
Masih di malam yang sama, di rumah Papi Benny.
"Dari mana kamu tahu, kalau Richard itu penipu dan Lovie tidak pergi ke rumah Presdir Nicholas?"
Mama Jessika, suaminya baru pulang dari kantor. Bukannya dilayani. Malah mengatakan ini itu dan sang suami yang melepas jas, hanya mendengarkan ocehan istrinya.
Mama Jessika mengatakan, kalau Lovie sudah pergi dari sepulang sekolah dan membawa satu koper, lalu pergi ke rumah orang yang tidak dikenalnya.
Rumah tua dan terlihat sepi. Itu menurut pandangan mata Mama Jessika, yang sempat mengikuti kemana perginya Lovie.
"Aku, mencari tahu soal kekasih Lovie. Aku cemas, kalau Lovie sampai tertipu. Apalagi, pengacara mereka. Sangat diragukan namanya, aku mengenal beberapa pengacara hebat. Mana mungkin, seorang Presdir Nicholas menunjuk pengacara junior."
"Pedro lebih hebat dari pengacara tua yang aku sewa kemarin."
"Benny, aku melihat sendiri, Lovie perginya ke rumah tua."
Papi Benny menatap wajah Mama Jessika dengan serius, beliau bertanya "Untuk apa kamu mencari tahu?"
"Ini soal Lovie. Apa kamu tidak cemas kalau putrimu, sampai ditipu pria aneh, yang hanya ingin memanfaatkan keadaan."
"Tahu apa kamu soal putriku?"
Papi Benny tak lagi meladeni istrinya dan berjalan pergi ke kamar mandi.
"Aneh, aku memberitahu dia. Kenapa dia malah merespon begitu." Mama Jessika jadi bingung sendiri dan kembali melihat ke layar ponselnya.
"Nah, ini beneran rumahnya jelek. Pasti, Pria itu hanya menyewa aksesoris dan mobil."
Mama Jenny membatin, "Ya sudahlah. Yang rugi juga Lovie sendiri. Mau keluarga dari mana aku tak mau mempedulikan lagi. Aku harus membujuk Benny agar segera menemui keluarga Damian. Damian harus bertanggung jawab atas perbuatannya, kepada putri kandungku."
Lovie yang saat ini bersama Richard di mobil, tampak terlelap dalam dekapan.
"Anak ini, masih kecil. Tapi, aku tetap ingin menikahinya."
Doddit hanya menggeleng, saat sang Bos tampannya itu berbicara sendiri.
Lovie bergerak menggeserkan badan, ia berkata "Kak Richi. Aku tadi ketiduran."
"Iya."
"Apa kita sudah sampai?"
"Sebentar lagi." Jawabnya Richard dan masih mendekapnya.
"Kak." Lovie kembali memeluknya.
"Kamu pasti kecepean."
"Aku tadi pagi, bangun lebih awal."
Richard kembali mengelus kepalanya.
1 jam kemudian.
Lovie sudah menjadi obat bagi seorang pria dewasa seperti Richard. Richard yang sudah lama tidak merasakan cinta. Kembali merasakan hal manis dari Lovie.
"Ini, pipi kamu yang sakit?" Richard memperhatikan jelas pipi yang semalam ditampar Jenny
Lovie hanya mengangguk pelan, lalu Richard mencium pipi dengan lembut.
Richard mengusap rambut basah Lovie dan menatap wajah polos itu. Begitu manis perlakuan Richard saat ini.
Lovie juga merasa nyaman, saat diperlakukan seperti anak kecil.
"Ayo duduk. Aku keringkan rambut kamu."
Lovie yang sudah duduk, dan ia juga menghadap ke cermin. Menatap wajah Ruchard dari cermin, Lovie-pun jadi tersenyum manis.
"Kak Richi, sudah seperti Mami."
__ADS_1
Richard yang memegang hairdyer ia-pun juga gemas melihat kepolosan Lovie, ia berkata "Iya. Anggap saja, ini bentuk kasih sayang dari Mami."
"Iya. Terima kasih."
Richard jadi bisa melihat sisi lain dari seorang Lovie. Meski beberapa hari ini, dirinya sudah dimanjakan oleh Lovie. Namun, kali ini Lovie yang begitu apa adanya. Richard turut merasakan luka dalam perasaan Lovie.
