
Siang hari di Hotel DeNuca, tepat di jam makan siang. Papanya Jihan, menemui Presdir Nicholas.
Restoran hotel dan hanya berdua. Saling menatap serius, setelah mengutarakan keadaan yang ada saat ini.
"Julian, aku sangat mengormati kamu dan juga persahabatan kita. Tapi, aku sendiri, tidak bisa memaksa putraku untuk menerima kembali putrimu."
Presdir Nicholas begitu mantab, saat mengatakan hal tersebut.
Presdir Julian, seorang bos besar perusahaan property.
Presdir Julian, berkata "Nicholas, aku hanya sebagai Papa. Aku tidak tega melihat keadaan Jihan seperti ini."
"Aku juga hanya seorang Daddy. Richard anakku satu-satunya. Semalam melihat dia bisa bercanda dengan bahagia, aku merasa tenang. Apalagi, melihat istriku yang selalu menantikan cucu kandungnya. Aku tidak bisa memaksa putraku, apalagi menjodohkan. Aku tidak gila harta, aku tidak gila kekuasan, aku hanya ingin melihat istri dan anakku bahagia."
"Nicholas, aku juga tidak bisa melihat putriku sampai gila."
"Julian, anak kandungku hanya satu. Hanya Richard. Sedangkan kamu, coba hitung anakmu ada berapa. Aku dari dulu sulit memiliki anak. Sekarang, istriku hanya ingin melihat cucu kandung di hari tuanya. Richard juga sudah lama tidak membuka hatinya, baru sekarang ini dia menentukan pilihannya, dan gadis itu juga menerima Richard apa adanya. Aku bisa melihat Richard kembali bahagia sudah membuat aku tenang. Jadi, aku mohon sama kamu. Jangan lagi ganggu putraku." Ucapan Presdir Nicholas dari lubuk hati yang terdalam, membuat Presdir Julian sejenak terdiam.
"Sekali saja, Richard menemui Jihan. Aku akan sangat berterima kasih sama kamu."
"Kalau aku bisa, aku akan membantu kamu. Sayangnya, aku tidak bisa menyampaikan hal ini. Aku juga tidak ingin menyakiti perasaan putraku."
"Nicholas, apa arti persahabatan kita selama ini?"
Presdir Nicholas berkata "Aku mengerti. Tapi, kamu akan mendengar sendiri jawabannya dari Richard. Kalau dia sudah menolak. Aku mohon sama kamu. Jangan lagi, mengganggu kebahagian putraku."
"Oke, aku setuju."
Dari hotel DeNuca, kemudian beralih ke kediaman pribadi Presdir Nicholas.
"Richard, bagaimana keadaan kamu?"
"Ya, seperti yang Om Julian lihat. Aku sedang dirawat sama suster."
"Suster??"
Presdir Julian, melihat ke arah gadis yang memegang piring, tadinya menyuapi Richard.
"Kak Richi, aku tinggal sebentar ya."
"Jangan. Kamu harus temani aku."
"Sebentar saja."
"Iya."
Richard memang jadi berubah manja, setelah kejadian penusukan.
Presdir Julian masih memandangi gadis belia yang membawa nampan, saat melewati beliau.
"Permisi Pak."
"Iya. Silakan."
"Lovie, biarkan saja disitu. Nanti dirapiin pelayan." Ujar Presdir Nicholas.
"Bapak, aku tidak mau merepotkan orang lain."
"Ya sudah Bapak temani kamu. Bapak juga mau ke dapur mau ngintip masakan Ibu."
"Ibu, masak banyak. Ada daging sapi lada hitam, fuyunghai, capcay dan ikan kukus buat kesembuhan perutnya Kak Richi."
"Kamu cerita, Bapak jadi lapar."
"Memangnya, Bapak belum makan?"
"Sudah. Tapi masakan istriku selalu menggoda lidahku."
Lovie jadi tertawa kecil, begitu gemas dan terlihat akrab sekali.
Tangan Presdir Nicholas, memegang gagang pintu dan membuka pintunya untuk Lovie. Jadinya, Presdir Julian cukup mendengar obrolan mereka.
Richard, dari tadi juga hanya diam dan menatap Lovie yang berjalan pergi.
"Richard. Lama juga, kita tidak bertemu."
"Iya Om Julian. Terakhir kita ketemu di tempat golf ya Om. 4 bulan yang lalu."
"Kamu ini, makanya ikut Daddy kamu. Jangan cuma sibuk di kantor sama di hotel saja."
