. Seceptanya, meninju ke kamera yang ada di sisi kanan pintu utama hotel DeNuca.
Kedua polisi dan Nyonya Nancy terkaget melihat tingkah Lovie.
Lovie berkacak pinggang, ia mengumpat "Bapak Richard. Anda bejat!! Tidak berperasaan! Seenaknya mengusir dan memutus pekerjaan Kak Richi. Awas saja nanti kalau aku bertemu anda."
Waaak, ciaat.
Lovie juga mengangkat kaki kanannya dan sudah menendang ke cctv. Kedua polisi menatapnya curiga.
Nyonya Nancy, melihat lebih jelas "Lovie??!"
"Kenapa dia ada disini?" Batin Nyonya Nancy.
Dari pagi, beliau memperhatikan Lovie dan sangat menghafal sorot matanya. Apalagi, rambut panjang Lovie dan cara berpaikan Lovie memang mirip seperti semalam.
Semalam, saat Lovie sedang tidur. Nyonya Nancy yang melepas hoodie. Hoodie itu sekarang, dipakai Lovie.
"Lovie? Siapa itu? Apa Nyonya Nancy mengenal gadis itu?"
"Owh, iya. Dia memang begitu Pak Polisi. Dia kekasih putra saya. Kalau mereka bertengkar memang begitu."
"Owh, begitu rupanya."
Nyonya Nancy kembali memperhatikan dan Richard sudah kembali mendekati Lovie.
"Ayo masuk. Aku sudah kebelet." Ucap Richard.
"Kak, aku masih ingin memakinya." Lovie menunjuk ke camera pengintai.
"Kamu ini ada-ada. Ayo jalan. Aku udah nggak tahan."
Kedua polisi itu, masih menatap Lovie.
Salah satu dari mereka, bertanya "Apa pria yang memakai topi itu, Pak Richard DeNuca??"
"Owh, iya. Itu, putra saya." Jawab Nyonya Nancy, sedikit gelisah.
Gelisahnya, kalau sampai Lovie ketahuan orang tuanya dan dibawa pergi.
Mereka berdua sudah memasuki lobby. Lovie tidak melihat resepsionis yang sinis padanya.
"Dia tidak ada."
Richard bertanya "Kamu kenapa melamun?"
"Aku tidak melamun." Jawab Lovie.
Keduanya memasuki Lift dan menuju ke lantai 8. Ke kamar pribadi Richard,
yaitu kamar menawan 101.
__ADS_1
"Tadi sewaktu di taxi. Aku melihat kamu melamun."
"Owh, itu. Aku kangen sahabatku."
"Kamu punya sahabat?"
"Iya. Aku punya sahabat dan dia seusiaku."
Richard tak lagi berkata apapun. Lift tampak sepi, tidak ada yang menaiki elvator itu, selain mereka.
"Apa kamu ingin pulang?"
"Tidak. Aku tidak mau pulang."
"Benar. Kamu harus membuat anak."
"Iih, jangan bilang disini Kak."
"Memangnya kenapa? Apa aku salah?"
"Ssstth, nanti ada yang mendengar kita berdua. Apalagi, Bapak gerrrmoo."
"Apa maksud kamunya bapak gerrmo??"
Polisi satunya, ternyata memperjelas suara dan gambar CCTV lift.
Nyonya Nancy semakin gelisah dan hanya tersenyum tipis.
"Pak polisi, itu istilah anak muda jaman sekarang. Mereka selalu bertingkah aneh."
"Nyonya Nancy. Siapa yang dimaksud Bapak Gerrmo?"
"Itu, asisten Richard. Kekasihnya Richard takut kalau sampai asistennya datang dan menganggu mereka. Asisten Richard bekerja di kantor Rich.
"Owh, begitu. Saya mengerti. Nyonya, apa mereka sering berduaan di kamar hotel?"
