Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Hukuman Dari Bos


__ADS_3

Suasana yang membagongkan, telah terjadi di lantai 4. Doddit dan Metta menuruni tangga darurat sampai kaki pegel, tidak tahunya rapatnya sudah selesai.


"Kenapa kalian lewat pintu itu?" Tatapan Bos Richard dan pimpinan pabrik serta staffnya juga melihat ke arah mereka berdua.


"Bukannya, elevator mati?" Batinnya Doddit dan Metta yang berfikir sama.


Richard jadi mendesis dengan suara pelan, "Masih di kantor sudah asyik bikin keringat. Memangnya, tidak bisa di hotel."


Metta dan Doddit, malah jadi tontonan beberapa staff penting yang sudah selesai rapat.


"Doddit. Ide kamu gila."


"Mana aku tahu, kalau liftnya sudah nyala. Kita tadi fokus di tangga darurat."


"Hish, menjengkelkan." Kesalnya Metta.


Baru kali ini, Metta merasa dipermalukan.


Tampak telanjang kaki, tangan kirinya menjinjing high heels, tangan kanan membawa berkas penting.


Sempat juga digendong Doddit, sampai pakaian formalnya, jadi terlihat berantakan.


Masih mending turun tangga, dari pada naik tangga. Pasti lebih gempor itu kaki mereka berdua.


Doddit mengatur nafasnya, kakinya sampai pegal dan menunduk memegang kedua lutut kakinya.


"Apa kita sedang dikerjai sama Bos?!"


"Ah, tahu-lah. Aku kesel sama kamu." Balasnya Metta. Lalu ia memakai high heels dan mengelap keringat di leher, Metta berkata "Doddit, ini semua gara-gara kamu yang menyebar hoax."


Doddit yang juga kesal, membalas "Hoax apalagi Metta? Aku bersumpah, dengan apa yang aku lihat sewaktu di rumah Presdir, Bos memang jadi sosok yang baik, perhatian dan murah senyum."


Metta dan Doddit jadi duduk di ruang rapat yang sudah kosong. Mereka jadi istirahat di ruangan itu. Bos Richard kembali ke ruangan, karena ponselnya masih tertinggal di meja.


Bos Richard datang dan berdiri di hadapan mereka berdua.


"Ckckck, kerjaan kalian berdua, selalu membuat ide gila. Kenapa liftnya bisa sampai mati?"


Doddit memicingkan matanya, ia bertanya "Bos sengaja mengerjai kita berdua?"


"Apa kalian bosan kerja denganku? Apa kalian ini di pindahkan ke kantor baru yang terpencil di tengah pulau Min-ju?"


"Nggak Bos. Saya minta maaf Bos. Ini semuanya karena asprinya Bos. Dia sudah memberitahu saya, kalau Bos berubah jadi perhatian."


"Metta, kapan aku bilang sama kamu begitu? Aku cuma bilang, Bos kita orangnya baik. Tidak culas dan tidak arogan." Doddit malah keceplosan.


"Culas? Arogan?" Richard mematap serius wajah asisten pribadinya.


Doddit salah tingkah, ia menurunkan kakinya dari kursi depannya. Doddit yang sempat merilekskan kakinya, jadi berdiri menghadap Bos tampannya ini.


"Bos Richard, saya minta maaf. Saya akui, saya salah, saya yang menyebar info soal Bos yang berubah baik, setelah bersama Nona Cantik. Tolong, maafkan saya."


Doddit jadi berlulut di hadapan Bosnya dan menjewer kedua telinganya sendiri. Seperti murid yang mendapat hukuman dari sang guru galaknya.


Richard tampak bersedekap, ia berkata "Kalian berdua jangan bersantai. Cepatlah kembali bekerja atau aku akan segera membuat surat pemindahan tugas kalian berdua ke Min-ju."


Metta secepatnya berdiri, menghadap Bos kulkasnya ini. Metta dengan tenang berkata "Bos, saya minta maaf. Saya akui, saya sengaja membuat surat kontrak kerjasama begitu. Saya hanya ingin melihat respon Bos. Apakah Bos bisa teliti saat melihat pekerjaan saya. Saya pikir Bos akan teledor selama Bos asyik bercinta dengan kekasihnya Bos."


Richard menyunggingkan senyuman nakalnya, dia menatap lekat wajah Metta.


