Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Konsumen Pingsan


__ADS_3

Jam siang di kantor Rich Corporation dan masih meeting penting.


Tampak keakraban kedua perusahaan besar, yang akan menjalin kerjasama.


Perusahaan iklan Sheen, telah dipercaya dalam pembuatan iklan produk kosmetik miliknya Rich Corporation.


"Terima kasih Presdir Nicholas. Tim saya akan bekerja sebaik mungkin, untuk produk kosmetik tercantik ini."


"Kita sudah berlangganan sejak lama. Tidak perlu formal begini."


"Ini hanya sebagai tanda jalinan kerjasama, diantara perusahaan kita."


Keduanya sepakat, menandatangani kontrak kerja yang disertai stamp dan ada sesuai pasal berlaku.


Talita tersenyum, Doddit dan Metta juga melihat ke arah Presdir Nicholas.


Tok tok tok


Lagi-lagi, sang asisten Presdir datang mendekat.


"Pres-dir." Panggilannya terdengar gagap, padahal biasanya tidak begitu.


Rondi, pria berusia 40an ini memang grasah-grusuh, tapi beliau ini sosok pekerja keras.


Presdir Nicholas menoleh ke arah asisten pribadinya, beliau bertanya "Rondi, ada apa lagi?"


Presdir merasa digangguin asisten pribadinya.


"Gawat Presdir. Gawat." Ucapnya.


Rey dan Talita juga menoleh ke wajah itu. Sudah tampak wajah yang kurang memadai, terlihat kucel.


Berlari dari ruangan staff dan sampai ke tempat ini. Hanya untuk memberikan sebuah informasi.


"Mie Presdir. Mie beracun." Ucapnya.


"Mie???" Presdir Nicholas bingung.


Rey, Talita, Doddit dan Metta jadi penasaran.


Doddit memahami kata itu, pasti berhubungan dengan perusahaan. Secepatnya, membaca berita dengan tablet yang dipegang olehnya.


"Hah?? Mie instan super pedas produk dari Rich, mengandung racun yang sangat berbahaya. Sampai membuat kosumen pingsan di kamar mandi." Ucap Doddit dan masih menatap ke layar tabletnya.


"Apa itu, yang dimaksud dengan pingsan di kamar mandi?" Tanya sang Presdir Nicholas.


Talita jadi menyela "Mungkin konsumen mengalami diare, terus pingsan di toilet. Penyebabnya itu, dikarenakan makan mie super pedas produknya Rich."


Yang lain menoleh ke Talita. Rey berbisik "Talita, kamu jangan ikut campur urusan orang lain."


"Bos, saya tidak ikut campur urusan orang lain. Hanya mengutarakan pendapat. Saya penyuka mie super pedas dari Rich. Namun, saya tidak sampai keracunan. Tetapi, bila konsumen mie super pedas itu memang sensitif dalam pencernaan. Pastinya, konsumen itu bisa mengalami diare. Seperti, Kakak saya. Perut Kakakku nggak cocok dengan makanan yang memakai bubuk cabai. Padahal, sambal biasa tidak masalah. Tapi, itu bukan racun. Aneh saja, dengan bahasanya yang menjatuhkan nama perusahaan."


Semua jadi mendengarkan ucapan Talita. Perasaan mereka jadi gelisah. Padahal, jarang sekali tim call center R.C menerima komplain. Baru sekali ini, ada kejadian semacam ini.


Presdir Nicholas bertanya "Siapa korbannya? Dimana tempat korban dirawat? Biar saya sendiri yang memberikan kompensasinya."


"Presdir, beberapa ulasan dari para penggemar mie super pedas. Hampir mirip dengan ucapan Talita barusan." Celetuk Metta, yang tampak duduk di sebelah Presdir Nicholas.


Rondi, jadi duduk dan mengelap keringat.


"Tim Humas tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini. Biarkan saya sendiri, yang akan menemui kobannya."


Rondi berkata "Presdir, info dari tim call center. Korbannya pingsan di Hotel DeNuca dan saat ini korbannya dibawa ke rumah sakit. Polisi juga sudah bersama korban."


"Polisi??!" Presdir Nicholas terkaget, dan kembali mengingat kalau tadi polisi bekerja menyelidiki kasus Om Sultan.


Polisi sebenarnya mencari Om Sultan. Pria yang mengaku sultan dan menggaet beberapa gadis belia.

__ADS_1


Karena itu, para Polisi membuntuti beberapa gadis, yang keluar dari hotel DeNuca dan meminta keterangan mereka.


