
^^^Satu minggu kemudian.^^^
"Papa. Papa. Ayo, Papa buruan." Teriakan Lily gemas.
Lily memakai kaos putih yang bertuliskan anak berbakat. Ia tampak ceria dan sangat antusias, mengikuti acara lomba di sekolah.
Papa Richard berkutat di depan kompor yang menyala dengan api sedang. Tampak serius mengaduk-aduk masakan yang telah dibuatnya.
Ayam yang sangat menggoda. Papa Richard mencium aroma wanginya.
Maksudnya, aroma bumbu-bumbu yang menyempurnakan masakan khas, kota Shindong.
"Papa, punya Om Ron bagus banget. Kita bisa kalah." Ujar Lily setelah melihat Ron yang mengangkat teflon dengan memperlihatkan kelihaiannya saat memasak.
Tangan kirinya memegang gagang teflon berukuran sedang dan tangan kanannya memegang spatula.
Calon Papa ini, juga sangat mempesona saat mengenakan topi ala koki. Sambil melihat ke Lily, dan mengedipkan sebelah matanya.
Genitnya!
Tuan putri yang satu ini, malah sibuk mengawasi masakan orang lain. Lily dari tadi, hanya berdiri di atas kursi dan mengawasi masakan orang-orang di sekitarnya.
Yuhu!!
Hari minggu ceria, ada kegiatan anak bersama wali murid.
Karena, Papanya Violla sedang menyusul Mamanya keluar negeri. Jadinya, Om Ron tampan, yang mengisi kegiatan bersama keponakan cantiknya. Turut berdiri di antara ibu-ibu yang lain.
Ron sudah terbiasa mandiri, ketika menimba ilmu di luar negeri. Apalagi, soal masak-memasak. Sudah ahlinya dan tidak diragukan lagi akan rasanya. Pastinya enak dan mantul. Tapi, sayangnya ada yang iseng.
Byur!
Ketumpahan banyak garam halus. Seketika, perasaan Ron berubah sensi.
Ron menoleh ke arah Papa Richard. "Ini pasti Kak Richard sengaja. Iya-kan?"
"Sorry Ron. Ini lantainya licin banget, itu banyak minyak goreng disini. Ron, aku beneran terpeleset." Kilahnya Papa Richard, dengan wajah yang santai, tak ada muka bersalah sedikitpun.
Daging sapi great A, yang berharga mahal. Dibuat seperti teriyaki. Eh, malah di taburi garam. Bukan lagi ditaburi, tapi disiram banyak garam.
Ih, Papa Richard nakalnya kebanget deh. Sayang banget dagingnya. Masakan Om Ron, pasti akan jadi sia-sia saja.
Lily menoleh ke arah kanan dan ada Papa Damian yang sedang menumis bumbu. Sepertinya, akan membuat ikan bersantan.
"Aduh, kasian ikannya. Matanya belum merem sudah di masak." Ledeknya Papa Richard, berpura-pura melewatinya.
"Ikan mati, semuanya juga begini." Balasnya Papa Damian, terlalu sewot.
Papa Richard kembali ke mejanya dan siap mengias masakannya. Ron tidak mau kalah, ia berpura-pura jatuh dan dengan sengaja menuangkan kecap.
"Papa. Papa." Teriakan Lily, yang sudah melengking merdu.
Papa Richard jadi naik pitan "Ron. Kamu, balas dendam. Nggak mungkin, kecapnya ketuang banyak begini."
"Kak Richard, ini lantainya licin. Tadi Kak Richard juga kepeleset. Aku nggak sengaja, tuang kecapnya." Balasnya dan Ron dalam hatinya sangat senang. Bisa membalas kenakalan Papa Richard.
Keduanya saling menatap tajam.
Lily berkata "Papa, aku nggak mau itu. Masakannya, jadi ayam black. Aku nggak mau."
Tadinya, ayamnya cantik dengan bumbu kuning. Ketuang kecap jadi berubah warnanya dan Lily paling anti warna gelap.
Damian mendekat "Wah, Lily pintar sekali masak cokelatnya. Pasti rasa ayamnya juara sekali."
"Aaa.. Papa. Aku nggak mau ayam black. Aku nggak mau. Aku nggak suka ayam black." Rengeknya Lily, yang merasa itu menggelikan dan membuatnya tidak suka.
