Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Tuan Putri Talita


__ADS_3

Setibanya, di kediaman Presdir Nicholas.


Talita turut mengikuti langkah kaki Nyonya Nancy.


Ruangan yang ini, belum pernah dilihat oleh Talita. Waktu itu, Talita hanya pergi ke ruangan perawatan Richard.


Menaiki Lift dan kamar itu ada di lantai dua. Ruangan yang mewah dan semua perabotan serba lux. Talita sempat memandangi ruangan di sekitar ini.


"Itu, pintu kamar Richard. Terus di kanan itu, kamar tamu dan di ujung sana, ada ruangan gym."


Talita hanya diam, saat ini berdiri di depan pintu yang berukuran besar.


Pintu dua daun warna putih dan terlihat gaya klasik.


Dua pelayan membuka pintu kamar itu, dan Talita sudah menatap ke ruangan, yang seperti kamar princess.


Baru kali ini, Talita melihat kamar mewah dan sangat indah.


Interior klasik, kamar tidur ini tampak gaya dengan nuansa ivory dan gold.


Tempat tidur berukuran besar dan sangat terlihat nyaman. Di sisi kanan ruang ganti dan kamar mandi.


Lalu, ada sofa santai.


Ada lukisan, yang mengisahkan tentang kepompong berubah menjadi kupu-kupu.


Gambar kupu-kupu dengan tinta emas, tampaknya sudah menghipnotis Talita.


"Saya tahu, kamu menyukai kupu-kupu."


Talita menoleh ke wajah itu, dan apa yang harus dia lakukan. Dirinya tidak mengerti.


"Ini kamar kamu. Talita Re Nuca."


"Talita Re Nuca?" Talita mengikuti mengucap nama itu, dia bingung, namun tak lagi berkata.


Nyonya Nancy, mengambil dokumen dan beliau memperlihatkan semuanya.


"Ini identitas baru kamu. Semuanya, sah secara hukum."


"Tapi Nyonya Nancy, saya."


"Soal keluarga kamu. Kamu hanya sendirian. Bahkan, Kakak kandung kamu, juga memulai kehidupan barunya tanpa kamu."


"Nyonya Nancy, saya." Talita yang gemetar dan ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.


"Mulai hari ini. Kamu putriku. Kamu adiknya Richard. Kamu putri dari keluarga Nuca." Ucapnya Nyonya Nancy, begitu tenang, namun terdengar tegas.


"Saya, putri keluarga Nuca?"


"Coba dengarkan cerita ini."


Seorang gadis belia yang jatuh cinta dengan seorang mahasiswa. Dikala itu, usianya hampir seusia Talita. Malahan, masih dibawah usia Talita.


Sekitar 22 tahun lalu, gadis itu selalu mendekati mahasiswa itu dan pergi mengajaknya dengan semua fasilitas yang dia punya. Karena, dia dari keluarga kaya raya, sedangkan si mahasiswa ini, hanya orang biasa.


Pada akhirnya dia telah mengandung, keluarganya tidak mau menerima pernikahannya.


Perempuan itu, tetap melanjutkan sekolahnya dalam keadaan hamil. Lambat laun, usaha suaminya juga bisa mencukupi semua keinginannya. Namun, setelah 7 tahun berlalu. Suaminya gulung tikar karena bisnisnya yang ditipu oleh seseorang. Terkena serangan jantung, meninggal di tempat usahanya. Lalu, si perempuan itu pergi dan kembali ke keluarganya.


Sayangnya, keluarga itu tidak mau dia kembali. Hal yang paling memilukan adalah, keluarga itu pula yang membuat usahanya hancur.


Keluarganya sendiri, yang telah membunuh suaminya.


Dendam, sudah dibalaskan. Namun, dia tidak mau mengingat masa lalunya, bahkan dua anak perempuanya seolah dianggap tiada lagi.


Hidup dalam persembunyian di rumah Julian.


Bianca menaruh dendam kepada saudaranya. Yaitu, Franda. Istri pertama Hanz.


Karena, Franda Kakaknya Bianca. Apakah Franda tidak tahu? Sangat tahu dan hanya berpura-pura tidak saling mengenal. Karena, Bianca tidak menyandang nama Aledraz saat menikah dengan Presdir Julian, Papanya Jihan.


"Kamu sudah mengerti. Kenapa dunia ini terasa kejam bagimu? Talita??"

__ADS_1


"Nyonya Nancy, saya jadi mengerti."