Yups, bisa dibilang Om Sultan-sultanan. Padahal, pria pengangguran. Setelah mendapatkan targetnya, Pria itu menggiring si gadis ke Sugar Daddy.


"Kalau polisi menindaklanjuti masalah ini. Pasti perusahaanku jadi makin kacau. Aku harus segera menemui korbannya dan membuat kesepakatan dengannya. Di hotel DeNuca? Kenapa harus hotel milik putraku??" Batin Presdir Nicholas.


"Metta, cari informasinya. Di rumah sakit mana korban dirawat dan cari tahu keluarga dari korban." Perintah sang Presdir, kepada Metta.


Metta, sang sekretaris sexy, bergerak cepat mencari keberadaan korban mie instan super pedas itu.


Setelah itu, Presdir Nicholas pergi bersama Doddit. Sedangkan asisten pribadinya Presdir dan Metta masih stay di kantor.


Talita dan Rey juga pergi, mereka sudah selesai presentasi. Rey juga harus kembali ke kantornya.


Rey menaikan sebelas alisnya, tatapannya begitu serius, ia berkata "Sana, pulang ke apartemen."


"Apa, aku tidak diajak ke kantor?" Tanya Talita kepada Bos kejamnya.


"Kamu kekasih kontrakku. Bukan sekretaris pribadiku." Jawabnya Rey.


"Hish, bilang saja aku pembantu apartemenmu."


"Benar juga. Terserah kamu saja. Ingat, besok pagi ke sekolah. Ibuku sudah curiga, murid pintarnya dari kemarin nggak masuk sekolah."


"Baiklah. Aku mengerti. Mana ongkos taxinya?" Tangan kanannya sudah mengadah dihadapan Rey.


Rey menggeleng kepala dan kedua tangannya sudah berkacak pinggang. "Ckckck. Anak kecil pintar nodong orang dewasa."


"Yee, aku mana ada duit. Lagian, aku sudah kerja tapi belum terima DP." Balasan dari Talita, menutup mulutnya Rey.


Rey mengambil sesuatu dari dalam mobilnya. Ada amplop warna emas. Memberikan kepada Talita. "Ini kartu ATMku yang khusus buat kamu. Isinya, DP. Pelunasan, nanti."


"Okay." Masukannya ke dalam tas.


Talita kembali menadahkan tangannya, "Ongkos taxinya. Aku beneran nggak ada duit."


Rey mengamati tingkah bocah satu ini, ia berkata "Aku juga nggak ada duit cash. Sana pergi, jalan kaki. Dari sini ke apartemen dekat. Itu ada jalan kanan tembus jalan kecil, nanti lurus, belok kiri lurus ke jalan belakang, nyeberang jalan sampai apartemen."


"Talita, kamu gadis yang tangguh dan pemberani. Kamu bisa jalan kaki, tanpa ada yang godain kamu."


"Nggak boleh menyerah." Batin Talita.


"Aku pakai pantofel. Kaki mulusku bisa lecet. Nanti, kamu nggak bisa pamerin aku ke sahabat kamu." Ucapnya Talita.


"Oke, oke. Masuk mobil. Aku antar kamu dulu." Balasnya Rey.


Talita jadi senyam-senyum. Tetap saja, Bos ini jadi kalah.


Sekitar 10 menit perjalanan, Talita sudah turun dari mobil Rey dan segera memasuki lobby.


"Heems, kecil-kecil pandai menggoda. Gimana nanti sudah besar." Gumam Rey yang memandangi punggung Talita. Kemudian, perlahan melajukan mobilnya.


"Hish, orang dewasa banyak maunya. Aku ini manusia biasa. Aku juga tidak sempurna. Aku banyak kekurangannya, termasuk hidup dalam kemiskinan. Kalau aku tajir, mana mau aku jadi pembantumu." Mulut kecil itu, tetap nyerocos.


Sampai juga di apartemen Rey.


Saat membuka pintu apartemen Rey.


Degh!


Dua orang yang tak saling mengenal dekat akhirnya bertemu.


"Kamu siapa??"


"Aku?!"


"Berani sekali kamu masuk ke apartemen sahabatku." Ucapan modeling itu terdengar ketus.

__ADS_1


"Aku kekasih Rey. Harusnya, aku yang bilang begitu sama kamu. Kenapa kamu masuk apartemen tanpa permisi. Cuma sahabat doang, gayanya sudah kayak simpanan Rey." Cerocosnya Talita, mirip emak-emaknya. Padahal, Talita yang menjadi simpanannya Rey.