Richard berkata "Metta, ini hanya hukuman karena kamu berani melawanku. Cepat perbaiki sikapmu, kalau tidak mau aku usir sampai ke Min-ju."


"Tapi Bos, ini semua gara-gara dia. Sumpah Bos. Ini semua gara-gara Doddit. Tanya saja sama Bu Choi dan yang lainnya. Doddit menggosipkan Bos." Metta tidak mau tertindas sendirian, turut menjatuhkan sang mantan.


Richard mendekati Doddit, dan membuatnya berdiri.


Richard merapikan jasnya Doddit, ia berkata "Doddit, aku percaya sama kamu. Tapi, kali ini aku harus menghukum kamu."


"Bos." Doddit memasang wajah penuh penderitaan.


"Kembalilah bekerja dengan baik. Jangan terlalu bawel."


Richard lantas pergi, Metta juga menatap kesal ke wajah Doddit.


"Iih, kamu menyebalkan."

__ADS_1


"Metta, aku cuma kasih informasi akurat dan terpercaya. Dari pada kamu dapat kabar burung dari Tim Humas. Tapi, kamu juga menyebarkan ke yang lainnya."


"Tapi aku."


"Semua wanita sama saja. Hanya ingin menang sendiri." Keluhnya Doddit.


Metta jadi sebal, tapi tadi Doddit juga sampai menggendong dirinya.


Doddit pergi, Metta memanggil "Doddit tungguin aku."


Doddit tak lagi menggubrisnya dan pergi begitu saja. Sesampainya di depan lift, Doddit tidak berani masuk, apalagi satu ruangan dengan Bos galaknya.


"Buruan masuk."


Doddit tersenyum lega.


"Kamu asistenku atau asisten Metta?"


"Saya, asisten Bos."


"Terus, ngapain bantuin Metta?"


"Ya kan saya."


"Ckck, sudah mantan masih sayang."


"Bos." Wajah Doddit jadi memelas.


"Sudahlah, aku tidak mau lagi ada berita aneh di kantor."


"Baik Bos." Balasan Doddit dan hanya berdiri di belakang sebelah kirinya Bos Richard.


Metta berdiri di depan lift yang sebelah, dengan raut wajah cemas.


"Nona Metta mau ke atas?"


"Iya." Jawabnya kepada seorang staff keuangan.


Pria berusia 35 tahun tampak bersama Metta di elevator dan hendak naik ke lantai 15 dan Metta ke lantai 17.


"Tidak, hanya takut Liftnya berhenti."


"Owh, tadi memang Bos Richard ingin melihat gimana canggihnya elevator yang terbaru ini."


Metta melihat ke wajah itu, "Apa maksud anda Mr. Ryan?"


"Tadi, Bos Richard memberikan informasi agar semua staff tidak menggunakan lift pada jam 9.45. Karena, Bos ingin memastikan kecanggihan elevator ini."


"Owh, kenapa aku tidak tahu?" Batinnya Metta dan ia sudah merasa dibuang oleh Bos tampannya.


"Apa Nona Metta tidak tahu?"


"Saya tahu, makanya saya juga ingin melihat sendiri bagaimana cara kerja elevator ini." Jawabnya tenang.


Staff pria itu, jadi menarik sebelah alisnya, ia juga membatin "Ada apa dengan Nona Metta? Biasanya selalu bersama Bos? Apa karena Bos Richard mau menikah, mereka berdua jadi menjaga jarak."


Ting.


"Nona Metta, saya duluan."


"Iya, silakan Mr. Ryan."


Metta tampak tersenyum manis dan masih percaya diri. Setelah pintu lift tertutup rapat.


"Huh, sialan. Ini semua gara-gara Doddit dan ide gila Mayaz." Geramnya Metta.


Mayaz, sahabat satu tempat tinggal dengannya. Metta sering mengeluh tentang Bos kulkasnya ini. Karena Bosnya sedang jatuh cinta, Metta jadi membuat kontrak kerjasama Bos Richard dengan pihak C, sedikit kesalahan.


Untungnya sebelum tanda tangan dan di kirim ke pihak C, dibaca dulu sama Bosnya. Padahal, Bos ini biasanya malas melihat ke isian kontrak kerjasama perusahaan.


Setelah tiba di lantai 17, Metta masuk ke ruangan kerjanya. Tetap optimis meski sudah dikucilkan oleh Bos tampannya ini.


