Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Cerita Akhir Usia Dini


__ADS_3

Malam harinya, Mama Jenny kembali ke rumah. Berwajah datar dan masih tidak mau melihat ke wajah sang suami.


Berjalan menyelonong masuk, menuju kamar dan tidak menoleh suaminya.


"Kamu pulang." Sang suami menyadari kepulangan istrinya.


Yang tadinya duduk santai di sofa, sambil menonton serial kartun kesukaan anak perempuannya. Papa Damian, jadi mendekati istrinya.


"Aku merindukan Lexi." Jawaban istrinya.


Mama Jenny tadi bertemu Mama Lovie. Lalu, Mama Lovie menceritakan hal yang sebenarnya, kepada saudara tirinya itu, tentang sosok Damian yang menyesali perbuatannya.


Meskipun, dulunya Lovie sangat tidak menyukai saudara tirinya. Perlahan lahan, keduanya saling menerima sebagai saudara.


"Sayang, akhirnya kamu pulang juga."


Papa Damian memeluk istrinya dari belakang. Lalu, Lexi yang tertidur di sofa , jadi mendengar suara sang Mama.


"Mama pulang. Ini beneran Mama?" Lexi yang berlari mendekat dan sang Mama segera meraih anak perempuannya itu.


"Mama kangen Lexi."


"Lexi juga kangen sama Mama."


"Mama minta maaf."


"Gara-gara Mama pergi. Papa payah. Papa nggak bisa menjaga aku. Ini, tangan aku sampai terluka."


Mama Jenny langsung menggendong Lexi, sambil mencium pipinya Lexi, berkata "Iya. Papa memang payah."


"Aku maunya sama Mama. Papa payah memasak. Masakannya selalu gosong. Tadi, lomba memasak, ikannya gosong."


"Uu, sayang. Mulai besok. Mama akan masak yang enak buat Lexi."


"Yeyeye. Aku mau."


Papa Damian berkata "Kalian benar. Aku, Papa yang payah."


"Suamiku memang pria yang payah."


"Terus, kenapa kamu pulang?"


"Kamu ingin, aku pergi selamanya? Terus, kamu sama perempuan lain? Begitu maumu?"


"Aku senang, kamu pulang. Aku nggak akan repot ngurusin Lexi."


Papa Damian pergi dan Mama Jenny jadi tersenyum "Harusnya aku yang ngambek. Malah dia yang ngambekan."


"Ayo! Lexi bobok sama Mama."


"Jenny, aku minta maaf. Aku ingin, kamu bisa percaya aku. Aku akan berusaha jadi Papa yang baik."


Sampai saat ini, Papa Damian bukan siapa-siapa. Mama Jenny yang bekerja keras di Style Fashion sebagai manager keuangan. Papa Damian hanya sesekali ke perusahaan Ayahnya. Sayangnya, selalu diremehkan oleh Ayahnya. Semua pekerjaan Damian, dianggap hanya menyusahkan pimpinannya.


"Aku minta maaf." Wajahnya jadi memelas.


Istrinya yang menidurkan anaknya hanya bisa berkata "Belajarlah dari kesalahan."


"Iya. Aku sudah mengerti."


Mama Jenny mengulum bibir, dan sang suami segera meraih tangannya. Memasangkan kembali cincin pernikahan yang sempat dilempar istrinya itu.


"Aku minta maaf."


"Sudah aku maafkan."


Papa Damian, mencium kening istrinya.


🌼🌼


Di tempat lain, Mama Talita dan Papa sedang berbulan madu.


Bilangnya ada hal penting.


Iya, penting sekali. Hal ini sudah menyangkut hubungan yang sedang kritis, hampir saja Papa Rey terpincut sekretaris pribadinya.


"Sudah, menyesalnya?"


"Belum."


Meski diajak bulan madu, Mama Talita semakin kesal. Sudah berulang kali, ia mengingatkan soal Thalia, Papa Rey tetap saja mengatakan kalau Thalia gadis baik-baik.


"Sayang."


"Iya. Aku juga salah. Aku lebih mikirin masa depan dan karirku. Bukan mikirin suamiku."

__ADS_1


Air mata yang menetes sekan telah melunasi kesalah pahaman antara mereka berdua.


Di negara, tempat Mama Talita menimba ilmu, tengah turun salju dan mereka menginap di sebuah hotel.


Mama Talita melihat ke arah luar dari kaca jendela kamar hotel ini.


"Aku tinggal menyelesaikan tesisku. Aku juga akan segera pulang. Aku juga bersalah. Aku membiarkan kamu dan Violla hidup tanpa aku."


Papa Rey masih berlutut, menatapnya "Sayang, aku tidak menyalahkan kamu. Aku yang salah. Harusnya, kamu pukul aku dan memarahi aku."


