Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Will You Marry Me


__ADS_3

Malam acara penutupan bazar. Ada acara kembang api, seraya menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


Rich Corporation, sudah sampai 50 tahun.


Dari awal tahun berdiri. Sang Kakek berjuang untuk mendirikan Rich Corporation.


Richard turut bangga, saat menjayakan perusahaan yang didirikan oleh Kakeknya.


Presdir Nicholas, tampak meneteskan air mata kebahagiaan, dalam hatinya juga mendo'akan kedua orang tuanya.


Di usianya saat ini, beliau masih bisa memimpin perusahaan ini.


Semasa orang tuanya, mendirikan sebuah usaha, kemudian ada satu pabrik yang dikelola secara bersama dengan rekannya. Lambat laun, punya modal sendiri, sampai bisa mempunyai pabrik sendiri dan diberi nama Pabrik Richi.


Maksudnya beliau dulu orang tua Presdir Nicholas, membuat snack makanan ringan khusus anak-anak. Beliau bisa punya ide ini, berkat anak tampan yang dipanggil dengan sebutan Richi, lalu saat membuka pabriknya sendiri diberi nama Richi. Jaman dulu, snack Richi, jajanan yang paling murah diantara merek jajanan yang lain.


Perlahan-lahan, bertambahnya tahun, kemudian menjadi bekembang, sampai terbentuk perusahaan Rich Corporation.


Setelah turun dari panggung acara, bersama semua pimpinan devisi.


Presdir Nicholas disambut oleh sang istri.


"Mommy bangga sama Daddy. Sampai saat ini, Daddy bisa mewujudkan impian Bapak dan mengembangkan Rich dengan hebat." Sang istri yang memeluknya dan beliau juga terbawa suasana.


"Ini juga berkat dukungan Mommy. Terima kasih, selalu mendampingi Daddy. Meskipun, Daddy terkadang harus pergi dan jarang bertemu. Tapi, Mommy selalu setia menunggu dan menantikan kepulangan Daddy."


"Iya, itu karena cintanya Daddy."


Richard berkata "Lovie, aku juga mau, kita pelukan."


Kepalanya sudah bersandar ke kepala Lovie. Lovie berkata "Malu ah, disini masih banyak orang. Nanti pada ngeliatin kita berdua."


"Itu, Mommy sama Daddy nggak masalah."


"Iya, mereka sudah menikah. Mereka hanya mengenang cintanya. Bapak kerja keras dari muda sampai saat ini. Pasti, Bapak sangat berkerja keras dan Ibu selalu setia mendampingi Bapak."


"Terus, kamu mau nggak? Selalu setia mendampingi aku."


"Lihat nanti."


"Kok lihat nanti??"


"Yaaa, kalau Kak Richi setia, aku juga akan setia. Kalau Kak Richi melirik ke yang lain. Aku juga nggak mau setia lagi."


Lovie jadi ngambek, ia teringat waktu tadi sore Richard ngobrol berduaan dengan si artis cantik.


Lovie pergi menjauh dan Richard jadi bingung, saat melihat ekspresi Lovie yang tampak sebal padanya.


"My Lovie, kamu mau kemana?"


"Ke toilet."


"Aku anterin ya."


"Aku bisa sendiri."


Lovie beneran kesal dan ia berjalan cepat ke arah gedung serba guna.


Suasana masih ramai, setelah pimpinan Rich memberikan ucapan terima kasih, untuk semua karyawan yang sudah bekerja keras dan mengembangkan Rich bersama-sama, Richard menemui Doddit.


"Bos kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Doddit dan sudah menghadap ke Bos tampannya ini.


"Dodd, tadi siang Lovie ngapain aja?"


Richard yang menatap Doddit serius.


"Tadi siang disini sampai sore sama Nona Talita, kulineran dan ngobrol bersama tim kita, Nona cantik juga asyik. Terus, sore saya antar pulang bersama Nona Talita. Lalu, Nona Cantik datang kemari lagi bersama Presdir dan Nyonya Nancy."


Doddit sudah menjelaskannya. Namun, Richard masih berfikir, ada yang salah dan perasaannya tidak enak saat melihat ekspresi Lovie.


"Ya sudah, aku mau ke toilet dulu. Pekerjaanku juga sudah selesai."


