
Jam siang, waktu kota Shindong. Troy sudah memasuki hunian mewah dan paling utama di apartemen Rilova.
Sebut nama saja, Lily Penthouse. Unit apartemen yang paling atas dan sangat mewah. Begitu luas dengan segala fasilitas ruangan yang ada di tempat ini.
Bukan hanya modern, semuanya sudah berlaku digital dan remot. Ada pula, robot bundar tipis pembersih lantai, yang berjalan mondar-mandir.
"Bagaimana Tuan Troy. Apa anda menyukai hunian ini?" Tanya seorang wanita, yaitu Nyonya Metta.
Tampak anggun, dengan penampilan yang feminine. Beliau yang mengatasi segala permasalahan di apartemen ini.
Termasuk kali ini, menangani tamu pentingnya Presdir Richard.
"Jadi, ini milik Presdir Richard?"
"Kalau untuk unit yang ini, milik putrinya. Dia masih kecil. Belum mengerti soal kontrak sewa. Jadi, saya orangnya yang menangani kontrak Lily Penthouse."
"Saya memang menyukai tempat ini. Tetapi saya masih ragu. Karena, saya butuh ketenangan."
Nyonya Metta membatin "Sepertinya, dia lebih arogan dari Presdir."
Nyonya Metta kembali bekerja, namun memilih yang santai. Suaminya pandai membujuk bosnya, agar membangun apartemen mewah di kawasan barat.
Mal sudah ada, kantor baru Rich Corporation juga di kawasan barat.
Lalu, asistennya menyarankan, agar bosnya memiliki apartemen untuk anak-anaknya dan yang lainnya bisa di sewakan.
Apalagi, setiap tahun harga tanah dan harga sewa apartemen meningkat. Tidak akan sia-sia. Toh anak-anaknya sudah besar, pastinya juga ingin hunian pribadi dan orang tua tetap bisa mengawasi.
Akhirnya, Nyonya Metta yang stay di apartemen ini.
Nyonya Metta punya satu unit apartemen untuk putra semata wayangnya.
Dan, ada di lantai paling bawah. Karena, Morgan tidak suka tempat yang tinggi. Lebih suka di lantai bawah.
Ada beberapa unit apartemen yang sudah disewakan dan Nyonya Metta menawarkan Penthouse.
Kapan lagi, ada warga asing yang melihat Lily Penthouse. Kebanyakan pada nawar, meski sebutannya Bos.
Asistennya yang bernama Buho, ia berbisik "Bos lebih baik tinggal disini. Dari pada di hotel nanti ada masalah lagi. Ini untuk sementara saja. Kalau nantinya nggak betah. Saya bisa cari yang lainnya. Soalnya, pekerjaan kita sudah menumpuk. Bos, jangan buang-buang waktu lagi."
Troy, memiringkan bibirnya ke kanan dan menoleh ke wajah sang asisten "Tapi, aku ingin tinggal disini sendirian. Tanpa ada, pengganggu."
"Siap Bos. Saya pastikan, tidak ada yang mengganggu Bos."
Nyonya Metta tersenyum ramah dan masih duduk manis. Menatap kedua pria ini.
"Bagaimana Tuan-tuan? Apa, Tuan berminat?"
Asisten Troy berkata "Nyonya, apa bisa kita bicara berdua saja? Saya bayar sekarang."
"Oh, tentu saja bisa."
"Dimana kita bisa membahasnya?"
"Di kantor saya. Di lantai bawah. Mari silakan."
Buho membatin dengan senang, "Yes, aku dapat keuntungan besar. Bos mana paham, soal tempat tinggal di kota ini. Disini, serba murah. Semoga saja, Bos betah disini."
"Ini asisten, semoga nggak banyak nawar." Batinnya Nyonya Metta resah.
Troy, berjalan kembali menyusuri setiap ruangan. Begitu luas, bahkan ada kolam renang di dalam hunian ini. Sangat elegan dan mewah.
Troy tampak mengagumi desain interior Lily Penthouse. Yang dinilainya, exlusive.
Meski terlihat tatanan ruang dengan gaya feminine. Tapi, ada kesan elegan, seperti tempat tinggal cowok.
"Aku suka kamar ini." Gumamnya Troy, dan ia jadi rebahan, mencoba kasur empuk di kamar utama.
Terbaca kata, Lily. Dengan gaya tulisan latin.
"Lily??"
Troy membaca tulisan di dinding atas tempat tidur itu.
"Lily Penthouse?"
Di kampus tempat menimba ilmu.
"Iih, gupingku jadi mendengung. Siapa sih, yang manggil-manggil namaku?!"
Tangan kirinya sambil memegang daun telinga, rasanya geli-geli gimana gitu.
Lily, kembali fokus pada kuliahnya.
1 jam kemudian.
Lily mengingat akan dirinya yang semalam ditindas beberapa cowok.