"Tidak Pak Polisi, sebelah kamarnya Richard, kamar saya. Ada pintu yang saling menghubungkan. Saya selalu memantau kegiatan mereka berdua." Jawabnya Nyonya Nancy lancar.
Ya iyalah, kegiatan pembuatan cucu.'
"Baik. Kami tidak akan membahas ini. Kalau rekaman yang semalam sudah beres. Kita juga akan segera pergi dari sini."
"Bapak-bapak tidak perlu cemas." Ucap sang Madam.
Rekaman semalam sudah siap ditonton. Kedua polisi telah menyaksikan point pentingnya.
Meski ada Lovie si imut, tapi mereka tahunya Lovie kekasih sang pemilik hotel.
Bahkan, ada Lolla juga di hotel ini. Ada beberapa teman kuliah Lolla dan ada pula saudara tiri Lovie.
Yuk, simak yang di kantor polisi.
Papi Benny yang berlari dari parkiran, kakinya sampai gemetar. Setelah, melihat dengan kedua matanya. Beliau, jauh merasa lebih tenang.
"Untung saja bukan Lovie." Batinnya.
"Papi." Suara itu, memanggilnya.
Wajahnya, sudah berubah sendu dan tampak manja.
Papi Benny mendekat "Kenapa kamu disini?"
"Papi, aku tidak salah. Bapak Polisi ini pasti salah paham. Aku sama Damian hanya merayakan ulang tahun."
"Damian??!" Sang Papi tirinya jadi syok.
'Bagaimana bisa putri tirinya bersama kekasih Lovie. Lalu, putri kandungnya hamil dengan siapa? Apa Damian memang melakukan kepada dua putrinya?!
"Papi, aku takut." Manjanya dan sudah menangis tersedu-sedu.
"Jenny, kenapa kamu tidak telephone Mama kamu?" Tanya sang Papi Benny kepada putri tirinya ini.
"Papi, aku takut sama Mama. Pasti, Mama bekalan memukul aku."
"Jadi, semalam kamu bilang ulang tahun teman, itu? Di hotel bersama Damian?"
"Papi, aku sudah menjelaskan. Apa Papi tidak percaya padaku? Pak Polisi dari tadi sudah mencecar aku. Mereka bilang aku sugar baby yang berkencan mesra di hotel. Padahal aku tidak begitu."
'Ooh, manisnya kalau berkata kepada sang Papi tiri.
"Kamu tidak perlu cemas. Papi akan mengurusnya. Kamu jangan menangis"
Dalam pelukan sang Papi. Putri tiri ini, dalam hatinya sudah tersenyum. Air mata buaya sudah dia keluarkan, sampai membasahi pipinya.
Damian, duduk di ujung. Dia juga tampak menunggu orang tuanya.
Polisi, mengintai dari luar hotel DeNuca dan setelah mobil Damian berhenti, di dekat rumah Papi Benny. Dua polisi mengajak mereka ke kantor, untuk dimintai keterangan.
"Pak Polisi. Saya bisa menjadi jaminan untuk putri saya."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Lain kali, putrinya bapak, diperhatikan. Saya menemukan ini di tas putri Bapak."
"K*ndom??!" Terkaget.
Papi Benny menoleh ke wajah Jenny, ia bertanya "Jenny, ini milik kamu?"
"Bukan. Aku mana tahu begituan. Papi, sangat mengenal Mama. Mama selalu mendidik aku dengan baik. Pasti, temanku sudah menjebak aku."
"Dimana teman-teman kamu?"
"Mereka berdua, tadi sudah dijemput Mamanya. Aku jadi sendirian, nggak ada yang menjemputku." Hiks, kembali menangis tersedu-sedu.
Mereka berdua, malahan hanya berani menghubungi sang Mama. Sedangkan gadis satu ini, malah ingin mencari simpati dan pembelaan dari Papi tiri.
Yang dari parkiran, sudah berjalan memasuki pintu, kantor polisi kota Shindong.
