Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Keluarga Rilova


__ADS_3

    Hari berganti hari, bulan sudah berganti bulan, bahkan berganti tahun.


    Saat ini, sudah tahun ke 5, pernikahan Lovie dan Richard De Nuca.


    Masa-masa bahagia bagi Lovie dan Richard, yang sudah menyandang gelar Mama dan Papa.


    Papa Richard, sedang merayu cintanya. Yang satu ini, tampaknya susah untuk dirayu dan dibujuk olehnya.


    Richard, suami yang perhatian, namun terkadang juga tidak sabaran.


    Setelah menjadi Papa, kesabarannya semakin di uji. Lalu, seperti apa Richard De Nuca menjadi Papa?


    Yuk, kita simak keluarga RiLovA.


    "Lily, sayang. Ini Papa punya boneka teddy, lucu banget." Papa tampan ini, berusaha merayu putri kecilnya yang berusia 4 tahun.


    Gadis kecil nan cubby dengan rambut sebahu dikuncir dua, dan poni menutup dahi jenongnya.


    Hidung mungil sedikit masuk ke dalam, tetap terlihat menggemaskan. Apalagi, kalau sudah bersedekap, berlari kesana kemari, saat didekati sang Papa.


    "Sayang, hari ini Mama wisuda. Kita bisa terlambat, kalau kamu ngambek begini."


    Lily Nee Rilova, anak perempuan Richard dengan istrinya.


    Lovie saat kelulusan sekolah SMA, ia ternyata mengandung anak kembar.


    Lovie yang mengenyam pendidikan S1 di perguruan tinggi negeri Shindong. Memilih jurusan pendidikan anak usia dini. Saat awal perkuliahan, Lovie tengah mengandung si kembar sepasang.


    Lalu, dimana kembaran Lily?


    Dia anak laki-laki tampan, dingin, dan sangat cerdas. Semua yang ada di dalam dirinya, seperti berlawanan dengan Lily.


    Bocah tampan berusia 4 tahun itu, sudah duduk anteng dan tampak menikmati acara sambutan di wisuda Mamanya.


    "Mama, hebat. Aku sayang Mama." Ucapnya Lucas, yang duduk disebelah kembaran Lily.


    Saudara kembar Lily tampak dingin, ia berkata "Dia Mamaku. Bukan, Mamanya Kak Lucas."


    Lucas terdiam, meski sudah dijuteki adik tampan ini dia tetap semangat. Lucas terbiasa dengan sikap dingin bocah yang satu ini. Memang begitu sifatnya. Meski masih kecil, bocah ini sosok yang sangat dingin seperti gunung es.


    Lucas yang sudah memasuki sekolah SD. Ia sangat berbakat di kelas musik. Apalagi, saat memainkan piano, jari jemarinya sangat terampil. Bahkan, suaranya juga sangat merdu, ketika menyanyikan lagu anak-anak.


    Nyonya Nancy dan Presdir Nicholas juga Duduk tidak jauh dari dua bocah ini. Dua bocah ini, sudah tiba lebih dulu dengan dua asisten pribadi mereka.


    Lucas hanya memandangi Neneknya, tidak berani mendekati Nenek dan Kakeknya.


    Bocah kecil yang berusia 6 tahun ini. Sudah mengerti, akan situasi yang ada di sekitarnya.


    Lucas yang tidak jadi dipindahkan ke pulau Min-ju. Namun tetap saja, ia tidak merasa dekat dengan Nenek dan Kakeknya.


    Lovie, melihat dari kejauhan kalau dua anak tampannya sudah datang. Tapi, melihat ke sekitar kursi itu, suami dan putrinya belum terlihat duduk di kursi mereka.


    "Apa, Lily masih asyik bermain?"


    Tadi, sewaktu Lovie berangkat ke hotel, tempat acara wisuda ini. Putri cantiknya, masih asyik bermain di halaman rumah. Sampai Mamanya berangkat, gadis kecil itu juga tidak menghiraukannya.


    "Hemms, pasti ngambek."


    Papa Richard, duduk di sebuah kursi taman, hanya sibuk memandangi putrinya.


    Diperhatikan salah, kalau tidak dirayu juga semakin salah lagi.


    Papa Richard tidak sabar lagi, dengan cepat menggendong Lily ditangan kanannya.


    Bibir imut nan menggemaskan, dari tadi sudah cemberut. Tidak menangis, hanya diam dan entah apa yang dia jengkelkan.


    "Ayo! Mandi dulu, pakai gaun yang indah dan kita pergi ke hotel menghadiri acara wisuda Mama."


    Si kecil Lily hanya diam. Kedua tangan kecilnya, sudah mengalung di leher sang Papa.


    "Es Krim." Bisiknya Lily.