"Panggil aku Mommy. Bersikaplah seperti biasanya. Kamu, putri dari keluarga Nuca."


"Mommy."


Nyonya Nancy memegang pipinya "Mommy, akan melindungi putrinya."


Melihat sorot mata yang penuh misteri. Namun, hati Talita berkata kalau Nyonya Nancy, Ibu yang baik.


"Mommy."


"Lekasnya bersiap-siap. Nanti malam, kita harus makan malam bersama."


"Baik."


Talita yang masih canggung, dan dia masih bingung harus bersikap bagaimana.


"Aku harus semangat. Aku pasti bisa. Aku juga tidak mau tinggal seorang diri."


Talita yang kembali bangkit, ia menjatuhkan dirinya ke atas kasur.


Kedua tangan Talita sudah bergerak, seperti sayap kupu-kupu yang sedang terbang.


Menatap ke langit-langit kamar ini, dan perlahan bibirnya tersenyum. Talita yang merasa seperti kupu-kupu, yang terbang tinggi hingga jauh.


Di mobil Richard, Lovie memandangi pergantian waktu. Dari sore ke malam hari. Begitu cantik langit kebiruan yang sudah hampir gelap.


Richard menoleh ke arah Lovie, ia mengelus rambut Lovie. "My Lovie, kamu kenapa?"


Lovie jadi menatap wajah Richard, ia berkata "Aku hanya mengingat Mami. Aku kangen sama Mami."


"Kamu kangen Mami?"


"Iya, bahkan setiap hari. Aku kangen banget."


Richard meraih kepala Lovie dan mengecup keningnya Lovie dengan hangat.


"Kamu boleh merindukan Mami kamu. Tapi, kamu jangan bersedih lagi."


Lovie dalam dekapan Richard, ia berkata "Besok malam, aku akan mendampingi Kak Richi."


"Aku malas datang ke pesta."


"Apa Richi belum bisa melupakan Jihan?" Batinnya Lovie, gelisah. Meskipun, terlihat tersenyum, namun perasaan Lovie jadi aneh. Apalagi, semenjak Ron menertawakan dirinya, rasanya gegana.


Richard berkata "Kamu jangan terlalu memikirkan soal pertunangan Jihan. My Lovie, aku hanya nggak suka kalau dia sampai menyakiti kamu."


"Iya Kak Richi, aku paham."


"Jihan itu nekatan. Kalau sekalinya diladeni, dia akan terus menganggu. Makanya, aku sekalinya bilang tidak ya tidak. Aku malas berhubungan sama dia."


"Emh, segitu Kak Richi sama Jihan. Berarti, dulunya mereka beneran dekat." Batinnya Lovie.


Richard jadi befikir, "Kalau aku nembak sekarang, tapi aku nggak mau ditolak. Gimana ngomongnya sama Lovie. Dia bukan tipe perempuan yang suka dirayu dan dimanjakan."


"Kak Richi, boleh aku ngomong sesuatu."


"Iya, ngomong saja."


"Ini, soal kita."


"Soal kita?" Richard jadi gelisah, ia tidak mau kalau Lovie sampai meninggalkan dirinya lagi.


Lovie baru mau membuka mulutnya, eh pria dewasa ini malah meraih kepala Lovie dan memmulat bibir imut itu dengan lembut.


Saat dua bibir itu bertautan dan saling melummat manis. Lovie jadi terbawa suasana. Mungkin, ada hal manis yang ia rasakan dan rasanya berbeda ketika saat meminta dihamili oleh pria tampan ini.


Sshh, Bibir mereka berdua bergetar dan mendesah pelan.


"Aku ingin, kamu jadi pacarku." Ucapnya Richard dan berubah canggung.


Lovie bergeser dan memalingkan wajahnya. Richard juga merasa, ini seperti awal menjajaki hubungan baru, dengan sosok yang jauh lebih muda.

__ADS_1


"My Lovie, gimana? Kamu mau, jadi pacarku? Lalu kita menikah."


"Emh, itu. Iya. Aku juga sudah janji sama Ibu Nancy."


"Hanya karena janji dengan Mommy?" Batinnya Richard yang sudah loyo. Selalu saja, serasa ditolak Lovie.


Lovie berdebar, ia memegang dadanya sendiri. "Ada apa dengan diriku?"


Lovie perlahan menoleh ke bibir Richard, ia jadi menyentuh bibirnya sendiri. "Apa aku sudah menyukainya?"