"Jangan menangis lagi. Selama kamu tinggal bersamaku. Aku tidak mau melihat kamu menangis."
Lovie tersenyum tipis, ia berkata "Aku juga tidak mau menangis lagi."
"My Lovie, kamu harus bahagia."
Rambut panjang, lurus dan halus, sudah kering berkat tukang salon dadakan.
Richard ternyata juga pandai, saat memanjakan Lovie.
Lovie yang masih mengenakan kimono warna ungu, dia berkata "Aku mau ganti piyama dulu."
"Iya."
Entah, kenapa perasaan Richard jadi saat ini, berubah sendu.
"Aku harus lebih banyak bersyukur. Masih ada Daddy dan Mommy yang menyayangi aku." Batinnya Richard, sadar.
Beberapa saat kemudian.
Richard-pun telah selesai mandi dan memakai piyama warna hitam.
Lovie yang berbaring anteng di tempat tidurnya, sudah tampak memeluk guling.
Richard melihat ke kamarnya Lovie dan ia berkata "Aku ingin tidur bersamamu. Tapi aku takut menganggu kamu."
Di rumah tua ini, hanya ada mereka berdua. Tidak ada siapapun selain mereka.
Richard bilang begitu, tapi tetap masuk ke kamar Lovie dan naik ke kasur itu.
Lovie menoleh ke sisi kirinya, "Kak Richi."
"Aku ingin tidur disini."
"Ya sudah, ayo bobok. Aku besok pagi harus sekolah."
Richard mengecup pipinya, "Tidurlah yang nyenyak."
Suasana malam yang terasa hangat dan mereka berdua tidur di satu ranjang. Baru kali ini, Richard ingin tidur seranjang dengan perempuan.
Mendekap dengan tangan kirinya dan mengecup kepala Lovie, terasa nyaman.
Tak dipungkiri, meski baru beberapa hari mengenal Lovie. Richard tidak risih dan ia malah suka memeluk Lovie. Rasanya, nyaman sekali.
Mungkin, saat ini perasaan Richard hanya sebatas kenyamanan. Bisa jadi, Richard memang sudah jatuh hati. Namun, masih sulit mengungkapkan perasaannya, dan mengatakan aku mencintai kamu.
"My Lovie. Aku mencintai kamu."
Sayangnya, saat kata cinta itu telah terucap dari mulut Richard. Lovie sudah tertidur pulas.
"My Lovie. Aku tidak mau mendengar balasan darimu. Aku hanya ingin mengucapkan, kalau aku mencintai kamu."
"Selamat malam, semoga mimpi indah."
Jam menunjukan pukul 11.00 malam, waktu kota Shindong. Richard perlahan memejamkan kedua matanya dan ia jadi terlelap dalam kehangatan.
Bulan menerangi malam yang gelap, berteman semilir angin malam, berjalan di balkon apartemen. Melihat, suasana malam kota Shindong.
"Papa tidak akan memaksa kamu. Papa juga sudah berjanji kepada Ibumu. Kalian bertiga, tidak ada hubungan dengan Hanz Corporation. Tapi, soal Jihan. Apa kamu benar-benar tidak mencintainya??" Kata-kata yang telah disampaikan oleh Papanya. Rey masih mengingat jelas.
Rey menoleh ke arah ruangan, terlihat sosok Talita, yang tertidur pulas saat menonton film.
Suara dari film action itu, juga masih menemani Talita.
__ADS_1
"Rey. Ibu tidak pernah memaksa kamu untuk begini begitu. Kali ini, Ibu harus memaksa kamu. Kamu harus menikahi Talita." Ucapan Ibunya, juga tersimpan dalam pikirannya.
"Apa aku harus tanya sama Richard?" Rey yang tampak bingung.
Kalau tentang Jihan, sudah jelas kalau Rey sangat menyayangi gadis itu. Sedangkan Talita, hanya sebatas kontrak hubungan 6 bulan.
Sayangnya, Ibunya tetap percaya ucapan Talita, malah tidak percaya dengan putranya.
"Huh, kenapa jadi kacau begini?! Kalau Jihan di tangan pria yang cuma mainin dia. Aku bisa apa. Aku juga tidak akan bisa melindungi dia lagi."
