
Suasana malam itu, tidak pernah ada dalam bayangan Nyonya Bianca. Sampai beliau, tidak kuat menahan rasa sakit anaknya.
Lift sudah kembali ke atas dan Lolla yang menangis jadi terduduk, memukul dinding elevator.
Nyonya Bianca, memilih keluar dari lift dan berlari dengan air mata yang tak terbendung lagi.
"Cherry...." Isak tangisnya dan segera berlari ke sebuah kamar yang ada di lantai paling atas.
Lolla yang mengusap air matanya sendiri, ia menyunggingkan bibir manisnya, membatin "Nyonya Bianca, ini baru awal. Aku akan membalas semua rasa sakit, yang anda torehkan padaku dan juga kepada adikku."
Lolla segera merapikan dirinya dan mengusap air matanya. Lolla keturunan Aledraz yang memang pandai, apalagi soal tipu daya yang penuh kelicikan.
Yaps, itulah sifat Lolla yang sesungguhnya, keturunan keluarga Aledraz.
Setelah itu, Lolla pergi meninggalkan hotel JM dan kembali rumah.
Sebenarnya, Lolla juga tidak ingin menikah dengan Om Rasya, tetapi dr. Syilla sendiri yang membuat kedua orang itu jadi menikah. Meski sudah keguguran, Syilla tidak keberatan saat berbagi suami dengan Lolla.
Lolla sendiri, juga sudah jatuh hati dengan Rasya.
"Daddy, jemput aku. Aku di hotel JM. Ada masalah sama Talita." Ucapnya, saat dipanggilan telephone.
"Baik, tunggu aku di kamarmu saja."
"Hish, maunya selalu begitu."
"Syilla juga lagi dinas malam. Bukannya, dia sudah bilang sama kamu."
"Iya, makanya, Daddy buruan kemari."
Ya, seperti itu hubungan mereka. dr. Syilla memang lebih mementingkan pekerjaannya. Dulunya, gadis berusia yang berusia matang, baru mengenal laki-laki yang sekarang jadi suaminya. Itupun, karena Papi Benny dan Mami Raisa yang mengenalkan mereka.
Saat di hotel, Nyonya Bianca mencari informasi dari daftar tamu. Sayangnya, Lolla sudah chek out.
Lolla diajak pulang ke rumah Om Rasya, tapi ada kecauan yang membuat Lolla jadi cangung sendiri.
Setelah, tiba di rumah itu. Ternyata di rumah ada Syilla. Nah lo, jebakan nakal.
Perjanjiannya, selama menikahi Lolla, tidak boleh mengajaknya ke rumah. Apalagi, ada anak-anak yang sudah paham akan masalah orang tuanya.
Nyonya Bianca, sibuk mencari tahu tentang Talita, yang disebutkan oleh Jihan.
Flashback Off.
Nyonya Bianca jadi mengawasi istrinya Rey yang bernama Talita. Bahkan, dari apartemen Loona sampai tiba di sekolah ini.
"Ujian sekolah."
Nyonya Bianca mengingat akan usia anak ke duanya dengan suami yang dulu. Memang sudah 17 tahun dan mendekati usia 18 tahun. Talita, sebentar lagi akan ulang tahun.
Padahal, sudah lama ulang tahun ke 17, Talita baru bikin identitas diri, saat di adopsi keluarga Nuca.
Pikirnya Talita buat apa kartu identitas, dan hidupnya juga sama saja. Hidup dalam kesusahan dan kemiskinan.
Sudah 2 jam menunggu di sebuah restoran, dekat sekolahan ini.
Banyak siswa yang sudah keluar dari gedung, mobil-mobil yang menjemput mereka juga sudah antri di depan gerbang, untuk mendapat giliran masuk ke halaman sekolah.
Nyonya Bianca, melihat ada mobil keluarga Nuca yang baru datang.
"Mobilnya, Nyonya Nancy."
Nyonya Bianca hanya melihat dari kejauhan.
Setelah beberapa saat kemudian. Beliau kembali mengendarai mobilnya, melihat mobil Nyonya Nancy tengah berjalan keluar dari pintu gerbang SMA Sheen Internasional. Nyonya Bianca membututinya.
__ADS_1
Set!
