
"Rey, aku sudah di lobby apartemen Loona. Kamu pulang jam berapa?" Tanya Richard, dari panggilan telephone.
"Aku jalan pulang. Masuk saja duluan. Di dalam ada Talita."
"Talita? Siapa? Adik baru kamu?" Tanya Richard dan terkesan meledek Rey. Karena, Bapaknya Rey hobby menikah. Rey sendiri, putra dari istri yang ke-2.
"Dia simpanan aku. Kamu masuk saja duluan. Dia nggak nggigit."
"Aauh, aku jadi takut. Aku tunggu di lobby saja."
"Dasar, sama cewek saja takut."
"Emh, siapa tahu Jihan juga ada di dalam." Richard ini, memang terkadang cemas kalau Rey tetap seperti itu. Selalu ingin mendekatkan dirinya dengan Jihan, agar kembali seperti dulu.
"Aku serius. Kamu lebih mengenal aku. Mana pernah aku berbohong. Bentar, aku hubungi Talita. Biar dia nyamperin kamu."
Tidak butuh waktu lama, Talita sudah tiba di lobby dan melihat ke sekitar ruangan itu.
"Bos, dimana orangnya? Aku tidak melihatnya."
"Cari pria tampan, yang berpakaian serba lux."
"Nggak ada." Balasnya.
Richard yang masih memakai masker dan duduk di kursi. Tampak membaca majalah, namun mendengar suara gadis belia yang satu ini, perlahan melihat ke arahnya.
Talita yang berdiri di lobby, tidak melihat sosok yang disebutkan oleh Rey, dia jadi menggerutu sendiri, "Rey bikin kesal. Mana orangnya. Aku tidak melihat sahabatnya."
Richard tetap duduk santai dan tidak berniat mendekati Talita.
Talita kesal, dia menatap ke beberapa orang yang ada di lobby apartemen.
"Huh, pasti aku dikerjain sama Rey." Talita lantas pergi dan tidak lagi mencari sahabatnya Rey.
Melihat hal itu, Richard jadi penasaran, dan berkata "Rey, punya mainan baru. Lucu juga."
Setelah beberapa saat kemudian. Richard sudah tampil menawan.
Berpakaian dengan setelan jas yang baru saja dia beli dari butik terdekat.
Jas warna nude dan terkesan manis. Tidak lupa membawa buket, untuk simpanan sahabatnya.
"Demi Rey yang memperkenalkan aku sebagai CEO. Hissh," Richard ini, sahabat tapi sudah seperti musuh bebuyutan dengan Rey.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
"Iya, tunggu sebentar."
Talita tanpa melihat monitor pintu, ia langsung saja membuka pintu.
"Hai,..." Sapa Richard lebih dulu.
Tampan, menarik, menawan, serba lux dan sangat sensual di mata Talita.
"Wow. Ternyata dia sahabatnya."
"Silakan masuk. Rey, baru mandi." Ucap Talita dan berusaha sopan.
"Baik." Balas Richard, sesampainya di ruang tamu, Richard berkata "Ini hadiah buat kamu."
"Hadiah??"
"Iya, hadiah atas hubungan kalian berdua."
Talita dengan wajah bahagia dan terlihat lebih kalem. Talita menerima buket bunga segar, pemberian dari sahabatnya Rey.
"Terima kasih. Tidak perlu repot-repot begini." Balasnya dan ia jadi tersipu, saat mencium aroma bunga mawar putihnya.
"Owh, itu hanya simbolis saja. Besok, aku akan kirim hadiah, yang cocok untuk kalian berdua."
"Emh, tidak perlu seperti itu. Aku sama Rey sudah tinggal bersama. Tidak perlu terlalu formal."
"Tidak masalah. Inilah gunanya sahabat."
Talita keasyikan sendiri dengan bunganya, ia sampai lupa. "Maaf, aku cuekin. Mari silakan duduk."
"Iya."
"Mau minum apa? Teh, kopi, apa minuman soda?" Tanya Talita.
"Rey biasanya, cuma stok teh jeruk."
"Kamu tenang saja. Selama aku disini. Aku stok semuanya."
"Baguslah, aku suka kopi latte yang rendah gula."
"Oke. Aku akan segera membuatkan khusus buat anda, Tuan."
"Saya Richard. Richard De Nuca.".
