Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Saling Menyerang


__ADS_3

Pagi membawa rasa penasaran. Saat mobil mewah, telah berhenti tepat di belakang mobil Papi Benny.


Degh!


Perasaan Talita berubah tegang, saat melihat sosok tampan, yang memakai setelan jas dan keluar dari mobil sport warna putih.


Porsche putih itu, benar-benar tampak mengkilau dan mata Talita tak henti memandangi mobil itu.


"Aku juga mau." Celetuk Talita dan Papi Benny jadi menatap sosok pria tampan yang berusia matang.


Papi Benny dengan asal bertanya "Kamu mau pria itu?"


"Mobilnya. Mobil impianku." Jawab Talita dan tanpa sadar keduanya sudah saling menatap kembali.


"Talita, jujur sama Om. Apa kamu tahu keberadaan Lovie?" Tanya Papi Benny, yang kembali mencecar Talita.


Talita dengan bibir cemberut, ia tampak menggeleng saja dan saat ini Rey sudah berjalan mendekati Talita.


"Buruan, aku harus ke kantor. Kamu harus menyiapkan semua berkasku."


"Baik Bos. Saya sudah siap. Tapi ini, ada Om saya." Ucap Talita dan Papi Benny sudah memandangi pria tampan ini.


Dari ujung rambut sampai ke bawah, sungguh penampilan luar yang serba mewah. Bahkan, melihat ke arah sepatu sporty yang berharga fantastis.


Sepatu itu, yang diinginkan putrinya beberapa hari yang lalu. Sayangnya, keuangannya Papi Benny sudah dipegang oleh istri barunya.


"Papi akan belikan apa saja yang kamu inginkan. Cepatlah pulang, Papi sudah merindukan kamu."


"Om Benny, ini Bos tempatku bekerja. Tanya saja sendiri sama Bosku. Aku akan bekerja di apartemennya. Makanya aku bawa pakaianku. Aku bersumpah, aku nggak tahu dimana Lovie."


Rey menatap wajah Talita, yang terlihat begitu jujur, saat berkata pada sosok yang lebih tua dari dirinya.


"Bosnya Talita?!" Tatapan yang amat terkaget, Papi Benny kembali memastikan, dan bertanya. "Anda, Bosnya Talita?"


"Talita??!" Rey terkaget, merasa telah ditipu oleh gadis belia ini. Lalu, tatapan kejam tertuju kepada Talita.


Si gadis belia ini, terdiam dan sudah mengalihkan pandangannya ke atas. Berpura-pura melihat burung.


"Cantika Talita Putri."


Cantika Talita Putri, putri kedua dari sahabat Papi Benny. Setelah sahabat dekatnya meninggal. Talita dan Lolla pindah ke kota ini, atas bantuan Papi Benny.


Ya, bisa dianggap orang tua asuhnya, selama 12 tahun ini.


Apalagi, ibu kandungnya mereka, telah pergi begitu saja dan tanpa berpamitan. Saat, Papi Benny dan Maminya Lovie berkunjung kesana. Talita dan Lolla sudah menjadi anak terlantar.


Maminya Lovie mengajaknya ke rumah. Namun, mertuanya yang galaknya minta ampun, tidak suka kepada Lolla, yang bertingkah seperti anak bandel.


Akhirnya, dengan kesepakatan bersama. Suami istri itu, memberikan rumah lamanya untuk mereka tinggali sementara dan memberikan biaya kebutuhan.


Namun, setelah Papi Benny menikah lagi, hanya Lovie yang memberikan uang dan mereka berdua juga bekerja.


Talita terkadang mengambil setrikaan, dari tetangga rumahnya dan bekerja setiap sepulang sekolah. Sedangkan Lolla, awalnya menjadi pelayan di restoran dan sekarang menjadi simpanan.


Talita yang pandai, dia juga mengajari Lovie untuk mengerjakan tugas sekolah bersamanya. Semua mata pelajaran, Talita ajarkan kepada Lovie. Yang utama adalah Matematika. Karena, Lovie kesulitan untuk mengejar nilai, teman-teman sekelasnya.


