Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Di Kantor Polisi


__ADS_3

Kantor polisi kota Shindong. Saat ini, jam 2 siang, di ruangan khusus pertemuan.


Ada, tiga pihak membuat laporan, mengenai tindakan pemukulan, penusukan dan penculikan.


Tiga pemilik perusahaan, membuat laporan resmi. Mereka didampingi pengacara hebat, yang telah siap mengangani kasusnya.


Presdir Nicholas menunjuk pengacara muda untuk menangani kasus Richard. Itu, berkat Doddit.


Presdir Nicholas, menunjuknya sebagai pengacara pribadi Richard. Kebetulan sudah mengenal lama.


Pengacara ini, calon suami dari Kakaknya Damian.



Panggil dia, pengacara Pedro.


"Ayah, Kak Pedro pasti sudah tidak waras."


"Biarkan saja, dia hanya melaksanakan tugasnya."


Damian akhirnya mingkem. Mereka masih menunggu Lovie. Lovie juga telah diperiksa oleh polisi wanita.


Papi Benny, sudah memperhatikan Presdir Nicholas.


"Dia orangnya. Di photo itu, dia orang yang bersama Lovie." Batin Papi Benny.


Presdir Nicholas tampak santai dan tidak banyak bicara. Pengacara Rich, masih menunggu hasilnya di ruang tunggu bersama Doddit.


"Tua-tua keladi. Lihat saja nanti, jabatanmu akan segera pergi." Batin Doddit, dan ia tampak menatap sosok pengacara tua yang suka cari sensasi.


Papi Benny bertanya "Presdir Nicholas, bagaimana keadaan putra anda?"


"Putra saya semalam menjalani operasi. Untungnya, Lovie datang tepat waktu. Kalau tidak, putraku semata wayang pasti akan tewas."


"Itu hanya pisau lipat. Tidak akan sampai menewaskan manusia."


Pengacara Damian, tidak beradab.


Presdir Nicholas menatap pria berusia 50an, dengan pandangan tidak senang.


"Saya, turut prihatin atas kejadian ini."


"Mr. Benny, anda juga seorang Bapak. Anda, pasti mengerti perasaan saya."


Ayahnya Damian, santai.


Lovie selesai diperiksa oleh polwan, sesuai dengan aturan yang berlaku.


Lovie memasuki ruangan itu. Ia memasang wajah tenang dan memilih duduk di sebelah Presdir Nicholas.


"Lovie." Panggilan dari Papi Benny.


Lovie tersenyum tipis, berkata "Papi."


"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya sang Papi, yang duduk di seberang meja. Menatap wajah putri kandungnya.


"Aku baik-baik saja." Jawabnya Lovie, lalu menoleh ke arah pintu.


Beberapa polisi dan pemeriksa sudah selesai melaksanakan tugas mereka.


Pedro, sang pengacara berusia 30 tahun, sudah tampak tersenyum tipis.


"Kita semua, bisa menyaksikan ini. Dari rekaman cctv di Jl. Rebahan, bisa kita simpulkan kasusnya."


"Gawat, semuanya pasti akan menyalahkan aku." Batin Damian.


"Ayah, aku mau ke toilet." Bisik Damian.


"Kamu, jangan pergi kemana-mana." Balasnya sang ayah juga berbisik.


Video yang berdurasi panjang dengan pencahayaan gelap. Rekaman itu tidak terlalu jelas. Membuat, perasaan Damian sedikit terasa lega.


"Itu, hanya anak-anak biasa. Demi menjaga diri. Mereka memang suka membawa alat seperti itu." Ucapan dari pengacara, pihak Damian.


Pedro menatap wajah Damian, ia berkata "Bagian ini, memperlihatkan jelas. Kalau, saudara Damian, mengeluarkan senjatanya dan langsung menusuk bagian perut klien saya."


Ayahnya Damian, jadi menatap serius wajah calon menantunya itu.


Pedro tetap percaya diri dengan senyuman tipisnya. Ia, tidak gelisah sedikitpun, akan tatapan calon mertuanya itu.


Setelah adu argumen dan pendapat, giliran hasil pemeriksaan kondisi Lovie. Bahkan, Lovie memberanikan diri untuk diperiksa oleh tim ahli kesehatan dari polisi wanita.



Hasil pemeriksaan menyatakan, kalau Lovie tidak hamil.


"Tidak hamil?" Sang Papi bingung.


"Benar, putri anda tidak hamil. Hanya hubungan pacaran, namun mereka berdua melakukan hubungan intim."


Lovie terdiam dan tidak berkata apapun.