Rey, terbayang akan wajah Papanya dan Ibu kandungnya. Papanya memang tidak memaksa Rey. Tapi, mengingat akan persahabatan Papanya Rey dengan Papanya Jihan. Pasti Rey, akan dipaksa juga oleh Papanya Jihan.
"Kalau kamu tidak mau bertanggung jawab. Ibu tidak mau lagi menganggap kamu sebagai putra Ibu." Ancaman Ibu kandungnya tidak main-main. Rey sangat mengenal sekali watak Ibunya yang selalu santai, tapi kalau sudah marah, Ibunya sulit untuk dirayu lagi olehnya.
Meremas dan mengayak rambutnya sendiri. Rasanya begitu pusing sekali. Rey tidak bisa memilih antara mereka. Maksudnya, Papa dan Ibu kandungnya.
Rey memang tidak pernah tinggal dengan Papanya di kediaman keluarga Hanz. Bahkan, nama Rey tidak ada di Hanz Corporation. Itu karena, Ibunya Rey tidak pernah mau, menjadi bagian dari keluarga Hanz.
Meski menikah secara resmi dan di hadapan istri pertama. Bu Diana menginginkan kehidupan bebas, begitu pula dengan anak-anaknya kelak. Presdir Hanz, tidak boleh mengambil hak anak-anaknya dari Bu Diana.
Karena itu, Rey bekerja di perusahaan Sheen dan Bu Diana mengajar di Sheen. Keluarga Sheen, keluarga Ibunya. Tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Presdir Hanz. Karena perjodohannya dulu, Bu Diana tidak mau, kalau sampai putra putrinya seperti dirinya dulu. Perjodohan karena bisnis orang tuanya, bukan pernikahan karena cinta.
Rey masuk ke kamarnya dan tidak mempedulikan Talita yang tidur di sofa. Meskipun dirinya sosok yang perhatian, tapi tidak berlaku begitu kepada Talita.
Talita yang memeluk bantal sofa, ia merintih "Mama."
Entah kenapa, dia masih mengingat Mamanya. Antara rindu dan benci, namun dia tetaplah anak. Yang sangat merindukan Mama kandungnya.
Mama kandungnya, sibuk mengurus Jihan.
"Bereskan semuanya. Jangan sampai kalian meninggalkan jejak." Ucapnya Nyonya Bianca, kepada para pengawal.
Jihan kembali ke club malam, hampir saja digondol kucing garong pergi ke hotel dan akhirnya malah tertangkap Nyonya Bianca.
"Buang saja ke jalanan. Dia pantasnya tidur di jalanan." Perintahnya kepada pengawal.
Tatapan Nyonya Binca keji, saat melihat pria yang sudah babak belur.
Jihan dibawa ke hotel JM dan Bianca yang mengurusnya.
"Kalau tidak bisa dapat Richard. Kamu harus mendapatkan Rey. Rey, juga harus duduk di kursi agungnya Hanz." Ucapan Nyonya Bianca, dengan penuh percaya diri.
Bianca Aledraz, dia dari keluarga Aledraz. Sayangnya, dulu masih bau kencur sudah pacaran dan hamidun. Setelah suaminya gulung tikar dan mengalami serangan jantung. Dia kembali ke rumah, namun keluarga sudah tidak mau menerimanya kembali. Pada akhirnya, menikah dengan duda dan membawa anak perempuan cantik yang bernama Jihan.
Nyonya Bianca punya dua anak, laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki ini, yang nantinya harus menguasi perusahaan Presdir Julian.
Waktu terasa cepat berlalu. Suasana pagi kota Shindong begitu syahdu.
Kendaraan sudah terlihat berlalu lalang, di jalan depan rumah ini.
"Richard, Lovie mana?"
"Bukannya tadi, dia sudah keluar kamar duluan."
Richard berjalan ke kamar mandi dan Lovie keluar dari kamar mandi dengan wajah sendu.
Richard memegang wajah Lovie dan ia jadi memperhatikan wajah Lovie.
"Hai, kamu kenapa menangis?"
Mata dengan bulu mata lentik itu, sudah mengeluarkan air mata. Bibir mungil itu, juga jadi cemberut imut.
"Kak Richi." Lirihnya.
Nyonya Nancy mendekat dan bertanya "Lovie, kamu kenapa menangis?"
"Ibu, saya. Saya."
Hikks,,
__ADS_1