Ia menoleh ke arah luar. Dari jendela kaca, melihat ada mobil Ethan.
__ADS_1
"Dia lagi. Masih mau cari masalah, sama aku?" Lily geram, ia merapikan laptop dan beberapa alat tulisannya. Rasanya kesal bercampur marah. Ingin sekali menghajar cowok yang bernama Ethan.
"Mentang-mentang Bokapnya Hakim. Jadi merasa kebal hukum. Untungnya, aku nggak bilang sama Mama. Coba aku bilang sama Mama. Bakalan tahu sendiri akibatnya." Gerutunya Lily dan ia beranjak pergi meninggalkan kelasnya.
Lily berjalan keluar, dan sudah tampak sepi. Vano dan beberapa cowok, datang mendekat ke arah Lily.
"Hish, apa sih, maunya mereka?"
Vano tersenyum, ia berkata "Lily, kamu harusnya nggak menipu aku."
"Aku nggak bohong. Aku memang punya calon suami." Balasnya Lily.
"Kamu tidak takut sama kita?"
Lily keluar kelas paling terakhir. Apalagi, saat ini di ruangan paling atas. Tidak ada yang suka berjalan kemari. Kecuali, kalau ada yang ingin mengambil kelas bahasa asing. Itupun, kelasnya sudah selesai beberapa menit yang lalu.
"Tidak!"
"Lily, aku akan mempercayai kamu. Kalau, kamu sudah menggandeng calon suami kamu kemari. Karena aku yakin, kamu pasti takut kalau janjian di luar sana."
"Siapa bilang aku takut. Aku nggak takut sama kalian semua."
"Baik. Kalau begitu. Nanti malam, kita semua, tunggu kamu di histeria."
Semalam, cafe itu memang tutup.
"Oke. Siapa takut. Aku akan ajak calon suamiku, ke hadapan kalian semua. Aku nggak bohong."
Violla datang mendekat, memanggil "Lily."
Vano berkata "Ingat pertemuan kita. Jam 8 malam, di histeria."
Mereka, para cowok itu, lantas pergi.
Lily jadi mendengus kesal.
"Huh, mereka bikin sebal."
"Ayolah! Kamu jangan ladeni mereka."
"Tapi, aku nggak suka dikerjai."
"Ya udah. Kamu juga harus berhenti membantu para gadis tersakiti. Lily. Percuma, kita membantu mereka, kalau mereka ketutup matanya."
"Iya."
"Emmh. Aku akan gantiin baju pororo kamu."
"Harus! Pokoknya harus diganti yang lebih mahal dari My Pororo."
"Siap, calon Kakak ipar!"
"Hish, apaan sih?!"
"Yeee. Aku tahu, kamu cinta sama Kak Lucas."
"Mana mungkin, aku bisa mendapatkan Kak Lucas."
"Bisa saja. Asalkan kamu tidak berubah. Kamu tetap mencintai Kakakku. Pasti, Kak Lucas akan merasakan cintamu."
"Tapi, aku juga nggak mau. Kalau Kak Lucas jadi merasa kasian sama aku. Dia perhatian sama aku, sebagai adiknya saja."
Lily merangkul pundak Violla, ia berkata "Mumpung kita masih gadis. Kita harus menikmati masa ini."
"Betul sekali."
"Shopping, ke salon dan jajan."
Mereka berdua lantas pergi.
Jajan yang dimaksud adalah jalan-jalan. Bepergian kemana saja yang mereka mau. Bahkan, sering ke luar negeri.
Meskipun, pakaian Lily cuma kaos, kaos dan kaos longgar. Tapi, ia tetap belanja sepatu, tas, aksesoris. Ikan rambutnya saja, tetap bermerk mahal. Bukan kaleng-kaleng.
Ada satu mahasiswa pemantau harga barang-barang mewah. Dia juga curiga, kalau Lily bukan hanya cucu pemilik kampus. Lily pasti anak konglomerat, yang mengaku-ngaku cucu pemilik kampus ini. Itu, anggapan si pemantau.
Setibanya di depan halaman kampus. Lily dan Violla melihat Lexi, yang berduaan di mobil Ethan.
"Lily, kamu mau ngapain lagi?"
Lily menoleh ke sisi taman tempat bunga-bunga, melihat ada pecahan bebatuan.
Lily mengambil itu dan membawanya di tangan kanannya.
Tatapan mengerikan dari seorang Lily, sudah telihat oleh beberapa mahasiswa, yang masih ada di halaman ini.
Sreeet.....
Lily menggores kasar, mobil sport milik Ethan. Seketika, Ethan keluar dari mobil.
__ADS_1
"Kamu sudah gila!! Pekiknya Ethan.
Lily tersenyum tengil.
"Kamu melukai mobilku."
"Itu, cuma menggores. Kalau, aku memukuli mobil kamu. Itu baru, melukai."