"Lovie, kamu?" Tatapan sang Papi, sudah penuh kekecewaan terhadap putrinya.


"Putri anda mengatakan, kalau dia tidak diculik. Melainkan, kabur dari rumah dan tinggal bersama keluarga kekasihnya."


"Kekasih?" Papi Benny tertegun.

__ADS_1


"Dari hasil test kejujuran. Putri anda memang berkata jujur."


"Lovie."


"Saudari Lovie sedang menjalin hubungan dengan saudara Richard De Nuca. Bahkan, mereka melakukan hubungan intim."


"Tidak mungkin."


"Sampai saat ini, tidak ada tanda-tanda pelecehan maupun pemerkosaan. Putri anda, sudah terbawa suasana. Di usia remaja memang rawan. Banyak kasus yang terjadi, pada anak usia belasan tahun."


"Ini tidak benar."


"Pak Benny, ini rekam medis dan hasil test kejiwaan putri Bapak."


Polwan memberikan berkas kesehatan kondisi Lovie saat ini dan hasilnya begitu adanya.


Talita tidak berani masuk ke kantor polisi ini, dia menunggu di halaman depan.


Bilangnya, mau bantuin sahabatnya. Malah kabur, saat bertemu Papinya Lovie.


"Talita, kamu sudah menjerumuskan Lovie."


"Bu Polwan. Saya juga ingin melakukan pemeriksaan, kepada sahabatnya Lovie."


"Papi!!"


Suara Lovie nyaring, membuat kaget dan semua menatap ke arah Lovie.


"Apa yang Papi inginkan?!"


"Lovie. Talita pasti mempengaruhi kamu."


"Talita memperngaruhi aku? Bukannya, ini semua karena Papi."


Keduanya, saling menatap serius.


"Papi sendiri yang membuat aku begini. Papi menikah lagi, tapi tidak meminta pendapat aku. Aku mau melakukan apapun, semuanya terserah aku."


"Lovie, kamu terjerumus pergaulan bebas."


Lovie tidak lagi, meladeni perkataan Papinya.


"Bapak, saya tidak suka disini. Saya mau pulang." Ucapnya Lovie, kepada Presdir Nicholas.


"Lovie, kamu bisa menyuruh Doddit mengantar kamu pulang."


Lovie berjalan keluar.


Pedro tampak tersenyum, setelah mendengar pengakuan dari Lovie.


Papi Benny tidak menggubrisnya, malah berlari mengejar putrinya.


Lovie sudah menangis dan berjalan ke ruang tunggu. Papi Benny berusaha mengejar putri kandungnya itu.


"Lovie."


Lovie sudah menangis dan membeku saat menatap wajah Papinya.


Diam, dan hanya ada air mata. Tidak lagi berkata untuk membela sahabatnya, dan tidak menyalahkan Papi kandungnya.


"Lovie, maafin Papi."


Lovie hanya menatap wajah itu, dan perlahan Papi Benny memeluknya.


Papi Benny yang sudah terbelenggu, perlahan menata perasaannya. Air mata bening sudah luruh membasahi pipi.


"Maafin Papi. Papi yang salah. Papi sudah bersalah." Ucapnya sendu.


Lovie yang terdiam, seperti patung yang sudah menangis. Hanya ada, air mata yang mengalir lembut.


"Papi minta maaf. Papi yang salah."


"Papi. Aku kangen Papi." Lirihnya Lovie dan tangisnya menjadi tersedu-sedu.


Suasana menyayat hati dan Papi melepaskan pelukannya.


Papi menyeka air mata Lovie, "Kamu sudah besar. Kamu bisa melakukan apapun, sesuka hati kamu."


"Emhh."


"Papi mencarimu kemana-mana."


Kembali memeluk dan mencium kepala Lovie.


Lovie menatap wajah Papi, "Aku tidak mau pulang ke rumah. Aku lebih suka tinggal di rumah Kak Richi."


"Richi?" Tanya Papi Benny, yang tidak mengerti.


"Iya, Kak Richi. Richard De Nuca. Aku, selalu memanggilnya, Kak Richi."


"Iya, Papi mengerti. Anak muda memang harus punya pacar."


"Papi tidak marah lagi?"


"Papi hanya kaget. Papi hanya kecewa sama diri Papi sendiri. Papi terlalu sibuk dan tidak memperhatikan kamu."


"Aku semalam bertemu Nenek. Terus, aku antar Nenek kembali ke rumah sakit."

__ADS_1


"Samalam kamu bertemu Nenek?"


