
Lovie menoleh ke asal suara itu. Talita jadi mendekap Lucas dan membawanya untuk menjauh.
"Aku tidak setuju. Aku Ibunya Lucas. Aku yang akan menentukan nama dan yang membesarkan Lucas."
Lovie tersenyum, saat menatap Jihan. Dr. Syilla meninggalkan mereka bicara berdua.
"Silakan saja. Aku tidak masalah. Kalau Lucas mau, aku tidak keberatan. Karena kamu, orang yang membuat anak itu datang ke dunia ini."
Jihan berkata "Aku mau merawatnya dengan Richard."
"Owh, silakan. Aku malah enak, tinggal duduk manis sebagai Nyonya Richard."
Lovie benar-benar berani melawannya. Tampak tersenyum dan besikap tenang. Namun, Jihan yang malah hareudang.
"Lihat saja, aku pasti akan datang sebagai Ibu dan Nyonya."
"Yakin banget. Lalu, janin di perutmu itu, siapa Papa kandungnya?"
Jihan jadi mengingat kembali tentang kehamilanya. Ia memegang perutnya sendiri.
Perasaannya sudah kesal, ia membatin "Siaal, dokter tadi pasti sudah bicara di depan mereka semua."
Lovie tersenyum, ia berkata "Seandainya suamiku mau. Suamiku menikahi kamu. Aku tidak masalah. Aku akan melihat, siapa yang setiap hari akan disayang suaminya. Apa kamu mau melihat aku yang bermesraan dengan suamiku? Apa kamu akan tahan, medengar suara dessahanku setiap malam? Apa kamu akan sanggup melihat aku dimanjakan oleh suamiku?"
"Kamu?!" Jihan kesal, ia berkata "Wanita sialan!!"
Jihan jadi emosi, menatapnya judes. "Ayo kita buktikan. Aku yang lebih pantas menjadi menjadi Nyonya."
"Berani kamu sama melawanku??" Lovie yang membuatnya memanas. Malah memamerkan cincin pernikahan yang mewah dan membuka scarfnya, terlihat jelas tanda-tanda gigitan nakal.
"Wanita ini, tidak tahu malu!"
Jihan kesal, hendak menampar wajah Lovie, seketika tangan itu diraih oleh Richard.
"Jangan sentuh istriku."
Presdir Nicholas dan Nyonya Nancy juga melihat, kalau Jihan sudah mengangkat tangannya, untuk menampar Lovie.
"Richard, dia sudah memojokan aku."
Richard menghempaskan tangan Jihan. Ia berkata "Kalau aku sampai melihat kamu menyakiti wajah istriku. Aku tidak segan memenjarakan kamu, Jihan."
"Richard, aku Ibunya Lucas. Aku yang lebih berhak membesarkan dia sama kamu. Bukan perempuan ini."
"Kamu mau membesarkan dia. Silakan, aku juga tidak tertarik mengasuhnya. Aku malah bisa hidup bahagia dengan istriku."
Lovie memegang lengan suaminya, ia berkata "Sayang, sudah dong. Kamu harus tenang, tidak perlu meladeni ucapannya dia. Dia juga lagi hamil, nggak baik ngomong begitu."
"Sialan ini cewek, pasti dia sengaja." Jihan yang membatin, memegang perutnya sendiri, dan menunduk. Rasa malunya, sudah menghampiri dirinya.
Richard yang memicingkan mata, ia melirik ke arah perutnya Jihan "Ya, 9 bulan lagi, kamu sudah jadi Ibu. Kamu akan benar-benar mengandung dan perut kamu itu akan membesar. Badan kamu akan gemuk dan melahirkan. Pasti, badan kamu akan berubah bentuk. Bisa jadi, nantinya kamu tampil di cover majalah pregnancy"
Lovie mencubit lengannya, "Kak Richi nggak boleh ngomong begitu. Nanti dia jadi stress, nggak baik untuk tumbuh kembang janinnya."
"Istriku. Dulu dia bilang begitu sama aku. Dia takut bodynya jadi berubah bentuk. Bodohnya aku, aku percaya dan mau saja menuruti kemauan dia, sampai ada anaknya."
"Ya sudah, nggak enak dibahas disini. Ayo kita pulang, kita besarkan Lucas bersama-sama."
"Nggak, aku nggak mau membesarkan anak sama dia. Dia nggak bisa kasih contoh yang baik. Buktinya, sekarang dia hamil. Siapa bapaknya?"
