Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Test Kehamilan


__ADS_3

Lovie yang sudah duduk di sofa tidak henti menangis, dengan mimik wajah terlihat begitu polos.


Jemari tangan Richard, sudah mengusap air mata itu dan Nyonya Nancy tampak memegang punggung tangannya.


Richard berjongkok dihadapannya, ia berkata "Sudah jangan menangis. Kita bisa membuatnya lagi."


"Tapi aku." Telunjuk Richard, menutup mulut kecil ini.


"Nanti. Kalau kamu sudah selesai PMS."


Lovie menoleh ke wajah Nyonya Nancy. Beliau juga terlihat tenang dan tidak terlihat marah padanya, Lovie berkata "Ibu, saya sudah gagal."


"Kamu tidak gagal. Richard yang sudah gagal. Mungkin, ini belum rezeki kita semua."


"Ibu tidak marah?" Pertanyaan terdengar polos, membuat Nyonya Nancy meraihnya dalam pelukan.


"Ibu tidak akan marah. Ini, baru awalnya saja. Kamu tidak perlu cemas seperti ini."


"Ibu, maafkan saya."


"Kamu tidak perlu meminta maaf begini. Kamu masih muda, kamu bisa sekolah dulu. Hamilnya, nanti saja, setelah kamu selesai ujian kelulusan."


"Tapi, masih 4 bulan lagi. Apa Ibu tidak keberatan?"


"Ibu tidak keberatan."


Richard berkata "Aku keberatan. Itu terlalu lama. Aku bisa mencetak setiap hari, entah nantinya jadi atau tidak jadi."


Hikks....


Lovie malah menangis lagi dan tangisnya semakin tersedu-sedu.


Sang Mommy, jadi melolot ke wajah putra tampannya dan memeluk hangat calon menantunya. Tangan Nyonya Nancy, juga mengelus rambut Lovie.


"Ibu, saya takut kalau gagal lagi."


Itulah Lovie. Setiap dia gagal menyelesaikan tugas pentingnya. Berubah kecewa, pada dirinya sendiri. Merasa gagal dan sakit sekali rasanya.


Hikks...


"Lovie ingat? Kita pernah konsult sama dokter kandungan, waktu di rumah sakit."


"Iya Ibu."


"Dokter sudah mengatakan, kalau Lovie bisa hamil. Mungkin, Lovie terlalu dini untuk segera hamil. Nanti, kita bisa konsultasi lagi sama dokter dan meminta vitamin penyuburan."


"Iya. Ibu benar."


Nyonya Nancy dengan sabar, menyeka air mata Lovie. Richard hanya bisa terdiam.


"Sudah, jangan menangis lagi. Pergilah berganti seragam. Ibu akan mengantar kamu ke sekolah."


"Baik, Ibu."


Lovie bergegas untuk memakai seragam sekolahnya.


Sang Mommy, menatap wajah putranya "Kamu ini, Lovie kecewa sama dirinya sendiri. Kamu malah bikin dia semakin menangis."


"Momm, aku mana ngerti kalau dia kecewa. Aku pikir karena PMSnya, wajar jadi baperan." Balasnya Richard.


"Sana mandi, Mommy yang akan mengantar Lovie. Sekalian, Mommy mau menemui Diana."


"Mommy ada urusan apa, mau menemui Tante Diana?"


"Mau pamer, kalau Lovie calon mantuku. Sama, soal Talita. Daddy sudah setuju, kalau mau mengangkat Talita jadi anak perempuan Mommy."


"Mommy serius??"


"Iya. Mommy serius. Di KK cuma ada Mommy dan Daddy. Talita juga tidak punya orang tua. Mommy sudah sepakat sama Daddy, mau mengadopsinya secara hukum. Kamu, harus berbagi fasilitas sama Talita."


"Mom. Aku."


"Lovie sudah menerima kamu. Tapi, kamu masih harus berusaha membuat cucu untuk Mommy. Ingat itu! Cucu buat Mommy sama Daddy."


Sang Mommy pergi dan Richard jadi duduk di sofa, ia jadi kesal sekali setelah mendengar soal ini. Ternyata, orang tuanya serius, akan menjadikan Talita sebagai adiknya Richard.

__ADS_1


"Terserah kalian saja."


Richard tak ambil pusing dengan hal lainnya. Yang sekarang dia pikirkan cuma Lovie, bagaimana cara membuat Lovie bahagia ketika bersama dirinya.