"Tidak. Aku tidak bisa memarahimu."


Mama Talita yang tengah bersedekap dan Papa Rey dengan segera mendekat, memeluknya dari belakang.


Kedua tangan yang melingkari pinggang istrinya dan Papa Rey berkata "Sayang. Aku minta maaf."


"Aku sudah memaafkan kamu." Air mata itu, tengah mengalir lembut.


"Aku tidak mau berpisah darimu. Aku benar-benar, tidak sampai menyentuh dia."


"Aku tahu. Aku sudah tahu. Kamu tidak perlu menjelaskan padaku."


Mama Talita perlahan membalikan badannya. Menatap ke wajah sang suami.


"Aku tidak masalah. Asalkan kamu mencintai aku. Aku tetap ada untukmu."


"Sayang, aku mencintaimu."


"Bohong!!"


Papa Rey, terdiam.


"Kapan kamu mencintai aku? Bukannya kamu mencintai Jihan dan tergoda sekretaris kamu?"


"Talita. Apa yang sudah aku berikan untukmu, semuanya dengan cintaku. Aku mencintai kamu. Aku sangat mencintai istriku. Aku mencintai Mamanya Violla..."


Belum selesai bicara lagi, istrinya jadi berjinjit dan mengecup bibirnya.


"Aku ingin hamil anak laki-laki. Melihat Latte, aku jadi ingin punya anak laki-laki."


Tuing!


"Aku akan memberikannya untukmu. Sekarang kita berdua bisa membuatnya."


Mengangkat istrinya dalam dekapan. Sang suami nakal ini, memang harus segera meluapkan masalah bantinnya.


🌼🌼


Mama Lovie, ingin menginap di rumah tua dan mengingat akan awal kisah cintanya dimulai.


Dari tadi, mereka berdua saling terdiam dan sang suami masih ngambek.


Dari siang, sang suami merasa dicuekin. Tadi, istrinya asyik mengobrol dengan sang mantan kekasih.


Membuat Papa Richard cemburu berat, saat melihat istrinya ngobrol berduaan.


"Sudah dong ngambeknya. Aku jadi bosan sama keheningan ruangan ini."


Saat hendak beranjak pergi, tangan kanannya dengan cepat meraih pergelangan istrinya.


"Jangan tinggalin aku."


Suara lembut suaminya sudah terdengar di telinga kanannya. Perlahan tubuh mungilnya, tertahan akan kedua tangan yang telah memeluknya erat.


Menyandarkan dagu di bahu istrinya dan kembali berkata "Aku akan menghamili kamu."


"Aku sedang tidak membahas itu. Biasanya, aku yang meminta."


"Tak perlu lagi kamu berkata dan meminta kepadaku seperti biasanya. Aku akan terus mengamili kamu."


"Kalau anak kita perempuan lagi gimana? Katanya nggak mau anak perempuan."


"Jangan dijadikan anak. Ini hanya ungkapan mesra dari aku." Ucapnya, tanpa rasa salah sedikitpun.


Mama Lovie membalasnya dengan ledekan, "Bilang saja kepengin bercinta. Aku juga merasa aneh bilang begini. Aku merasa canggung."


"Kita ulangi lagi." Ajaknya sang suami, sepertinya modus.


"Di kamar ini, dulu kamu galak." Balasan istri yang polos dan menatap suaminya. Jadi terasa aneh, kalau mengingat waktu itu.


Nah, istrinya jadi ingat lagi dan Lovie berfikir kalau dia memang berlebihan.


Papa Richard, menyisir rambut istrinya dengan jemari, lalu berkata, "Sayang. Aku minta maaf."


Istrinya yang polos, ada di atas pangkuan kedua pahanya, Mama Lovie berucap "Kak Richi. Aku sampai lupa rasa cumbuan pertamamu. Anehnya, waktu itu aku nggak ngerasain enak. Kamu ngerasain enak nggak?"

__ADS_1


"Kalau, aku bilang nggak ngerasa enak pasti Lovie marah. Padahal aku juga bisa menyeburkan benihku ke dalam miliknya. Tapi, kalau aku bilang enak, apa yang akan dipikirkannya." Papa Richard malah bingung memikirkan jawaban, yang tepat untuk istrinya.


"Jawab dong. Malah bengong. Pasti mikirin jawabannya. Iya-kan?! Hayo ngaku! Pasti nggak enak?! Soalnya, waktu itu, masih terpaksa. Apalagi, belum mencintai aku." Ucapnya Mama Lovie, begitu polos.


Nah, istrinya bisa ngambek beneran, kalau jawabnya salah.


"Sayang. Lebih baik, kita ulang saja."


"Gimana ngulanginya?"