"Aku harus semangat, fokus kerja. Jangan sampai kulitku keriput sebelum tua." Batinnya Metta dan ia duduk di kursinya.


Bos Richard sudah berada di ruang kerjanya dan Metta juga bisa melihat dari dinding kaca.

__ADS_1


Ada Doddit juga di ruangan kerja Bosnya.


"Aku butuh kopi." Metta beranjak pergi dan melewati pintu ruangan para staff.


"Mereka semua kenapa pada manyun begitu?"


"Bos memarahi kita."


"Marah?"


"Iya, kita semua ditegur sama Bos. Jangan lagi suka bergosip dan menyebarkan hoax."


"Bu Choi, aku juga dikerjai, dari lantai 17 ke lantai 4 harus berjalan di tangga darurat. Kakiku sampai pegal sekali."


Bu Choi mengelus bahu Metta, "Nona Metta harus semangat. Fighting."


Jam berputar cepat dan pekerjaan semakin bertambah berat.


Bos bobroknya sudah memasuki ruangan khusus kerja lembur.


Beberapa berkas penting dan harus di cek sesuai laporan tertulis dari beberapa pabrik yang dinaungi.


Bu Choi, duduk menghadap laptopnya. Milie mengurutkan laporan keuangan sesuai nomor dan tanggalnya. Lalu, memeriksa laporan dari tim akuntan.


"Hiks, kenapa aku harus lembur lagi." Melirik dan mengintip Bosnya yang duduk di seberang meja. Bos kulkasnya, tampak dipijit oleh asisten pribadinya.


Metta juga masih sibuk mengetik di samping Bos Richard.


Para staff andalannya juga memeriksa laporan dari pimpinan pabrik. Bahkan, ada beberapa kendala yang terjadi. Mereka, harus menyelesaikan masalahnya itu.


Juno, sudah 3 kali membuat kopi dan gagal lagi.


"Bukannya, Bos masih minum obatnya. Kenapa ingin meminum kopi ini?"


Juno yang membawakan secangkir kopi. Tangan itu masih gemetar setelah tadi dibentak Bosnya. Bilangnya, tidak pakai gula. Giliran pahit, marah-marah kepada Juno.


"Bos."


Juno meletakan cangkir di hadapannya.


"Doddit, buruan minum kopinya. Kasian, Juno sudah bolak-balik membuat kopi."


Doddit membalasnya, "Bos, saya tidak suka coffee latte."


"Kamu tidak menyukai aku??!"


"Baik Bos. Saya mengerti." Tangan Doddit, segera meraih tatakan cangkir keramik putih serta cangkirnya.


"Ini beneran Bos, saya harus meminum kopinya Bos?" Doddit masih ragu dan ia juga hanya menyukai cappucino.


Winz staff yang sering digodain Metta. Menatap ke Doddit, jadi meneguk salivanya sendiri.


Bos tampan ini berdiri, ia bertanya "Apa kalian mau makan malam???"


"Iya Bos. Saya punya maag. Saya harus makan malam tepat waktu." Jawab Bu Choi tidak basa basi.


"Yang lainnya bagaimana?" Tanyanya dan memandangi wajah para staff andalan yang berjumlah 7 orang itu.


Metta dan Doddit hanya diam, mereka tidak lagi berani melawan Bosnya. Apalagi, sok menjadi pimpinan di kantor khusus CEO Rich Corporation ini.


Padahal, niat mereka berdua baik. Tapi, Bos tampan yang sedingin kulkas ini, memang begitu kelakuannya.


"Metta, kamu mau makan malam dimana?"


"Disini saja Bos. Saya bisa pesan makanan dari luar."


Mengingat kantin perusahaan sudah tutup dan tidak ada lagi koki kantor yang stay di kantor. Apalagi, jam kerja para koki handal itu, hanya dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore dan sekarang sudah pukul 7 malam.


Tok tok tok


Semuanya jadi menoleh ke arah pintu ruangan itu. Sosok tua dan sangat terkenal, masuk ke ruangan itu.


"Bos Richard."


"Pak Rondi kenapa kemari? Apa Daddy mencari aku?" Tanya Richard kepada asisten pribadi Presdir Nicholas.

__ADS_1


"Itu, Bos."


__ADS_2