
Ujian sekolah telah di mulai. Ada papan sepanduk yang membentang besar di pagar Sheen Internasional.
"Cantika sekolah disini. Kenapa aku tidak tahu apapun tentang Cantika?"
Nyonya Bianca, yang mengendarai mobil seorang diri, tampak menatap bangunan gedung sekolahan ini.
Beliau semalam bertemu Lolla dan itu memang sudah disengaja oleh Lolla.
Flashback On
Kembali pada waktu semalam, setelah Talita mengatakan kepada Jihan. Soal Nyonya Bianca yang punya anak.
"Kak Lolla, aku sudah bilang sama Jihan. Coba Kak Lolla ke JM. Siapa tahu, Mama akan mengenali Kak Lolla?" Talita yang berucap kepada Kakaknya.
Lolla yang waktu itu telah dinyatakan hamil. Dirinya harus mengalami kecelakaan dan akhirnya janinnya keguguran tepat di usia kehamilan 2 bulan lebih dua minggu.
Talita menemui Lolla setelah Jihan pergi dari apartemen Rey. Yang tadinya dirinya masih sibuk masak. Tetapi, kepikiran juga soal Mamanya dan Kakaknya. Apalagi, Kakaknya juga sudah banyak menderita karena kematian Papanya.
Talita menceritakan semuanya, bahkan tentang status dirinya yang sekarang. Apalagi, sudah tidak tinggal bersama Kakaknya lagi. Lolla tetap menikah dengan Rasya dan Syilla juga baik padanya.
"Talita, apa kamu tidak salah mengenali orang?" Tanya Kakaknya dan masih ragu.
"Beneran Kakak. Itu Mama. Coba, Kak Lolla tunjukan kalung ini, pasti Mama akan mengingatnya. Kalau aku, tidak berani memarahi Mama. Meskipun, setiap melihatnya, ingin sekali memaki Mama."
Raut wajah itu tampak sendu, dalam hatinya Lolla sudah dicabik-cabik dan ingin segera meluapkan semua cacian untuk Mama yang meninggalkan dirinya dan adiknya.
"Talita."
"Aku memang tidak sempat memotret. Tapi, Lovie sempat kirim ke aku."
Talita mencari foto yang tampak wajah Nyonya Bianca. Setelah menemukan foto di layar ponselnya, Talita langsung menunjukan kepada Kakaknya.
"Kak Lolla, ini lihat. Ini Mama. Mama kita Bianca, Mama tirinya Jihan juga Bianca. Ini bukan kebetulan Kak Lolla. Aku yakin, ini Mama kita Kak."
Lolla melihat foto itu, rasanya sudah sangat marah. Hatinya sangat sakit sekali. Bisa-bisanya, Mama kandungnya malah memanjakan anak orang lain dan bersikap seolah-olah tidak punya anak yang lain.
Talita sudah tampak biasa saja, hanya melihat Lolla yang terdiam, perlahan ada tetesan air mata.
"Kak Lolla jangan nangis. Kak Lolla harus marah sama Mama. Kalau aku, pasti sudah nangis duluan sebelum marah." Ucapnya Talita.
"Aku tidak tertarik. Kita berdua tidak punya orang tua. Papa dan Mama kita sudah meninggal."
"Kak Lolla."
Lolla meraih tas jinjing yang ada di atas meja. Segera meninggalkan restoran tempat mereka bertemu.
Talita yang hendak mengejarnya, namun Rey sudah memanggilnya.
"Talita kamu dimana?" Tanya Rey dalam panggilan telephone.
"Kamu nggak perlu tahu, aku ada dimana."
Talita mematikan panggilan Rey, kemudian kembali ke kursinya.
Restoran mewah dekat rumah yang dulu, tempat yang mereka tinggali dalam asuhan keluarga Lovie. Ya, bisa dibilang itu rumah Lovie, yang di atas namakan Om Rasya.
"Maafin aku Kak."
Sudah satu bulan berlalu, namun Talita juga tidak memberitahu Kakaknya, kalau dia sudah tinggal bersama keluarga Nuca. Bahkan, menjadi tuan putri keluarga Nuca.
"Talita, meskipun aku sudah punya keluarga sendiri. Harusnya kamu juga cerita sama aku." Batinnya Lolla kecewa.
Lolla melihat kabar berita, Sheen dan Rich menjadi keluarga kerena sudah melakukan perjodohan bisnis. Tidak tahunya, kalau itu adalah adiknya sendiri.