"Oke, siap Bos Richard."


Sesaat, setelah di toilet dan Lovie keluar dari toilet perempuan. Lovie yang kesal ia jadi menatap judes wajah Richard.


Tangan Richard, sudah memegang erat pergelangan tangan Lovie, ia berkata "My Lovie, kamu sedang cemburu? Kalau iya, kamu bilang sama aku."


"Kata Kak Doddit, kecemburuanku hanya akan menghalangi pekerjaan Kak Richi."

__ADS_1


"Aku nggak apa-apa. Aku cuma capek."


"Kalau capek, harusnya di rumah saja. Kenapa kamu ikut kemari?"


Richard menatapnya lebih lekat, Lovie jadi memalingkan wajahnya.


Richard berkata "My Lovie. Aku ingin bicara serius sama kamu."


"Ya udah, bicara saja disini."


"Jangan disini. Masa iya, aku ngomong cinta di dekat toilet."


"Cinta?" Wajah Lovie terlihat polos.


Richard menjawab manis "Iya, cinta."


Richard berusaha untuk menjadi remaja lagi. Kalau dia menggunakan bahasa yang terlalu formal, akan tidak sampai menyentuh perasaan Lovie.


Di taman kota, jam 8 malam waktu kota Shindong.


Suasana di taman lebih sepi, tidak seramai yang di area panggung acara.


Di panggung acara masih menyanyi dan berjoget dengan riang gembira.


Richard mendudukan Lovie di kursi taman. Kursi besi yang berwarna hitam dan lampu kota yang ada di sisi kanan Lovie, memancarkan sinar redup warna kebiruan.


Richard berlutut di depannya, memegang kedua tangan Lovie.


Lovie sedikit berdebar akan tindakan Richard saat ini. Sorot mata Richard membuat Lovie semakin gelisah dan berdebar.


"Kak Richi. Jangan berlutut begini. Sini, duduk di samping aku."


Lovie memang masih terkesan polos, sampai saat ini belum mengerti, kalau Richard ini benar-benar serius, ketika ingin meminangnya dengan ikatan suci dan secara resmi.


"My Lovie, aku tahu, aku paham, ini terlalu cepat untukmu. Kita berdua baru mengenal. Aku dan kamu, kita pasti punya harapan yang berbeda. Aku sadar, mungkin aku yang sudah terlalu memaksa kamu. Agar kita berdua bisa menikah. Tapi, aku serius. Aku serius, ingin menikah dengan kamu."


Lovie hanya terdiam dan memandangi wajah Richard. Sosok yang lebih dewasa dan saat ini terlihat tenang. Suara Richard juga terdengar tenang, membuat dirinya nyaman.


"My Lovie, aku tidak akan memaksa kamu untuk menyetujui permintaanku, agar kita segera menikah. Aku hanya ingin mengungkapkan, apa yang sudah aku rasakan saat ini."


Lovie tidak tersenyum, dan dia tidak menangis. Hanya terdiam dan masih menatap wajah tampan ini.


Bibir Lovie jadi membulat gemas.


"My Lovie, kamu nggak perlu jawab sekarang. Aku nggak bakal terima, kalau kamu menolak cintaku."


Richard jadi berubah kekanakan. Lovie jadi tersenyum tipis, ia berkata "Kak Richi, duduk sini."


"Nggak mau, aku nggak mau duduk bersanding sama kamu. Kamu juga belum menerima cinta aku ini."


"Ya, gimana aku terima. Kak Richi, duduk di sebelahku sini. Kita akan melihat keserasian kita."


"Pasti kita serasi." Richard malah baperan, dia jadi salting sendiri.


"Cuma begini saja lamarannya? Apa nggak ada cincin, bunga atau apa begitu?"


Lovie malah menggoda Richard.


Mendengar hal itu, Richard berkata "Jadi, kamu terima cintaku?"


"Kak Richi, yang namanya menikah itu memang tidak harus memakai cinta. Namun, alangkah baiknya kalau kita bisa saling mencintai. Jadi, kita berdua memang harus saling mencintai."


Richard jadi tersenyum.


"Kak Richi cinta sama aku dan aku cinta sama Kak Richi." Memasangkan kedua tangan, membentuk hati.