Ethan jadi naik pitan, dengan sadisnya mencengkeram kedua bahu Lily.
"Ethan. Lepasin Lily!" Lexi yang berusaha melerai.
Violla juga memukuli Ethan dengan ranselnya.
Lily menatapnya lebih keji, kedua tangannya mencakar wajah Ethan.
Menggaruk kasar wajah Ethan dengan kuku cantiknya. Setelah merasakan pedih di area mata.
Ethan, jadi melepaskan Lily.
"Kamu sengaja melukai mataku?!!"
"Iya, aku sengaja. Kenapa?? Kamu mau membalasku? Sini! Aku tidak takut sama pria macam kamu."
Ethan menutup mata kanannya, ia berkata "Dasar cewek gila. Aku akan menuntut kamu."
"Ayok! Siapa takut! Aku juga akan menuntut kamu atas tindakan yang semalam kamu lakukan sama aku. Kita akan lihat, siapa yang akan mendekam di penjara."
Ethan dengan perasaan gelisah, sangat emosi jiwa. Lantas masuk ke mobil.
Lexi dan Violla memegang kedua tangan Lily.
"Lily, kamu yang tenang."
"Lexi, cowok seperti dia masih kamu cintai. Dia nggak pantas kamu cintai. Laki-laki, beraninya sama perempuan."
Cuih'
Lily menghempas kedua tangan sahabatnya dan kembali masuk ke gedung kampusnya.
"Gadis itu, mengerikan. Tapi aku suka gayanya." Gumamnya Troy.
Ternyata, ada yang sudah mengawasi kejadian barusan. Mobil sedan mewah yang ditumpangi oleh Troy ini, tidak sengaja berhenti di jalan, depan kampus RL.
Kebetulan jalanan mulai macet, karena jam pulang mahasiswa. Jadinya, jalan utama depan kampus RL, tampak ramai. Sampai, beberapa mobil pengguna jalan jadi berhenti.
"Apa, Bos menyukai mahasiswa cantik?" Tanya Buho, sedang menyetir mobil.
"Aku hanya menyukai, gadis malamku. Dia sangat pandai, membangunkan aku."
Maksudnya,, membangunkan burung jantannya yang sudah lama tidak berdiri tegak. Efek dari kepadatan jadwalnya sehari-hari.
Meskipun masih bujang dan fokus pada pekerjaannya. Sesekali main manis, bersama perempuan pilihannya, tapi tidak sampai berhubungan intim.
Hanya, untuk membuatnya bergairah. Tujuan lainnya, agar tidak punah sebelum keriput.
Troy, memang bukan peminat hal intim, apalagi soal cinta. Dia membuang jauh-jauh pikiran itu. Troy anak pertama dan kedua adiknya perempuan. Dia sangat pemilih, apalagi soal ranjang. Malas sekali, kalau harus bertemu gadis liar, yang seperti adik-adiknya.
Ibu kandung Troy masih ada, namun dua adiknya itu dari perempuan lain. Troy, sangat tidak suka kepada mereka. Ibunya, jadi mengasuh kedua adik perempuannya itu.
"Bos, ingin membeli apa?"
"Aku hanya memerlukan pakaian santai." Jawabnya Troy.
Mereka sudah tiba di mal mewah, milik Presdir Richard De Nuca.
Meskipun, Mal ini sudah berdiri lama di kawasan ini. Mal ini tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi setiap sore, banyak pengunjung yang sering mampir untuk berbelanja kebutuhan.
Kawasan barat yang dulunya masih sepi, sekarang banyak gedung perkantoran.
Bukan hanya apartemen, kampus, dan Mal. Di kawasan ini, sudah mulai padat punduduk, banyak juga komplek rumah mewah dan tempat hiburan.
Para investor asing, sangat mengagumi kawasan barat Shindong. Baru beberapa tahun berkembang, sekarang lebih maju. Itu berkat, Rich.
Rich mengenalkan kawasan ini kepada rekan bisnisnya dari luar negeri, agar kawasan ini lebih maju. Alhasil, banyak lapangan pekerjaan dan banyak pula warga pendatang.
Banyak penduduk dari pinggiran kota ChangHo, yang bekerja di kawasan ini. Karena jarak tempuh lebih dekat dan jalannya sudah bagus.
Kalau mereka, ke pusat kota ChangHo malah lebih jauh dan harus menunggu jadwal kereta cepat.
Itupun, sampai harus berdesak-desakan ketika jam berangkat kerja dan pulang kerja. Sekarang, sebagian penduduk kota ChangHo memilih bekerja di Shindong.
Dahulu, terlihat seperti padang ilalang, sekarang sudah tampak bangunan gedung-gedung bertingkat.
1 jam kemudian
Lily, juga ke mal bersama kedua sahabatnya.
Troy sudah selesai berbelanja dan Lily baru tiba.
__ADS_1