Keduanya jadi tersenyum, Richard berkata "Om Julian, duduk Om. Masa mau berdiri saja."
"Iya, Om hanya sebentar. Tadi, Om sama Daddy kamu bertemu di DeNuca. Terus, Daddy kamu cerita. Kalau kamu lagi sakit."
Keduanya jadi terdiam, Richard tampak tersenyum tipis, lalu berkata "Iya ini Om. Hanya luka kecil. Maklum, ada anak muda yang masih labil. Main, bawa pisau sampai nusuk perutku."
"Kamu sepertinya, sudah punya pacar."
"Oh, nggak Om." Balasnya.
__ADS_1
"Itu tadi, yang duduk di sebelah kamu. Itu, beneran suster kamu?"
"Owh, itu bukan pacar Om. Itu Lovie, dia calon Ibu dari anakku Om."
"Calon Ibu?"
"Ya gitulah Om. Richard juga bingung jelasinnya. Aku sama dia, baru kenal. Belum lama kenalnya."
"Emh, begitu rupanya." Tampak menghembuskan nafas dan berjalan mendekati Richard.
"Richard, Om kesini ada perlu sama kamu."
"Iya Om Julian."
Presdir Julian, yang sudah berfikir tenang, beliu berkata "Om mau minta tolong sama kamu. Ini soal Jihan."
"Memangnya, Jihan kenapa?"
Suara Richard, terdengar pelan. Richard sebenarnya juga merasa canggung bila ngobrol berdua dengan Presdir Julian.
"Jihan sakit, dia depresi. Dia hanya memanggil nama kamu."
Richard terdiam, hatinya jadi bergemuruh lagi.
Benci, muak, sampai harus mengunci perasaannya untuk perempuan yang lain.
"Richard, tolong bantu Om. Temui Jihan, sekali saja. Agar kalian bisa bicara dari hati ke hati. Kamu, dulu juga pergi, Om sudah melupakan semuanya. Tapi kali ini, Jihan membutuhkan kamu."
Richard hanya diam, entah apa yang dia pikirkan saat ini.
Presdir Nicholas, membicarakan perihal kedatangan Presdir Julian kepada istrinya. Sayangnya, Nyonya Nancy malah mengompori Lovie.
Richard berkata "Maaf Om Julian. Saya tidak bisa menemuinya. Sekarang ini, kondisi saya juga butuh perawatan."
"Richard, Om mohon sama kamu."
Presdir Julian, hendak berlutut. Richard melihat itu, jadi menduduk dan tampak membuang muka.
Lovie sudah paham akan masalahnya, ia kembali masuk ke kamar perawatan.
"Kak Richi."
Presdir Nicholas dan Nyonya Nancy, turut masuk ke ruangan itu. Mereka jadi melihat Presdir Julian yang berlutut menghadap Richard.
Lovie mendekati Richard dan berjalan melewati Presdir Julian.
Ternyata, Lovie malah menghampiri Julian dan memegang tangannya agar berdiri.
Richard melihat itu, jadi memanggilnya "Lovie, cepat sini."
"Iya." Jawabnya.
Presdir Julian, ternyata telah meneteskan air matanya.
Baru kali ini, demi putrinya tercinta. Harus berlutut di hadapan pria seperti Richard.
"Kamu harusnya perhatiin aku. Malah sibuk merhatiin orang lain."
"Kak Richi nggak boleh egois begitu. Orang tua itu, harusnya dihormati. Bukannya, disuruh berlutut begitu."
"Aku tidak menyuruhnya berlutut. Hanya saja."
"Hanya apa? Hanya tidak mau menemui sang mantan yang masih tersimpan dihati?"
"Kamu ini ngomongnya ngelantur."
"Kalau begitu, Kak Richi harus buktikan. Kalau Kak Richi sudah melupakannya dia, harusnya bisa menemui dan tidak lagi membencinya. Apalagi, masih melekat di hati."
"Lovie!"
"Ayolah, aku juga pernah pacaran. Apalagi, mantanku yang nusuk perut Kak Richi. Tapi, aku bisa berbicara dari hati ke hati. Yang sudah, ya sudah. Biarkan berlalu dan memulai yang baru dengan hati yang baru."
Para orang tua itu, jadi melihat ke arah Lovie. Presdir Nicholas tersenyum dan memegang tangan istrinya.
"Daddy, lepasin tangan Mommy."