Richard, mengeluarkan kotak kecil warna putih berpita.


Cincin cantik dengan permata putih, yang melambangkan cinta suci.


Richard berdiri dengan antusias, dia berkata "My Lovie, kamu harus pakai cincin ini."


"Iih, Kak Richi yang romantis dong." Selorohnya Lovie.


Richard yang gemas berlutut lagi, dia menatap wajah Lovie dengan tenang. Rasanya sudah tidak sabar dan berdebar, "My Lovie, maukah kamu menikah denganku?"


Lovie jadi tersenyum dan mengangguk, ia juga berkata "Iya. Aku mau menikah sama Kak Richi."


Richard memakaikan cincin cintanya itu.

__ADS_1


Swiing ....


Duaar!


Duaar!


Duaar!


Kembang api menghiasi langit malam taman kota Shindong. Kembang api yang membentuk tulisan will you marry me.


"Yaah. Udah telat kali Dodd." Desisnya Richard.


Lovie melihat itu, "Tetap bagus kembang apinya."


Lovie jadi berdiri dan tepuk tangan. Sang CEO ini, jadi melihat keceriaan sang pencuri hatinya.


Richard merangkul pinggang Lovie dan kedua insan ini, melihat rentettan kembang api yang berwarna warni di langit gelap malam ini.


"Emh, aku suka malam ini."


Akhir acara bazar yang indah.


Richard menoleh ke wajah Lovie, mengecup gemas pipi kanan Lovie.


"Aku beneran gemas sama kamu."


"Emh, mungkin karena terlihat bocil."


"My Lovie, meski wajah ini bukan begini. Aku pasti juga menolak menghamili kamu."


Lovie menatapnya sadis "Terus, kalau aku nanti berubah jelek nggak mau lagi sama aku???"


"My Lovie, bukan begitu maksud aku. Kamu juga memilih pria tampan di aplikasi, coba kalau ternyata berbeda orang sama yang di profile itu, apa kamu akan tetap minta dihamili?"


Lovie jadi salah tingkah, saat Richard menatapnya lekat, Lovie menjawab "Yah, pokoknya aku maunya yang tampan."


Richard memainkan bibir dan menjillat bibirnya sendiri, tangan kanannya bergerak mengepal, "Yes!"


"Jadi, kamu beneran suka pria tampan??!"


"Iya dong. Pokoknya harus tampan. Aku juga koleksi poster aktor tampan. Jadi, kalau Kak Richi mau dekat terus sama Crystal, aku tidak masalah. Aku juga akan jalan sama aktor pujaanku."


Richard bingung, jadi melepaskan tangannya "Ini kamu nyuruh aku dekat sama Crystal. Biar kamu bisa jalan sama cowok lain."


Lovie dengan polosnya berkata "Tadi Kak Richi ngobrol berduaan sama artis terkenal itu. Yaaa, aku juga mau begitu juga sama aktorku."


"Sayang, kamu cemburu?" Ia menanti jawaban, kalau Lovie memang cemburu.


"Aku tidak cemburu. Hanya saja, aku tidak suka melihatnya." Jawabnya dan membuat Richard seketika terpaku.


"Kamu beneran, sudah cemburu?"


"Aku bilang nggak suka lihatnya. Aku tidak cemburu."


"Ya sama saja sayangku. Kamu berarti, juga sudah jatuh cinta sama aku."


"Kita barusan jadian. Berarti sudah cinta. Kalau belum cinta, aku tadi pasti sudah menolak Kak Richi."


Suasana malam semakin meriah dan membawa bahagia.


Malam ini, Richard membawa Lovie ke hotel, untuk mengulang malam pertemuannya.


"Kak Richi, kenapa kita kesini?"


"Aku cuma mau mengingat malam pertemuan kita. Terus kamu teriak. Tampan, hamili aku!"


"Tapi, aku lagi haid."


Setelah masuk kamar dan pintu juga sudah tertutup rapat.


"Malam itu, kita cuma ciuman saja."


Lovie tersenyum, ia mengingat juga "Aaa, aku jadi malu banget."


"Jangan malu, ayo praktekin."


Tok tok tok


"Siapa yang datang?"

__ADS_1


__ADS_2