__ADS_1
Lolla hanya mendengar, kalau Lovie sudah menikah dengan putra pemilik Rich. Itupun, ia tahunya dari Syilla. Hanya Syilla yang datang, karena Omnya ada urusan bisnis di luar negeri.
"Ini semua gara-gara Mama. Mama yang sudah menghancurkan masa depanku dan juga Talita. Aku harus hidup menderita, itu semua karena Mama."
Lolla sudah mengepalkan tangan kanannya dan segera pergi.
Talita masih merenung di restoran dan kembali menyalahkan dirinya.
"Aku pikir, Kak Lolla akan senang. Karena aku, juga bagian dari Rich. Aku, akan buktikan sama Kak Lolla. Aku harus bekerja keras dan membuatnya bangga padaku."
Talita, meskipun sifat dan sikap Kakaknya begitu keras padanya. Namun, Talita sangat menyayangi Kakaknya. Bagi Talita, Kakaknya keluarga satu-satunya.
Melihat ke layar ponselnya, "Huh, dia telephone lagi. Bisa nggak sih, kasih aku waktu sendiri saja. Nyebelin banget semenjak jadi suami. Aku harus tunduk sama dia."
"Hallo, iya suamiku sayang. Ada apa?" Tetep saja, telephone dari suaminya diangkat dengan manis.
"Kamu dimana? Kenapa pergi nggak pamit sama aku?" Rey mencari di seluruh ruangan apartemennya.
"Maaf, tadi buru-buru. Aku balik ke rumah. Ketemuan sama Kakak." Jawabnya dan masih santai di restoran.
"Oke, aku ke rumahmu."
"Aku di restoran Flaminggo."
"Tunggu aku, aku jemput kamu kesana."
Setelah itu, telephone dimatikan. Rey bukannya posesif atau perhatian. Tapi, dia tidak mau cari masalah dengan keluarga Nuca. Terutama, Nyonya Nancy. Apalagi, orang tua dan Kakeknya Rey, selalu mengatakan kalau Rey harus menjaga tuan putri dari keluarga Nuca, demi masa depan Sheen yang ada di tangan Rich Corporation. Sekarang ini, Sheen tanpa Rich, bukan apa-apa. Bisnis, tetaplah bisnis. Meskipun, sudah terikat pernikahan. Bisnis itu, akan terus berjalan. Berharap tidak ada masalah, antara pasangan ini.
"Talita bikin aku makin stress."
Hotel JM di malam hari dan Lolla datang dengan sengaja.
Lolla, sengaja memesan kamar di sebelah kamar yang dimasuki oleh Nyonya Bianca.
Tertera 101, nomor kamarnya Jihan, sama seperti nomor kamar Richard.
Setelah beberapa saat menunggu. Kurang lebih setengah menantinya. Akhirnya, Nyonya Nancy keluar dari kamar Jihan.
Bersamaan, Lolla keluar dari kamar itu dan sangat disengaja.
Saling memandang dan penuh rasa yang tidak mengerti. Sosok yang ada di hadapan Lolla memang sama miripnya dengan Mama kandungnya.
"Cherry." Batinnya, seketika saat melihat kalung yang dipakai Lolla saat ini.
Lolla sudah membuang kalung itu, tapi Talita memungutnya dan kembali menyimpan kalung liotin cinta.
Lolla berjalan pergi dan Nyonya Bianca mengikuti jalannya. Lolla dengan sengaja menjatuhkan kalung itu.
Ting!
Lolla memasuki elevator dan Nyonya Bianca yang masih terus berjalan. High heels yang dipakainya terasa menginjak sesuatu.
Saat melihat kalung itu, Nyonya Bianca sudah berbedar. Rasanya sangat sakit dan mengingat akan masa lalu cinta remajanya.
Meraih kalung itu, dengan rasa berdebar dan beliau memegang kalung itu, tangan beliau bergetar, dengan cepat membalik liotinnya.
"Cherry." Dibalik kalung itu, ada lambang huruf dan itu adalah pemberian sang kekasih semasa beliau remaja dulu.
"Dia, Cherry. Anakku??" Rasanya tidak percaya, melihat gadis belia yang berambut pirang kekuningan, berkulit putih dan sangat berbeda dengan anaknya, yang dulu sudah ia tinggalkan.
"Cherry??"