__ADS_1
"OMG. Jadi, dia? Dia, Richard De Nuca, yang aku banggain di depan Bos Rey. Matilah aku. Aku harus gimana?"
Wajah itu kembali layu dan tidak sesegar bunga yang bermekaran.
Richard bertanya, "Nama kamu?"
"Aku, Talita." Jawabnya manis dan selekasnya pergi, dengan wajah yang malu.
"Dia kenapa? Apa aku salah berucap?"
Richard kemudian, duduk di sofa.
Apartemen Rey bernuansa abu-abu dan hitam. Interior dengan dinding warna abu-abu muda, dan terlihat sangat modern.
Ada kaca hexagonal yang tertempel di dinding ruang tamu. Hanya sekedar hiasan untuk dinding.
Saat ini, Richard duduk di sofa warna hitam dan berbentuk L.
"Rey beneran tidur sama dia? Sepertinya, Talita juga masih sangat belia." Batin Richard yang berfikir.
2 menit kemudian.
"Kopi latte ala Talita. Silakan dinikmati." Ucap Talita dengan manis.
"Terima kasih."
Tidak lama, Rey datang mendekat.
"Kamu sudah lama?" Tanya Rey.
"Baru saja. Aku tadi dari rumah sakit. Ini bekas suntikannya."
"Rumah sakit? Kamu sakit apa?"
Rey perlahan duduk di sebelah kanan Richard. Talita duduk di sofa single dan memeluk bantal.
"Aku makan mie setan, produk buatan aku sendiri. Eh, aku pingsan. Sama Mommy, aku dibawa ke rumah sakit." Jawabnya santai.
"Ckckck, sudah jadi bujang lapuk. Masih saja, ngerjain orang tua."
"Yee, aku beneran nggak sengaja. Aku mana bisa ngerjain Mommy. Yang ada, aku dikerjain sama Mommy."
"Terus, ngapain kamu kemari?"
Richard menatap Talita, ia jadi bingung harus cerita dari mana. Richard berkata "Aku sudah tidak perjaka."
Mendengar itu, Talita tersenyum. Dia memeluk batal sofa dan kegemasan sendiri. Entah, apa yang dia bayangkan.
"Pria dewasa, ternyata bisa curcol." Dalam hatinya ngakak.
Talita menatap anunya Richard, dan Richard spontan menutupi bagian sensitifnya dengan bantal sofa.
"Oke. Aku tidak akan menganggu kalian berdua." Talita semakin ingin tertawa.
"Kamu seriusan, tinggal sama gadis itu?"
"Iya, aku serius. Dia juga kerja sebagai asisten pribadi aku."
"Kamu gila? Jihanmu gimana?"
"Jihan, sudah dewasa. Biarkan dia memilih hidupnya sendiri." Jawaban Rey, dalam hatinya juga tidak tega.
Richard berkata "Aku tidak bisa balikan sama Jihan. Aku sekarang, sudah tidak perjaka lagi."
"Really?"
"Yes. I did it consciously."
"Apa kamu bisa melupakan Jihan??"
"Rey, aku sekarang sudah gila. Bahkan, bayanganku cuma wajah gadis itu. Dia aku gituin juga pasrah saja. Nggak nangis, nggak nyesel. Anehnya, aku juga terima perhatian dia. Aku juga bingung."
"Lalu, bagaimana dengan Jihan?? Kamu sudah janji, kamu mau menikahinya."
"Dulu, itu dulu, waktu remaja."
"Richard."
"Rey. Aku sudah melupakan kesalahan Jihan. Tapi, bayanganku soal Jihan yang bercumbu tetap menghantui pikiranku."
"Ayolah, redam amarahmu."
"Aku tidak marah. Aku tetap nggak bisa bersama Jihan. Kamu saja yang menikahinya."
"Aku mana bisa menikahi dia. Dia sudah seperti adikku sendiri. Apalagi, Papaku menikahi ibunya. Apa kamu lupa?"
"Terserah kamu saja. Yang jelas, aku sudah tidak bisa bersama Jihan."
"Huh, kenapa rencanaku jadi begini?"
Rey jadi bingung sendiri, dan menatap jauh entah kemana pandangan matanya.
Richard meraih cangkir hitam dan segera meminum kopi latte buatan Talita.
__ADS_1
"Aku sudah berjanji padanya. Aku akan membantu dia sampai kalian menikah."