1 jam kemudian


Di sekolah tempat Lovie menimba ilmu.


Suasana begitu tegang, setiap ada pemeriksaan bulanan.


Setiap siswa diperiksa tas dan lokernya. Namun, kali ini ada pemeriksaan untuk para murid perempuan. Yaitu, ada test untuk kehamilan.


Karena kabar yang berseliweran di berita dan sosial media. Pihak yayasan Sheen dan kepala sekolah, telah sepakat melalukan pemeriksaan test kehamilan, kepada semua siswi yang terdaftar di Sheen.


"Duh, gimana kalau Lovie ketahuan." Batin Ron sang ketua kelas.


Ron tampak berdiri, saat tasnya lebih dulu diperiksa, dan murid perempuan sudah antri satu persatu untuk ke toilet dan disana ada dua petugas wanita dari tim kesehatan sekolah, serta guru yang bertugas sebagai pengawas sekolah.


"Diana, memang ada hal seperti itu di sekolah ini?" Tanya Nyonya Nancy dan sebenarnya beliau sudah paham.


Bu Diana juga terlihat cemas, apalagi soal Talita. Bagaimana nantinya, kalau Talita ternyata sudah hamil dan itu perbuatan putra tampannya. Meskipun, beliau berkuasa di sekolahan ini, namun aturan tetaplah aturan, tidak bisa dirubahnya.


"Iya Kak Nancy. Kabar akhir-akhir ini, sangat meresahkan pihak yayasan dan kepala sekolah. Kepala sekolah, juga tidak mau kalau ada siswa yang mencoreng nama baik Sheen." Jawabnya Bu Diana.


Nyonya Nancy, yang tidak basa basi, bertanya "Diana, apa kamu mengenal murid yang bernama Talita?"


"Talita?!" Bu Diana cukup terkejut. Ada hubungan apa, Nyonya Nancy dengan Talita. Itulah, benak Bu Diana saat ini.


"Iya, aku mengenal dia karena Lovie. Lovie calon menantuku. Dia sudah tinggal di rumahku." Ucapnya Nyonya Nancy.


Pertemuan di ruang kerja Bu Diana dan ruangan ini sangat unik.


Tampak nuansa ceria dan penuh warna, malahan seperti ruangan playgroup. Tulisan angka-angka, bentuk bangun dari lingkaran, segitiga, persegi, kubus balok dan ada rumus logaritma yang menghiasi dinding ruangan. Lalu ada semacam mainan rubik dengan ukuran besar, tampak menghiasi sudut ruangan ini.


Terdapat sofa L, yang berwarna tiffany blue, yang sekarang di duduki oleh Nyonya Nancy, sebagai tamu sekaligus pemilik yayasan yang sesungguhnya.


Karena, hal yang sebenaranya. Dua tahun lalu, sekolahan ini sudah di akusisi oleh pemilik saham tertinggi. Namun, tidak berniat menunjukan diri, kepada pemilik terdahulu yaitu keluarga Bu Diana.


Nyonya Nancy tersenyum, beliau berkata "Sudahlah, jangan mencemaskan Talita. Dia putriku."


"Apa Kak Nancy tidak berfikir ulang, untuk menjadikan Talita sebagai putrimu??"


"Benar. Ekor akan bergerak lebih dulu. Ketika kepalanya hendak menelan mangsanya."


"Kamu lebih pintar dariku. Meski dunia ini menganggap aku ini beruntung. Tapi, putraku satu-satunya yang meneruskan masa depan Rich. Aku hanya, tidak mau putraku terlalu bekerja keras sendirian."


Bu Diana jadi bingung, beliau lalu berkata "Kak Nancy. Aku berniat, menikahkan Talita dengan putraku."


"Malah bagus. Aku akan berbesanan sama kamu."


"Kak, aku serius."


"Diana, apa aku terlihat bermain-main?Aku sudah menolongmu demi sekolah ini. Kali ini, kamu harus membantu aku, untuk masa depan putraku."


"Kak Nancy yakin akan hal ini?"


"Setelah Richard menikah nanti, aku hanya ingin Richard fokus membuatkan cucu. Aku hanya ingin cucu." Wajah itu, jadi kekanakan.


"Iya, aku juga ingin punya cucu. Tapi, tidak semudah itu, kita mengatur kehidupan putra kita."


"Aku akan kembali setelah meresmikan Talita." Perkataan itu, terdengar santai. Tapi, Nyonya Nancy terlihat serius akan ucapannya barusan.