Nyonya Bianca berjalan cepat ke arah elevator dan segera menekan tombol untuk menaikinya, hendak mengejar perempuan yang barusan pergi.
__ADS_1
Saat pintu lift terbuka.
Berdebar hebat!
Keduanya saling menatap sendu.
Raut wajah Nyonya Bianca yang tampak sendu dan kedua mata indahnya sudah berkaca-kaca.
Lolla seolah tidak menganggapnya ada. Namun, dalam hatinya sudah sangat marah dan ingin menangis sejadi-jadinya.
"Kamu, ingin ke lantai berapa?" Nyonya Bianca bingung.
"Nyonya, saya tidak tahu. Harus naik ke atas atau turun ke bawah."
"Memangnya, kamu ada masalah? Apa kamu mengingap di hotel ini?"
Sikap Nyonya Bianca saat ini, sudah tidak seperti Nyonya yang berkuasa. Seketika berubah, setelah memegang kalung yang tadi beliau temukan.
Lolla berkata "Saya mau mencari kalung saya. Saya bingung mencarinya kemana."
"Owh. Apa ini kalung kamu? Barusan, menemukan di koridor."
Lolla menatap kalung itu, ia menjawab "Iya Nyonya. Itu kalung saya. Kalung itu, peninggalkan Mama. Mama saya, sudah lama tiada. Saya tidak mau kehilangan, kalung peninggalan Mama saya."
"Apa maksud kamu, Mama kamu sudah tiada?"
"Mama sudah meninggalkan saya dari kecil. Saya tidak tahu, dimana Mama saya tinggal dan bersama siapa Mama saya tinggal."
Lolla, hanya memancing perasaan Nyonya Bianca.
Nyonya Bianca memberikan kalung itu, beliau berkata "Semoga, kamu bisa segera menemukan Mama kamu."
"Mungkin, Mama juga sudah meninggal seperti Papa saya. Makanya, saya tidak bisa menemukannya."
Degh!
Rasa sakit dalam dadanya, sungguh tidak kuat menahan sakitnya. Ternyata, anak kandungnya sudah menganggapnya mati.
"Saya turut berduka. Semoga saja, Mama kamu masih hidup, kalian bisa berkumpul bersama dan tidak akan terpisah."
"Percuma juga, semuanya sudah tiada artinya bila Mama saya kembali ke rumah. Saya bahkan, tidak tahu apa rumah itu masih ada atau tidak. Hidup saya juga sudah hancur dan tidak ada artinya lagi. Saya dan adik saya hidup terpisah, saya sampai menjual diri saya demi menyekolahkan adik saya, dia banyak keinginan, dan bercita-cita kuliah di luar negeri. Tapi, dia juga sudah pergi, bahkan semuanya sudah tiada berarti lagi. Saya hanyalah Kakak, yang tidak berarti apapun untuk adiknya. Saya sangat membenci kehidupan saya. Semua ini, karena Mama saya."
Lift ini, hanya naik turun dan hanya ada mereka berdua. Setiap pintu terbuka, tidak ada yang menaiki lift ini. Sampai, detik ini.
Nyonya Bianca merasa hancur, semua yang direncanakannya terasa percuma.
"Deon Breeengseek! Dia harus membayar semuanya. Aku sudah memberikan banyak uang, dia kemanakan uangnya."
"Saya dan adik saya. Di antar sahabat Mama, kembali ke keluarga Mama saya. Dengan harapan, akan bertemu Mama. Namun, keluarga itu menjadikan saya pembantu. Saya dan adik saya kabur dari keluarga itu. Setelah di rumah, rumah Papa ternyata sudah disita bank. Saya beberapa hari sampai tidak makan. Setelah satu minggu, ada sepasang suami istri datang untuk menjenguk anak sahabatnya. Melihat keadaan saya dan adik saya sangat menderita, mereka akhirnya membawa saya dan adik saya ke kota ini. Mereka sangat baik, bahkan kita bisa bersekolah. Namun, setelah kematian istrinya. Saya tidak bisa menantikan pemberiannya. Saya dan adik saya harus bekerja. Saya, sampai menjual diri saya."
Tangisnya pecah.
"Cherry...."
Pengumuman penting!
Mohon maklum bila nanti othor slow updatenya / updatenya jarang
Soalnya ponsel othor trouble
Ini, untungnya bisa masuk dari web
Insha Allah, tetap akan terus dilanjut sampai selesai.
__ADS_1
Terima kasih.