"Sorry Rey. Aku tidak bisa. Aku sudah berulang kali mencoba, seperti yang kamu sarankan. Buktinya, tetap sama. Sekarang, kedua orang tuaku juga sudah punya pilihan untuk aku."
"Jadi, gadis itu pilihan Mommy kamu?" Tanya Rey dan ia jadi penasaran akan sosok gadis itu.
Richard yang kembali meletakan cangkir, serta tatakannya ke atas meja. Richard menoleh ke wajah Rey.
Richard berkata pelan "Iya, secara kebetulan saja. Mommy menunjuk dia. Dia masih muda dan masih sekolah. Aku pasti sudah gila. Aku menerobos batasanku sendiri."
"Masih sekolah?? Masih remaja?" Tanya Rey dan semakin penasaran.
"Yups, hampir mirip sama simpanan kamu. Bukannya, simpanan kamu masih belia?"
"Owh, itu. Dia murid Ibuku. Aku ajak dia kerja dan dia memahami aku." Balasan Rey, berubah jadi canggung.
"Dia masih kecil. Kenapa nggak nyari cewek yang lain. Kamu sepertinya juga sudah gila."
"Aku? Oh, iya. Aku hanya ingin mencari inspirasi buat desain iklan. Eh, aku malah kepincut sama Talita."
"Rey, apa Jihan tahu? Kalau kamu sudah membawa gadis kemari?"
"Iya. Pasti Jihan akan segera tahu."
Baru saja, diobrolin. Jihan datang dan membuka pintu apartemen Rey.
Richard melihat kalau itu Jihan, ia buru-buru berlari ke kamar mandi.
Rey meraih bantal sofa dan memeluknya gemas.
"Rey." Suara manja dari Jihan.
Jihan berlari mendekat dan Rey mengerti akan situasi ini.
Jihan yang datang sudah menangis dan memeluk Rey. Talita curiga akan suara tangisan gadis.
"Jihan?? Hish, cewek kecentilan." Geramnya Talita dan keluar dari kamarnya.
Richard mengintip dari pintu kamar mandi, yang tidak jauh dari ruang tamu.
"Kamu kenapa?" Tanya Rey dan sudah memeluknya.
"Richard kejam. Dia nggak mau ketemu aku. Malahan, sekarang ponselnya yang pegang cewek. Aku nggak bisa lagi telephone dia."
Hikss, air mata itu sudah luruh begitu saja.
Talita sudah mendekat dan tampak menatap Rey.
Rey masih memeluk dan mengelus rambutnya Jihan.
"Aku harus gimana? Aku nggak bisa mengejar Richard. Rey, bantuin aku, aku mau kembali sama Richard."
"Aku sudah membantu kamu. Tapi, aku juga tidak bisa memaksa Richard, untuk menerima kamu kembali."
"Aku masih mencintai dia. Aku cuma mau dia. Aku sudah mencoba melupakannya, tapi aku tidak bisa."
"Jihan."
"Rey. Aku mohon."
Hikss. Nangisnya beneran dan Rey semakin bingung.
Talita tampak bersedekap dan melotot menatap mata Rey.
Rey menggeleng dan meminta Talita agar pergi. Sayangnya, itu tidak mempan. Talita, bekerja sesuai kontrak perjanjian mereka.
"Darling." Suara panggilan dari Talita.
Mendengar itu, Jihan menoleh dan menatapnya kesal.
"Rey, dia siapa?"
"Jihan, dia itu."
"Aku sudah mengatakan. Kalau, aku simpanan Rey. Kenapa kamu tidak percaya padaku?"
"Rey, dia beneran kekasih kamu. Aku tadi siang disini. Dia main masuk ke aparteman ini."
"Jihan, aku bisa jelaskan sama kamu."
"Rey, kamu jahat. Kamu sama saja seperti Richard."
"Jihan, ini tidak seperti yang kamu bayangkan."
Talita mendekat dan memeluk Rey.
Richard yang masih mengintip, merasa geli sendiri, dia bahkan membayangkan kalau Rey beristri dua.
"Bapak anak, sama saja." Desis Richard.
Papanya Rey, terkenal tukang kawin. Entah secara kontrak maupun resmi, yang jelas sama saja. Begitu pula dengan Mamanya Jihan. Kawin kontrak, sudah biasa.
"Rey milikku. Jangan menyentuhnya." Jihan emosi.
__ADS_1