Bu Diana, menatapnya "Kak Nancy."


"Percayalah padaku."


Setelah itu, Nyonya Nancy bangkit dari sofa dan Bu Diana berkata "Baik, aku akan mengikuti alur yang kalian buat. Sampai saat ini, hanya Kak Nancy yang mau mendengarkan keluh kesahku."


"Kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Mengingat, orang tuamu yang dulu menyanyangi putri pembantunya."


"Kakak."


"Diana, aku memang putri pembantu. Aku akan terus mengingat jasa orang tuamu kepadaku dan kembaranku. Terima kasih untuk waktumu. Aku pergi dulu."


"Aku akan mengantarmu sampai ke depan."

__ADS_1


"Baiklah."


Bu Diana menemani Nyonya Nancy, sampai ke halaman dan sopir serta pengawalnya sudah tampak menunggu.


"Jaga dirimu baik-baik. Kalau kamu perlu bantuanku. Segeralah kabari aku. Aku dengan senang hati membantu kamu."


"Aku akan berkunjung ke rumahmu. Aku memang ada perlu dengan Kak Nicholas, ini tentang perusahan Sheen."


"Baik. Masalah bisnis lebih baik bicara padanya saja. Aku tidak banyak mengerti."


"Iya Kak Nancy."


Nyonya Nancy, tampil mempesona dengan dress kerah ruflle warna nude.


Sedangkan Bu Diana, terlihat kemeja putih dibalut blazer warna dusty pink dengan bawahan celana panjang senada blazer. Tampak dandanan natural dengan rambut dibentuk sanggul ala pramugari.


Di sisi parkiran, ada wali murid hendak menjemput putrinya. Beliau adalah Mama Jessika.


Nyonya Nancy pergi, Mama Jessika datang mendekat, dengan penampilan yang tidak kalah menawan.


"Apa ada wali murid yang menjemput anaknya selain aku?" Mengingat akan hal yang tidak disukainya. Yaitu, soal pemeriksaan para murid.


Bu Diana kembali masuk ke ruang kerjanya dan Mama Jessika memasuki ruangan tempat Jenny istirahat.


Jenny mengadu kepada gurunya, kalau dari kemarin dirinya telah dibully murid yang bernama Talita.


Jenny berpura-pura pingsan dan di bawa ke UKS. Lalu, Mamanya datang kemari untuk membawanya pulang.


"Untung Mama cepat kemari."


"Kenapa lagi?"


"Ini, aku harus di cek. Aku nggak mau. Aku takut. Kalau aku ternyata hamil bagaimana."


"Kamu ini bodoh sekali."


Tatapan sang Mama lebih menakutkan. Meski suara mereka tidak sampai terdengar penjaga UKS. Sang Mama ini, mengambil test peck itu dan entah apa yang beliau lakukan di toilet UKS.


Setelah beberapa saat, hasilnya sudah terlihat.


"Ini, berikan sama penjaga UKS."


Jenny meraih itu, dan segera memberikan kepada petugas di UKS.


"Kamu sudah melaporkan Talita?"


"Sudah. Pasti sebentar lagi, dia akan disuruh ke ruang BK."


"Bagus. Ayo kita pulang saja."


"Iya. Aku juga sangat kesal setiap bertemu Lovie. Aku jadi ingin pindah sekolah."


"Tinggal beberapa bulan lagi. Lagian, dia juga tidak mau pulang ke rumah kita."


Mereka terlalu percaya diri sekali. Saat mereka pergi, Lovie melihat mereka.


"Kenapa Jenny pulang?" Lovie yang terpaku akan mereka, tidak tahu kalau Ron sudah berada di sebelah kanannya.


"Lovie, gimana? Apa kamu ketahuan?"


"Emh, tidak." Jawabnya Lovie.


Ron masih berfikir, kalau Lovie sedang hamil.


Talita yang sudah melakukan test dan hasilnya negatif.


"Tapi kenapa, perasaanku jadi tidak enak. Padahal, aku tidak hamil." Batin Talita dan ia kembali ke bangkunya.


Lovie juga masuk ke kelasnya dan memberikan hasil testnya.


"Lovie, apa kamu lagi PMS?"


"Tante Syilla tahu?" Batinnya Lovie.


Dokter yang memeriksa di kelas Lovie, adalah istrinya Om Rasya.

__ADS_1


"Tante, jangan ngaco deh!"


"Kamu beneran hamil?!"


__ADS_2