Saat di pertengahan perjalanan, mobil Nyonya Nancy berhenti mendadadak. Sepertinya, Nyonya Nancy memang sengaja menghentikan mobilnya,
Pengawalnya, segera keluar dari mobil dan membuka pintu belakang.
Nyonya Bianca, bisa melihat Nyonya Nancy yang turun dari mobil.
Berdebar!
Hadirkan pesona yang penuh kekuasaan, dari seorang Nyonya Nancy.
Nyonya Bianca, keluar dari mobilnya.
Dua perempuan tua, yang sama-sama punya kedudukan terhormat dan saling memancarkan aura mereka.
Nyona Bianca berjalan mendekat. Saat Nyonya Nancy hanya berdiri di samping mobilnya.
"Nyonya Nancy."
"Iya Nyonya Bianca. Saya tahu, kenapa anda mengukuti mobil saya."
"Saya ingin, mengetahui tentang putri angkat anda Nyonya Nancy."
"Silakan, anda tanyakan saja. Saya akan memberikan infoirmasi. Tapi, tidak disini."
"Baik Nyonya Nancy, saya akan berkunjung ke kediaman anda."
"Tapi, saya akan segera ke Min-ju, lalu mengurus perkuliahan putri saya. Saya dalam waktu dekat, juga harus ke luar negeri."
Mendengar itu, Nyonya Bianca merasa sudah dipermainkan oleh Nyonya Nancy.
Nyonya Bianca bertanya, "Nyonya Nancy, apa putri anda, saat ini sedang bersama anda?"
"Talita pergi bersama suaminya. Anak muda tidak suka diatur-atur oleh orang tuanya. Saya harap, anda tidak lagi mengatur Jihan, untuk mendekati putra saya. Kecuali, anda ingin mengingat masa lalu anda."
Degh!
Jantungnya berdebar kencang, Nyonya Bianca hanya berfikir kalau Sheen dan Rich, semata-mata hanya pernikahan bisnis. Namun, ternyata bayangannya salah besar. Dua anaknya, mengalami masa yang sangat menyedihkan. Bahkan, sampai merelakan kesuciannya.
"Tidak mungkin. Cukup aku saja yang membuat masa lalu kelam. Aku yang bersalah. Cherry, Cantika tidak bersalah."
Tatapan nanar dengan dada berdebar. Sudah penuh kesakitan.
Kali ini, serangan balik dari Nyonya Nancy tidak main-main. Apalagi, putrinya sudah ada dalam genggam Nyonya Nancy.
"Talita anak yang cerdas. Tapi, saya juga tidak tahu. Apakah dia masih mengharapkan Mamanya kembali atau tidak. Yang saya tahu, dia sangat menyayangi Mamanya. Namun, dia akan melakukan apa saja yang saya minta. Termasuk." Nyonya Nancy mendekat dan berbisik ke telinga kanannya "Termasuk, memenjarakan Ibu kandungnya."
Nyonya Nancy, tersenyum tipis, beliau berkata "Sebentar lagi, polisi akan mendatangi anda Nyonya Bianca. Saya sudah menemukan bukti. Kalau anda yang membuat Lucas datang ke dunia ini. Jadi, Richard sama sekali tidak ada hubungannya dengan rencana busuk anda. Richard memang pernah membuat kesalahan dengan mencintai Jihan. Namun, dia masih terlalu polos. Sekarang, Richard sudah tahu mana yang baik untuk dirinya dan mana wanita busuk ajaran anda, Nyonya Bianca Aledraz."
Nyonya Nancy berjalan masuk ke mobil. Nyonya Bianca jadi gemetar dan rasanya tidak sanggup untuk berdiri tegap.
Setelah mobil Nyonya Nancy melaju pergi meninggalkan tempat itu, Nyonya Bianca terduduk di atas aspal.
Raut wajah penuh kebencian, tapi hatinya sudah terluka.
"Kenapa semua ini terjadi padaku??Keluargaku, anakku, dan masa laluku."
Penyesalan, mungkin tak akan bisa mengobati luka hatinya ini.
Dari sisi jalan lain, Talita dan Rey melihat sosok Nyonya Bianca yang sudah rapuh.
"Talita."
"Iya."
"Kamu mau menghampirinya?"
