Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Bab. 12. Lamaran Untuk Lily


__ADS_3

Lily masih berada di mal dan ia yang memegang ponselnya Troy.


Dari tadi melihat ke isian ponsel, dari aplikasi, chat, foto dan semuanya. Tidak ada hal istimewa. Hanya ada beberapa chat dengan bahasa asing. Kebetulan, Lily pernah belajar bahasa itu, sewaktu masih duduk di bangku SMA.


"glückliches Dating" Lily membaca itu, dan ia tersenyum. Bahkan saat dating, Troy mengatakan kepada temannya, kalau dia sedang berkencan.


"bald heiraten." Batinnya Lily saat membaca pesan itu. Lily bergumam, "Ah, mana mungkin dia mau mengajak aku untuk menikah. Tapi, temannya malah berkata begitu. Semoga cepat menikah. Hemms, aku masih kuliah. Mana dibolehin menikah muda."


Lily jadi kegemesan sendiri, "Uuh. Apaan sih? Ini pikiranku malah jadi travelling."


Lily mengingat batako segar dan terlihat menggairahkan. Malah membayangkan kalau jadi istrinya Troy.


Lily kembali pada ponsel miliknya Troy dan melihat beberapa kontak, yang masuk ke panggilan telephone.


"Om Buho. Pasti ini soal kerjaan. Pasti penting. Coba aku telephone dia. Mumpung, Om Bule lagi nggak ada disini."


Lily selalu saja iseng. Bukan Lily, kalau tidak jahil dan banyak tingkahnya.


Menekan kontak, yang bertuliskan Buho.


Trutt... Trruuut... Truuttt!


"Hallo."


"Hallo Om Buho. Kenapa tadi telephone?"


Suara Lily begitu manis. Sangat gemas dan seperti anak-anak yang sedang iseng telephone.


"Nona. Saya sedang meeting. Apa Bos Troy ada di dekat Nona?" Tanya Buho, dan suaranya terdengar santai.


"Om Troy lagi pergi ke dalam Mal. Aku di luar Mal. Dari tadi, aku yang pegang ponselnya Om Bule."


"Waduh, apa jangan-jangan bos serius. Semalam, aku sudah mengirimkan berita itu. Tapi, akunya malah lupa. Kalau Bos menyandang status baru, sebagai calon suami."


"Nona dimana?"


"Saya di Mal..."


Belum sampai menjawab, Troy mematikan telephone itu. Kepala Troy di bahu kanan Lily, membuat Lily seketika terdiam.


Sampai kedua wajah itu begitu dekat. Troy, menatap Lily. Gadis belia itu, jadi tampak menyengir tipis.


"Om Bule. Bikin jantungku mau loncat."


"Apa itu, jantung loncat?"


"Berdebar jantungku."


"Owh, kamu berdebar melihat aku?"


"Iya. Aku sangat berdebar sekali. Sampai jantungnya rasanya mau copot."


"Hemms, semoga dia nggak marah. Hpnya aku otak atik." Batinnya Lily dan ia jadi menyodorkan ponselnya Troy.


"Ini ponselnya Om Bule. Sudah aku ganti wallpapernya. Biar kita samaan." Ucapnya Lily jadi malu-malu meong, sambil meringis tipis dan ia menunjukan gambar di layar ponsel miliknya.


Troy yang masih berdiri di kanan Lily, sudah memegang ponselnya dan mematikan ponselnya itu.


Troy mengusap kepala Lily seperti mengelus kepala kucing, Lily yang masih duduk, ia memegang tangan itu.


"Om Bule, tadi ke dalam ngapain? Kok nggak bawa belanjaan?" Tanya Lily dan ia memegang tangan Troy dengan manja. Bak anak kecil yang menggelondot tangan sang Papa.


Imut, manis, gemesin, itulah tingkahnya Lily kalau baik. Kalau lagi usil, ada saja tingkah, sampai membuat orang lain kesal padanya. Tapi, sekarang sudah punya kekasih. Mungkin saja, tingkah jahilnya akan sedikit berkurang.


Troy meraih tangannya dan berkata lembut "Ayo, kita shopping."


"Emh, aku kemarin habis shopping. Aku lagi nggak minat untuk belanja pakaian."


Lily masih mendongak ke wajah Troy "Dia nggak suka aku tolak. Hemm, baiklah. Aku akan shopping dan beli banyak pakaian."


"Aku mau shopping sama Om Bule. Kita juga harus pakai baju couple." Ucapnya Lily.


Troy membalasnya dengan anggukan kepala. "Oke."


"Aku sekarang paham. Orang ini nggak pernah mau ditolak. Apapun perkataan, adalah perintah. Kalau Om Bule posesif gimana ya? Aku jadi ngeri sendiri. Orang asing kalau lagi cemburu berat, bisa sampai membunuh lawannya. Serem banget." Batinnya Lily jadi menduga-duga sendiri.


