Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Ingin Tinggal Bersama


__ADS_3

"Silakan anda jelaskan disini." Ucap seorang polisi wanita yang menginterogasi Talita.


"Nggak mau. Lagian, siapa juga yang bikin ulah di medsos." Ucapnya ngeyel dan tidak merasa takut.


Talita dibawa paksa dua polisi, setelah mendapat surat perintah, agar segera menangkap menyebar kabar miring soal perusahaan Rich.


"Sumpah demi apapun. Saya tidak menyebar berita itu. Saya juga sedang bekerja di Rich. Ada buktinya kalau saya sedang bekerja."


"Baik, saya akan mencatat pembelaan anda."


Saat itu pula, ada polisi yang masuk bersama kuasa hukum Rich.


Kuasa hukum yang berusia 50an dan sangat terlihat formal. Talita terdiam saat memandanginya.


"Bu Polwan tidak perlu mencatat ucapannya. Saya datang kemari, untuk mencabut laporan saya."


"Mencabut laporannya?"


Kuasa hukum dari Rich, sudah duduk di sebelah kanan Talita. Lalu, seorang polisi yang menangkap Talita, juga ada di ruangan itu dan tampak berdiri saja.


"Begini Bu Polwan, sebenarnya ada salah paham. Tidak ada masalah soal berita keracunan. Karena itu, ulah dari putra pemilik Rich sendiri."


"Putra pemilik Rich? Pakai akun pribadi aku?? OMG?? Siapa dia?" Batin Talita dan sudah merasa aneh. Namun, dia belum berfikir kalau Lovie yang memakai akun pribadinya itu.


Talita jadi berwajah manis dan menatap bapak kuasa hukum dari Rich.


"Bapak, saya sudah dituduh macem-macem. Padahal, saya beneran bekerja. Tadi saya ada pertemuan dengan Presdir Nicholas di ruang meeting. Saya bersumpah. Ada cctv yang akan menjelaskan. Tapi, Bu Polwan dari tadi sudah menuduh saya."


"Mohon maafkan saya. Saya sudah kelewat batas."


"Saya tidak apa-apa. Hanya saja, saya tidak suka kalau dituduh-tuduh. Mungkin, pacar saya sedang iseng. Maklumi saja, dia memang begitu."


Talita malah bikin api, di muka umum. Ahli hukum dari Rich, memandangi sosok Talita, dari atas sampai bawah.


"Apa gadis ini, yang dijodohkan dengan Tuan Richard?" Batin dari kuasa hukum Rich Corporation.


Sang kuasa hukum dari Rich ini, sepertinya tidak percaya akan perjodohan Richard.


Mana mungkin, Richard mau dijodohkan dengan gadis yang ada di sampingnya ini.


"Meski cantik, masih muda, tapi dia seperti gadis gampangan. Nggak mungkin, Tuan Richard mau menerima dia?"


"Bu Polwan? Bagaimana? Apa saya sudah boleh pergi dari sini?" Tanya Talita dengan manis.


"Tunggu sebentar. Ada beberapa berkas yang perlu anda tanda tangani." Ucapan Bu Polwan cantik ini sopan.


"Baik Bu Polwan." Balasnya Talita.


Gadis belia ini, belum bisa berfikir kalau Lovie yang menggunakan akun pribadi miliknya. Apalagi, mendengar sebutan putra dari pemilik Rich, ada rasa yang hendak membalikan keadaan dirinya.


"Dengan begini, aku bisa menodong Rey. Aku akan bilang sama dia. Kalau aku pacarnya putra pemilik Rich." Batinnya Talita.


Emh, meski Rey sudah menceritakan tentang sahabatnya. Namun, Rey belum menjelaskan tentang sosok sahabatnya.


"Aku akan terbebas dari Rey." Batin Talita sudah senang sekali.


Kuasa hukum ini, malah memotret sosok Talita dan mengirim kepada adik gemas manisnya, yang bekerja di tim humas Rich Corporation.


Sebentar lagi, foto Talita akan tersebar lebih dulu di kantor Rich. Grup gosip akan membahana.


Di rumah sakit, tempat Richard di rawat. Richard sudah dipindahkan ke ruang inap VIP.


Lovie keluar bersama Presdir Nicholas dan Nyonya Nancy sudah bersama putranya.


Nyonya Nancy tadi sudah bersama mereka. Sewaktu bersama kedua polisi, yang memeriksa hotel DeNuca.