__ADS_1
"Aku tidak mau mengenalnya lagi. Mommy benar, dia harus merasakan setiap lukaku. Sekarang dia ingin merusak kebahagiaan sahabatku. Aku tidak mau lagi menganggapnya ada dalam hidupku. Selama ini, aku sudah banyak mengeluarkan air mata karena dia. Aku tidak mau lagi, menangis hanya karena merindukan dekapannya."
Rey menoleh ke wajah Talita, meraih tangan kanan Talita, lalu berkata "Ayo! Kita bersenang-senang."
"Kemana??"
"Kemana saja. Aku yakin, kamu tidak butuh belajar lagi. Ujian sekolah bagi istriku sangatlah mudah."
"Iss, kamu ini. Tetap saja aku belajar. Aku belajarnya pagi-pagi. Satu jam sebelum berangkat ke sekolah. Aku belajar."
"Iya, makanya sekarang kita kencan saja. Nonton, Shopping??"
"Aku ada kerjaan di Rich.".
"Yakin? Nggak mau nonton? Terus, nanti kita shopping."
"Udah deh. Aku paham kalau kamu baik begini. Lihat itu, Nyonya Bianca tetap menawan. Apalagi aku. Aku tidak akan bersedih hanya karena Ibu kandungku, yang akan di penjara." Balasnya Talita yang terdengar begitu santai.
"Oke, aku akan mengantar kamu ke Rich. Nanti sore, aku jemput kamu. Terus ke mal, shopping."
"Aaa, terserah kamu saja."
Talita meraih tas ranselnya dan segera melepaskan seragam sekolahnya. Membuka satu persatu kancing kemeja dan segera memakai dress panjang semata kaki.
Kemudian, melepaskan rok seragam sekolahnya. Tidak lupa, ia merubah dandanan, dengan make-up lebih dewasa. Meski tidak berlebihan, tapi lipstik ombre kemerahan, lebih memperlihatkan tampilan yang berbeda.
Menebalkan eyeliner dan alis mata, membuat karakter pada bagian mata terlihat lebih tegas.
Tidak lupa memakai blazer dan menyemprotkan parfum.
"Hemm, wanginya sudah seperti hantu."
"Fokus nyetir saja, nggak perlu pedulikan aku."
"Ya ini, parfum kamu nyengat banget." Rey menoleh ke wajah Talita.
Talita juga menoleh ke wajah suaminya "Emh, tapi aku suka parfum ini."
"Nanti, aku beliin parfum yang aku suka."
"Idih, pasti itu yang biasa di pakai Jihan atau sekretaris kamu."
"My Darling, kamu jangan selalu menyebutkan mereka."
"Rey, memang benar buktinya begitu. Itu, sekretaris kamu makin lama makin berani. Sudah tahu aku datang ke kantor kamu, malah membuka blazer dan masuk ke ruangan kamu. Buat apa coba. Buat nyusui Kamu."
"Talita, jaga bicara kamu. Thalia gadis baik-baik. Aku sudah lama mengenalnya."
"Cih, baik apanya. Baik ada maunya. Iya, kalau cowok dipamerin begituan ya mau-mau saja." Talita berganti sepatu.
Rey jadi tersenyum, ia menoleh ke arah Talita. Rey berkata "Ciee, yang mulai cemburuan."
"Hemms, aku cemburu? Aku nggak begitu."
"Terus, kenapa kamu seolah sudah cemburu sama Jihan dan Thalia."
"Rey, aku melihat dengan mataku sendiri. Mereka ingin mendapatkan kamu. Tapi, kamu suami aku. Yang berhak atas diri kamu, ya cuma aku." Sibuk memakai high heels.
"Darling, honey, my wife. Aku tidak akan pernah seperti Papa. Aku berjanji sama kamu. Aku tidak akan menikahi wanita lain. Aku juga tidak mau pusing. Istri satu saja sudah ribetnya minta ampun, apalagi punya 3 istri." Rey jadi terkekeh gemas.
Talita yang ketus, menoleh ke wajah suaminya "Hemm. Iya, 3. Oke silakan, punya 3."
"Jangan dong, cukup kamu saja yang buat aku ribet. Oke?!"
"Hish, aku mandiri. Memangnya, aku suka bergantung sama kamu dan minta dimajain sama kamu."
"Iya sayangku, kamu memang serba bisa."
__ADS_1