Seorang istri memanggilnya "Sayang."
Mendengar suara itu, Om Rasya sadar, kalau istrinya berada di kantor polisi ini.
Om Rasya menoleh ke sisi kiri, dengan bibir tampak tersenyum, mendekati sang istri.
"Sayang, kamu disini? Apa kamu terlibat masalah?" Tanya Om Rasya kepada istrinya.
"Seharusnya, aku yang bertanya begitu." Sikapnya itu, masih terlihat anggun.
Sosok yang kalem, namun sudah tidak tidak sekalem biasanya. Melihat sendiri, tabiat nakal suaminya.
"Aku datang, karena kekasihmu yang menghubungi aku." Balasnya dan masih bisa tersenyum manis.
"Syilla, semua ini tidak seperti yang kamu bayangkan." Ucapnya Om Rasya kepada istrinya.
"Aku mengerti. Kamu tidak perlu menjelaskan padaku."
"Sayang, ayo kita pulang. Aku akan menjelaskan semuanya."
"Tidak perlu kamu menjelaskan lagi. Aku harus kembali ke rumah sakit. Siang ini, aku ada jadwal operasi."
dr. Syilla, istri yang kalem sangat lugu. Tidak banyak berfikir tentang dunia luar. Selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter, di sebuah rumah sakit milik orang tuanya.
Papanya seorang profesor dan Mamanya juga seorang dokter anak. Sedangkan Syilla, seorang dokter kandungan.
Lolla yang diam tanpa kata, berjalan mendekati Om Rasya.
"Aku tidak berkata apapun. Tapi, itu tadi. Kak Syilla yang datang kemari. Aku bersumpah. Aku tidak mengatakan hal apapun kepadanya."
"Pulanglah. Biar aku yang menjelaskan kepada Syilla."
"Tapi aku. Aku masih takut. Polisi banyak bertanya padaku."
"Lolla, kamu sekarang sudah dewasa. Biasakan hidup mandiri."
Om Rasya pergi, Lolla merasa terluka. Daddy yang dua tahun ini berlaku manis padanya. Sekarang pergi untuk mengejar istrinya.
"Kenapa, aku merasa patah hati?" Lolla bingung akan dirinya yang terluka.
Awalnya, Lolla hanya ingin mengejar rumah tinggalnya. Perlahan, perasaan cinta mulai tumbuh.
"Tahu begini, aku akan mengejar Om Benny. Sekalian saja, aku cekik Si Nenek lampir." Batinnya Lolla.
Target utamanya, sebenarnya Benny sang DuRen. Tapi sayangnya, si Nenek masih begitu sehat dan kuat. Bisa-bisa si benalu, bakalan diinjak-injak sama si Nenek.
Sekarang, Nenek sudah sakit-sakitan. Apalagi, mendengar Lovie menghilang. Badannya jadi lemas dan susah berjalan. Sang menantu, yang merawatnya.
Lolla menoleh ke sisi ruangan kanan, ada Papi Benny yang masih mengurus putri tirinya.
Kembali pada Lovie yang berada di kamar 101. Saat ini, jam menunjukkan pukul 11 siang.
Lovie yang duduk bersila di atas sofa. Tiba-tiba ada yang datang dan mengetuk pintu kamarnya.
Tok Tok Tok
"Hish, siapa sih?! Gangguin orang santai. Lagi nonton film kungfu juga, malah digangguin." Gerutunya.
Pintu dibuka dan kedua wajah bertemu.
"Kamu lagi!"
"Mana Richard?? Dimana Richard?" Teriaknya.
"Aku tidak tahu dimana keberadaan Bapak Richardmu."
"Jangan bohong!!"
Lovie dengan santai berkata "Aku tidak bohong."
"Bukain, pintu kamar mandinya!"
"Silakan."
__ADS_1
3,2,1.
"Bauk!!!"