
"Papa."
Richard yang membuka pintu hotel 101, sangat terkejut saat melihat seorang anak laki-laki, yang memanggilnya Papa.
"Papa."
Lovie mendengar suara anak kecil yang memanggil Papa.
"Hallo adik kecil. Nama kamu siapa?" Tanya Lovie.
Lovie jadi berjongkok dan mengelus rambut anak tampan itu.
"Lucas."
Anak kecil itu, menunjuk ke arah Richard dan menyebutnya Papa.
"Papa."
Lovie menoleh ke wajah tegang Richard, yang terdiam dan hanya terpaku kepada anak itu.
"Papa."
Ucapan imutnya, terdengar jelas.
"Papa."
Lovie berdiri, ia merangkul lengan tangan Richard "Kak Richi, dia anak kamu dengan wanita yang mana?"
"Lovie, kamu menuduh aku menghamili seorang wanita?"
"Ya, siapa tahu begitu. Kak Richi dulu sering mengajak teman kencannya kemari. Buktinya, anak kecil ini tahu kamar pribadi ini."
Lovie juga penasaran dan ada rasa kecewa. Saat mendengar anak kecil ini, memanggil Richard dengan Papa.
"Anak kecil, pergilah. Kamu salah kamar." Suara jutek itu merdu.
Anak kecil itu menangis, "Papa!"
Hikk ho ho ho.
Suara tangisnya itu membuat Richard semakin frustasi. Richard sangat tidak menyukai anak-anak.
Lovie segera memegang wajah itu, ia bertanya "Dimana Ibu kamu?"
Anak itu hanya menggeleng, Lovie merasa kalau anak ini terpisah dari orang tuanya.
"Ayo, Kakak antar ke tempat lain sampai bertemu Mama kamu."
"Mama sudah meninggal. Mama sudah meninggal karena melahirkan aku." Suara kecil itu, meski tak terdengar jelas. Lovie mengerti akan ucapannya.
"Kamu kesini sama siapa?"
Lovie jadi gelisah, dia berfikir kalau anak ini memang anaknya Richard. Manik mata itu dan wajahnya memang mirip sekali dengan Richard.
"Papa."
Dia kembali menangis dengan kedua tangannya sambil mengucek mata.
"Ayo masuk dulu. Nanti, kita cari Papa sama Mama kamu."
Lovie hendak mengajaknya masuk ke kamar. Richard dengan cepat menutup pintu kamar pribadinya ini.
Jeblees!
Lovie terkaget saat melihatnya. "Kak Richi. Bisa nggak tenang sedikit."
"Antar saja ke resepsionis. Aku akan melihat ke cctv."
"Kak Richi mau, nantinya disana anak ini teriak-teriak memanggil Papa."
Richard memejamkan kedua mata, dan tangannya masih memegang gagang pintu.
"Pintu kamarku sudah terkunci. Aku tidak membawa kuncinya." Balasnya Richard.
Lovie mengerti, meski benar anak ini putranya Richard. Pasti Richard juga tidak akan mengatakan padanya.
"Aku tahu, kita baru mengenal. Kalau anak ini ternyata anakmu bagaimana? Apa kamu akan menelantarkan anakmu?"
"Kalau dia memang putraku, apa kamu mau meninggalkan aku?"
Keduanya saling menatap penuh keraguan. Namun, Lovie bisa menerima keadaan ini. Mungkin, inilah jawaban takdirnya. Nyonya Nancy menginginkan seorang cucu dan Richard ternyata sudah mempunyai anak. Akan tetapi, Lovie masih mengikat janjinya di dalam hati.
"Aku tidak akan meninggalkan kamu."
__ADS_1
Richard yang sudah berwajah tegang. Dia mulai tenang dan ingin mencari tahu, kenapa anak kecil ini bisa memanggil dirinya Papa.
Setelah menelusuri semuanya, anak kecil ini ternyata di antar oleh staff yang bekerja di Rich. Dia orang suruhan, di dalam tas ransel anak ini, Lovie yang membaca suratnya sangat terkejut.
"Kak Richi, dia memang putramu dengan Jihan."
"Itu nggak mungkin!"
"Kak Richi pasti ingat, waktu di luar negeri menyatukan benih kalian dan ditanamkan di rahim seseorang."