Dari situlah, tersebar kabar kalau ada polisi turut bersama korban mie super pedas. Polisi itu memang mengantar Richard ke rumah sakit.


Sebelum Rondi (asisten presdir) datang memberitahu. Tim Humas, dan ahli kuasa hukum sudah membuat laporan ke kantor polisi, setelah melihat kabar di media sosial yang disebar akun Syantika Putri2.


Lovie tadi sudah menghubungi call center dari R.C. Namun, tidak di respon baik. Kemudian, membuat unggahan, yang menjatuhkan nama perusahaan mie super pedas itu.


"Saya tidak tahu kalau Kak Richi itu putra pemilik R. C. Jadi, Bapak Nicholas pemiliknya?"


"Saya Presdir Nicholas. Saya pimpinan di Rich Corporation. Ini, coba kamu lihat sendiri, kartu nama saya."

__ADS_1


Kedua orang ini, duduk di cafetaria rumah sakit. Lovie melihat kartu nama dan kartu identitas Presdir Nicholas. Kemudian, beralih membaca kartu identitas Richard.


"Owh, jadi Kak Richi itu. Bapak Richard?"


"Benar, Lovie. Kamu hanya salah paham."


"Maaf, saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya tidak suka dengan respon dari staffnya Rich. Padahal, saya hanya ingin menyampaikan kalau produk buatan Rich, sudah membuat seseorang pingsan. Tapi, staffnya mengatakan, saya mengada-ngada." Balasan polosnya


Layanan pengaduan juga sudah bekerja dengan baik. Sayangnya, suara Lovie seperti anak-anak yang mengadu. Mereka menganggap, kalau Lovie hanya anak-anak yang membuat ulah.


Sering kali, ada anak-anak yang menghubungi mereka. Mereka cukup membalasnya dengan tertawa gemas.


"Bapak Nicholas. Lain kali, Staffnya juga harus dibriefing, biar bersikap sopan. Jangan menertawakan suara konsumen."


"Baik. Saya akan briefing semua staff yang bekerja di kantor."


Lovie tersenyum, dan ia meraih minuman cokelat yang ada dihadapannya.


Presdir Nicholas, memberanikan diri, untuk bertanya "Lovie, apa yang Richard lakukan sama kamu?"


"Hanya. Seperti yang diinginkan Ibu Nancy." Jawaban Lovie, yang memang begitu adanya.


"Apa kamu tidak menyesal? Kamu masih sekolah."


"Saya tidak menyesal."


Keduanya jadi terdiam. Ternyata ada seseorang, yang memotret Lovie. Lovie berbincang dengan seorang pria tua.


"Benny, marah-marah sama aku. Gara-gara Jenny bermalam sama Damian. Coba, kalau dia melihat putrinya yang bersama pria tua."


Ternyata sang ibu tirinya, juga ada di rumah sakit ini. Sang Ibu tiri tersenyum, saat melihat situasi.


"Apa aku harus mendekat kesana, lalu mengejutkan Lovie?"


Sang Ibu tiri yang hendak berjalan mendekati Lovie, namun seorang perawat yang membantu Neneknya Lovie sudah memanggil.


Neneknya Lovie barusan diperiksa dokter, karena pingsan sewaktu mendengar putranya memarahi menantu pilihannya.


"Baguslah, lebih baik Benny tidak bertemu putri kandungnya. Aku akan mengirim foto ini, dari kurir paket. Benny, pasti tidak akan berani memaki dan menjelekan aku."


Lovie hanya menggeleng saja. Tangan kanannya masih sibuk memainkan sedotan, yang ada di gelas minumannya.


Wajah itu terlihat manis dan begitu polos, membuat Presdir Nicholas merasa bersalah.


Presdir Nicholas kembali bertanya, "Lovie, apa kamu tidak ingin pergi ke sekolah?"


"Mau. Hanya saja, saya sedang kabur dari rumah."


"Kalau kamu ingin ke sekolah. Bapak akan mengantar kamu."


"Saya ingin home schooling."


"Baik. Bapak yang akan mengurus sekolah kamu."


"Bapak, apa saya boleh tinggal bersama kalian?"


Presdir bertanya, "Kalian? Maksud kamu, kamu ingin tinggal bersama keluarga saya?"


Lovie dengan wajah polos, tampak mengangguk saja.