    "Es Krim?"


    Lily mengangguk, lalu menempelkan pipi cubbienya ke wajah sang Papa.


    "Oke. Kita makan es krim dulu."


    Membawanya ke dapur dan mendudukan di atas kitchen set.


    Anak kecil nan gemoy ini bener-benar usil, meraih kerangjang tempat gula menjatuhkannya ke lantai.


    "Lily, cantiknya Papa. Kamu kenapa lagi sayang? Ini, Papa baru ambilkan es krim kesukaan Lily."


    Ampun deh, namanya saja Lily dengan harapan akan keindahan putrinya.


    Meski indah di dalam pikiran Richard. Tapi bagi orang lain, Lily yang satu ini rada menjengkelkan, ngambekan dan sangat manja.

__ADS_1


    Kembali bersedekap, wajah polos itu, seolah menandakan ia tidak bersalah.


    Richard kembali menggendong anak perempuannya dan mendudukan di kursi makan, yang ada di ruang makan.


    Sang pelayan jadi membereskan dapur bersih itu dan Papa tampan ini, duduk menghadap putrinya.


    "Sayang, ini es krimnya. Kamu harus makan es krimnya, sampai habis."


    Lily kembali bersedekap dan menggeleng.


    "Sayang, apalagi yang kurang? Es krimnya mau dikasih topping apa? Buah Strawberry? Jelly? Atau permen?"


    Lily baru mau membuka mulut, namun ia tidak jadi melahabnya, malah mendorong cup es krimnya sampai terjatuh.


    "Yah, kok malah dijatuhin es krimnya. Papa sudah bikin yang bagus loh. Sayang, es krimnya ancur." Gemasnya Papa Richard.


    Melihat es krimnya jatuh dan bercereran di lantai, Lily turun dari kursinya, meraup semua es krim yang masih berbentuk.


Hap!


Memasukan ke mulut mungilnya dan menguyahnya dengan cepat.


    "Huh, ternyata salah lagi. Aku selalu salah di mata Lily."


    Papa Richard, begitu mudah mendapat cinta dari seorang Lovie. Tapi, ketika anak perempuan ini lahir ke dunia, dia jadi tidak bisa bebas dan gadis kecil ini sangat berbeda sifat dengan Mamanya. Sangat susah dirayu olehnya.


    Lily sudah berkaca-kaca, dengan mulut imutnya yang belepotan warna pinky.


Hiks... Huaaa... Hoo hoo hoo


    Lily kalau sudah mengeluarkan suara. Nangisnya lebih merdu dan nyaring.


    "Richard, kamu harus sabar. Pasti bisa."


Hoo. . . Ho. . Hoo. . .


    "Sayang, Papa hitung sampai 10 nangisnya."


    "1. 1 setengah. 2. 2 setengah. 3. 3 setengah..."


Lily dengan perlahan berhenti nangisnya. Ia menatap sang Papa dengan sendu.


    "Sayangnya Papa. Papa tahu, kamu pasti ngambek karena semalam Papa pulang kemaleman. Iya, kamu marah sama Papa. Kamu boleh marah sama Papa."


    Papa Richard memeluknya dan Lily sudah merangkulkan ke leher sang Papa.


    Lily menggeleng, bibirnya mencibir gemas. Sampai bibir bawahnya, terlihat unyu.


    "Lily sayang, Papa minta maaf."


    Lily masih cemberut saja, makin manyun.


    "Gimana kalau kita ngedate berdua?"


    Lily terdiam dan tidak memberikan respon apapun, jadi tandanya setuju.


    "Tapi, Lily harus mandi dulu. Terus, kita ke mal, belanja, nonton film dan makan malam."


    Lily mengangguk dan perlahan bibir imutnya tersenyum manis. Setelah itu, hanya merebahkan kepalanya di bahu sang Papa tampan ini.


    Mandi, dimandikan oleh suster dan berganti pakaian yang cantik.


    Serangkaian ritual ala dandanan princess sudah dilakukannya.


    ily, sudah tampil cantik dengan gaun putih yang sangat indah.


    "Emh, cantiknya Papa sudah harum sekali. Lily sudah siap berangkat?"


    Papa Richard duduk berjongkok dan merentangkan kedua tangannya. Agar, anak cantiknya segera memeluknya. Agar lekas berangkat.


    "Huh.. Gimana caranya aku ngajak Lily ke acara wisuda?!"


    Lily masih diam, dan lagi-lagi Papanya salah bersikap kepadanya.


    Papa Richard punya cara yang kedua, dengan memposisikan lengan kirinya. Bak pengantin, yang melangkah ke pelaminan.


    Lily, akhirnya memegang ujung jasnya Richard. Kemudian, berjalan berdua.