"Iya, Nenek menunggu aku di kedai Mie kesukaanku. Aku datang bersama Kak Richi, tapi Nenek cuma duduk saja di depan kedai itu. Tidak masuk dan tidak makan apapun. Aku melihat pakaian rumah sakit, aku jadi mengantar Nenek ke rumah sakit. Setelah aku kembali, saat aku selesai makan mie, Damian datang. Kak Richi juga masih di mini market. Saat melihat aku digendong paksa sama Damian, Kak Richi marah."


"Lalu, mereka saling memukul?"


"Iya, awalnya Damian yang memancing emosi Kak Richi. Aku berusaha melerai Kak Richi, tapi malah memukul Damian. Damian membalas, aku menutup wajah Kak Richi, pundakku jadi sakit karena pukulan Damian."


"Apa kamu terluka?"


"Aku tidak terluka. Meski aku, terjatuh dua kali."


"Lovie, kamu bisa terluka."


"Aku tidak terluka. Tapi Kak Richi yang terluka. Papi juga salah sangka sama Talita. Talita baik. Dia sekarang juga bekerja menjadi asisten."


"Iya, Papi sudah mengenal Bosnya."


"Nah, Papi malah sudah tahu. Aku baru tahu tadi, waktu Bosnya Talita menjenguk Kak Richi. Makanya, Talita ikut aku kemari. Tapi, dia takut sama Papi."


"Kenapa takut sama Papi?"


"Papi apa-apa nyalahinnya ke Talita. Bukan sama aku, padahal aku yang bersalah."


"Iya, Papi akan minta maaf sama sahabat kamu."


"Papi. Terima kasih mau mendengarkan perkataan aku. Aku pergi dulu."


Papi Benny hendak melarang putrinya pergi, namun kalau dilarang pergi, bisa saja Lovie semakin melawan Papinya dan Lovie bisa kabur lebih jauh lagi.


"Sikap Lovie masih labil, kalau aku melarangnya. Dia pasti akan nekat."


Kemudian, Papi Benny mengikuti Lovie yang berjalan melewati lorong ruangan ini.


"Kak Doddit."


"Nona. Bagaimana hasilnya?"


"Aku yakin, Kak Richi tidak akan ditahan polisi."


Doddit menoleh ke arah Mr. Benny.


"Lovie." Papi Benny lebih mendekat, lalu menatap Doddit.


"Papi, ini asisten Kak Richi. Dia juga menjaga aku."


"Saya Benny, Papinya Lovie."


"Saya Doddit. Saya asisten pribadi Bos Richard."


"Terima kasih sudah menjaga putri saya.


"Sama-sama Mr. Benny"


"Saya sepertinya sudah salah sangka. Saya akan segera mencabut laporan saya."


"Saya turut prihatin, atas kejadian ini.


Keduanya saling tersenyum, Lovie sudah pergi keluar lebih dulu.


"Bos Richard, akan segera dibawa pulang ke rumah. Saya kemari, memang ingin menjemput Nona Lovie."


"Ini kartu nama saya. Bila ada sesuatu dengan putri saya. Tolong kabari saya."


"Baik Mr. Benny."


Yang di depan pintu utama kantor polisi.


"Lovie. Lovie. Gimana hasilnya? Apa kamu masih perawan?"


"Iih, apaan sih Talita. Malu, didengar orang."


"Aku masih bingung. Aku beneran nggak ngajarin kamu kayak begituan, apalagi pegang burung. Aku mana pernah begituan."


"Sudahlah, aku pusing. Aku mau pulang sama Kak Doddit."


"Terus aku gimana? Aku mau ikut sama kamu."


"Bukannya, kamu kerja di apartemen Bos kamu. Sana, pergi ke apartemennya."


"Lovie, jangan tinggalin aku."


"Kalau kamu mau ikut aku. Kamu hapus kontrak kerja kamu sama Bos kamu itu. Aku tidak suka sama dia."


"Aaa, nggak semudah itu."


Lovie yang di depan, bersama Talita dan mereka terlihat riuh sekali.


Papi Benny masih mengobrol dengan Doddit. Pengacara Rich, menguping pembicaraan Doddit tentang kondisi Bos Richard.


"Saya, akan menyempatkan diri untuk menjenguknya"


"Terima kasih Mr. Benny, Bos saya orangnya memang begitu. Namun, kalau dia sudah menyayangi seseorang. Dia menjaga baik-baik orang yang dia sayang."


"Syukurlah kalau begitu."


Ibu tiri, datang mendekat.

__ADS_1


__ADS_2