"Kekasih? Kamu??! Kekasihnya Rey??!" Dia masih saja tidak percaya.


Talita memasuki apartemen itu dan tidak peduli "Mau aku tunjukin kamarku? Aku juga tinggal disini. Itu pintu putih, kamar pribadiku."


"Kamu? Tinggal disini? Berduaan sama Rey?"


"Iya, memangnya kenapa? Aku kakasihnya. Rey sendiri yang mengajak aku datang kemari. Kalau tidak percaya, cek saja ke cctv. Kalau perlu, sana kamu tanya Rey."


"Nggak mungkin. Nggak mungkin Rey melupakan aku." Batinnya jadi gelisah.


Jihan pergi dari apartemen, dengan wajah yang masam. Talita, tersenyum setelah Jihan pergi.


"Cantik, model, orang kaya. Tapi, nasib cintamu sungguh aneh. Sahabatmu tidak menyukaimu." Dessisnya Talita.


Sayangnya, Talita tidak tahu hal yang sebenarnya terjadi. Rey, hanya menjelaskan point utamanya. Bukan, tentang isi hatinya Rey.


Presdir Nicholas, sudah tiba di rumah sakit ShinHealty Internasional. Beliau langsung mencari korban, dari mie instan super pedas produknya Rich Corporation.


"Doddit, dimana ruangan IGD-nya?"


"Disebelah sana Presdir. Mari silakan." Doddit mendampingi sang Presdir, yang ingin melihat sendiri korban dari produk Rich.


Di ranjang pasien, sudah terbaring sosok rupawan nan menawan.


Lovie dari tadi sudah memegang tangan Richard. Ia berkata "Kak Richi tidak perlu cemas. Aku sudah komplain sama pihak R. C. Pasti mereka akan memberikan kompensasinya. Jadi, Kak Richi bisa dapat uang dari mereka."


Sayangnya, Richard tertidur karena efek obat yang membuat kantuk. Sampai saat ini, Lovie masih setia menemani dia.


Lovie pula yang membuat unggahan, soal layanan konsumen perusahaan Rich, yang dirasa tidak bergerak cepat.


"Kak Richi, aku akan menjagamu."


Degh!


Dari kejauhan, sepasang mata melihat dengan jelas. Ternyata yang terbaring di ranjang pasien itu, ialah putra semata wayangnya.


"Doddit, itu bukannya Richard." Ucap Presdir Nicholas kepada asisten putranya.


"Tapi, tadi kata suster korban mie super pedas ada di ranjang nomor 7. Benar Presdir, itu pasiennya." Balasnya Doddit dan memperhatikan nomor ranjang pasien IGD yang terpampang di dinding.


"Apa mungkin, korbannya itu Richard?" Tanya sang Presdir, untuk memastikan. Jelas-jelas, itu memang wajah putra tampannya dan yang duduk di kursi, adalah Lovie. Gadis belia yang dibawa pulang ke rumah.


"Presdir Nicholas. Sebaiknya, kita cari korban mie super pedas itu dulu. Soal Bos Richard, biarkan Lovie yang menemaninya." Bawelnya Doddit.


Presdir Nicholas malah memerintah Doddit "Sana, urus semuanya. Cepat, cari tahu kejelasan korban mie super pedas. Jangan sampai kita salah orang."


"Presdir. Kalau korbannya, Bos Richard sendiri, bagaimana?" Tanya Doddit.


Mereka bedua berubah bingung.


Di saat bersamaan. Talita yang berjalan pergi ke swalayan dekat apartemen Rey. Ada dua polisi yang menghadangnya.


"Nona, apa benar anda pemilik akun syantika putri2??!" Pertanyaan polisi, yang menghadangnya.


"Apa maksud bapak-bapak? Saya tidak mengerti." Talita berwajah bingung.


"Anda, harus kami tahan di kantor polisi." Ucapan, salah satu dari mereka.


Dua orang polisi, sudah siap memborgol Talita.


"Bapak Polisi, jangan mendekat!! Pasti Bapak Polisi salah orang. Saya tidak berbuat jahat."


"Anda telah membuat kegaduhan di dalam media sosial dan menjatuhkan nama baik perusahaan besar."


"Saya?" Talita menujukan ke dirinya.

__ADS_1


"Iya. Anda Nona Syantika."


"Wah! Bapak berdua makin ngaco ngomongnya."


__ADS_2