Troy memegang tangan kanan Lily dan mengajaknya pergi berduaan.


Lily menoleh ke wajah Troy. Lily jadi membatin lagi "Emh. Untung saja aku tidak punya mantan. Dia tidak akan cemburuan. Oke. Aku akan manja sama kamu, Om Bule tampan."


Troy melihat Lily yang senyam-senyum sendiri, ia bertanya "Kamu kenapa? Apa aku ini terlihat lucu?"


"Emh, tidak begitu. Aku hanya kagum sama Om Bule. Ternyata, Om Bule baik banget sama aku." Jawabnya Lily dengan imut.


"Kamu suka, aku yang baik?"


"Iya. Aku suka Om Bule yang baik begini." Jawabnya manis.


"Tapi, aku tidak sebaik yang kamu pikirkan." Batinnya Troy.


Tingkah Lily, saat berjalan dengan Troy begitu manja. Ia sudah seperti anak ABG, yang baru jatuh cinta dan ini memang kali pertamanya Lily jalan sama cowok.

__ADS_1


"Om Bule. Kartu yang aku pegang. Memangnya, boleh aku pakai?"


"Tentu saja. Itu, aku kasih buat kamu."


"Owh, aku pikir cuma mainan saja."


"Kartu mainan?"


"Bukan begitu maksud aku. Soalnya, kita baru kenal. Terus, tadi pagi, aku sudah dikasih Blackcard, jadinya aku rada bingung gitu."


"Kamu bilang, kita calon suami istri. Sudah sewajarnya, aku memberi kamu uang yang cukup." Balasnya begitu santai.


Lily jadi membatin "Oke, aku akan belanjain buat Violla dan Lexi. Sebagai tanda aku jadian sama Om Bule. Aku juga nggak mau rugi, sudah dikasih, nggak boleh ditolak."


Keduanya, memasuki mal besar Haha. Suasana mal Haha, ternyata sudah tampak berbeda. Tidak seperti dulu, sewaktu mal ini baru dibuka.


"Om Bule, nanti kalau tiba-tiba kita bertemu Mama Papaku. Om Bule, pura-pura saja tidak mengenal aku. Nanti, aku bicarain dulu, sama Papa Mama. Soalnya, mereka masih mengatur hidupku."


"Kamu tenang saja. Aku akan memperkenalkan diriku dengan sebaik mungkin." Balasnya Troy terdengar santai sekali.


Baru saja masuk Mal. Ternyata ada yang melihat Lily dari lantai atas.


"Lily. Itu Lily?" Sang Mama yang melihat putrinya, bergandengan mesra bersama pria dewasa.


Pikiran Mama Lovie seketika was-was. Beliau jadi membayangkan kalau Lily seperti dirinya dulu. Yang meraih hati seorang pria dewasa.


"Madam Lovie, apa ada sesuatu?"


"Dessya, tolong bawa belanjaan ke mobil. Saya masih ada urusan."


"Baik Madam."


Mama Lovie ternyata menemani sang suami. Karena tadi sudah jenuh, jadinya shopping di mal bersama asisten pribadinya.


"Lily."


Mama Lovie berjalan cepat menuruni lantai atas dengan eskalator.


"Lily."


Mamanya semakin panik. Apalagi, saat melihat Lily mendusel-dusel gemas lengan Troy. Bahkan terlihat ekspresi manja.


Lily dan Troy menaiki eskalator. Di seberang jauh, ada Mama yang tidak henti menatapnya.


"Lily, bukannya lagi kuliah. Kenapa bisa jalan sama Om-om?" Batinnya Mama Lovie semakin risau.


Sang Mama bergumam, "Bukannya, itu Mr. Troy. Aah, nggak mungkin."


"Aaa.. Papa malah telephone." Mama Lovie tengah gemetar saat memegang ponselnya.


Di abaikan saja panggilannya.


"Urusan Papa belakangan. Yang penting, aku harus mengejar Lily."


"Lily sayang. Kamu dimana nak?!" Mama Lovie kehilangan jejak putrinya.


Lily yang sangat senang bermanja dengan Troy. Dia tidak tahu, kalau sang Mama sibuk mencarinya.


Lily yang manja bertanya, "Om Bule, gimana kalau kita nonton film?"


Troy jadi menoleh ke wajahnya. Menjawab "Boleh juga."


"Jam segini, pasti sepi. Enakan kalau nonton berduaan, gimana Om Bule?"


Troy jadi menghentikan langkahnya, ia mendekati telinga Lily. Lalu berbisik "Kalau kita berduaan. Aku bisa memakan kamu sampai kenyang."


Hembusan nafasnya terasa menyengat, sampai bulu kudu Lily bangkit semua.