"Lovie itu nggak mungkin. Aku sendiri sudah membatalkannya, setelah pertunanganku berakhir."
"Mungkin saja, Jihan tetap melanjutkan proses tanam benihnya. Di rahim wanita yang dipilihnya."
Richard mengayak rambutnya dengan kesal. Kalau hal ini benar terjadi, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Apalagi, mempunyai anak dengan Jihan.
Richard berniat memenuhi keinginan Jihan. Setelah mereka menikah nanti, Jihan tetap ingin menjadi model. Karena, Jihan tidak mau mengandung dan merawat bayi. Bayi akan membuat masalah bagi Jihan.
Richard, akhirnya konsultasi dengan profesor yang menangani permasalahan seperti ini. Kemudian, Richard dan Jihan sepakat untuk melakukan surrogate mother dan menanamkan benih cinta mereka berdua.
"Kak Richi."
"Lovie, aku mohon, kamu jangan tinggalin aku."
Lovie mengelus rambutnya, ia juga bingung. Melihat ke atas kasur. Ada, anak kecil yang membutuhkan kedua orang tuanya.
"Kak Richi, bisa test DNA bersama Jihan. Agar kalian, bisa memastikan kalau kalian orang tua kandungnya."
"Lovie, mudahnya kamu berkata begitu padaku. Hanya karena anak kecil itu."
"Kak Richi, aku juga merasakan hatinya anak itu, dia seperti aku. Yang ingin bersama Papa dan Mamanya."
Air mata Lovie tak terbendung, ia jadi mengingat kedua orang tuanya. Richard yang terduduk di atas lantai, ia kembali termenung, rasanya ingin tidak percaya. Ingin segera membuang anak kecil itu. Tapi, dirinya sudah tidak sanggup.
Lovie mendekap kepala Richard "Aku mengerti, ini akan berat untukmu. Apalagi, mengakui anak itu sebagai anakmu dengan Jihan. Tapi, dia masih anak kecil, yang belum mengerti apapun. Dia hanya tahu, kalau Kak Richi adalah Papanya."
"Kamu bilang, aku Papanya??" Richard masih tidak bisa menerima ini.
"Kak Richi, ini bukan candaan atau hanya permainan konyol kita. Kalau memang, dia itu anakmu. Kembalilah kepada Jihan dan kalian bisa membesarkan anak kalian bersama."
Air mata itu luruh begitu saja. Baru tadi, ada hal manis yang mereka rasakan. Malam yang indah dengan gemerlap kembang api.
Ternyata, ada hal yang mengejutkan mereka. Kalau Richard, tengah punya anak dengan sang mantan.
Lovie memeluknya dan mengusap pangkal rambutnya.
Richard-pun menangis. Menyesalpun rasanya juga percuma. Kalau anak kecil ini memang darah dagingnya, dirinya juga tidak akan bisa mengembalikan keadaan seperti semula.
"Aku akan melupakan tentang kita berdua. Kita juga baru mengenal. Kak Richi jauh lebih mengenal Jihan."
Richard meraih badan Lovie dan keduanya terduduk di atas lantai.
"Aku tidak mau, aku cuma mau kamu. Aku cuma ingin kamu. Aku tidak mau bersama Jihan."
"Kak Richi." Lovie yang menangis tersedu-sedu.
Richard memegang wajah Lovie dan menyeka air mata itu. "Apapun yang terjadi. Aku mohon sama kamu. Jangan tinggalin aku."
"Kak Richi."
"Berjanjilah padaku. Kamu nggak akan ninggalin aku."
"I-Iya, aku janji."
"Berjanjilah, untuk selalu ada bersama aku dalam suka dan duka."
"Kak Richi. Aku berjanji, akan selalu mendampingi kamu, dalam suka dan duka."
Richard memeluk Lovie, ia mengingat akan janjinya dengan Jihan. "Aku sudah mendapat karma. Aku harus bagaimana? Kenapa aku sampai lupa dengan janjiku?"
Jihan memang ingin terus berkarier dan tetap menikah dengan Richard. Sampai akhirnya, janji itu terlaksa.
Benih yang mereka bekukan, ternyata saat ini sudah menjadi anak.
"Aku akan bilang sama Mommy dan Daddy."
"Aku bingung. Kenapa karyawan bisa tahu masalah pribadi kalian berdua? Lalu, kenapa tidak membawa anak ini kepada Jihan?"