Hal itu, sudah biasa terjadi setiap hari dan malam harinya Papi Benny akan menjemput Lovie di rumah itu.


Rumah itu, milik Lovie warisan dari sang Mami. Namun, masih diatas namakan Omnya yang nakal.


Itu karena, saat kepergian Mami Lovie. Usia Lovie belum cukup umur. Papi Benny was-was, akan Neneknya Lovie yang bisa saja menjodohkannya. Pasti akan sulit baginya, memisahkan harta milik putrinya.


Pada akhirnya, milik Lovie dititipan kepada adik dari Maminya Lovie. Rasya Hermawan, sayangnya Om itu punya dedek manis.


Sugar baby itu, adalah Lolla. Gadis itu memang sengaja mendekati Rasya berkat si bodoh Lovie. Lovie cerita kalau rumahnya yang mereka tempati, sudah atas nama Rasya.


Dari situlah awalnya. Lolla menjadi gencar, mendekati Rasya yang beristri dan seorang Papa.


Yuk, kita kembali ke suasana di depan rumah itu. Ada 3 orang yang saling menatap.

__ADS_1


"Aku pikir, Cantika menipu aku." Batin Rey, masih was-was.


"Huh, hampir saja aku jantungan."


Denda yang harus di terima Talita, juga bikin edan. Talita merasa takut, bila dia sampai membuat kesalahan di depan Rey.


Rey juga tidak mau ditipu oleh gadis belia ini. Sehingga, beberapa poin utama ia cantumkan, termasuk poin denda milyaran.


"Saya Bosnya Cantika. Saya Rey. Saya CEO, di perusahaan iklan Sheen."


"Saya Benny, pemilik Style Fashion."


Rey tersenyum, saat menjabat tangan Papi Benny. Tampak wajah percaya diri, Rey berkata "Ternyata, perusahaan kita pernah bekerja sama."


"Anda benar, Tuan Rey. Tapi saya belum pernah ke kantor anda." Balasnya Papi Benny. Tampak wajah Bos berkharisma. Cara bicaranya juga begitu menawan. Masih terlihat muda dan tampan.


"Mr. Benny tidak perlu sungkan. Kalau anda ada waktu. Silakan berkunjung ke kantor saya, saya akan menyambut anda."


Mereka berdua memang belum pernah bertemu. Karena, dari kedua pihak perusahaan, mereka menugaskan para bawahannya.


"Dengan senang hati, saya akan berkunjung kesana." Balasan Papi Benny, berusaha untuk lebih akrab.


"Bos, sudah jam 9. Bukannya Bos akan ada rapat." Ucap Talita, mengingatkan jadwal Bosnya.


"Kamu benar." Balas Rey, tersenyum.


Papi Benny berkata "Talita, jaga diri kamu baik-baik. Kalau bertemu Lovie, segera kabari Om."


"Baik Om Benny."


Papi Benny menatap ke arah Rey, "Saya titip keponakan saya. Dia anak yang baik. Ini kartu nama saya. Kalau ada apa-apa dengan Talita, jangan segan mengabari saya."


"Baik Mr. Benny. Ini kartu nama saya. Soal Cantika, anda tidak perlu mencemaskannya."


"Baguslah kalau begitu. Saya permisi dulu."


"Iya, silakan."


"Iya Om. Hati-hati." Talita melambaikan tangannya, daa daa.


Rey menatap Talita dengan aneh, dalam hatinya salah menerka "Gadis ini ternyata licik juga. Dia punya teman dan menjualnya sama Om-om. Hissh."


"Duh, gawat! Mereka malah saling bertukar kartu nama. Aku harus gimana?" Batin Talita cemas.


Talita semalam terbawa suasana, ia tidak melihat halaman yang berisi tentang denda dan hukumannya. Bila melanggar kontrak, Talita harus yang membayar Rey.


Setelah, mereka berdua ada di mobil. Rey menoleh ke wajah Talita yang muram.


"Aku harus memanggilmu apa?" Tanya Rey dan suaranya sudah terdengar lembut.


"Talita saja. Aku sudah terbiasa begitu. Aku tidak suka dipanggil Cantika." Jawab Talita sensi.