"Emh, iya deh. Disini saja." Lily jadinya pasrah dan tak lagi menggoda calon suaminya ini.


Troy terlihat tenang, Lily jadi salah tingkah karena ucapan Troy. Lily jadi sok kepo "Om Bule kerjaannya apa sih?! Apa Om Bule punya pabrik uang?"


"Ayahku punya pabrik mesin pencetak uang. Bukan pabrik uang." Troy ternyata lebih usil dari Lily.


"Aa, sepertinya aku salah bertanya." Batinnya Lily saat melihat Troy yang selalu bersikap serius.


"Apa, aku boleh ke kantor Om?"


"Tentu saja. Aku akan mengajakmu ke negaraku."


"Owh, ternyata di luar negeri."


"Iya."


"Papa sama Mama, pasti nggak kasih ijin aku. Aku, mau ikut kuliah sama saudara kembarku saja, tidak boleh."


"Kamu punya saudara kembar?"


"Iya. Saudara laki-laki."


"Bee."

__ADS_1


Troy seketika menghentikan langkahnya.


Troy bukan pria yang suka bertele-tele. Namun, dari tadi Lily hanya iseng saat berkata ini dan itu. Bahkan, wajah itu masih terlihat polos.


"Bee."


"Om Bule? Kenapa berlutut?"


Pemandangan seketika, berubah romantis. Lily menatapnya jadiberdebar.


Melihat kain putih panjang menjulur dari atas ke bawah, bertuliskan I Love You.


Balon-balon warna pinky, terbang dari lantai bawah sampai terlihat di depan Lily.


Mama Lovie tiba di ruang penyiaran. Namun, penyiaran sudah dibooking oleh seseorang.


Lagu Will You Merry Me, sedang diputar.


"Om Bule."


Banyak mata yang memandang ke arahnya.


Satu persatu, orang yang tidak dikenal oleh Lily, memberikan bunga mawar pink kepadanya.


Lily masih berdiri, masih bingung sekali. Tangannya merespon dengan menerima bunga-bunga mawar segar itu. Namun, pikirannya melayang entah kemana.


"Lily."


Setelah, lagu berhenti berputar, suara Troy terhubung akses penyiaran.


Madam Lovie bergumam "Lily??"


Mama Lovie sesaat terdiam dan tidak bisa berfikir tenang, apalagi pria itu menyebut nama putrinya.


"Aa, nggak mungkin. Nama Lily sangat banyak. Pasti bukan putriku!"


"Lily. Maukah kamu menikah denganku??"


Troy masih berlutut dan menawarkan sebuah cincin yang ada di tangan kanannya.


Lily semakin berdebar "Apa yang harus aku katakan? Pria ini sangat susah ditolak."


Troy menantikan jawaban dari gadis belia ini, namun gadis ini malah menoleh ke sekitarnya.


Orang-orang terdiam dan hanya menatap ke arah mereka berdua.


Jantungnya Lily, semakin berbedar mesra.


Terima'


"Mama Papa. Tolongin aku." Batinnya Lily masihbingung.


Terima'


"Dulu, Mama dan Papa juga bertemunya sangat singkat. Lalu, mereka menikah dan harmonis. Apa, aku harus menerima lamaran Om Bule?"


Terima'


"Aaa.. Bingung. Kalau Papa Mama marah gimana?" Batinnya Lily risau.


Meski Lily selalu termanjakan, namun Papa dan Mamanya juga sering menasehati dirinya.


Bahkan, kalau Lily sudah berbuat ulah. Orang tuanya juga akan mendiamkan dia. Dicuekin lama dan tidak dianggap sementara waktu.


Lebih menyakitkan, dari pada dimarahi atau dibentak-bentak.


Hanya cara itu, yang sering dilakukan Mama Papanya kalau Lily susah dinasehati.


Blokir semua fasilitas yang diberikan dan mendiamkan putrinya, sampai Lily sadar akan kesalahan yang sudah diperbuatnya.


"Kalau aku sampai diusir Papa sama Mama. Aku, akan ikut Om Bule pergi. Beres."


Lily jadi senyam-senyum sendiri, padahal Troy sudah menunggu jawabannya.


"Bee.." Panggilnya Troy.


"Om Bule. Aku mau menikah sama Om."


"Kamu mau menikah denganku?'


"Iya. Tentu saja aku mau. Om Bule, calon suami aku."


Lily mengambil cincin itu dan ia berkata "Aku bersedia."


Troy segera memakaikan cincin lamaran itu.


Jari manis Lily, perlahan tersemat cincin permata putih.


Entah, perasaan apa yang Troy rasakan saat ini. Namun, ia tidak mau mengulur waktu lagi dan memang itulah keaslian sifatnya Troy. Tidak bisa basa-basi dan langsung ke point masalahnya.


"Lily??" Suaranya bergetar.

__ADS_1


__ADS_2