"Iya sayang, masih ada waktu 5 menit. Papa akan masak lagi buat cantiknya Papa Richard."
"Ayo Papa. Buruan! Aku nggak mau kalah." Ucapnya Lily, bersemangat.
Sang Papa melihat ke beberapa bahan yang dia bawa. Tidak ada yang menarik. Hanya tersisa beberapa bahan saja. Lalu, bahan utamanya apa?
__ADS_1
Aha?!
"Ini, mie cupnya Lily. Papa, minta boleh?"
"Terus nanti aku makan siangnya gimana?"
"Lily katanya mau ikutan lomba masak sama Papa, hemms?"
"Iya Papa. Aku mau lomba."
"Oke, kita akan masak ini."
Papa yang lain, tidak serempong ketiga Pria ini. Mereka tampak menikmati kebersamaan dengan putra putrinya. Jadinya, lebih tenang.
Papa Damian, diprotes Lexi "Papa. Nenek masaknya nggak begitu."
"Iya sayang. Ini sudah benar." Balasnya Papa Damian, berusaha tenang.
"Kalau Nenek yang masak ikan. Santannya dulu. Baru airnya, begitu Papa."
"Lexi sayang, ini sama saja. Yang penting ikannya biar cepat matang. Oke?!"
Nenek yang dimaksud Lexi, adalah Ibunya Damian.
Damian menikah dengan Jenny, ya karena Jenny hamidun. Sebenarnya, Damian belum menikah lagi dan istrinya tetap Jenny, dia juga takut sama Ibunya. Namun, akhir-akhir ini mengajak wanita lain dan mengatakan kepada anaknya, kalau Lexi punya dua Mama.
Jadinya, Lexi mengatakan kepada temannya, kalau dia punya dua Mama.
Sreeng!
Osreng, osreng. Papa Richard kembali menumis bumbu dengan sangat cepat.
Ron sudah menghias, daging yang dia masak. Meski sudah diperbaiki, namun rasa asinnya tetap kuat. Asinnya tidak hilang-hilang.
"Hish. Padahal aku nggak pernah gagal masak. Ini semua, karena Kak Richard." Ron kembali menatap Papa Richard dan nanti akan membalasnya lagi.
Papa Damian bergumam "Em, kenapa rasanya jadi aneh? Kenapa tidak seenak buatan Ibu?"
Papa Damian jadi melamun dan sangat kebingungan saat mengasuh Lexi,"Jenny masih marah. Padahal, aku cuma bercanda. Niatnya mau ngeprank bikin kejutan, malah ditinggal pergi. Nasibku apes lagi. Kalau Jenny nggak pulang-pulang, bisa gawat."
"Papa matikan kompornya. Tuh-kan, masakannya gosong. Ih, Papa sih?!" Lexi jadi kesal sama Papanya.
Lexi juga menatap sengit masakan Papanya. Rasanya begitu kesal dan akan percuma. Tidak seperti masakan Neneknya. Itulah, dalam pikiran Lexi.
Papa Damian memeluk Lexi "Jangan nangis. Kalau Lexi nangis. Nanti Mama malah nggak pulang-pulang."
Ketiga Pria tampan itu, dari tadi tengah menjadi pusat perhatian, para ibu-ibu yang lomba memasak.
Sedangkan, Mama Lovie lagi sibuk memanjakan Latte. Karena, Latte ditinggal Vanilla pindahan ke luar negeri. Jadinya, galau terus dari kemarin. Nggak mau ditinggal sama Mamanya.
Waktunya penilaian.
Kepala sekolah yang berjalan dan tampak gemoy. Bahkan, pantatnya yang semok, membuat jalannya bergeol ke kanan ke kiri.
"Ini daging mahal. Aku harus segera mencicipinya." Batinnya senang.
Ron meringis, saat masakannya dicicipin Ibu kepala sekolah yang terhormat.
"Meski bahannya daging mahal, tapi bumbunya asin banget." Ucapnya, yang kecewa. "Tuan Ronaldo, sepertinya anda kebelit kawin.."
Sontak, semua orang tertawa.
"Tadi, sedikit tragedi."
"Oke, tidak apa-apa. Terima kasih atas partisipasinya. Yang penting, Violla bisa turut serta dalam lomba tahun ini."
"Hish, memalukan. Aku sudah membanggakan diri waktu telephone Talita."
Ron jadi melirik ke Papa Richard. Papa Richard tampak senyam-senyum dan Lily jadi berdiri di sebelah kiri sang Papa.