"Itulah yang aku pikirkan sekarang. Pasti, ada yang merencanakan ini."
Lovie menatap wajah itu kembali, menyentuhnya dengan lembut.
"Aku percaya sama Kak Richi."
__ADS_1
"Kamu mempercayai aku?"
Lovie menganggukan kepalanya. "Iya. Aku percaya sama Kak Richi."
Richard sangat mengingat jelas, hanya dia dan Jihan yang tahu soal ini.
Bagaimana bisa Friska, staff dari tim humas, mengetahui tentang masalah pribadinya. Apa pengacara tua itu juga tahu hal ini?'
Ataukah, orang tua Richard sudah tahu sebelumnya.'
Setelah pagi tiba, Richard pulang ke rumah. Lovie tampak menggandeng tangan anak laki-laki, yang berusia 4 tahun.
Kedua orang tua, Talita dan Doddit melihat ke arah anak itu.
"Lucas, kamu sama Kakak dulu ya. Papa kamu, biar bicara dulu sama keluarga."
"Papa??!"
Richard berkata "Lovie, kamu jangan ikut-ikutan menyebutku Papa. Kamu bisa mengajarinya, memanggilku Om."
"Kak Richi, dia anak kamu. Dia selalu memanggilmu, Papa."
Keluarga Nuca sudah menatap mereka. Padahal, ini waktunya makan pagi. Tapi, mereka semua sudah dikejutkan dengan, tamu anak kecil yang tampan.
"Papa?! Apa maksudnya dengan Papa??" Nyonya Nancy lebih dulu mendekat.
"Ibu, biar Kak Richi yang menjelaskan tentang anak ini. Saya akan membawa Lucas ke kamar."
"Lovie, kamu juga tetap disini." Ujar Nyonya Nancy dengan tegas.
Richard berkata "Ini surat dari dokter, yang menangani kelahiran anak ini. Disitu tertulis, aku dan Jihan, adalah orang tua kandung dari anak yang bernama Lucas."
"Richard?!! Kamu?! Apa yang kamu lakukan dengan Jihan??!" Tanya sang Mommy.
Surat itu masih disodorkan, dengan cepat Presdir Nicholas membuka surat resmi itu.
Kenapa bisa, pihak dokter tidak langsung menghubungi Richard dan staff itu yang mengetahui semuanya.
"Daddy akan test DNA."
"Daddy, aku nggak bisa. Aku nggak mau mengakuinya sebagai anakku dengan Jihan."
"Kak Richi yang tenang." Lovie mengelus punggung Richard.
Nyonya Nancy terkejut, jantungnya berdegup hebat. Sangat tidak percaya. Bisa-bisanya Richard berbuat hal ini.
"Mommy, Momm."
Nyonya Nancy yang melemah dan sudah tidak bertopang.
Beliau memang ingin mempunyai cucu kandung dari putra semata wayangnya, tetapi bukan dengan cara seperti ini. Sangat keji, dan tidak manusiawi.
Bagi beliau, anak adalah harapan dan cucu adalah calon penerus masa depannya. Kenapa bisa, putranya membuat anak dengan cara seperti ini.
"Mommy, Mommy. Aku menyesal. Aku memang bersalah. Aku tidak tahu kalau akan jadi seperti ini. Aku juga tidak mau mengakui anak itu."
Tangisnya pecah!
Richard tertunduk di atas lantai, Presdir Nicholas mendekap istrinya.
"Mommy."
Presdir Nicholas, berkata "Doddit, cepat panggilkan dokter."
"Sudah Presdir."
"Momm."
Richard dengan isak tangisnya, memegang tangan sang Mommy.
Lovie sudah menggendong anak kecil itu dan segera membawa pergi untuk menjauh dari situasi ini.
Talita mengejar Lovie, ia bertanya "Lovie sayang, ini serius? Kalian berdua tidak ngeprank?"
"Talita, aku harap ini semua hanya lelucon. Tapi ini serius. Kak Richi, memang melakukan hal itu. Mereka sepakat, punya anak dengan bantuan rahim seseorang."
"Aku merinding."
"Talita, tolong temani anak ini. Aku harus mendampingi Kak Richi."
"Iya, pergilah. Aku akan menjaga anak ini."
Namun, Richard malah meninggalkan rumah.
__ADS_1