"Kenapa kamu jadi jutek sama aku? Padahal, aku tanya kamu baik-baik." Rey kembali menggoda Talita. Menurutnya sikap Talita berubah kekanakan.


"Entahlah, aku hanya kesal."


"Tadi itu, beneran Om kamu?"


"Apa aku harus mencumtumkan namanya agar aku tidak kabur darimu?"


Rey tersenyum, ia membatin "Ternyata dia marah, hemms! Aneh."


"Huh, aku terbuai uang. Malah aku sudah kalah sebelum masuk ke apartemennya. Gimana ini, aku harus bayar pakai apa dendanya. Masa iya, aku harus selalu bersama dia."


"Apa kamu masih sekolah?" Tanya Rey.


"Iya. Aku masih sekolah."


"Dimana?"

__ADS_1


"Di, Sheen Internasional."


"Owh. Itu sekolahan, milik keluargaku. Baiklah, nanti setiap hari aku akan mengantar kamu ke sekolah."


"Mati aku. Aku murid unggulan. Gimana kalau dia cerita sama guru-guruku? Hikss, Lovie, kamu dimana? Aku butuh kamu. Bantu aku, keluar dari jeratan pria ini. Aku takut masuk penjara."


"Kenapa? Aku sudah berusaha baik. Ibuku juga mengajar disana. Malahan bagus, aku akan bilang kalau kamu simpananku." Rey yang tersenyum.


Talita yang kesal berkata "Sudah diam. Jangan coba-coba memojokkan aku."


"Aku sudah berniat baik. Tapi, kamu ingin menggapai ranjang pribadiku. Apalagi semalam, aku tidak lupa akan ciumanmu yang nakal."


Talita membuang mukanya ke sisi jendela dan kedua tangannya terasa dingin. Sepertinya, Talita telah terbuai dengan nominal yang ditawarkan Rey.


Sayangnya, dibalik nominal fantastis, ada kekejaman yang menjerat Talita.


"Bos. Kita mau kemana?"


"Ke apartemen."


Saat Talita pergi, Lolla kembali dengan satu koper besarnya. Selama libur kuliah, dia berlibur dengan Rasya.


Ia yang mengambil kunci rumah dari tas. Dua anggota kepolisian, datang untuk menginterogasi dirinya.


Yuk, kita intip permainan Lovie terhadap Richard.


Lovie merasakan sakit yang luar biasa pada sekujur tubuhnya.


"Emmh!"


Dari awal, Lovie yang menggoda Richard, dan itulah balasan dari seorang Richard.


Seperti, gadis yang telah diperkosa oleh pria bejat yang dikuasi setan.


Richard melakukannya dengan kasar dan sorot matanya juga terlihat keji.


Namun, gadis itu tidak menangis.


Saat ini, Lovie sudah menutupi tubuhnya, dengan selimut yang ada di kasur. Lovie tetap terdiam dengan wajah yang teramat polos.


"Aku harus kerja. Cepat hubungi Ibuku."


"Kak Richi saja."


"Aku?? Bukannya kamu sudah sekongkol dengan Ibuku?"


"Aku hanya berjanji padanya, bukan bersekongkol. Aku tidak tahu, kalau pintu luar dikunci Ibu Nancy."


"Ini nomor Ibuku. Cepat hubungi Ibuku."


"Baik." Lovie yang polos, ia turun dari ranjang, dalam keadaan tak berbusana.


"Ini bocah masih nantangin?!" Tatapan Richard yang semakin gila.


"Jangan mendekat. Sana, balik ke kasur."


"Tapi, aku mau pipis."


"Kamu sudah terlanjur ngompol di kasur."


Lovie tampak menurut dan kembali membungkus dirinya dengan selimut.


"Ingat! Kamu jangan kemana-kemana." Richard memberikan ponselnya dan ponsel Lovie.


Lovie menekan nomor tujuan dan ternyata panggilannya dialihkan.


"Nggak bisa dihubungi."


"Sepertinya aku harus melompat dari jendela." Pekiknya Richard.

__ADS_1


"Sana lompat."


__ADS_2