"Ini apa? Mie instan?" Ibu kepala sekolah memperhatikan dengan seksama. Beliau, melihatnya lebih dekat.
__ADS_1
Papa Richard tenang, saat Ibu kepala sekolah mencicipi masakannya.
"Emmh, meski terkesan murahan. Tapi kok rasanya enak. Kaldunya juga enak. Ini pas di lidah saya."
"Terima kasih atas pujiannya Bu Fransiska."
"Eits, jangan senang dulu. Tuan Richard. Anda ini, orang kaya. Tapi kok pelit." Ucapnya Bu Kepala Sekolah ini, memang selalu ceplas-ceplos begitu.
"Bu Fransiska. Ini tadi saya masak ayam bumbu kuning, tapi karena tertuang kecap hasilnya jadi gelap."
"Owh, begitu rupanya. Oke, saya maklumi. Saya anggap, anda promosi produk anda Tuan Richard De Nuca. Besok-besok, anda harus berbagi produknya kepada peserta."
"Pasti Bu Fransiska. Anda tidak perlu khawatir soal itu."
Setelah Ibu kepala sekolah yang terhormat berpindah ke Papa Damian.
Papa dan anak ini, langsung toss.
"Aku sayang Papa."
"Papa juga sayang banget sama Lily."
Ron hanya melirik mereka berdua dan ia membayangkan kalau nantinya punya anak perempuan.
Papa Damian, tampak tersenyum tipis.
Ibu kepala sekolah, sekarang tengah mencicipi masakannya "Kok rasanya pahit."
"Pahit?! Bu Fransiska serius, kalau masakan saya ini, pahit?"
"Tuan Damian yang terhormat. Masakan anda memang pahit. Ini sepertinya, ikan emas yang anda masak, sudah layu."
Papa Damian hendak menjelaskan "Tapi tadi, ..." Tapi ia tidak jadi berkata ini dan itu, saat melihat ekspresi Ibu kepala sekolah.
Damian membeli ikan dari orang suruhannya dan orang itu bilang kepada Damian, kalau ikannya fresh.
"Anda, ternyata lebih pelit dari Tuan Richard De Nuca. Ikan layu saja dibeli." Ibu sekolah ini, memang selalu sinis kepada Papa Damian.
Papa Damian jadi terdiam dan Lexi semakin sebal.
Satu jam kemudian.
Tepat di waktu makan siang. Ketiga Pria menawan ini, sudah berada di sebuah restoran. Itu karena permintaan para bocil.
"Kita semua, nggak ada yang menang. Kita harus berdamai." Ucapnya Papa Damian.
"Iidih, siapa juga yang mau berdamai. Aku duduk disini juga karena anakku yang memintanya." Balasnya Papa Richard dan ia sudah tampak duduk bersandar, menatap anaknya yang asyik memberi makan ikan.
"Kak Richard harusnya, minta maaf sama aku. Violla, pasti akan mengadu sama Papa Mamanya." Ucapnya Ron.
"Heii, harusnya kamu yang minta maaf sama orang yang lebih tua dari kamu. Lihat saja nanti, kalau kamu jadi orang tua. Pasti, anakmu bandel."
"Kok gitu sih ngomongnya. Aku padahal ngomongnya baik-baik saja. Kenapa Kak Richard nyumpahin anakku?!" Ron yang tidak terima akan ucapan Papa Richard.
"Ya, suka-suka bibirku mau ngomong apa."
Tiba-tiba, panggilan dari Latte terdengar "Papa. Papa."
"Papa, aku disini." Teriaknya Latte dan ia sudah berada di depan kolam ikan.
Mama Lovie-pun turut berjalan di belakang putra tampannya.
"Asyik, mantanku sudah datang." Ucapnya Papa Damian dan merasa senang menggoda Papa Richard.
Ron malah berkata "Damian, aku teman mesranya, mantan kamu."
Mereka jadi tersenyum gemas, saat melihat ekspresi Papa Richard.
Papa Richsd seolah menutup kedua telingannya dan ingin membawa pergi istrinya.
Papa Richard berkata "Terserah kalian mau bilang apa. Yang jelas, aku punya istri yang sangat mencintai aku. Tidak seperti kalian berdua."
__ADS_1
"Istriku juga mencintai aku."
"Bukannya, Jenny memilih pergi?"