"Ya kamu pancing aku. Kamu elus-elus burungku. Terus, aku juga kasar mainin itunya kamu."


Lovie sesaat terdiam "Boleh juga ide kamu. Soalnya, aku waktu itu beneran nggak ngerasa enak. Sakit, perih doang, dan rasanya aneh banget. Nggak seperti, saat kita bercinta."


"Waktu itu, aku dari sana." Ucapnya istri.


"Terus balik badan kesini. Kamu, nggak malu sama sekali."


"Emmh. Sekarang, aku malu kalau mengingatnya."


"Kenapa malu?"


"Ya aneh saja rasanya. Orang bilang aku bodoh. Tapi aku bisa menjerat Richard De Nuca."


"Iya. Benar. Aku dijerat gadis belia. Gadis yang meminta aku, agar menghamili dia." Ucapnya Papa Richard dan ia jadi tertawa kecil.


"Aaa.. Malu. Tuh, kamu jadi ketawain aku."


"Aku nggak ketawain kamu sayang. Aku beneran gemes. Aku ngerasa enak kok. Kalau nggak enak. Nggak mungkin, aku melarang kamu pergi." Ucapnya manis dan mencium leher kanan istrinya.


Lovie jadi gelian, akan tindakan gemas suami nakalnya, sampai berulang kali menepuk-nepuk paha sang suami.


Mama Papa sibuk merajut kasih dan bercumbu mesra.


Di rumah Oppah Benny anak-anak sedang mendengar cerita tentang Mama Papanya.


"Mama kabur dari Oppah?" Sampai suara Lily menekan kata kabul. Maklum, susah menyebutkan huruf R. Jadinya terdengar L.


"Iya. Mama kamu kabur. Terus bertemu Papa kamu, di hotel DeNuca. Makanya, sampai menikah di usia muda. Terus, ada kalian bertiga."


"Tapi, Kak Lucas bukan dari perut Mama." Celetuknya Latte dan sang Nenek tua, sesaat terdiam.


Trio L, lagi duduk di tengah kasur bersama Nenek Tua dan melihat album pernikahan Mama dan Papa yang sangat romantis.


"Iya. Kalau bukan karena Mama Lovie. Lucas juga nggak akan bersama kalian. Mama Lovie sampai berlutut di depan Nenek Nancy dan ingin membesarkan Lucas." Ucapnya itu, terdengar jelas. Meskipun Lucas tidak mengingat semua kejadian itu. Namun, ia ingat waktu pertama kali memanggil Papa Richard dan di gendong Mama Lovie. Tidurpun, elus-elus rambutnya dan dibacakan buku cerita.


"Iya. Aku bisa menjadi Kak kalian. Karena Mama." Ucap Lucas, si kembar jadi menatap Lucas.


"Kak Lucas Kakakku." Ucapnya Lily dan memeluknya sayang.


Latte berkata "Aku sayang Mama." Latte mencium photo pernikahan sang Mama.


Gaun pengantin putih yang menguntai sampai ke lantai. Di sebuah pantai dan sangat romantis.


Hotel mewah di pantai kota Minho, dan pernikahan itu hanya dihadiri oleh keluarga dan saudara.


Tidak banyak undangan, hanya ada keluarga dari saudara kembar Nyonya Nancy. Lalu dari keluarga Papi Benny, juga hanya saudara terdekat.


"Kalau aku sudah besar, aku juga mau kabur dari Papa. Biar bertemu cowok yang tampan." Ucapnya Lily, dengan gaya centilnya.


"Lily nggak boleh kabur. Nanti bisa diculik orang." Balasnya Lucas.


"Kalian harus berterima kasih sama Ommah Jess. Kalau nggak ada dia. Mama kalian juga nggak akan kabur."


"Ayo, kita temui Ommah Jess." Ajaknya Latte.


Mereka bertiga berlari keluar kamar dan mencari Ommah Jessika.


Ommah Jessika jadi melotot dan ketiga bocah itu menatapnya senang.


Di ruangan televisi dan asyik menikmati drama aktor ganteng. Malah diganggu ketiga bocil ini.


"Ommah Jess, peluk."


Lily yang memeluk tangannya dan yang lain mengikuti gerakan Lily.


Ommah mereka bingung, dan hanya terdiam saja.


"Ommah, terima kasih."


Oppah Benny hanya menatap mereka dari kejauhan, "Lily anak yang manis, seperti Lovie."


Ya, semoga saja cucunya bersikap manis terus dan tidak bertingkah nakal.


"Kalian ini, kenapa memeluk Ommah?" Suaranya, memang selalu galak.

__ADS_1


"Terima kasih Ommah, sudah bikin Mama kabur, sampai kita bisa ada sini." Ucapnya mereka, senang.


Lanjutan Bab --->Lily,,


__ADS_2