    Lily dengan gayanya bak putri istana, memakai sepatu pantofel warna putih.


Tuk tuk tuk


    Langkah demi langkah kecilnya, berjalan dari ruang gantinya ke halaman rumah. Memakan waktu yang cukup lama.


    Papa tampan ini, berusaha untuk sabar dan tidak ingin salah bersikap lagi, saat menghadapi putri kecilnya ini.


Lily dan Latte, kembar sepasang. Namun, banyak perbedaannya.

__ADS_1


Latte Naa Rilova.


    Latte, bocah tampan yang mandiri, ia juga lebih aktif dalam hal akademik. Anak usia ini, sudah pandai membaca dan berhitung. Bahkan, mengikuti semua bimbingan belajar dari usia batita.


    Dia tidak gemar bermain-main, seperti anak seusianya. Namun, dia sosok dingin dan sudah terlihat arogan.


    "Selamat Mamaku tersayang. Aku bangga sama Mama." Ucapnya, saat memberikan buket bunga kepada sang Mama.


    Lovie mengelus rambutnya dan bocah yang berdiri di atas kursi itu tampak tersenyum tipis saja.


    "Terima kasih sayangnya Mama. Mama juga bangga, punya Latte yang sangat hebat." Balasan Mama gemas.


    Latte berkata "Mama, peluk aku."


    "Tumben, kamu minta pelukan Mama."


    Lucas menoleh ke arahnya, Mama belia ini, mengerti akan sikap anak tampannya yang ini.


    "Iya sayang. Terima kasih sudah datang dan memberikan buket indahnya. Mama suka, bunga dari Latte."


    "Yes, Mama menyukai bungaku, bukan bunganya Kak Lucas."


    Lucas jadi cemburu, ia berkata "Mama, aku juga belum dipeluk Mama."


    Mama belia ini, malah dipeluk erat oleh anak tampan yang dingin ini, apalagi kalau satu ruangan bersama Lucas. Mereka pasti akan selalu rebutan.


    "Latte, sayang. Mama cium ya."


    "Nggak mau."


    Mama Lovie suka menggoda putranya.


    Latte langsung locat dari kursi dan memilih kabur setelah dicium.


    Latte memang tidak suka bermanja dengan Mamanya, apalagi terkena ciuman yang ada lipstiknya, dia takut. Kecuali, Mama Lovie tidak memakai lipstik. Latte tidak akan ketakutan.


    Lucas memberi buket, kepada Mama yang merawatnya sampai sekarang ini. Lucas juga sudah tahu, Mama mana yang sangat menyayanginya.


    "Mama."


    Lovie memeluknya, ia berkata "Lucas, terima kasih. Mama sayang kamu."


    "Aku juga sayang sama Mama."


    Lovie tersenyum, mengelus kepala anak tampan yang satu ini.


    "Lucas, kalau adikmu bersikap manja sama Mama. Kamu nggak boleh iri ya. Mama tetap sayang sama kamu. Kamu anaknya Mama Lovie."


    "Iya. Aku anaknya Mama."


    Lovie kembali memeluk bocah tampan ini.


    Lucas memang tetap tinggal di kediaman Presdir Nicholas, dalam asuhan seorang suster. Meskipun begitu, Mama Lovie tetap memberikan perhatian dan kasih sayang kepada Lucas.


    "Lucas. Apa Lily sama Papa belum kemari?"


    "Aku tidak tahu."


    Lovie, dari tadi hanya melihat keluarga Papi Benny dan kedua mertuanya. Tapi, sampai sore ini, belum melihat suami dan anak perempuannya.


    Papa Richard, tidak berani membawa putrinya ke hotel tempat acara wisuda. Takutnya, Mama Lovie akan terganggu. Apalagi, kalau Lily sedang ngambek. Sang Mama juga tidak akan bisa menenangkannya.


    "Hemms, pasti Lily ngambek karena Papanya semalam pulang terlambat." Batinnya Mama Lovie.


    Padahal, sang Papa sudah janji kalau sore akan segera pulang. Tidak tahunya ada tamu penting dari luar negeri dan akhirnya pulang larut, sampai tuan putri kecilnya sudah terlelap dalam kesedihan.


    "Lily suka es krimnya?" Tanya sang Papa.


    Lily menjawab "Tidak."


    Papa Richard, malah ngedate sama Lily di Mal miliknya.


    Mal yang baru dibuka, tiga bulan yang lalu dan ini dipersembahkan untuk istrinya tercinta.


    "Lily!" Panggilnya gemas.


    Lily menoleh, ke bestie cantiknya.



Papa Richard sudah bisa senyum selama di kantor.



Mama Lovie tetap imut ya.


__ADS_1


Gambaran, Papa Richard ketika momong anak perempuannya.


__ADS_2