"Kamu tidak keberatan tinggal bersama Richard?"


"Lebih baik begitu. Dari pada saya pulang, tapi saya malah sedih dan tidak bahagia." Jawabnya Lovie, jujur.


"Kalau itu yang kamu inginkan, keluarga Bapak dengan senang hati menerima kamu tinggal di rumah."


"Bapak, saya ingin pulang ke rumah Ibu Nancy. Saya takut kalau bertemu Papi."


"Baik, kamu bisa diantar Doddit. Dia ada di ruang tunggu."


"Doddit??" Batin Lovie.


5 menit kemudian


Lovie bertemu Doddit di ruang tunggu.

__ADS_1


"Owh, jadi dia asisten Kak Richi. Pantas saja, dia sopan padaku dan mengerti kamar 101."


Lovie memandangi Doddit dari atas sampai ke bawah.


"Kenapa dia melihat aku begitu? Apa dia akan memarahi aku?"


Lovie berkata "Kak Doddit, tolong antar saya pulang ke rumah Ibu Nancy."


"Baik, saya akan mengantar Nona ke rumah Nyonya Nancy." Balasnya Doddit dan terlihat begitu sopan.


Lovie tersenyum, ia berkata "Ayo Kak. Saya takut ketahuan Papi."


"Baik. Mari Nona berjalan di depan saya."


"Oke." Balasnya Lovie.


Lovie berjalan lebih dulu dan Doddit mengikutinya. Lovie sudah mengerti, siapa keluarga Presdir Nicholas dan lebih merasa nyaman bila bersamanya.


Padahal, baru semalam menginap. Lovie bisa merasakan hati seorang Ibu.


Kembali ke Richard, yang masih terbaring di kamar VIP.


Mommy Nancy, duduk di sofa dan membaca grup arisannya. Mereka menyindir Mommy Nancy, yang belum memiliki cucu.


Arisan besok, ada yang akan mengajak menantu barunya, ada pula yang mengajak cucu tampannya, ada pula yang absen dan mengatakan sedang liburan bersama cucunya. Lalu, ada yang mengatakan sedang menantikan kelahiran cucu berikutnya.


"Seandainya saja, cucu bisa dibeli pakai uang. Aku akan membelinya dan akan menutup mulut kalian." Desisnya Mommy Nancy.


Bilangnya saja, teman dekat dan sahabat, namun mereka sengaja melukai perasaan Nyonya Nancy.


Pasalnya, hanya Nonya Nancy yang belum memiliki menantu dan cucu.


"Mom."


"Baguslah, kalau kamu sudah bangun."


"Mommy, aku sakit." Rengeknya Richard.


"Sakitmu itu, kamu sendiri yang membuatnya."


"Aku tidak sengaja. Ini semua gara-gara gadis kecil itu. Dia semalam mengajak aku ke minimarket, jadinya aku ikutan membeli mie setan itu."


"Kamu sengaja memakannya dan ingin simpati dari Mommy."


"Mommy, aku beneran sakit."


"Mommy, juga sakit."


Sang Mommy terdiam dan tiba-tiba menangis. Kali ini, bukan air mata buaya yang keluar dari kedua sudut kelopak mata cantiknya. Melainkan, air mata penuh kekecewaan terhadap para temannya. Padahal, masalah apapun yang menimpa para temannya. Nyonya Nancy selalu membantu mereka.


Richard bertanya "Mommy kenapa nangis?"


Richard melihat raut wajah sendu tanpa buatan, dari sang Mommy. Richard jadi galau saat melihatnya.


"Tahu apa kamu soal Mommy." Balasnya Mommy Nancy.


Mommy bangkit dari sofa dan berjalan pergi begitu saja. Richard merasa ada yang salah dengan sang Mommy.


Mommy ke kamar mandi dan Daddy masuk ke ruangan itu.


"Richard, bagaimana keadaan kamu?"


"Aku baik-baik saja. Perutku juga tidak sesakit tadi." Richard cemberut.


"Mommy kamu kemana?"


"Itu di kamar mandi. Mommy sedih banget, melihat aku hampir mati."


"Mommy kamu nangis?"


"Iya, Mommy menangis. Karena aku sakit."


Sang Daddy berkata "Kamu ini, sudah dewasa tapi suka mengancam nyawa."


"Aku tidak mau diusir Daddy."

__ADS_1


__ADS_2