Jihan yang terintimidasi, kedua orang tuanya saat ini menatap Jihan. Jihan yang bingung, ia memilih pergi dan sudah tampak menangis.
"Kak Richi ih, kasian dia."
"Kenapa aku harus kasian?"
Richard menatap istrinya jadi sebal, Lovie menjawab "Jihan lagi hamil, nggak baik mencela ibu hamil. Apalagi, Kak Richi juga lahir dari seorang wanita. Kak Richi nggak boleh kasar begitu."
Presdir Julian membatin "Kenapa anak itu selalu bisa menasehati Richard, padahal dia masih belia. Lalu, putriku malah membuat ulah. Siapa yang sudah menghamilinya, aku harus mencari dia."
Presdir Nicholas dan Presdir Julian, pergi berbeda arah. Lovie mencari Lucas yang dibawa oleh Talita.
Doorr!!
__ADS_1
"Om Rey."
"Hallo ganteng. Sini gendongnya sama Om saja."
Talita memberikan Lucas ke punggung Rey. Jadi terlihat seperti Papa idaman.
"Yang lain kemana?"
"Masih di ruangan sana. Jihan hamil."
"Jihan hamil???" Rey jadi terkejut.
"Iya, dia hamil. Jangan bilang kalau itu anak kamu."
"Ya nggaklah. Aku mana pernah ketemu Jihan. Dia waktu mabuk ke apartemen, kamu juga ada di apartemen."
"Ya, bisa saja. Kalian ketemuan terus terjadilah kecelakaan fatal."
"Talita, kamu bisa nggak sih percaya sama suami kamu sendiri."
"Entahlah, aku jadi sebal sama kamu. Apalagi itu, sekretaris kamu. Lagaknya sudah seperti selingkuhan kamu."
Rey masih menggendong Lucas, ia melihat ke arah Jihan.
"Itu, Jihan lari. Katamu barusan, dia hamil."
Talita berkacak pinggang, ia berkata "Ya sudah, sana lari. Kejar kesayangan kamu itu."
Talita jadi mangkel, entah kenapa seminggu ini moodnya juga kurang baik.
"Aku sampai sekarang belum haid. Bisa jadi, aku juga hamil." Celetuknya Talita dan Rey jadi menoleh ke perut sang istri.
"Emh, bisa jadi begitu. Perut kamu melebar." Ucapnya Rey datar.
Talita jadi sok manja, ia memegang lengan tangan Rey, lalu berkata manis "Gimana kalau kita periksa berdua. Mumpung kita masih di rumah sakit."
"Nanti saja, aku beliin testpeck."
Talita jadi kesal lagi, melepaskan lengan tangan suaminya dan berjalan lebih dulu.
Rey sudah mengejar istrinya, ia berkata "My Darling, ayo ke ruang dokter."
Rey juga susah berkata manis. Apalagi harus memanggilnya dengan kata darling, rasanya bukan Rey.
"Emh, kamu benar. Lebih baik testpeck saja."
"Beneran, nggak mau periksa?"
"Aku bisa konsult sendiri, tanpa kamu."
Talita melengos dan segera ke arah parkiran mobil.
"My Darling, jangan ngambek."
Jihan melihat Rey, yang tampak mesra dengan Talita. Dia jadi nangis di pojokan.
"Kalian semua menyebalkan. Rey, dulu kamu juga janji sama aku. Kamu akan selalu menjaga aku." Gumamnya Jihan.
Jihan bersandar tembok dan menangis.
Jihan yang tidak tahu, siapa anak yang dia kandung. Bahkan, malam itu dirinya tidak mengenal orangnya. Jihan salah kamar, padahal janjian dengan teman aktornya yang tampan. Sayangnya, teman dekatnya, mengantarkan Jihan ke kamar orang lain.
"Aaaa, kalian semua jahat padaku."
Meski pergi terpisah arah, Presdir Julian dan Presdir Nicholas kembali bertemu di parkiran mobil mereka.
Nyonya Nancy tadi sempat menggebrak meja, saat mantan istri Presdir Julian terus saja memojokan Richard.
"Julian, coba kamu selediki istrimu. Sepertinya, dia yang mengajari Jihan."
Presdir Nicholas, melerai istrinya "Mommy."
Presdir Julian tampak seorang diri, dan menatap wajah Nyonya Nancy.
__ADS_1
"Coba kamu tanyakan masa lalunya. Kenapa, dia tega meninggalkan dua putri kandungnya."