Bodoh, benar-benar bodoh. Tapi, Lovie memang begitu. Dia selalu saja, menjadi sosok yang hanya suka membantu orang lain. Tidak pernah mempedulikan dirinya sendiri dan juga orang yang sudah mencintainya.


"Kak Richi, kalau nantinya aku jadi suka sama Kak Richi, aku bingung. Aku jadi takut untuk menikah dengan Kak Richi."


"Kamu bilang apa barusan? Kamu menyukai aku, dan kamu takut menikah denganku?" Pertanyaan Richard, hanya ingin penjelasan dari seorang Lovie.


Doddit yang masih fokus mengendarai mobil. Tetap mendengar obrolan mereka berdua. Ia-pun, jadi geleng-geleng kepala.


"Hish, aku jadi gemes sendiri. Kenapa Bos jadi beneran kaya remaja yang baru mengenal cinta. Bilang cinta saja bahasnya jadi kemana-mana. Bos tinggal bilang saja, kalau Bos itu cinta sama Nona Cantik."


Lovie berkata "Tadi itu, Ron nertawain aku. Aku sepertinya bukan tipe cewek yang diinginkan Kak Richi. Terus, aku ingat banget waktu di hotel, Kak Richi juga nggak suka sama aku. Aku jadi takut, aku jadi gelisah, apalagi melihat Jihan dan aku sangat berbeda. Gimana nanti kalau aku menikah dan sampai jatuh cinta sama Kak Richi, aku pasti akan sakit hati."


Sudah jelas, Richard mendengarnya tampak terdiam.


"Kamu benar. Kamu memang bukan tipe yang aku inginkan."


"Owh, pantas saja Ron menertawakan aku."


Bibir Lovie jadi cemberut, muram masam dan tidak mau menatap Richard.


Richard berkata "Meskipun, kamu bukan tipe ideal cewek yang aku dambakan. Tapi, aku sudah jatuh cinta sama kamu. Aku, mencintai kamu."


Lovie melihat ke wajah itu, Richard kembali berkata "Meski ini terlalu cepat buatku mengatakan hal itu, tapi aku nggak bohong. Aku suka sama kamu. Aku nyaman atas semua perlakuanmu. Aku juga sudah menaruh hati dan perasaanku untukmu."


Lovie bertanya "Apa cintanya, beneran?"


"Iya beneran. Kalau tidak benar. Mana mungkin, aku mempertaruhkan nyawaku."


Lovie menyandarkan kepalanya, ia berkata dengan suara pelan "Berarti, aku boleh cemburu?"


"Iya, kamu boleh cemburu dan melarang aku pergi bila kamu tidak suka. Kamu tinggal bilang saja, Kak Richi, jangan pergi aku tidak suka Jihan, aku cemburu sama dia."


"Emh, aku tidak ingin begitu. Aku cemburu kalau Kak Richi masih menaruh perasaan masa lalu."


"Aku sudah melupakan Jihan. Beneran."


"Kalau begitu, Kak Richi harus buktikan di acara pertunangan Jihan. Aku ingin melihat sendiri, bagaimana keseriusan Kak Richi sama aku. Kalau Kak Richi memang serius, sudah bisa melupakan Jihan, aku juga mau kita menikah secepatnya."


"Baik. Aku akan membuktikan di hadapan semua orang, kalau aku mencintaimu."


Lovie jadi tersenyum, ia berkata "Aku juga ingin jatuh cinta."


Doddit berdehem, "Bos, ingat jadwal besok malam. Ada pesta juga di hotel DeNuca."


"Iya. Aku tahu, kamu tidak perlu jadi pengacau."


"Bos, saya hanya mengingatkan."


Waktunya makan malam segera dimulai. Presdir Nicholas, Richard, Lovie dan Doddit, tampak menunggu kejutan dari Nyonya Nancy.


Talita, sang tuan putri. Berjalan menuju ke ruang makan. Tampak mengenakan dress lengan panjang motif bunga. Dress panjangnya selutut, warna putih soft.


"Talita." Ucapnya Lovie dan ia sudah berdiri saat melihat sahabatnya yang tampak penampilan berbeda.


"Lovie."


"Talita, duduklah di kursi kamu."


"Iya, Mommy."


Doddit bingung, dan Richard berkata "Selamat datang, adikku yang manis."


Doddit terkejut "Adikku??!"

__ADS_1



__ADS_2