"Biarkan saja, apa yang Lovie katakan itu benar. Tidak ada salahnya, Richard dan Jihan menyelesaikan masalah hati mereka."
"Tapi, itu akan menjadi masalah baru. Jihan itu nekatan. Aku tidak mau lagi memberikan kesempatan padanya."
"Mommy, sebaiknya kita keluar saja, jangan ganggu mereka."
Presdir Nicholas menggandeng istrinya keluar dan Presdir Julian juga tampak malu dengan keadaan.
Presdir Julian, yang hendak melangkah pergi, Lovie berkata "Bapak Julian, bisa kita bicara sebentar."
Presdir Julian, menoleh ke arah Lovie.
Lovie yang hendak mendekat, tangannya dipegang erat sama Richard.
__ADS_1
"Jangan pergi."
"Kak Richi, aku cuma mau bicara sebentar."
"Aku bilang, jangan pergi."
"Please, 2 menit. Hanya dua menit saja."
Saling menatap dengan wajah santai, Richard berkata "Tapi, disini saja. Di sofa itu, aku nggak mau melihat kamu pergi ninggalin aku."
"Iya, aku akan duduk disitu."
Lovie mendekati Presdir Julian, dengan bibir yang tersenyum tipis dan tangan kanannya mempersilakan untuk duduk.
"Mari Pak Julian. Kita bisa bicara disini."
"Iya."
Hanya dua menit, Lovie mengutarakan niatnya, untuk membantu kesembuhan Jihan.
Satu jam kemudian.
Pyaarr!!
Presdir Julian, membanting gelas kaca dari tangan kirinya. Bukan lagi retak, tapi pecah, remuk dan ambyar.
Jihan tersentak kaget, saat mendengar suara itu dan menatap gelas kaca yang terupa bentuknya lagi.
"Papa, kenapa banting gelasnya? Aku jadi kaget."
"Kaget??!"
Setelah mendengar cerita sang Papa, dan membaca surat tulisan tangan dari Richard.
Ekspresi Jihan, langsung segar. Aktingnya buyar, karena rasa menang dalam hatinya lebih utama, dari pada permainan manisnya.
"Pa-pa."
"Tidak usah berakting lagi di depan Papa."
"Paaa."
Silakan bertemu dengan Richard. Kamu bisa menemui dia sekarang juga.
"Papa."
"Jangan panggil aku Papa!!" Bentaknya dan wajah itu marah.
Jihan melihat sorot mata yang penuh emosi dari Papanya. "Papa, aku cuma."
"Cuma bermain peran menjadi orang gila?? Iya begitu?!"
"Mama. Mama yang menyuruh aku."
"Apa kamu bilang? Mama kamu? Luna?"
"Bukan. Bukan Mama Luna. Tapi, Mama Bianca. Semalam, dia bilang aku lagi sakit. Aku, semalam di rumah sakit."
"Itu tulisan dari dokter??"
"Iya. Mama Bianca yang membuat itu. Aku bersumpah. Aku nggak ada niat begitu." Jihan sangat berdebar.
Papanya sangat kecewa pada putrinya, bahkan tadi sampai harus berlulut di depan Richard.
"Richard ada di mobilnya, bersama calon istrinya. Kalau kamu mau bertemu dia, sana keluar, temui dia."
"Papa."
"Papa sampai berlutut di depan Richard, itu demi kamu. Demi kamu."
Jihan berlutut dan memegang kaki Papanya.
"Papa, maafin Jihan. Jihan yang salah. Jihan yang salah. Ampun Papa. Ampun."
"Sana pergi."
"Nggak, Jihan nggak mau pergi dari rumah Papa."
"Cepat pergi, tinggalkan rumah ini. Kamu bisa ikut Luna di rumah Hanz."
"Jihan nggak mau kesana. Jihan maunya sama Papa."
"Kamu sudah dewasa. Kamu bisa tinggal sendiri."
Jihan memegang kaki sang Papa dan sudah menangis, ia berkata "Papa, Jihan mau nurut sama Papa. Jihan juga akan melupakan Richard, Papa bisa carikan jodoh yang lain, Jihan akan menerima jodoh dari Papa. Tapi, Papa jangan mengusir Jihan dari sini. Papa, Jihan mohon sama Papa."
Presdir Julian, dalam hatinya sangat kecewa, beliau berkata "Pergilah. Papa sudah tidak sanggup lagi mengurus kamu."
"Papa." Jihan masih memohon.
__ADS_1