Setelah itu, Nyonya Nancy masuk ke mobilnya dan Presdir Nicholas berkata "Julian, kamu harus tenang. Aku pergi dulu."
"Iya, silakan."
Presdir Julian jadi gelisah, setelah beliau mendengar ucapan Nyonya Nancy.
"Jihan sering keluar malam. Tapi, Bianca tidak pernah memberitahu aku. Lalu, apa maksudnya dengan putri kandung itu. Apa Bianca punya anak dari mantan suaminya yang sudah tiada itu? Bianca, bilang janda tanpa anak."
Perasaan Presdir Julian jadi gelisah. Dari arah pintu samping rumah sakit, mantan istri dan istrinya sudah tampak mendekat ke arahnya.
"Delia, aku akan mencari pria itu." Ucapnya Nyonya Bianca.
"Kalau ada info, tolong kabari aku. Aku juga masih ada urusan lain." Balanya Nyonya Delia.
Presdir Julian bertanya "Urusan penting apa, sampai membuat kamu lupa akan masalah putri kandungmu."
Mendengar mantan suaminya berkata seperti itu, Nyonya Delia membalasnya lebih sinis "Julian, kita dari dulu sudah sepakat. Jihan urusanmu, Jonas urusanku. Jadi, siapa yang bersalah dalam hal ini, kamu sayang. Bukan aku."
Nyonya Delia hendak melangkah pergi, dan melihat ke sudut arah parkiran. Sosok putri yang ditinggalkan, "Julian, lihatlah itu. Jihan sudah kalut. Bawalah dia pulang, kalau kamu tidak mau kehilangan putrimu."
Nyonya Bianca membalas ucapan Nyonya Delia, "Delia, pergilah duluan. Biar aku saja yang menjaga Jihan."
Nyonya Delia pergi dan sangat malas berdebat dengan mantan suaminya.
Richard, malah konsultasi dengan dr. Syilla masalah kandungan sang istri.
"Tidak ada masalah apapun. Mungkin, memang Lovie terlalu cepat bila harus segera hamil."
Lovie berkata "Tante Syilla, nggak perlu ladeni dia. Dia akhir-akhir ini memang begitu, karena masalah Lucas."
"Oke. Masalahku sudah kelar. Waktunya, kita bulan madu."
Richard berkata "Dr. Syilla terima kasih atas penjelasan dan waktunya. Kita juga sudah banyak merepotkan anda."
"Richard kamu tidak perlu sungkan, aku tante kalian. Semoga, Lovie segera mengandung."
"Kalau begitu, kita permisi."
"Iya, silakan."
Richard sudah meraih tangan istrinya dan mengajak pergi. Lovie hanya melambaikan tangannya kepada sang Tante.
Dr. Syilla kembali melihat akan hasil USG Lovie, bergumam "Mungkin, akan terlihat dua minggu lagi."
Richard saat berjalan bersama istrinya, dan ia bertanya "My Lovie, tadi kamu bicara apa saja sama Jihan?"
Lovie menjawab "Jihan, ingin menjadi Nyonya Richard."
"Sayang, aku tanya kamu serius."
Lovie menghentikan langkahnya, Richard menatap wajah itu dengan seksama. Bibir Lovie mulai manyun manja.
"Aku juga bilang serius. Jihan bilang, ingin merawat Lucas bersama kamu. Terus, aku jawab ya silakan saja. Aku tidak masalah. Aku tinggal melihat kalian berdua, dan duduk manis sebagai Nyonya."
"Kamu kenapa meladeni Jihan. Dia nggak akan paham, dengan perkataan yang begitu. Tinggal bilang saja, Tidak. Kalau kamu tetap bilang Tidak. Pelan-pelan dia mundur."
Lovie berkata dengan wajah yang tampak sendu "Lalu, bagaimana dengan Lucas?"
Richard berkata "Bukannya, tadi dia memanggil kamu, Mama??"
"Benar."
"Ya sudah. Kalau begitu, Lucas anak kita berdua. Bukan anaknya Jihan. Lagian, bukan Jihan yang mengandungnya."
"Iya, meski begitu. Aku sangat terharu, saat Lucas memanggil aku, Mama."
"Baiklah. Mama dan Papa."
"Sudah mengakui, Lucas?"
"Kamu Mama. Ya, aku Papa."
__ADS_1
Lovie berkata "Besok, aku mulai Ujian. Papa, harus jagain Lucas."